Peringatan Kiamat

*DISCLAIMER/PENAFIAN*
Saya TF, semua artikel yang ada disini hanya upaya penerjemahan dari https://thetruthisfromgod.com/
Kecuali jika saya nyatakan lain.
Saya bukan pemilik situs tersebut diatas, dan pemilik situs tersebut (YS) samasekali bukanlah kenalan saya. Semua konten disana diluar tanggung jawab saya. Saya hanya orang biasa yang mengambil dari sana, menggunakan mesin penerjemah, kemudian mengoreksi hasil terjemahannya lebih lanjut. Demi Allah, Saya tidak dibayar sepeserpun atau mendapat imbalan apapun dari YS.
YS juga tidak pernah memaksa atau meminta saya untuk menerjemahkan.
Semua ini atas inisiatif saya sendiri.
Mohon maaf atas sebagian terjemahan yang masih kasar, atau keliru.
Untuk itu, Saya mohon dengan sangat kepada Anda untuk tetap meninjau sumber aslinya,
Semata-mata untuk menangkap pesan yang lebih lengkap dan lebih murni.
Jika Anda bisa mengerti apa yang tertulis disana (teks Bahasa inggris/Bahasa Prancis), tolong abaikan saja Blog saya dan baca langsung dari sana.
Pesan YS dalam bentuk video2, saya terjemahkan di channel youtube saya:
“[..] We wish not from you reward or gratitude. Indeed, We fear from our Lord a horribly distressful Day” (76:9-10)
  1. Home
  2. »
  3. Bukti-bukti
  4. »
  5. Haji sejati menurut Qur’an,...

Haji sejati menurut Qur’an, setelah 1400 tahun kebohongan!

29 Mar, 2021Agama Sejati, Bukti-bukti

Diterjemahkan dari: https://thetruthisfromgod.com/2021/03/24/le-vrai-hajj-selon-le-coran-apres-1400-de-mensonges/ (Artikel sumber terjemahan terbit pada 24 Maret 2021)


Artikel ini tersedia dalam versi PDF dan hard copy-nya di Amazon, agar semakin baik memenuhi preferensi bacaan semua orang, sehingga informasi yang dibagikan kemudan dapat mencapai audiens yang lebih luas. Perhatikan bahwa versi web dari artikel ini memiliki kelebihan dari versi PDF dan versi cetakan, yaitu memiliki semua link2 eksternal ke sumber-sumber di web yang melayani sebagai bukti/justifikasi atau illustrasi atas beberapa poin yang dibahas di artikel ini.

Haji saat ini telah tumbuh menjadi bisnis yang sangat menggiurkan, menghasilkan lebih dari 10 Milyar dollar laba setiap tahunnya bagi otoritas/pemerintah Saudi, dan kita lihat semakin banyak dan banyak orang memanfaatkan “durian jatuh” finansial ini dengan membuka agensi mereka sendiri untuk mengorganisir perjalanan haji. Otoritas Saudi mengerti ini dengan sangat baik, karena itulah mereka tetap mejaga eksklusivitas ini untuk mereka sendiri dengan mengharuskan setiap agensi haji yang ada untuk memiliki partnership eksklusif dengan agensi Saudi. Inikah spirit sejati dari Haji? Bisnis trivial turisme dan bisnis menggiurkan sekitar agama? ataukah pengalaman spiritual paling dalam untuk dijalani di kehidupan dunia ini?

Jika kita menjadi seperti ini sekarang, adalah karena Haji telah lama menyimpang, dan sama sekali tidak sesuai lagi dengan bagaimana (t/n: praktik haji) yang sebenarnya. Dimulai dengan durasinya, apakah haji hanya 6 hari dalam setahun seperti yang diklaim oleh aturan Islam, atau jendela waktunya beberapa bulan seperti yang tertulis hitam diatas putih di Alquran? Kita semua tahu konsekuensi “membawa petaka” dari perubahan aturan Qur’an seperti itu, dengan ratusan juta Muslim yang mendapati diri mereka tidak bisa berhaji karena kurangnya tempat yang tersedia, terkadang terpaksa menunggu seumur hidup sebelum bisa. Setiap tahun, kita juga menyayangkan kematian ratusan, bahkan terkadang ribuan jamaah haji, yang meninggal karena terinjak-injak atau karena sesaknya kerumunan yang ekstrim saat haji. Itu belum menghitung harga haji yang meledak, membuat banyak umat Islam tidak bisa melakukannya, dan memaksa banyak orang lainnya harus menabung seumur hidup untuk bisa memenuhi kewajibannya kepada Tuhan. Dan, saya bahkan tidak berbicara tentang adopsi kalender Hijriah oleh umat Islam, yang bulan-bulannya bergeser dari waktu ke waktu, memindahkan periode haji beberapa tahun berturut-turut di tengah musim panas, yang menyebabkan kematian banyak jamaah dan menyebabkan amalan haji sangatlah berat.

Akankah Allah menetapkan suatu ritus yang tidak mungkin dilakukan, atau yang akan membuat kita dalam kesulitan finansial, atau yang akan membahayakan hidup kita? Allah tentu saja tidak bersalah sedikitpun atas semua ini, dan pelaku sebenarnya adalah mereka yang mengubah aturan Allah menjadikan haji seperti sekarang ini.

Sedangkan untuk haji itu sendiri, hari ini lebih terlihat seperti tur wisata daripada perjalanan ibadah yang sebenarnya. Kesalahan dari semua aturan Islam tradisional ini yang telah sepenuhnya mengkodifikasi praktiknya, sampai membuatnya tidak berasa dan tanpa kedalaman apa pun, sedangkan haji yang sebenarnya seharusnya menjadi pengalaman spiritual paling sukses yang pernah ada.

Artikel ini menjelaskan tentang haji yang sebenarnya menurut Alquran. Ini mengasumsikan bahwa karena Alquran khususnya meng-“adress” kepada orang-orang Arab masa lampau (t/n: zaman Nabi), oleh karena itu dengan mengetahui praktik haji mereka maka kita akan dapat memahami apa yang Alquran katakan tentang subjek ini. Artikel ini pertama kali menjelaskan bagaimana ibadah haji di zaman Arab Kuno (t/n: sebelum islam), menjadi seperti apa haji yang dilakukan Islam tradisional, dan apa arti sebenarnya menurut Al-Qur’an. Anda akan melihat bahwa haji yang benar menurut Alquran adalah pengalaman luar biasa yang mestinya dijalani oleh semua orang beriman setidaknya sekali dalam hidup mereka, dan dengan melakukannya sesuai dengan aturan yang benar Anda akan dapat menyadari dimensi spiritualnya yang sebenarnya. dan menuai manfaat penuh.

Artikel ini tidak hanya akan merevolusi pandangan Anda tentang haji, tetapi juga tentang keseluruhan agama. Sebab, saat ini ada jurang pemisah yang sangat besar antara agama yang benar dari Allah seperti yang didefinisikan dalam Alquran, dengan sekte seperti Islam sekarang ini dan “pseudo-Sunnah” yang dibuat-buat dibelakang punggung Nabi, sekian lama setelah wafatnya.

Pengantar

Setelah mendefinisikan Salat, Zakat, dan Puasa Ramadan berdasarkan Qur’an, sekarang kita akan fokus pada Haji, atau pilgrimage/perjalanan ibadah menurut aturan Tuhan yang sebenarnya, dan Anda akan melihat bahwa ada perbedaan yang signifikan dengan Versi Islam berdasarkan Sunnah Nabi. Haji, seperti puasa Ramadhan, sudah dipraktikkan oleh orang Arab Kuno jauh sebelum kedatangan Islam. Kita dapat melihat dengan jelas melalui mereka bahwa ayat-ayat Alquran yang berkaitan dengan haji ditujukan kepada orang-orang yang mengetahui subjek itu dengan sempurna. Oleh karena itu, Alquran tidaklah menetapkan ritus baru yang tidak pernah ada sebelumnya, tetapi hanya mengoreksi praktiknya, menegaskan apa yang sebenarnya datang dari Tuhan dan membatalkan apa yang telah diwarisi dari tradisi pagan/polytheis. Dengan mempelajari bagaimana ibadah haji dilakukan oleh Orang Arab kuno kita akan dapat memahami sepenuhnya apa yang Alquran katakan tentang hal itu. Seluruh pertanyaannya adalah menentukan tempat, periode tepatnya, dan aturan-aturannya, dan untuk melakukannya, kita akan membandingkan antara: ibadah haji seperti yang dilakukan oleh orang Arab Kuno berdasarkan laporan yang dilaporkan oleh sejarawan pada waktu itu; haji seperti yang dipraktikkan oleh umat Islam; dan kemudian akhirnya haji sejati sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat-ayat Alquran.

I- Haji menurut orang Arab Kuno

Orang Arab Kuno sebagian besar adalah penyembah berhala, mereka menyembah banyak dewa, dan masing-masing memiliki kultus pemujaan tersendiri. Oleh karena itu, tidak ada praktik haji yang tunggal, tetapi banyak, berbeda-beda dari satu suku ke suku lainnya sesuai dengan dewa yang mereka sembah. Allah menurunkan Alquran untuk mengatur segala sesuatunya, membatalkan aturan pagan palsu dan menegaskan apa yang sebenarnya berasal dari-Nya.

“Rumah suci”

Screen-Shot-2016-09-02-at-9.42.43-PM-e1472867216992
Hegra, kota Nabatea kuno yang tersembunyi di lembah Al-Ula di Saudi Arabia

Apa yang pertama harus Anda ketahui adalah bahwa haji-nya orang-orang arab kuno tidak secara eksklusif di Ka’bah yang juga disebut “Baitullah/Rumah Allah” melainkan banyak haji-haji lain, kompetitor yang merayakan pada saat yang sama, di tempat-tempat selain dari Ka’bah dan untuk sembahan lain selain Allah. Lokasi dari haji-haji ini berdekatan dengan banyak pasar-pasar, kebanyakan di sepanjang rute karavan dagang ke Yaman, Aden, Oman dan Hadramaut di selatan, dan melalui Syria dan Iraq di utara.

trade

Diantara “Rumah suci” yang lainnya, sebagai contoh adalah rumah Al-Lat di Taif, rumah Al-Uzza di sekitar Arafat, rumah Manat, rumah Dzul-Khoulsa, rumah Najran, dan banyak “rumah-rumah” yang dianggap suci oleh orang-orang Arab Kuno yang juga melayani sebagai tempat haji. Sejarawan-sejarawan mencatat sekurang-kurangnya 360 dewa yang disembah oleh berbagai suku-suku Arab di zaman pra-islam. , yang tidak hanya menggambarkan kerasnya kompetisi yang ada antara dewa-dewa berbeda tersebut, tapi juga antara kultus-kultus dan kuil-kuil yang didedikasikan untuk mereka. Qur’an hanya mention dewa-dewa yang paling terkemuka, diantaranya Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat, yang dianggap oleh orang-orang Arab Kuno sebagai “anak perempuan” Allah.

