Peringatan Kiamat

*DISCLAIMER/PENAFIAN*
Saya TF, semua artikel yang ada disini hanya upaya penerjemahan dari https://thetruthisfromgod.com/
Kecuali jika saya nyatakan lain.
Saya bukan pemilik situs tersebut diatas, dan pemilik situs tersebut (YS) samasekali bukanlah kenalan saya. Semua konten disana diluar tanggung jawab saya. Saya hanya orang biasa yang mengambil dari sana, menggunakan mesin penerjemah, kemudian mengoreksi hasil terjemahannya lebih lanjut. Demi Allah, Saya tidak dibayar sepeserpun atau mendapat imbalan apapun dari YS.
YS juga tidak pernah memaksa atau meminta saya untuk menerjemahkan.
Semua ini atas inisiatif saya sendiri.
Mohon maaf atas sebagian terjemahan yang masih kasar, atau keliru.
Untuk itu, Saya mohon dengan sangat kepada Anda untuk tetap meninjau sumber aslinya,
Semata-mata untuk menangkap pesan yang lebih lengkap dan lebih murni.
Jika Anda bisa mengerti apa yang tertulis disana (teks Bahasa inggris/Bahasa Prancis), tolong abaikan saja Blog saya dan baca langsung dari sana.
Pesan YS dalam bentuk video2, saya terjemahkan di channel youtube saya:
“[..] We wish not from you reward or gratitude. Indeed, We fear from our Lord a horribly distressful Day” (76:9-10)
  1. Home
  2. »
  3. Agama Sejati
  4. »
  5. Definisi riba yang sebenarnya...

Definisi riba yang sebenarnya menurut Qur’an

10 Apr, 2021Agama Sejati

Diterjemahkan dari: https://thetruthisfromgod.com/2021/04/07/le-vrai-riba-selon-le-coran/ (Artikel sumber terjemahan terbit pada 7 April 2021)


Islam berdasarkan tradisi/ “Sunnah Nabi”, mendefinisikan riba = pinjaman dengan bunga, tapi benarkah itu yang dimaksud dengan istilah ini? Tidak perlu melangkah lebih jauh dari dalam Alquran untuk menemukan definisi sebenarnya dari riba dan semua praktik yang dicakupnya.

Secara etimologis, kata riba tidak ada hubungannya dengan pengertian “bunga” atau bahkan pinjaman, tetapi istilah ini secara sederhananya berarti “grows / grows excessively” (t/n: pertumbuhan/ pertambahan yg eksesif/berlebihan). Oleh karena itu, kita akan melihat kemunculan kata ini di dalam Alquran, untuk menentukan kerangka yang tepat dimana sesuatu itu disebut sebagai riba.

003844i38d

Those who eat riba do not hold themselves (on the Day of Judgment) except as one who is upset by the touch of Satan. This is because they say:Trading is the same as riba “. Whereas Allah has made trade lawful and riba unlawful . He, therefore, who ceases as soon as an exhortation from his Lord has come to him, can keep what he has previously acquired; and its business depends on Allah. But whoever does it again… so here they are, the people of the Fire! They will stay there forever. S2: V275

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa riba adalah salah satu bentuk praktik “trade” (t/n:pertukaran/ jual-beli) tertentu, karena mereka yang terlibat di dalamnya menganggapnya sebagai “trade” murni. Kecuali bahwa tidak seperti itu, mengingat Tuhan membedakan antara keduanya: mengizinkan jual-beli dan melarang riba, karena praktik yang khusus ini (riba) bertujuan untuk meningkatkan kekayaan seseorang dengan cara yang tidak proporsional sehingga merugikan orang lain.

Allah annihilates the riba and makes the alms grow excessively / tenfold (yourbi) . And Allah does not love the sinful disbeliever. S2: V276

Dalam ayat di atas, Allah juxtapose/ menyandingkan riba sebagai kebalikan dari sedekah. Perhatikan bahwa ayat ini berbicara tentang sedekah, yang mana sedekah secara umumnya tidak ada hubungannya dengan pinjaman tanpa bunga, yang mana bukan sedekah, karena namanya pinjaman harus dilunasi. Untuk memahami arti kata “riba”, cukup dengan mengetahui arti sebenarnya dari kata “sedekah” dan mengambil kebalikannya. Charity/Sedekah adalah pemberian yang dilakukan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan. Oleh karena itu, Riba justru sebaliknya: sebuah “pemberian” atau penggunaan kekayaan seseorang, yang sepenuhnya pamrih, di mana seseorang mengharapkan return/pengembalian investasi yang maksimal. Sedekah adalah tindakan win-win/ sama-sama untung: bagi si pemberi, itu dilipatgandakan oleh Allah sepuluh kali lipat dari apa yang telah dia berikan, dan bagi penerima, itu adalah hadiah murni yang datang langsung dari Allah, karena dia tidak harus membayar kembali atau berhutang apapun kepada donornya.