What do you think [of the deities], Al-Lat and Al-Uzza as well as Manat, this third other? For you there would be the boys and for Him the girls? So this is a very unfair distribution! These are just names that you and your ancestors made up. Allah did not send down any evidence about them. They follow only the conjecture and the passions of [their] souls, while the guidance has come to them from their Lord. [S53:V19-23]

800px-Relief_of_the_Arabian_goddess_Al-Lat, _Manat_and_al-Uzza_from_Hatra._Iraq_Museum
dari kiri ke kanan: Manat, Al-Lat dan Al-Uzza

Allah, bagi sebagian besar orang Arab Kuno, khususnya suku Quraish, yang mana Nabi Muhammad adalah bagian dari itu, adalah sembahan utama, yang juga mereka sebut Hubal, dan yang memiliki “rumah”, yaitu Ka’bah yang berlokasi di Mekkah. Setiap rumah suci memiliki apa yang mereka sebut sembahan “utama”, dan di sampingnya duduk berbagai sembahan-sembahan “sekunder”. Karena itu, masing-masing suku terbiasa menyimpan patung-patung dewa mereka di dalam Ka’bah itu sendiri, disamping patung Allah atau Hubal, yang dianggap sebagai yang terpenting di Mekkah.

45774366be34574ee46119a09be4a5ac

Bulan-bulan suci

Meskipun Haji utamanya adalah festival religius bagi orang2 Arab Kuno, peran penting lain dari itu adalah melayani sebagai pasar. Setiap haji, diselenggarakan di dalamnya satu atau lebih pasar yang dikerahkan di seluruh tahapan rutenya yang berbeda, yang memungkinkan orang Arab Kuno yang sebagian besar adalah pedagang, untuk menjual banyak barang mereka di sana yang mereka angkut dari semua daerah melalui karavan mereka. Oleh karena itu, perdagangan yang terkait dengan haji mewakili bagi sebagian besar suku Arab sebagai rejeki nomplok yang sangat penting. Inilah sebabnya mengapa 4 bulan haji dinyatakan sakral/suci, yang haram/melarang suku mana pun berperang saat itu dan memungkinkan untuk memastikan keamanan pasar, serta karavan dan musafir. Pada zaman Arab kuno, aturan 4 bulan haji/ 4 bulan suci karena itu diwajibkan, dan kita akan melihat nanti apa tepatnya bulan-bulan itu.

camel-train-in-the-desert-charles-theodore

Haji di Ka’bah

EN22Il_WkAAvbZ0

Haji di Ka’bah, bagi orang Arab Kuno adalah festival religius paling penting dan event terbesar dalam setahun, dan kebanyakan mereka menganggap Ka’bah sebagai sakral karena dibangun oleh Ibrahim. Yang mana memegang peranan penting di mata mereka, sampai menyatukan orang-orang Arab kuno dari seluruh semenanjung, termasuk bangsawan-bangsawan dan raja-raja mereka, sama-sama menganggap Ka’bah untuk mereka sebagai sesuatu yang sakral.

4fa882eed58f72d19a08e03c7579fe4e

Namun, sebagian dari orang Arab Kuno tidak mengakui sakralnya Ka’bah, tidak pula mereka menghormati gencatan senjata saat 4 bulan-bulan haji, melakukan perampokan2, menyerang musafir dan karavan dari atau ke Mekkah. Inilah mengapa kepala suku Quraish, Hichem Ibn Quraysh, memutuskan memberlakukan pajak khusus pada kepala2 suku yang memiliki kepentingan finansial khusus atas perdagangan yang berkaitan dengan Haji. Pajak ini kemudian didistribusikan diantara berbagai suku-suku yang berlokasi di sepanjang jalan utama yang mengarah ke Mekkah, agar mereka memastikan keamanan pasar disana, juga keamanan karavan dan musafir yang menlintas. Qur’an merujuk kepada pakta/perjanjian ini yang di-inisiasi orang-orang Quraish, yang memungkinkan untuk mengamankan perjalanan di periode haji, dan menjadikan Mekkah sebagai sanctuary/ suaka suci yang aman.

Due Quraysh pact, their pact [concerning] the trips of winter and summer. therefore worship the Lord of this House [the Ka’ba], who fed them against hunger and secured against the fear! [S106]

Haji di Ka’bah dan rumah suci lainnya menempati peran keagamaan yang penting bagi orang Arab Kuno, memungkinkan berbagai suku untuk menghormati dan merayakan dewa mereka yang sangat banyak, yang mereka representasikan dalam bentuk patung2, di sepanjang jalur berbagai haji mereka. Fungsi kedua dari Haji adalah segi komersial. Pasar yang diselenggarakan di sana membawa keuntungan besar bagi berbagai suku Arab dan memungkinkan mereka untuk menjual barang-barang mereka dari 4 penjuru dunia. Memang, Arab Kuno bertempat secara ideal, menjadi persimpangan dengan kerajaan Persia dan Bizantium (t/n: romawi) di utara, dan rute ke India di selatan. Banyak pos perdagangan yang terletak di pantai Yaman termasuk di antara yang paling penting di dunia sejak hari-hari/zaman kaum Aad dulu. Di wilayah ini para arkeolog telah menemukan jejak-jejak megalopolis kuno yang akan mendominasi seluruh dunia, dinamai Kota Iram, dan yang menurut Alquran dibedakan oleh tiang besarnya yang tidak pernah tertandingi di seluruh dunia.

Have you not seen how your Lord has dealt with the Aads, with Iram, [the city] with the remarkable pillar, which is unmatched in the whole world? [S89: V6-8]

between-wetern-revisionism-and-islamic-traditionalism

Periode Haji

Haji di Ka’bah adalah event utama yang memungkinkan semua suku di Jazirah Arab untuk bertemu setahun sekali di Mekkah, untuk merayakan dewa mereka, berdagang barang, dan mengatur segala macam hal, untuk pesta dan kompetisi di antara mereka. Etimologi dari kata “Eid” menegaskan bahwa haji tidak diragukan lagi adalah perayaan terbesar dalam setahun. Sebab, secara etimologis, kata ini secara sederhana berarti “yang kembali”, mengacu pada haji yang kembali setiap tahun pada periode yang sama, dan sedikit demi sedikit, kata ini mengambil arti “festival” yang kita kenal sekarang, karena itulah apa yang sebenarnya diwakili oleh haji bagi orang Arab Kuno. Di antara ritus penting Haji, orang Arab Kuno memberikan persembahan dan kurban untuk menghormati dewa masing-masing, dan daging serta kulitnya kemudian dibagikan kepada yang paling miskin. Oleh karena itu, haji adalah acara perayaan untuk semua, baik untuk yang kaya maupun untuk yang miskin, dan persembahan serta sedekah yang dikumpulkan oleh yang kaya memungkinkan mereka semua membuat cadangan untuk sisa tahun itu. Pada zaman pra-Islam, haji tidak hanya selama 6 hari seperti yang terjadi saat ini dengan aturan Islam yang dibuat-buat, tetapi berjendela waktu selama 4 bulan penuh, atau sepertiga tahun, yang menggambarkan pentingnya acara ini untuk orang Arab Kuno pada bidang agama, komersial, sosial, budaya, dan bahkan olahraga.

unnamed

Pada akhir bulan-bulan musim panas dan dengan datangnya hujan musim gugur pertama, iklim menjadi sejuk dan menyenangkan di seluruh Semenanjung Arab. Oleh karena itu, periode itu kondusif untuk Puasa Ramadan. Yang mana orang Arab Kuno sudah mempraktikkan itu jauh sebelum kedatangan Islam. Setelah sebulan bermeditasi dan menahan diri, mereka kemudian merilekskan tekanan dengan melakukan hobi favorit mereka, berburu, dan ini berlangsung sepanjang bulan Syawal. Berburu adalah aktivitas yang sangat dihargai oleh orang Arab Kuno, seperti juga oleh semua orang-orang di masa lampau, dan bahkan saat ini oleh banyak orang, karena pada saat yang sama merupakan aktivitas yang memungkinkan mereka untuk melatih bakat mereka sebagai penunggang kuda. , pelacak, dan pemburu, sekaligus menjadi kesempatan bagi mereka untuk melakukan perjalanan panjang dalam kelompok dan di alam bebas, dan untuk mendapatkan daging, kulit, dan tanduk, yang di masa lalu merupakan komoditas yang sangat berharga. Setelah bulan waktu luang dan relaksasi ini, orang-orang Arab Kuno kemudian memasuki 3 bulan haji berturut-turut, yang bagi banyak orang merupakan bulan-bulan ketika aktivitas mereka paling penting, karena kebanyakan dari mereka adalah pedagang. Tiga bulan ini sesuai dengan Dhou Al-Qua’da, Dhou Al-Hijjah, dan Muharram. Haji 3 bulan berturut-turut ini disebut “Haji Besar”, tidak seperti “Haji Kecil”, yang hanya berlangsung satu bulan, bulan Rajab yang dimulai 6 bulan setelah Haji Besar berakhir. Yang perlu Anda ketahui adalah bahwa bulan-bulan yang baru saja saya sebutkan ini BUKAN bulan yang sama dengan bulan yang ada di kalender lunar Islam Hijriah (t/n: meskipun menyandang nama-nama bulan yang sama), karena kalender orang Arab Kuno adalah kalender lunisolar. Ini berarti bahwa bulan-bulan dalam kalender ini tidak bergeser dari waktu ke waktu, tetapi tetap sinkron dengan musim berkat penambahan bulan kabisat, yang oleh orang Arab Kuno disebut Nassi, dan yang muncul setiap setelah 32 bulan.

Kalender orang Arab Kuno

calendar-banner
  1. Muharram: “Kudus”, Salah satu dari 4 bulan suci Haji / Ziarah, di mana orang Arab Kuno melakukan gencatan senjata, hanya perang defensif yang diizinkan.
  2. Safar: “kosong”, Rumah-rumah orang Arab Kuno biasanya kosong, karena tradisinya bulan ini karavan dagang mereka sedang dalam perjalanan ke Suriah dan Yaman.
  3. Rabi ‘al-awwal (Rabi I): “Musim Semi, yang Pertama”
  4. Rabi ‘al-thani (Rabi II): “Musim Semi, yang Kedua”
  5. Jumada al-awwal (Jumada I): Bulan kekeringan pertama
  6. Jumada al-thani (Jumada II): Bulan kekeringan kedua
  7. Radjab: (“Bulan yang dihormati” menurut pemaknaan semitis atau “Bulan kehormatan” menurut pemahaman Arab), Salah satu dari 4 bulan suci Haji / Ziarah, di mana orang-orang Arab Kuno melakukan gencatan senjata, hanya perang defensif yang diizinkan.
  8. Sya’ban: “terpencar”, Bangsa Arab Kuno berpencar untuk mencari air, karena bulan ini bertepatan dengan akhir musim panas, dan oleh karena itu merupakan puncak kekeringan, dan air menjadi lebih langka selama periode ini.
  9. Ramadhan: (fine rain/hujan halus atau panas terik): Bulan yang berkaitan dengan akhir musim panas dan munculnya hujan halus pertama di musim gugur. Bulan berpuasa bagi Orang Arab Kuno.
  10. Syawwal: (bulan kering): Awalnya bulan ini adalah bulan berburu orang Arab Kuno. Secara etimologis, nama bulan ini mengacu pada unta yang melahirkan pada masa ini, dan karenanya menjadi lebih kurus kering karena sedang menyusui.
  11. Dhu al-Qi’da: (bulan istirahat): Salah satu dari 4 bulan suci Haji / Ziarah, di mana orang-orang Arab Kuno melakukan gencatan senjata, hanya perang defensif yang diizinkan di sana. Orang Arab Kuno umumnya tinggal di sana untuk beristirahat selama musim Haji / Ziarah
  12. Dhu al-Hijjah: (bulan haji): Salah satu dari 4 bulan suci Haji / Ziarah, di mana orang-orang Arab Kuno melakukan gencatan senjata, hanya perang defensif yang diizinkan. Bulan yang sesuai dengan puncak musim Haji / Ziarah

“Haji Besar” dan “Haji Kecil”

3 bulan Haji Besar berlangsung kira-kira pada bulan November, Desember, Januari, yang merupakan waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan panjang, sehingga memungkinkan para musafir dan karavan dari seluruh Jazirah Arab untuk menyeberangi gurun untuk sampai ke Mekkah tanpa harus menderita panas. Selain itu, iklim sejuk dan lembut yang sesuai dengan periode itu (t/n: musim dingin di Arab), menawarkan kondisi optimal untuk kinerja pasar, festival, dan berbagai kompetisi, yang mengiringi event besar ini. Sedangkan untuk Haji Kecil, berlangsung pada musim panas dan diperbolehkan untuk melaksanakan Haji kedua di tengah-tengah tahun, yang meringkas waktu tunggu hingga Haji Besar berikutnya .. Selain sebagai acara keagamaan, komersial, dan acara sosial besar, Haji bertepatan dengan 4 bulan gencatan senjata yang disakralkan, yang memberikan masa tenang bagi semua suku Arab, yang lelah karena semua perang yang mereka lakukan sepanjang tahun, belum lagi perampokan yang merupakan ancaman nyata bagi baik karavan pedangan dan para musafir, dan yang menjadi semakin jarang selama 4 bulan haram ini, karena pakta yang dibuat oleh orang Quraish yang memungkinkan atas pengamanan jalan-jalan utama.

1280px-Léon_Belly_Pilgrims_Going_to_Mecca

Di sisi lain, fakta bahwa haji terdiri dari 2 sesi, satu di musim dingin dan satu di musim panas, sangat praktis bagi orang Arab Kuno. Memang, 3 bulan Haji Besar memungkinkan semua suku Arab, termasuk yang paling jauh, untuk dapat hadir di Mekkah untuk musim haji, yang berlangsung selama bulan Dhou Al-Hijjah, sambil memberi mereka waktu untuk melakukan perjalanan pulang dengan selamat sebelum gencatan senjata berakhir. Suku yang paling jauh membutuhkan waktu: 1 bulan untuk pergi, 1 bulan di tempat, dan 1 bulan untuk kembali. Haji Besar adalah acara yang tidak boleh dilewatkan dalam setahun, dan mempertemukan semua suku setahun sekali, yang memungkinkan mereka untuk mengatur semua jenis kompetisi dan pesta di antara mereka sendiri, dan untuk menjual dan membeli produk yang beragam dan bervariasi karena produk2 itu dari seluruh penjuru dunia. Pada zaman Arab Kuno, adalah saat yang tepat untuk hadir di Mekkah selama bulan Dhou Al-Hijjah, karena itu adalah bulan dalam setahun yang paling banyak menyatukan orang, dan di mana acara-acara terbesar diselenggarakan dan orang-orang penting biasa bertemu.

Sebaliknya, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk Haji Besar, Haji Kecil adalah acara yang lebih tenang dan tertutup, dan terutama diperuntukkan bagi penduduk lokal dan profesional bisnis, yang memanfaatkan ketenangan relatif yang ditawarkan oleh haji kecil ini untuk melangsungkan dalam ketenangan pikiran total, tentang kewajiban agama mereka dan melakukan transaksi komersial mereka satu sama lain. Memang, hanya mereka yang tinggal kurang dari 15 hari berkendara dari Mekah dan para pedagang profesional yang memiliki sarana untuk memastikan keamanan karavan mereka di luar periode gencatan senjata, yang bisa pergi ke sana. Karena, sekali bulan Haji Kecil berakhir, gencatan senjata berakhir pula dengan itu, dan serangan militer dan rampok-merampok berlanjut dengan vengeance/ semangat balas dendam, jadi perlu benar-benar yakin untuk dapat melakukan perjalanan pulang-pergi dalam satu bulan Rajab, yang mana untuk sebagian besar tidak mungkin. Haji Kecil bukanlah Umrah seperti yang disebut umat Islam saat ini, tetapi merupakan Haji sepenuhnya seperti Haji Besar, dan beberapa suku Arab, seperti suku Mudhar dan Rabi’ah, bahkan telah menjadikannya haji utama mereka.

mecca1

Ritus haji

Sekarang setelah kita mengidentifikasi periode haji, tempat perayaannya, dan apa yang direpresentasikannya bagi orang Arab Kuno, mari kita lihat ritusnya sendiri. Seperti yang saya katakan di bagian pendahuluan, orang Arab Kuno memiliki ratusan dewa, dan masing-masing memiliki kultus pemujaan tersendiri. Oleh karena itu tidak ada satu-satunya praktik haji, tetapi banyak, itulah sebabnya Alquran datang untuk mengatur semua itu, dan hanya menyisakan apa yang benar-benar berasal dari Tuhan.

“Al-Tawaf” (Mengelilingi)

tawaf

Hal pertama yang dilakukan orang Arab Kuno ketika mereka tiba di Mekkah untuk menunaikan ibadah haji adalah berjalan-jalan di sekitar Ka’bah, dan mereka melakukan hal yang sama di sekitar rumah-rumah suci, batu berhala, dan patung-patung lainnya, seperti di Yathrib, dimana mereka mengelilingi patung Manat. Jumlah menara yang mereka buat selalu ditetapkan sebanyak 7 buah, baik di sekitar Ka’bah maupun di sekitar rumah suci, tugu, makam, atau altar (Al-Ansab). Misalnya, orang Arab Kuno biasa menempatkan binatang yang mereka kurbankan di altar (tiang batu tegak / Al-Ansab), kemudian memutarinya 7 kali, sebelum kemudian membagikannya dengan mengundi, amalan yang kemudian dilarang Alquran.

O you who believe! Khamr, gambling, altars / Al-Ansab (standing stones), arrows of divination are just an abomination, the work of the Devil . Get away from it, so that you will be successful. S5: V90

Angka 7 tidak hanya sakral di antara orang Arab Kuno, tetapi juga hal penting bagi orang Yahudi, dan untuk sejumlah besar orang-orang kuno. Bagi banyak orang, angka 7 melambangkan yang ilahi, dengan 7 langit, 7 bumi, Sabat, hari ke-7 Penciptaan, Jubilees setiap 7 kali 7 tahun. Namun, mengatribusikan kekuatan apa pun pada angka ini adalah murni takhayul.

Sejarawan melaporkan bahwa penyembah berhala di antara orang Arab Kuno sebagian besar dibagi menjadi 2 aliran agama mayoritas: Hilat dan Hamas, dan yang ketiga lebih minoritas: Tals. Mereka yang mengikuti aliran Hamas mengelilingi Ka’bah dengan pakaian lengkap, sementara mereka yang mengikuti aliran Hilat melakukannya dengan bertelanjang! Dikatakan bahwa bahkan wanita yang mengikuti aliran ini harus mematuhi aturan ini. Sebelum memulai, mereka biasanya bertanya apakah seseorang akan memberi mereka pakaian untuk menutupi diri mereka, dan jika tidak ada, mereka akan telanjang bulat, menyembunyikan bagian pribadi mereka dengan satu tangan di depan dan satu tangan di belakang. Catatan sejarah menceritakan bahwa beberapa wanita Hilat memilih untuk mengelilingi Ka’bah di malam hari, karena para pria membuat aturan untuk melakukannya hanya pada siang hari.

Tradisi ini pada awalnya mungkin tampak benar-benar gila, tetapi sering kali, Iblis bersembunyi di balik niat baik. Memang, semangat di balik aturan ini bagi orang Arab Kuno adalah untuk menampilkan diri mereka di hadapan dewa-dewa mereka dalam tampilan mereka yang paling sederhana, merendahkan diri di hadapan mereka dengan cara ini, bagi mereka itu adalah cara untuk menunjukkan ketundukan total mereka. Praktek asli dari Ibrahim adalah hanya mengenakan pakaian sederhana, pakaian yang seringkali dibuat dari potongan kain sederhana, agar lebih rendah hati di hadapan Tuhan. Itu juga memungkinkan kita untuk menampilkan diri kita semua sederajat di hadapan Tuhan seperti ketika Dia awalnya menciptakan kita, dan bukan dalam kebiasaan kita sehari-hari yang mencerminkan posisi kita dalam masyarakat, yang pasti menciptakan perbedaan. Iblis, seperti biasa, menggunakan kelicikannya dengan hal-hal overzealous (t/n:relijiusitas ekstrim), membuat orang-orang kafir percaya bahwa tampil telanjang di hadapan Tuhan adalah tanda ketundukan yang lebih besar. Namun, jelas bahwa praktik semacam itu tidak memenuhi tujuan ini, melainkan bertujuan untuk memancing keburukan dan godaan pada pria. Memang benar, sejak Adam dan Hawa telah melanggar larangan Tuhan di taman Eden/surga, ketelanjangan mereka tampak bagi mereka, sebagai sebuah tanda bahwa mereka telah kehilangan innocence/ ketidakberdosaan/ kepolosan awal mereka.