Sebaliknya, riba adalah tindakan lose-lose/sama-sama rugi: siapa pun yang menggunakan hartanya untuk mempraktikkan riba, Allah akan menghancurkan apa yang telah dia investasikan di dalamnya dan manfaat yang dia peroleh darinya, dan siapa pun sebagai targetnya, dia tidak hanya melihat dirinya sendiri dilucuti dari miliknya: harta bendanya, tetapi situasinya menjadi lebih kritis dari sebelumnya. Dari sudut pandang akuntansi murni, pemberi sedekah adalah 100% losers/pihak yang kalah, dalam arti ia tidak melihat ada yang kembali dari uangnya, sedangkan penerimanya adalah 100% pemenang karena dia tidak perlu mengembalikan apapun dari yang dia terima. Sebaliknya, tujuan orang yang menggunakan riba adalah menjadi 100% pemenang dan targetnya menjadi 100% kalah, artinya memulihkan semua investasinya dan mendapat semaksimal mungkin yang dapat ia ambil dari pihak lain. Secara umum, Tuhan memberikan & membolehkan semua yang baik-baik untuk manusia, dan melarang mereka semua yang buruk-buruk untuk mereka. Jadi, Tuhan mengizinkan jual-beli, karena ini adalah proses menuju situasi win-win yang menguntungkan semua orang secara keseluruhan, dan melarang riba, karena ini adalah proses menuju win-lose yang tidak adil/zalim dan oleh karena itu secara keseluruhan merugikan mereka.

838_marinus_van_reymerswaele

Muslim tradisional menyamakan riba dengan “pinjaman dengan bunga” berdasarkan ayat-ayat berikut:

O you who believe! Fear Allah; and give up what you have left of riba, if you are believers. And if you don’t, then receive the announcement of war from Allah and His Messenger. And if you repent, you will have your capital. You will not harm anyone, and you will not be harmed. To the one who is uncomfortable, give a reprieve until he is comfortable. But it is better for you to do forgive others debts for charity! If you knew! And fear the day when you will be returned to Allah. Then each soul will be fully rewarded for what it has acquired. And they will not be harmed. O you who believe! When you contract a debt with a fixed term, put it in writing; and let a scribe write it down, between you, in all righteousness; a scribe does not have to refuse to write according to what Allah has taught him; let him write, then, and let the debtor dictate: let him fear Allah his Lord, and beware of diminishing anything. If the debtor is a wasteful or weak, or unable to dictate himself, let his representative dictate in all fairness. Have two witnesses of your men testify of it; and in the absence of two men, a man and two women from among those whom you accept as witnesses, so that if one of them goes astray, the other can call him back. And that the witnesses do not refuse when they are called. Do not tire of writing down the debt, as well as its term, whether small or large: it is fairer with Allah,and straighter for testimony, and more likely to dispel doubts. But if it is a present commodity that you negotiate among yourselves: in this case, there is no sin in not writing it. But take witnesses when you make a transaction between you; and let no wrongdoing any scribe or any witness. If you did, it would be a perversity in you. And fear Allah. So Allah teaches you and Allah is All-Knowing. S2: V278-282