Begitu kepolosan kita hilang, menunjukkan diri kita telanjang satu sama lain pasti membangkitkan keburukan dan godaan dalam diri kita, inilah mengapa Tuhan memerintahkan kita dalam Al Qur’an untuk menutupi diri kita sendiri dan untuk menjaga pandangan kita, karena Dia tahu bahwa Iblis mencari jalan dengan cara ini, untuk membawa kita pada kekalahan/kerugian terbesar kita.

Tell the believers to lower their eyes and keep their chastity. That is purer for them. Allah is, of course, Perfectly Knowing what they do. And tell the believing women to lower their gaze, to keep their chastity, and to show only what appears in their finery […]. S24: V30-31

Menurut Al-Yacoubi, selain dari mereka yang memeluk agama Kristen dan Yudaisme, yang mana kedua itu menjadi minoritas karena agama-agama ini adalah milik orang asing, sebagian besar orang Arab Kuno terbagi menjadi 2 aliran agama utama: Hamas dan Hilat. Arus utama Hamas adalah yang muncul dari tradisi Ibrahim, meskipun sejumlah aturan dan kepercayaannya dipengaruhi oleh tradisi pagan/ polytheis. Sementara, arus Hilat didominasi oleh tradisi penyembah berhala, mencampurkan sejumlah kultus pagan yang diwarisi dari Nabataeans, Zoroastrian, Hadramites, Qatabanites, Minéens, Assyria, Babylonia, Mesir, dll. Penganut aliran Hamas terutama mereka yang menetap di Mekkah , dan dengan demikian diklaim sebagai penjaga sah dari Ka’bah. Mayoritas dari mereka berasal dari suku Quraish, dan suku minoritas lainnya, juga penduduk Mekah dan sekitarnya.

Kata “Hamas” secara etimologis berarti “motivasi”, karena para pengikut arus ini termotivasi untuk menjaga dengan cara apa pun kemurnian ibadah mereka yang diwarisi dari Ibrahim dan keturunannya, untuk saling mendukung dan bekerja sama, dan menyerukan untuk menyembah Tuhan dari Ka’bah, bahkan jika mereka menghubungkan banyak dewa lain dengan-Nya. Di antara aturan mereka yang lain, mereka juga melarang agresi militer atau provokasi yang serampangan, dan didorong untuk menghormati tuan rumah, untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, dan untuk membantu dan melindungi mereka yang pergi ke Mekkah untuk alasan profesional atau untuk menunaikan haji atau umrah. . Sebagai hasil dari aturan perilaku baik yang diwarisi dari Hukum Tuhan itu, meskipun sebagian tercemar oleh sejumlah kepercayaan pagan yang dikaitkan dengan Allah dan dengan dewa-dewa lain, suku Quraisy adalah yang paling “saleh” di antara semua suku2 Arab lainnya, inilah mengapa Tuhan memberi mereka supremasi dan memilih di antara mereka Nabi terakhirnya, Muhammad. Pada akhirnya, tidaklah mengherankan melihat bahwa mayoritas penganut aliran Hamas percaya pada Nabi dan Alquran, sementara sebagian besar yang lain tetap musyrik, yang mengakibatkan mereka dimusnahkan oleh Allah.

Bukti bahwa kepercayaan pagan telah masuk ke jantung agama Tuhan, orang Arab Kuno biasa menyimpan patung dan betyl/batu berhala yang merepresentasikan dewa2 mereka di dalam Ka’bah, dan sepanjang rute haji. Yang paling terkenal tidak diragukan lagi adalah Batu Hitam, yang masih dipuja sampai hari ini oleh umat Islam di jantung rumah suci Tuhan. Betyl dari Batu Hitam ini melambangkan Al-Lat, salah satu yang dianggap putri Allah, dan dewi kesuburan, dibuktikan dengan representasinya dalam bentuk vulva.

0addaa8f8ffd515bf54dd9dcc37ec9d3

Di antara praktik yang lazim di kalangan orang Arab Kuno adalah apa yang mereka sebut tamassah (mengusap) dan istilam (memeluk). Praktik-praktik ini terdiri dari menyentuh, mengusap, memeluk, dan mencium patung dewa mereka, termasuk Batu Hitam itu, saat melakukan ritual haji. Aturan mengenai Batu Hitam adalah bahwa jika mereka tidak dapat mengaksesnya saat putaran mereka di sekitar Ka’bah, mereka harus menyentuhnya dengan ujung tongkat, karena sentuhan itu bagi mereka identik dengan kesuburan, berkah, dan pemurnian. Saat ini, tradisi ini masih dilestarikan di kalangan umat Islam, yang sembari memutari Ka’bah, menjangkau Hajar Aswad. Atau melambaikan tangan setiap kali mereka berjalan melewatinya jika mereka tidak dapat menyentuhnya, yang hampir selalu terjadi karena ada begitu banyak orang yang ingin mendekatinya. Demikian pula, tamassah (mengusap) dan istilam (memeluk) terus dilakukan oleh umat Islam yang memiliki kebiasaan memeluk dinding Ka’bah dan kain penutupnya, serta mengusap/menjangkaukan tubuh mereka pada itu sebagai berkah dan pemurnian. Tradisi pagan yang diwarisi dari Arab Kuno ini hanyalah kesyirikan murni, karena telah memberikan/ mengatribusikan kekuatan apa pun, apakah itu ke Batu Hitam, ke dinding Ka’bah, atau ke kain yang menutupinya, sementara mereka hanya benda mati yang tidak memiliki kekuatan sendiri.

09Glossary-Kaaba-jumbo
pictures_bigstock-Kaaba-Mecca-in-Saudi-Arabia-an-43175440
mecca2
why-people-kiss-hajar-aswad
106331715_o
Kita menemukan praktik pagan yang sama di semua agama. Kristen memiliki kebiasaan mereka menyentuh kaki dari patung Saint Peter di Vatican, dengan harapan setelah kematian mereka, perbuatan itu membukakan pintu surga untuk mereka, yang tentu saja adalah murni dibuat-buat.

“Talbiyah” (seruan saat berhaji)

Sepanjang haji mereka, orang Arab Kuno mengulangi doa yang sama dengan keras, yang disebut talbiya, yang mereka tujukan kepada dewa mereka. Setiap dewa memiliki talbiya sendiri, seperti misalnya orang Quraisy yang memuja Isaf dengan talbiya berikut: “Here I am, O Lord, here I am. Here I am, You have no partner except the one with whom You are associated, You have him and what he has ” Talbiya dari mereka yang menyeru Al-Uzza adalah: “Here I am, O Lord, here I am. Here I am to please you, and out of love for you” Yang ditujukan untuk Al-Lat adalah: “Here I am, O Lord, here I am. Here I am at your House with a wish, that it will never be abandoned nor suffer any catastrophe, and it comes from a pure land, and its lords are good people” Kita mengenali dalam talbiya yang berbeda-beda itu kemiripan yang agak mencolok dengan yang diucapkan oleh Muslim: “Here I am, O Lord, here I am. Here I am, You have no partner, here I am. In truth, praise and grace belong to You as well as kingship. You don’t have a partner ” Tentu saja ucapan ini memungkinkan orang-orang beriman pertama di zaman Nabi Muhammad dibedakan dari kaum pagan, menyeru hanya Allah tanpa mempersekutukanNya.

25ecfee15ee3059096ea00fbb3a32fc3-800

“Sa’i” (Bolak-balik) antara As-Safâ dan Al-Marwa

Bagi penduduk Mekkah, dan terutama bagi suku Quraych, selain ritual tawaf di sekitar Ka’bah, ditambahkan pula sa’i (bolak-balik) antara As-Safâ dan Al -Marwa yang sebagian besar suku Arab lainnya tidak lakukan. Selama 7 hari pertama haji mereka, mereka yang berbagi kultus yang sama dengan Quraisy tetap tinggal di sekitar suaka suci, berganti-ganti antara siklus 7 putaran di sekitar Ka’bah dan 7 perjalanan pulang pergi antara As-Safâ dan Al-Marwa. Dua patung dewa mereka ditempatkan di 2 gunung ini: Isaf di As-Safâ dan Na’ilain Al-Marwa. Saat mereka lewat, mereka memiliki kebiasaan untuk memanggil mereka dengan keras, berbalik, menyentuh mereka, mengusap mereka, dan mencium mereka, dimulai pertama dengan Isaf, dan diakhiri dengan Na’ila. Ritual pagan ini digunakan untuk memperingati legenda Isaf dan Na’ila, yang berasal dari Yaman dan yang saling mencintai dengan penuh semangat, dan dikatakan telah berubah menjadi batu karena berciuman dan berpelukan di tengah haji. Penduduk Mekah kemudian menempatkan mereka pada awalnya di dekat Ka’bah, kemudian di dekat sumber Zamzam, dan akhirnya, Isaf, yang dijuluki “Penyedia angin”, ditempatkan di gunung As-Safâ, dan rekannya, Na’ila, “Pemberi makan Burung,” di Gunung Al-Marwa.

SAFA-MARWAH-MASJID-AL-HARAM-MAKKAH

catatan sejarah melaporkan bahwa orang-orang beriman pertama, pada awalnya menolak praktik bolak-balik antara As-Safa dan Al-Marwa, percaya itu sebagai tradisi pagan murni. Mereka kemudian ingin mengakhirinya, dengan mengatakan kepada Nabi Muhammad: “Kami tidak akan lagi bolak-balik antara As-Safa dan Al-Marwa, karena itu adalah kebiasaan yang dipraktekkan pada zaman para penyembah berhala”. Saat itulah Allah menurunkan ayat yang menegaskan bahwa bolak-balik antara As-Safa dan Al-Marwa memang bagian dari ritus suci haji.

AS-Safâ and Al-Marwa are truly among the sacred places of Allah. So whoever does Hajj at Home or does Omra is not committing a sin by going back and forth between these two mountains . And whoever does a good work of his own accord, then Allah is Grateful, All-Knowing. S2: V158

Dikatakan bahwa ritus ini untuk memperingati mukjizat yang diwujudkan Tuhan ketika Ibrahim dan keluarganya baru saja menetap di situs yang nantinya akan menjadi Mekkah. Keajaiban ini adalah sumber air, yang disebut Zamzam, yang Tuhan buat untuk menyembur keluar disaat ibu dari Ismail berlari-lari kepayahan antara As-Safâ dan Al-Marwa, mencari mata air untuk putranya.

end-of-saee

Karena itu, bolak-balik antara As-Safâ dan Al-Marwa adalah bagian dari ritus suci Haji, bahkan jika para penyembah berhala telah menyimpangkannya untuk menyembah berhala mereka, Isaf dan Na’ila. Setelah kemenangan orang-orang beriman atas para musyrikin di Mekkah, patung-patung Isaf dan Na’ila yang terletak di As-Safa dan Al-Marwah dihancurkan, sehingga menghilangkan semua jejak penyembahan berhala yang melekat pada tempat-tempat tersebut, yang akhirnya meyakinkan orang-orang yang beriman untuk melakukan ritus ini. Keajaiban mata air Zamzam masih bisa disaksikan hingga hari ini, karena meskipun ribuan tahun telah berlalu, dan milyaran orang yang meminumnya, air dari sumber ini tidak pernah mengering, juga belum pernah airnya menjadi brackish/payau.

zam

“Wukuf” (Berhenti) di Arafah dan Al-Muzdalifa

Setelah ritual di sekitar Ka’bah serta As-Safa dan Al-Marwa selesai, orang Arab Kuno pergi ke Gunung Arafat untuk apa yang mereka sebut Wouqouf (berhenti). Arafat secara etimologis berarti “yang letaknya dekat”, karena gunung ini hanya berjarak tidak sampai lima belas kilometer dari Kabah.

Arafat_mina_kaaba

Ritual yang dilakukan di Gunung Arafah pasti ada hubungannya dengan dewa-dewi mereka, yang menjelaskan keberadaan banyak arca yang tersusun di sekitarnya. Orang Arab Kuno biasa menetap di Gunung Arafah dari siang hingga matahari terbenam, karena mereka juga menyembah matahari. Kemudian, saat matahari terbenam, mereka menuju ke Al-Muzdalifa, yang terletak di tengah-tengah antara Arafah dan Mina, untuk bermalam di sana dan kemudian melanjutkan ke Mina saat matahari terbit. Dikatakan bahwa Nabi Muhammad dengan sengaja meninggalkan Al-Muzdalifa sebelum matahari terbit untuk secara jelas membedakan dirinya dari orang-orang kafir, karena mereka menyembah matahari.

mount-arafat-during-the-pilgrimage-HH4DKH

Dilaporkan bahwa, tidak seperti suku lainnya, suku Quraisy dan mereka yang mengikuti kultus yang sama, tidak pergi ke Arafah sebagai bagian dari haji, tetapi hanya tinggal di dekat suaka suci. Orang Quraisy menganggap diri mereka sebagai keturunan Ibrahim, dan penjaga sah dari suaka Ka’bah dan pewaris ritus-ritus suci. Karena itu, mereka menetap di Mekkah dan mengklaim bahwa suku-suku Arab lainnya tidak memiliki hak yang sama dengan mereka, atau status yang sama, atau tempat tinggal yang sama. Menurut kepercayaan mereka, haji hanya berkaitan dengan apa yang ada di dalam batas tempat suci Ka’bah, oleh karena itu, apa pun di luarnya tidak termasuk. Akibatnya, kaum Quraisy tidak melakukan ritus singgah di Arafah, tetapi satu kelompok dari mereka singgah di Al-Muzdalifa dan yang lainnya di Al-Mash’ari-al-Haram, yang terletak di dalam parimeter ini.

The “Rajm” (stoning) in Mina

Saat matahari terbit, orang Arab Kuno meninggalkan Al-Muzdalifa untuk pergi ke Mina untuk rajam dan berkurban. Mina secara etimologis berarti “menumpahkan darah”, karena tempat ini selalu digunakan untuk persembahan dalam kerangka ibadah haji. Pada zaman Arab Kuno, ada 7 patung yang terletak di Mina, dan ini tentu saja berperan dalam ritual rajam dan kurban. Rajam adalah ritus kuno yang dipraktikkan oleh orang Arab, tidak hanya untuk haji di Mekah, tetapi juga di semua haji lainnya. Ritual ini juga disebutkan dalam Taurat, yang menunjukkan bahwa praktik ini sudah ada bahkan sebelum zaman Arab Kuno.

Laban said to Jacob, Here is this heap (stone mound), and here is this monument (stele / obelisk) which I have erected between me and you.  Let this heap be a witness, and let this monument be a witness, that I will not come to you beyond this heap, and that you will not come to me beyond this heap and this monument, to do wickedly. Genesis C31: V51-52

Obelisk atau tugu batu melambangkan Iblis. Sebenarnya obelisk yang berbentuk puncak mengarah ke langit, adalah simbol pemberontakan iblis dan pendukung2nya melawan Tuhan. Sebaliknya, dome/kubah yang menutupi sebagian besar kuil/tempat ibadah yang didedikasikan untuk Tuhan melambangkan ketundukan total kepada Tuhan.

190330-taillon-obelisks-tease_s3lue6
12501
Obelisk adalah puncak yang menjangkau langit, sementara kubah adalah struktur lengkungan “tunduk diahadapan Tuhan”

Merajam obelisk karena itu melayani untuk menyimbolkan pembunuhan terhadap Setan. Karena, sebagaimana Tuhan memberitahu kita di Qur’an, pertempuran antara Setan dan manusia memanglah pertempuran hingga mati. Menariknya, di hari ini semua kota-kota besar memiliki obelisk2 besar di pusatnya, termasuk kota-kota di negara-negara muslim, yang menunjukkan bahwa pemberontakan terhadap Tuhan sekarang telah menyebar dimana-mana.

1200px-St_Peter's_Square, _Vatican_City _-_ April_2007
66045-istock-1008592778
Luxor Obelisk
Obelisk-Paris-1
rr-composite-tower
160526060322871_DAH-Option 2- Aerial Tower
Kebanyakan kota di dunia ini, besar dan kecil, mempunyai obelisk tepat di tengah-tengahnya. Ini sebagai contoh, di kota Jeddah di Saudi Arabia, dengan proyek Kingdom Tower yang sedang dalam konstruksi.

tonggak batu ini melambangkan fakta bergerak sedikit demi sedikit melawan Tuhan, batu demi batu, untuk mencapai ketinggianNya, dan dengan demikian menjadi tuhan itu sendiri. Dalam banyak tradisi, gundukan ini juga digunakan untuk menandai makam, dan semakin tinggi itu, semakin menunjukkan pentingnya orang mati tersebut. Nabi Muhammad telah melarang praktik ini, karena orang Arab Kuno, dan orang-orang pagan pada umumnya, memiliki kebiasaan membangun kuburan setinggi mungkin setelah kematian mereka untuk menunjukkan kepada orang lain kebesaran mereka. Saat berjalan di alam, kita sering menjumpai gundukan batu, dan orang biasanya menambahkan batu bahkan tanpa memahami arti sebenarnya dari praktik ini. Versi resminya adalah bahwa gundukan batu ini, juga disebut “cairn”, digunakan hanya untuk menandai jalan setapak di alam liar, tetapi praktik ini sebenarnya dipinjam dari shamanisme/perdukunan. Orang Tibet juga mengambil inspirasi dari dukun dengan membuat gundukan batu yang disebut “lhapsa”, yang berfungsi sebagai persembahan kepada para dewa di tempat mereka didirikan, sehingga mereka menawarkan perlindungan dan mengusir roh jahat.Ketika Anda melihat gundukan ini di tengah alam, jangan menambahkan batu pada itu agar tidak ikut ambil bagian dari kultus pemujaan roh ini, tetapi jangan menghancurkan mereka juga, karena itu bukan hak Anda untuk menghancurkan apa yang bukan milik Anda, mengingat risiko melukai/merugikan diri sendiri.

unnamed (2)
Lhapsa1-Tibet

Kurban di Mina

Setelah melakukan stoning/rajam, orang Arab Kuno mengorbankan hewan mereka, yang disebut quala’id, di situs khusus, Mina. “Quala’id” berasal dari kata “qualida” yang berarti “kalung”, Dan mengacu pada hewan yang akan dikorbankan sebagai bagian dari ibadah Haji. Orang Arab Kuno menyebutnya demikian karena mereka menggantungkan kalung atau sepasang sepatu di leher hewan-hewan ini, atau menandainya dengan tusukan di sisi tubuh hingga berdarah, sehingga mereka dengan mudah dapat diidentifikasi sebagai hewan yang dimaksud untuk dikorbankan saat haji, dan tidak ada yang menyakiti mereka atau menahan mereka. Orang Arab Kuno biasa mempersembahkan pengorbanan mereka di kaki patung dewa mereka, dan melakukan pengorbanan hanya saat matahari terbit dan terbenam, karena penyembahan yang mereka bersumpah kepadanya (matahari). Siapapun yang melakukan pengorbanan di luar 2 momen ini harus melakukannya sekali lagi.

h19_06018505

Begitu mereka telah melakukan kurban mereka, orang Arab Kuno menyelesaikan siklus rangkaian haji dengan kembali ke tempat suci untuk melakukan apa yang mereka sebut “tawaf ifadah/return circumambulation”. “. Mereka kemudian melakukan perjalanan terakhir mereka di sekitar Ka’bah dan bolak-balik antara As-Safa dan Al-Marwa, kemudian mencukur kepala mereka untuk menutup haji mereka dan keluar dari keadaan sakralisasi mereka. Dia tidak diizinkan melakukan ini (t/n: mencukur kepala) sebelumnya, jika tidak, haji mereka dianggap batal. Kita menemukan praktik yang sama dalam memotong rambut kita di banyak agama lain, karena dikatakan bahwa dosa disimpan dalam segala hal yang tumbuh di tubuh kita, yaitu rambut, body hair, dan kuku, oleh karena itu memotongnya merupakan tindakan pemurnian. Sebagian besar orang Arab Kuno tinggal 3 hari lagi, dalam apa yang mereka sebut “Tashrik”, Untuk merayakan haji mereka di tempat dan secara kolektif. Sebelum memulai haji, sudah menjadi kebiasaan bagi orang Arab Kuno untuk mengenakan kalung rambut untuk menunjukkan niat mereka untuk menunaikan haji, dengan cara ini tidak ada yang akan menyalahkan mereka dalam perjalanannya. Setelah haji mereka selesai, mereka mengenakan kalung Idhar, tanaman yang harum sehingga mereka menebang pohon yang tumbuh di dalam dinding Ka’bah, yang memungkinkan mereka untuk dengan mudah diidentifikasi juga dalam perjalanan pulang.