Ayat-ayat ini sama sekali tidak melarang meminjamkan dengan bunga, tetapi hanya menganjurkan agar orang-orang beriman melepaskan bunga atas hutang yang terhutang kepada mereka dalam konteks praktik riba mereka, atau bahkan membatalkannya (t/n: dengan pokoknya) sama sekali, mengingat keuntungan yang telah mereka raup dan sebagai penebusan karena telah melibatkan diri dalam praktik yang hina ini. Riba berasimilasi dengan praktik komersial yang tidak adil, di mana salah satu pihak mengambil keuntungan secara zalim dari pihak lawan, dan diantara praktik-praktik ini, yang paling tersebar luas adalah “usurious lending” (t/n: illegal action or practice of lending money at unreasonably high rates of interest/ tindakan ilegal yg adalah praktik pinjam-meminjam dengan tingkat bunga yang tinggi/tidak wajar). Faktanya, dalam bentuk pinjaman ini, pemberi pinjaman secara sewenang-wenang memanfaatkan situasi peminjam yang tertekan untuk memaksakan kepadanya persyaratan2 pinjaman yang menyimpang, berat, bahkan tidak mungkin dijaga/dipenuhi untuk mengambil alih semua hartanya. dengan jalan menggunakan kekayaan mereka untuk mengeksploitasi korban yang berada dalam situasi lemah, dan dengan demikian membuat mereka (yg meminjam) tetap dalam posisi ini, atau bahkan memperburuk nasib mereka.

O you who believe! Do not practice riba by trying to multiply your capital disproportionately. And fear Allah so that you may succeed! S3: V130

Ayat di atas dengan jelas menunjukkan bahwa bukanlah fakta tentang meminjamkan dengan bunga yang dilarang oleh Al-Qur’an, melainkan meminjamkan dengan tingkat bunga yang berlebihan, seperti yang dilakukan oleh beberapa perusahaan2 kredit terkenal, organisasi mafia, atau orang-orang yang tidak tahu malu/ loansharks (t/n:rentenir2). Saat ini, sebagian besar negara di dunia telah menetapkan “interest rate/suku bunga acuan” untuk melindungi yang meminjam dari kemungkinan penyalahgunaan yang dapat dilakukan oleh pemberi pinjaman yang tamak. Undang-undang ini baru muncul pada abad terakhir (t/n: 1900-an), ketika, Alquran sudah jauh-jauh hari menerapkan perlindungan ini selama lebih dari 1400 tahun, dengan melarang praktik riba dalam segala bentuknya.

Quentin_Metsys _-_ Les_usuriers

Tidak ada dalam Alquran yang melarang meminjamkan uang dengan bunga atau mengambil pinjaman semacam ini, karena Allah mengizinkan perdagangan/jual-beli, dan uang adalah komoditas seperti komoditas lainnya. Memang, meminjamkan uang dengan bunga memang sah, dan ini karena beberapa alasan:

  1. Meningkatkan modal/ kekayaan membutuhkan banyak waktu dan pengorbanan, dan harus berpisah dengannya untuk waktu tertentu dalam konteks pinjaman, oleh karena itu pantas mendapatkan kompensasi.
  2. Risiko tidak mendapat penggantian/ tidak dikembalikan, membenarkan pengenaan suku bunga yang proporsional dengan risiko ini. Oleh karena itu, wajar jika pembayar yang buruk, atau mereka yang berpenghasilan rendah, atau yang memiliki kesehatan yang buruk, atau yang ingin berinvestasi dalam proyek berisiko, harus membayar lebih banyak bunga untuk menutupi risiko yang ditanggung oleh pemberi pinjaman, tentu tanpa si pemberi pinjaman mengambil keuntungan dari situasi yang meminjam dengan memberlakukan tarif yang tinggi pada mereka.
  3. Inflasi, & kenaikan biaya hidup, menyebabkan uang kehilangan nilainya dari waktu ke waktu, jadi adalah wajar jika sebagian dari bunga digunakan untuk mengkompensasi hilangnya nilai ini.

Alquran tentu saja mengesahkan meminjamkan uang tanpa bunga, tapi ini dipersamakan sebagai sedekah, dan oleh karena itu sama sekali bukan kewajiban (t/n: bahwa setiap meminjamkan wajib murni, pokok saja, tidak boleh mengenakan bunga) seperti yang diklaim kaum Muslim. Hukum Allah berlaku di segala zaman, dan kita lega bahwa Allah mengizinkan kita mengambil pinjaman dengan bunga, jika tidak, akan mustahil bagi kita hari ini untuk membeli rumah, mobil, atau menghadapi pengeluaran2 yang sulit & tak terduga, untuk membayar sekaligus, atau meminjam untuk memulai bisnis kita sendiri.

illustration-adobestock-1593630935

Sekali lagi kita melihat kemunafikan umat Islam yang bersikeras bahwa pinjaman dengan bunga dilarang oleh Alquran, padahal merekalah yang pertama memanfaatkannya. Memang benar, adalah di negara-negara Muslim-lah, (negara) di mana penduduknya paling banyak memilih transaksi kredit, termasuk consumer credit/kredit konsumen, yaitu kredit yang lebih didorong oleh “ketidakbertanggungjawaban” daripada kebutuhan. Tapi sekali lagi, Muslim lebih suka berpegang pada “Sunnah palsu” mereka yang dibuat-buat di belakang nabi dan hidup secara ilegal, dalam artian mengabaikan aturan2 mereka sendiri, daripada mengikuti jalan yang benar: jalan Allah, Alquran, dan sepenuhnya teratur.