Summary

Pada zaman Arab Kuno, tidak ada satu haji tunggal, yaitu di Ka’bah, tetapi beberapa haji lain juga tersebar di seluruh Jazirah Arab, masing-masing didedikasikan untuk dewa yang berbeda. Namun, periode haji sama untuk setiap orang dan berlangsung selama 4 bulan: 3 bulan berturut-turut Dhou Al-Qa’da, Dhou Al-Hijjah, dan Muharram, yang disebut Haji Besar, dan bulan Rajab yang terisolasi, yang disebut Haji Kecil. Bulan-bulan ini tidak sesuai dengan kalender Hijriah yang menjadi basis umat Islam saat ini, tetapi berdasarkan kalender Arab Kuno yang merupakan lunisolar, dan yang bulan-bulannya tetap terikat/sinkron dengan musim. Yang membuat Haji Besar bagi orang Arab Kuno selalu bertepatan di musim dingin, masa ideal untuk perjalanan jauh dan untuk pelaksanaan haji yang baik. Selama 4 bulan haji, gencatan senjata dilakukan oleh semua suku Arab, yang memungkinkan mereka untuk melakukan perjalanan dan melakukan haji dengan aman sepenuhnya. Haji Besar adalah acara tahunan bagi semua suku untuk berkumpul, karena durasinya cukup lama untuk memungkinkan bahkan yang paling jauh dari mereka untuk melakukan perjalanan pulang pergi dan melakukan haji mereka dalam waktu 3 bulan selama gencatan senjata diberlakukan. Sedangkan Haji Kecil itu selalu berlangsung di musim panas dan hanya berlangsung satu bulan, yang membuatnya menjadi acara yang lebih tenang dan tertutup, terutama hanya menyangkut penduduk setempat dan para profesional bisnis. Orang Arab Kuno dapat menunaikan haji mereka kapan pun mereka mau selama 4 bulan ini, dan tidak hanya dari tanggal 8 hingga 13 Dhou Al-Hijjah seperti yang terjadi saat ini bagi umat Islam. Haji orang Arab Kuno umumnya berlangsung sekitar sepuluh hari: sekitar 7 hari terbatas pada lingkungan tempat suci, di mana mereka melakukan tawaf (keliling) di sekitar Ka’bah dan sa’i (bolak-balik) antara As- Safâ dan Al-Marwa, dilanjutkan dengan 2 sampai 3 hari untuk melakukan ritual yang berhubungan dengan Arafah, Al-Muzdalifa, dan Mina, kemudian mereka menyelesaikan rangkaian sirkuit haji dengan tawaf pulang, dan untuk itu biasanya ditambah 3 hari perayaan di sana, yang disebut Tashrik. Orang Arab Kuno, kecuali penduduk Mekah, tidak diizinkan berdagang sampai mereka menyelesaikan haji mereka. Setelah selesai, para pedagang di antara mereka kemudian tetap tinggal selama periode haji, karena bagi mereka itulah pasar terbesar tahun itu bagi mereka.

Mekka

Haji bagi orang Arab Kuno adalah acara sentral setiap tahun, yang memungkinkan mereka pada saat yang sama merayakan dewa mereka, untuk menyatukan semua suku mereka, mengambil bagian dalam semua jenis festival dan kompetisi, dan untuk memanfaatkan banyak pasar-pasar yang diorganisasi di sana. Itu juga merupakan kesempatan bagi yang paling miskin untuk tersenyum kembali dengan memanfaatkan suasana festival, makan sepuasnya berkat kurban haji, dan menyisihkan sedikit uang mereka untuk kebutuhan sisanya di tahun ini. Alquran tidaklah diturunkan untuk merampas dari orang-orang Arab Kuno, acara besar dan berkah besar dari Tuhan yaitu Haji ini, tetapi hanya untuk menghapus darinya apa yang berbahaya, yaitu praktik2 pagan dan semua bentuk kesyirikan. Sayangnya, umat Islam tidak memelihara Hukum Alquran untuk waktu yang lama, karena dengan sangat cepat setelah wafatnya Nabi, mereka memperkenalkan kembali sejumlah praktik2 pagan lama mereka, di mana mereka menambahkan penemuan mereka sendiri tentang apa yang disebut “Sunnah Nabi” oleh kaum Muslimin. Yang mana benar-benar mengacaukan jalannya haji, karena durasinya dari 4 bulan menjadi 6 hari!

El_rey_Don_Rodrigo_arengando_a_sus_tropas_en_la_batalla_de_Guadalete_ (Museo_del_Prado)

Sebelum kedatangan Islam, orang Arab Kuno terutama memperoleh pendapatan dari perdagangan, jadi haji adalah elemen sentral masyarakat mereka. Tapi, setelah wafatnya Nabi dan conquests/penaklukan pertama oleh Islam, umat Islam diperkaya berkat banyak keberhasilan militer mereka. Sumber pendapatan baru ini, ditambah fakta ekspansi ke wilayah baru, memiliki konsekuensi memindahkan mereka dari Ka’bah dan mengurangi daya tarik haji bagi mereka. Ini menjelaskan mengapa perubahan penting dalam aturan haji ini tidak banyak menjadi masalah bagi kebanyakan Muslim saat itu, karena minat mereka tidak lagi terpusat pada haji, tetapi sekarang beralih ke luar. Itu juga cocok bagi mereka untuk mengabaikan 4 bulan suci yang menyertai haji, karena (4 bulan itu) mewakili “rem” atas ekspansi militer mereka. Jadi tidak butuh waktu lama sebelum haji seperti yang dipraktekkan di zaman Nabi benar-benar dilupakan, begitu pula bulan-bulan suci, yang menjelaskan bagaimana kita sampai pada hari ini dengan “haji versi Islam”.

II- Haji menurut Islam tradisional

Hajj-Islamic-Pilgrimage

Sekarang, kita akan melihat terdiri dari apa haji menurut Islam dan memilah apa yang benar-benar datang dari Tuhan, apa yang diambil dari praktik pagan Arab Kuno, dan apa yang dibuat-buat oleh umat Islam dalam apa yang mereka sebut “Sunnah Nabi”. Untuk menghindari kontroversi, mengingat aturan di kalangan umat Islam dapat sangat bervariasi dari satu faksi ke faksi lainnya, kami akan mengambil aturan haji konsensual seperti yang dijelaskan di halaman Wikipedia yang didedikasikan untuk itu, informasi yang mana telah divalidasi oleh “pemuka-pemuka Islam” untuk publik.

Hajj6

Tidak ada yang dihilangkan/diluputkan dari Al-Qur’an, termasuk rincian berbagai amalan haji. Seperti yang saya katakan di awal artikel ini, Alquran tidak menetapkan ritus baru yang tidak pernah ada sebelumnya, tetapi hanya mengoreksi praktik2 yang sudah ada. Inilah mengapa kita menemukan sejumlah kemiripan antara ibadah haji yang dilakukan oleh orang Arab Kuno dan yang dipraktikkan oleh Muslim.

Hajj7

Saat ini ada banyak, jika tidak lebih banyak, faksi-faksi Islam daripada jumlah aliran yang berbeda di antara orang Arab Kuno. Ini menunjukkan bahwa mengikuti tradisi nenek moyang, dan melakukan penyembahan berhala dan kesyirikan, mengarah pada hasil yang persis sama, baik untuk orang Arab Kuno atau untuk Muslim, yaitu terpecah menjadi faksi/sekte-sekte yang tak terhitung banyaknya dan semakin tenggelam ke dalam delirium. Bertentangan dengan kutipan ini, tidak ada perbedaan dalam tata cara ibadah haji, apakah bagi yang tinggal di Mekah atau di tempat lain.

Hajj

Muslim mengklaim bahwa haji hanya untuk jangka waktu 6 hari, sedangkan Alquran mengatakan bahwa haji berlangsung dalam “bulan-bulan yang dikenal”. Jika Alquran menggunakan frasa ini, itu karena bagi orang Arab Kuno tidak ada kemungkinan kebingungan/ salah paham tentang apa “bulan-bulan yang dikenal” itu, seperti halnya hari ini seluruh dunia tahu bahwa hari Natal diadakan pada tanggal 25 Desember. Oleh karena itu, haji TIDAKLAH berlangsung dalam jendela waktu 6 hari, melainkan 4 bulan, “bulan-bulan yang dikenal” yang sama yang diamati pada zaman Arab Kuno. Adapun kalender dari bulan-bulan ini, saya telah menunjukkan secara detail di artikel saya tentang Ramadhan sejati menurut Alquran, bahwa itu adalah kalender yang digunakan oleh orang-orang Arab Kuno pada saat turunnya Alquran, yaitu kalender lunisolar, dan bukan kalender lunar murni/hijriah yang diperkenalkan oleh umat Islam beberapa dekade setelah wafatnya nabi Muhammad. Karena penemuan-penemuan tersebut, umat Islam di seluruh dunia salah kaprah bukan hanya tentang berapa lama haji itu berlangsung, tetapi juga kapan haji itu terjadi dalam setahun. Dengan mengurangi jendela waktu haji dari 4 bulan menjadi 6 hari, jutaan umat Islam kehilangan kesempatan haji setiap tahun, terkadang terpaksa menunggu seumur hidup sebelum ditarik untuk memenangkan pengalaman yang berharga itu, belum lagi semua jemaah haji yang meninggal setiap tahun terinjak-injak karena derasnya arus masuk akibat pemendekan durasinya.

MjY3NTkyMg

Di sisi lain, karena kalender lunar Hijriah palsu mereka, haji jatuh selama beberapa tahun berturut-turut di tengah musim panas, musim di mana suhu di Mekah sekitar 50 ° C, yang mengubah haji menjadi tantangan nyata bagi tubuh dan setiap tahun menyebabkan kematian sejumlah besar jemaah yang dalam kondisi kesehatan yang rapuh.

hajj-heat-umbrella
Pernah pergi Haji di tengah musim panas, saya pastikan untuk Anda bahwa itu adalah sauna dimana-mana, hawanya tak tertahankan.

Sebagai akibat dari kondisi ekstrim ini, ratusan, bahkan ribuan jamaah haji meninggal setiap tahun saat melakukan haji, sedemikian rupa sehingga semakin banyak Muslim yang lebih tua pergi ke sana dengan sengaja dengan harapan ‘menemukan kematian di sana, yang sama saja dengan bunuh diri terselubung, karena menurut keyakinan salah yang mereka buat-buat, kematian selama haji adalah pertanda akhir yang baik.

The fact of dying during the pilgrimage is the sign -incha Allah- of a good ending. A man had his neck broken by his camel and died during the Prophet’s pilgrimage, while he was in a state of sacralization. The Prophet ordered his companions to wrap him in his two garments of Ihrâm, not to cover his head and not to perfume him, then he said: “for he will be resurrected on the day of resurrection by saying the talbiya. “  (Bukhari and Muslim)
Source: https://www.islamweb.net/fr/fatwa/117204/Mourir-pendant-le-p%C3%A8lerinage-est-il-une-mort-en-martyr

Kita menemukan penemuan lain dari jenis yang sama dalam Hadits, menegaskan bahwa orang yang meninggal di Madinah mendapatkan perantaraan/syafaat Nabi Muhammad kelak di hari penghakiman, padahal kita tahu (t/n: berdasarkan Qur’an) bahwa baik Nabi, atau dalam hal ini siapa pun, tidak mendapat manfaat dari syafaat/perantaraan makhluk sedikit pun di sisi Tuhan, dan bahwa tempat kematian kita tidak berpengaruh pada nasib akhir kita. (t/n: hanya iman kita & perbuatan2 kita)

According to Ibn Omar (PAa) the Messenger of Allah (blessings and peace be upon him):  If we can die in Medina, let it be done because I will intercede on behalf of the one who dies there.  (reported by at.-Tirmidhi n ° 3917 and judged by him good, just and strange, and judged authentic by an-Nassai in as-Sunan al-Koubra, 1/602 and judged authentic by Ibn Abdul Hadi in as-Sarim al -mounki, p.96 and by Sheikh al-Albani in as-silsilah as-sahihah, 6/1034. Source: https://islamqa.info/fr/answers/146927/y-a–t-il-un-merite-particulier-a-mourir-et-etre-enterre-a-la-mecque-et-a- medina

According to Samita (may Allah be pleased with her), the Prophet (peace be upon him) said: ” Whoever among you can die in Medina, let him do so because I am an intercessor or a witness for those who die in Medina ”. (Reported by Al Bayhaqi and authenticated by Sheikh Albani in Sahih Targhib n ° 1195). Source: http://www.hadithdujour.com/hadiths/hadith-sur-Celui-d-entre-vous-qui-peut-mourir-a-Medine–_1022.asp

Seperti yang telah kita lihat, semua aturan palsu yang dibuat-buat oleh “Sunnah Nabi” memiliki dampak yang sangat serius terhadap jumlah tempat yang tersedia dan kondisi haji berlangsung, dan ini ditambah dengan harga yang meledak, karena apapun itu yang langka, mau tidak mau menjadi mahal. Hari ini, Anda benar-benar harus menghancurkan diri Anda sendiri untuk melakukan haji, biayanya bahkan lebih mahal daripada pergi ke pulau-pulau, seperti Mauritius atau Polinesia, sementara haji seharusnya dapat diakses oleh semua orang, baik dalam hal jatah/kuota yang tersedia atau biaya. Tapi, (t/n: aturan sebenarnya) ini tidak cocok bagi kepentingan otoritas Saudi yang merupakan penjaga tempat suci Ka’bah, mengetahui bahwa setiap tahun, Haji menghasilkan keuntungan lebih dari 10 miliar dolar .. Dan karena Saudi memiliki cengkeraman pada yurisdiksi utama Islam dan pelatihan sebagian besar imam dan ulama, yang mana tentunya “ulama2” ini bukanlah orang-orang yang akan mempertanyakan semua aturan palsu yang dibuat-buat itu.

tariffhajj
5490 Euro (t/n: 93 juta rupiah) per orang untuk kamar quadruple dan half board, tidak termasuk biaya2 lain di lokasi! Apakah Allah meminta kita untuk merusak diri kita sendiri untuk melakukan ritual yang telah Dia tetapkan untuk kita? Apakah menjadi kaya merupakan prasyarat untuk bisa menaati perintah Allah?

Tetapi penemuan-penemuan ini bukanlah satu-satunya masalah, karena setelah kematian Nabi, ritus haji itu sendirilah yang kehilangan arti sebenarnya yang dimilikinya. Haji bagi kebanyakan Muslim bermuara pada mengucapkan sejumlah doa yang sudah fixed, seolah-olah itu adalah formula ajaib, mereproduksi ritus tidak berarti yang banyak di antaranya telah diambil dari para penyembah berhala, dan mengunjungi berbagai tempat sirkuit haji mengikuti siklus matahari , padahal ini telah dilarang oleh Nabi Muhammad. Umat ​​Muslim mengklaim mengikuti haji terakhir Nabi sampai detil terakhir, tetapi ini adalah kebohongan total, karena sebagian besar aturan mereka dibuat-buat lama setelah kematiannya. Gagasan untuk mencoba menyalin secara rinci haji terakhir Nabi hanya menggambarkan pemujaan/penyembahan berhala mereka atasnya. Sekalipun kita mengasumsikan sejenak bahwa haji umat Islam benar-benar mengikuti haji Nabi, itu tidak mengubah akar masalahnya, karena Alquran membiarkan secara terbuka bagi setiap orang untuk menjalankan haji dengan cara mereka sendiri. Memang, dalam semua yang telah ditentukan untuk kita, Tuhan mendefinisikan bagi kita kontur, garis besar, spirit/semangat di balik setiap preskripsi-Nya, dan kemudian membiarkan masing-masing bebas untuk menerapkannya dengan caranya sendiri sambil tetap dalam koridor/batas yang ditetapkan dengan jelas dalam Alquran. Jadi, tidak hanya ada satu cara untuk menjalankan haji seperti yang diklaim oleh umat Islam, tetapi banyak kemungkinan cara yang berbeda. Pada akhirnya, fakta menunjukkan bahwa islam tradisional telah sepenuhnya mengkodifikasi haji secara mendetail, menghilangkan dimensi spiritualnya yang sebenarnya, menjadikannya sebuah ritus tanpa kedalaman apapun.

600px-La_Mecque_pelerinage
The layout of the Hajj according to Islam has not changed from what it was in the days of the Ancient Arabs.
Hajj4

Alquran tidak memaksakan jumlah yang persis dari tawaf, bahkan tidak tidak pula memerintahkan untuk mengelilingi Ka’bah, dan hal yang sama berlaku untuk jumlah perjalanan antara As-Safâ dan Al-Marwa. Juga tidak ada kewajiban agama untuk meminum air dari mata air Zamzam, meskipun air ini sangat bagus dan setiap peziarah secara alami akan diarahkan untuk meminumnya, karena ada air mancur di mana-mana yang didistribusikan secara gratis. Adapun perjalanan ke Mina dan 4 salat yang harus dilakukan di sana, Alquran tidak menyebutkan langkah ini, jadi tidak ada kewajiban untuk melakukannya.

Hajj5

Alquran memang menyebutkan untuk melakukan perhentian Arafat untuk menyeru/berdo’a kepada Allah di sana, tetapi tidak memaksakan shalat tertentu, juga tidak menentukan waktu yang tepat untuk sampai ke sana atau durasi wajib di mana seseorang harus tinggal di sana. Kaum pagan menjalankan berbagai tahapan haji mereka secara serempak dengan posisi matahari yang berbeda karena penyembahan mereka (atas matahari). Tampaknya umat Islam terus melakukan hal yang sama (t/n: dengan orang Arab Kuno), karena Nabi dengan sengaja melakukan langkah-langkah yang sama ini pada waktu yang berbeda agar menonjol/berbeda dari para penyembah berhala dan penyembahan matahari. Adapun Al-Muzdalifa, Alquran tidak menyebutkan nama ini, tetapi sebuah tempat yang ada di sana, Al-Masya’ari-al-Haram, dan memerintahkan kita, seperti Arafat, untuk tetap di sana selama waktu tertentu untuk berdoa di sana.

Hajj3

Alquran tidak menyebut nama Mina, tetapi berbicara tentang persembahan yang bisa berupa pengurbanan hewan ternak. Oleh karena itu, Mina adalah bagian dari tahapan haji karena itu adalah tempat yang disediakan untuk tujuan ini, yang juga menjelaskan namanya, yang secara etimologis berarti “menumpahkan darah”. Menurut cerita, Mina adalah tempat di mana Ibrahim akan mengorbankan putranya di sana, dan kemudian Tuhan mengiriminya seekor domba sebagai kurban pengganti, tetapi tidak ada yang mengkonfirmasi cerita ini dan itu tidaklah terlalu penting. Di sisi lain, yang penting adalah persembahan itu sendiri, yang memungkinkan yang paling miskin memiliki cukup makanan dan untuk memenuhi pengeluaran mereka, sehingga mereka tidak perlu cemas tentang kekhawatiran2 sejenis itu, setidaknya selama haji. Prinsip haji adalah begitu Anda berada di sana, adalah Allah yang mengundang, dan karena itu persembahan/pengurbanan terutama digunakan untuk tujuan ini (t/n: memberi kepada yang miskin). Adapun lempar jumrah/merajam 3 pilar, ritus ini BUKAN salah satu dari yang ditentukan oleh Allah, jika iya tentu akan disebutkan dengan jelas dalam Alquran. Ini adalah ritus pagan yang dilakukan oleh orang-orang Arab Kuno sebelum Islam, dan yang dipelihara oleh umat Islam. Setelah pengurbanan dilakukan, Alquran tidak secara tegas memerintahkan “tawaf kembali”, tetapi tidak ada dalam Alquran yang melarangnya.

Hajj2

Tasyriq, yaitu perayaan 3 hari di lokasi setelah semua ritus haji dilakukan, BUKAN bagian dari haji itu sendiri, apalagi ritus lempar jumrah. Setelah persembahan/kurban, seseorang boleh langsung kembali ke sekitar suaka suci, untuk membuat putaran terakhir di sekitar Ka’bah dan bolak-balik antara As-Safâ dan Al-Marwa, kemudian menutup haji dengan memotong rambut. Alquran secara eksplisit memerintahkan untuk memotong atau memendekkan rambut di akhir haji, yang menunjukkan bahwa ini adalah bagian dari kewajiban haji. Tidak ada yang dihilangkan dalam Alquran, segala sesuatu yang wajib diungkapkan di sana dengan jelas, dan semua yang tidak disebutkan di sana, tidak selalu berarti dilarang, tetapi dalam hal apapun bukanlah kewajiban. Adapun kunjungan ke Masjid Nabawi di Madinah, itu BUKAN bagian dari haji sama sekali. Haji adalah ritus hanya di sekitar Tuhan dan bukan di sekitar Nabi, mengikutsertakan langkah ini hampir secara sistematis seperti yang dilakukan kebanyakan Muslim, adalah kesyirikan murni dan penyembahan berhala atas Nabi.