Aturan umumnya adalah bahwa Tuhan meng-otorisasi setiap transaksi yang transparan dan jujur, yang tidak abusive/menzalimi atau mengandung klausul tersembunyi, dan yang mendapatkan persetujuan bersama dari kedua belah pihak. Jika syarat2 ini terpenuhi, maka itu adalah trade/jual beli dan ini diizinkan oleh Allah, jika tidak terpenuhi, maka itu adalah riba, dan ini dilarang oleh Allah.

O you who believe! May some of you not eat other people’s property illegally. But let there be (legal) trading, between you, by mutual consent . S4: V29

dejuener business @ w_750

Secara umumnya, riba berkaitan dengan praktik unfair/zalim yang ditujukan untuk memonopoli properti/harta benda orang secara tidak adil. Oleh karena itu, riba tidak hanya terbatas pada “usurious lending”, tetapi juga menyangkut berbagai macam praktik2 lain yang memungkinkan mereka yang menggunakannya untuk memperkaya diri sendiri secara signifikan dengan mengorbankan orang lain. Ini dapat terjadi misalnya melibatkan orang dalam transaksi tanpa persetujuan mereka, seperti direct seller/si penjual langsung yang menandatangani semua jenis kontrak dengan orang-orang yg berada dalam situasi yang lemah atau ceroboh, atau dalam mengeksploitasi orang dengan membuat mereka bekerja dalam kondisi yang tidak layak atau dengan gaji yang tidak pantas/dibawah standar pekerjaan itu. , atau untuk menjual produk yang jauh lebih mahal daripada nilai sebenarnya, atau sebaliknya untuk membeli bahan/produk jauh di bawah harga mereka … dan semua bentuk transaksi lainnya termasuk klausul tersembunyi yang sangat merugikan salah satu dari kedua pihak. Saat ini, ada banyak undang-undang untuk melindungi orang dari semua praktik2 tidak jujur ​​ini, tetapi ini tidak selalu ada/diterapkan, dan seringkali masih belum ada samasekali di sejumlah negara2 terbelakang.

Whatever you put forward as riba to increase your goods at the expense of the goods of others does not increase in the sight of Allah , but what you give as Zakāt, while seeking the Face of Allah (His satisfaction) … Those- they will see [their rewards] multiplied. S30: V39

Tidak perlu jauh-jauh mencari ilustrasi dari semua praktik perdagangan tidak adil ini yang disebut Alquran dengan nama generik “riba”, cukup dengan mengamati semua penyimpangan yang saat ini memutarbalikkan fungsi ekonomi dunia, yang memperlebar kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Misalnya, kita terus mendengar tentang kelompok distribusi besar yang memanfaatkan posisi dominan mereka untuk memaksakan harga rendah yang tidak normal kepada produsen, sehingga produsen tidak punya pilihan lain selain menjualnya dengan kerugian, dan bahkan sebenarnya bukan konsumenlah yang diuntungkan, tetapi hanya segelintir pemegang2 saham besar. Anda juga mendapati semua perusahaan layanan serupa Uber ini, yang menggunakan wilayah abu-abu/ grey area dari hukum dan dominasi mereka, untuk memaksakan kondisi kerja dan remunerasi yang tidak layak kepada karyawan2 mereka. Kita juga melihat semua kelompok2 besar dan orang-orang kaya yang memanfaatkan kekuatan finansial mereka untuk menjual produk2 mereka hampir merugi sampai semua kompetisi tenggelam, dan dengan demikian menjadi satu-satunya yang ada di pasar. Praktik tidak adil lainnya, baru-baru ini kita melihat Tesla membeli Bitcoin senilai $ 1,5 miliar untuk membuat gelembung di sekitarnya, dan kemudian dapat menjualnya kembali dengan harga tinggi yang menyebabkannya meledak dalam prosesnya, yang akan mengakibatkan kehancuran dari semua operator2 kecil.

Bitcoin-BTC-HODL-Whales

Contoh jitu lainnya adalah situs e-commerce Amazon, yang menggunakan posisi dominannya untuk menurunkan harga dengan para profesional yang menggunakan platformnya, sambil tetap menerapkan margin yang “nyaman” terhadap para pelanggannya. Hasilnya adalah pemiliknya, Jeff Bezos, dalam waktu singkat menjadi orang terkaya di dunia dengan lebih dari 200 miliar Dollar.

top-10-billionaires-1598505093

Kesimpulan

Alquran mengesahkan/membolehkan jual-beli dalam semua bentuk2 ini: yaitu setiap transaksi yang adil dan transparan, berdasarkan kesepakatan bersama; dan melarang riba: yaitu setiap transaksi yang abusive, tidak jelas, dan dipaksakan, yang mana tujuannya adalah untuk memonopoli properti/harta benda orang lain secara tidak adil. Allah menyatakan bahwa siapapun yang menggunakan riba untuk memperkaya dirinya sendiri di “punggung”/kerugian orang lain adalah seperti orang yang makan api di perutnya, dan bahwa hartanya dikutuk dan hanya akan menjadi sumber malapetaka baginya. Ilustrasinya dapat dilihat melalui kehidupan sebagian besar orang kaya-orang kaya besar di dunia, yang bukan hanya tidak menikmati kekayaan mereka sebagaimana mestinya, tetapi kekayaan mereka terus slipping (t/n:lolos/lari) dari jari-jari/genggaman mereka.

Dalam batas-batas yang diizinkan oleh Allah, mengambil pinjaman dengan bunga, atau meminjamkan uang dengan bunga, adalah halal sepenuhnya selama itu masih adil/ dalam kewajaran. Dalam nada yang sama, Alquran membolehkan hasil/bunga rekening deposito/simpanan di bank seperti misalnya livrets A, yang sebenarnya paling tidak signifikan, mengetahui bahwa perusahaan2 perbankan menghasilkan lebih banyak uang daripada yang mereka bayarkan kepada kita. Alquran juga mengizinkan investasi murni di pasar saham, karena tindakan itu tidak lebih dan tidak kurang seperti mengasosiasikan diri/bekerja sama dengan perusahaan yang sahamnya telah dibeli, berbagi keuntungan dan kerugian secara adil. Adapun spekulasi, seperti bertaruh pada penurunan nilai produk finansial atau bertaruh pada investasi2 yang tidak pasti atau tidak jelas seperti derivatif (t/n: Derivatif merupakan kontrak atau perjanjian yang nilai atau peluang keuntungannya terkait dengan kinerja aset lain. Aset lain ini disebut sebagai underlying assets. lebih lanjut) , Alquran melarangnya karena sejatinya hanya serupa dengan permainan kesempatan/ perjudian dan tidak menghasilkan produksi apapun atau penambahan kekayaan/kesejahteraan bagi masyarakat.

Hase_Zimmermann_artikel

Singkatnya, Tuhan meng-otorisasi apa yang menguntungkan manusia dan membuat mereka lebih baik, dan melarang apa yang merugikan mereka dan membuat mereka mundur. Hukum Tuhan penuh dengan keadilan, dan common sense (t/n: akal sehat), sedangkan hukum setan tidak lain adalah ketidakadilan/kezaliman dan berliku-liku. Mereka yang dikehendaki Tuhan untuk dibimbing, mengikuti kebenaran dan apa yang telah Dia turunkan, sedangkan mereka yang Tuhan kehendaki untuk dibiarkan tersesat, mengikuti kebohongan2 dan kepalsuan2.




P.S.: Mengenai isi pesan, silahkan tanya langsung secara baik-baik ke thetruthisfromgod.com, karena saya hanya menerjemahkan, dan tidak ambil bagian sedikitpun atas isi pesan. Translator note (t/n:) adalah merupakan tambahan/penjelas dari saya pribadi (penerjemah) dan bukan bagian dari pesan asli. boleh diabaikan saja. Kritik/saran mengenai hasil penerjemahan, silahkan ajukan email ke: firefantasyhaiku@gmail.com atau redemptionman@tutanota.com

Share the Truth:

Post Navigation ;