Hajj8

Tidak ada dalam Alquran yang menunjukkan bahwa laki-laki dilarang menutupi kepala mereka. Larangan ini semakin “gila” saat Haji Islam jatuh beberapa tahun berturut-turut di tengah musim panas, jadi akan sangat bijaksana untuk menutupi kepala Anda.

c912c792-5787-465d-9c3a-738aa4c697dc_16x9_600x338
Aturan konyol yang dibuat-buat sejenis ini mengarahkan ke situasi2 yang sama konyolnya
000_Nic6489420
menurut ritus2 islam, kita tidak dibolehkan menutupi kepala kita, tapi di sisi lain, kita punya hak menggunakan payung.

Sedangkan untuk menggunakan parfum atau mengoleskan krim atau minyak, tidak ada yang melarangnya dalam Alquran. Juga tidak ada yang mencegah pemotongan kuku Anda jika terlalu panjang, atau menghilangkan body hair yang tidak sedap dipandang. Di sisi lain, seseorang harus menunggu sampai akhir haji untuk benar-benar memotong rambutnya atau memendekkannya.

A Muslim pilgrim has his head shaved after casting pebbles at a pillar that symbolizes Satan during the annual haj pilgrimage, on the first day of Eid al-Adha in Mina

Adapun jenis pakaian yang akan dikenakan, seperti yang saya katakan di bagian pertama artikel ini, tujuannya adalah untuk tampil di hadapan Tuhan dengan pakaian yang paling sederhana, dan bukan dalam pakaian sehari-hari yang mencerminkan posisi kita dalam masyarakat. Yang terpenting adalah mengenakan pakaian yang mengekspresikan kerendahan hati kita di hadapan Tuhan dan yang tidak membedakan kita dari orang lain. Tidak ada aturan yang persis tentang hal ini dalam Alquran, kecuali untuk menghormati aturan haji, oleh karena itu secara implisit ikutilah kode berpakaian seseorang dengan mengenakan kain ihram.

1000
kain ihram berfungsi tidak hanya untuk mengekspresikan kerendahan hati di hadapan Tuhan, tetapi juga tidak untuk membuat perbedaan antara kita di hadapan Tuhan, dengan tetap menghormati kode berpakaian haji.

Sedangkan untuk berburu, Alquran secara tegas melarang berburu dalam keadaan suci (t/n: selama melaksanakan haji). Adapun larangan menikah saat berhaji, Alquran jelas tidak akan mencantumkan semua kasus satu per satu. Aturannya adalah bahwa segala jenis godaan dengan pasangan dilarang selama haji, jadi menikah dilarang. Apalagi jika haji adalah perjalanan untuk Tuhan, tidak akan terpikir oleh pikiran untuk ingin menikah pada saat yang khusus ini, padahal seseorang harus 100% mengabdi kepada Tuhan.

Summary

Haji menurut Islam mengambil sejumlah aturan pagan, seperti merajam pillar, jumlah putaran di sekitar Ka’bah dan bolak-balik antara As-Safâ dan Al-Marwa ditetapkan pada 7 kali, atau tahapan yang berbeda dari Haji berdasarkan pergerakan matahari. Tidak dilarang untuk mengikuti aturan-aturan ini, asalkan kita paham dan ingat bahwa itu TIDAK PERNAH diperintahkan di Al-Qur’an. Sebab, sejauh hal wajibnya, Alquran sudah cukup jelas, seperti kewajiban memotong rambut di penghujung haji, yang harus dikompensasikan dengan puasa, persembahan/kurban, atau ibadah, jika tidak memiliki kemungkinan untuk melakukannya. Bukti utama bahwa aturan2 Islam tentang haji bukanlah yang diwajibkan, adalah bahwa kita baru saja melihat bahwa dibutuhkan 6 hari (3 hari jika kita tidak menghitung Tashriq) untuk melakukan haji, di mana Alquran memungkinkan Anda melakukannya di hanya 2 hari saja jika diburu waktu, yang bukan hanya membuktikan bahwa cara menunaikan haji (cara islam tradisional) bukan satu-satunya cara, dan di atas semua itu tidak diwajibkan seperti itu. Dalam artikel ini, saya hanya menunjukkan kepada Anda garis2 besar Haji Islam, tetapi jika Anda menelusurinya lebih rinci, Anda akan melihat bahwa Muslim sebenarnya telah membuat-buat aturan lain yang tak ada habis2nya.

Mengenai periode dan durasinya, umat Islam bersikeras mengatakan bahwa haji hanya berlangsung antara tanggal 8 dan 13 Dhou Al-Hijjah, sementara bahkan hadits yang menjadi dasar Sunnah mereka, bertentangan dengan versi ini. Memang ada beberapa hadits yang melaporkan bahwa di tahun ke-9 setelah hijrah, tahun sebelum haji perpisahan Nabi, Abu Bakar telah menunaikan ibadah haji selama satu bulan Dhou Al-Qa’da.

Hajj9

According to Ali Ibn Muhammad, Ibn Abdallah, Ibn Bouchran de Baghdad, after Abu Omar, after Ibn Al-Samak, after Thana Ibn Isaac, Abu Adballah, also known as Ahmad Ibn Anbal, told as part of his speech to maintain that the Nassi is an increase in disbelief, that they used to do Hajj 2 years in a row during the month of Dhou Al-Hijjah, then 2 years in a row during the month of Muharram, and so on, alternating the month of Hajj (among the 3 months of the Grand Hajj: Dhou Al-Qa’da, Dhou Al-Hijjah, and Muharram) every 2 years until the Hajj of Abu Bakr , who fell in the last 2 years on Dhou Al-Qa’da, just a year before the Hajj of the prophet, which fell to him during Dhou Al-Hijjah, it was then that the prophet said in his oath that the time has turned to adopt the same configuration as when Allah created the heavens and the earth. Source: https://al-maktaba.org/book/31621/32560

Umat Muslim mengatakan bahwa pergantian ini karena bulan Nassi yang akan dihapuskan oleh Nabi di tahun 10 Hijriah, saat haji terakhirnya. Namun, seperti yang saya tunjukkan dalam artikel saya tentang Ramadhan, Nabi tidak pernah memerintahkan untuk menghapuskan bulan kabisat, yang memiliki peran menjaga agar kalender lunar tetap sinkron dengan musim, melainkan melarang “pembajakan bulan kabisat” oleh orang-orang Arab Kuno menyatakan kadang-kadang suci/haram dan kadang-kadang kotor jika cocok untuk mereka, yang mengakibatkan tergesernya bulan2 suci haji. Penghapusan bulan kabisat, yang melahirkan kalender lunar murni hijriah, tidak terjadi sampai beberapa dekade setelah kematian Nabi. Oleh karena itu, hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa Haji Besar memang terjadi pada zaman nabi Muhammad selama 3 bulan: Dhou Al-Qa’da, Dhou Al-Hijjah, dan Muharram, bahkan jika aturan untuk pergantian bulan setiap 2 tahun adalah murni penemuan kaum pagan.

Mengenai praktik haji itu sendiri, fakta bahwa haji begitu terkodifikasi, menghilangkan semua kedalaman dari dimensi spiritualnya. Ketika Anda mengobrol dengan banyak Muslim sekembalinya dari haji, kisah mereka tidak jauh berbeda dengan jika mereka bercerita tentang liburan mereka di Dubai. Mereka memberi tahu Anda tentang hotel mereka, apa yang mereka makan di sana, barang-barang yang mereka beli di pusat perbelanjaan besar di sekitar Ka’bah, hiruk-pikuk dan peristiwa-peristiwa yang mereka saksikan, panas yang menyengat di sana, air Zamzam yang mereka bawa kembali dalam wadah utuh, kisah persinggahan mereka di Madinah dan kunjungan ke Masjid Nabi yang mereka puja, dan yang banyak akan memberi tahu Anda bahwa mereka bahkan lebih suka disana daripada di Mekkah, dari emosi mendalam yang mereka rasakan saat berdoa di depan makam Nabi, dan mereka menyimpulkan dengan mengatakan bahwa meskipun perjalanan mereka berat, itu masih membuat mereka merasa baik, seolah-olah haji hanya ada di sana untuk membuat mereka rileks … tentang pengalaman spiritual/batin yang mereka miliki, hampir tidak ada, yang hampir tidak mengherankan, karena haji mereka telah menjadi ritus yang dikosongkan dari dimensi spiritualnya yang sebenarnya.

807317dfb2e76b2752534f947abf3291
mall
Anda akan sering mendengar Muslim bangga bercerita tentang pusat perbelanjaan besar di sekitar Ka’bah, bangga membawa kembali sejumlah produk yang berbau Islam. Namun, tidak ada “merchandising” atas agama yang benar dari Tuhan, tetapi hal-hal itu hanya ada di sekitar sekte-sekte seperti halnya dengan agama palsu mereka yang ditemukan berdasarkan “Sunnah Nabi”. Banyak dari mereka pergi haji sebagai sektarian dan musyrik, dan kembali tetap sama dibanding saat mereka pergi, bukti bahwa haji mereka bukanlah pengalaman spiritual yang dalam, juga tidak berfungsi untuk menghubungkan mereka dengan Allah, karena jika bukan seperti itu, haji akan mendorong mereka untuk merenung, merefleksikan jalan sektarian yaitu Islam tradisional mereka dan menolaknya.

Bukti bahwa banyak Muslim benar-benar melewatkan apa sebenarnya haji itu, ketika Anda melihat mereka sebelum dan sesudah haji mereka, Anda tidak melihat adanya perubahan pada mereka. Sedangkan orang yang menjalankan haji sebagaimana mestinya, kembali sebagai bayi yang baru lahir, seolah-olah Tuhan telah menyucikannya dari segala dosanya. Muslim suka mengulangi hadits kepada Anda dengan mengatakan ini, namun kebanyakan dari mereka kembali sama tercemar dan tersesatnya sebagaimana saat mereka pergi.

20009
Ketika Anda mengamati banyak Muslim selama haji, terkadang Anda mendapat kesan bahwa Anda melihat sekelompok turis melakukan tur berpemandu, terus-menerus memotret dan merekam diri mereka sendiri saat melakukan ritual mereka, bukti bahwa agama bagi mereka terutama adalah urusan penampilan.
7c0ca5f495f543d990025af66853c934_6
c1_1728051_700
tindakan favorit banyak Muslim adalah “naik ke panggung” untuk membodohi satu sama lain dalam penampilan yang saleh.

III Haji Menurut Qur’an

HAJJ2222

Haji menurut Alquran diyakini sebagai pengalaman spiritual terdalam dan terkuat yang bisa dialami seseorang dalam kehidupan duniawi ini. Ini adalah “gathering” langsung dengan Tuhan, dengan seluruh Umat Manusia, dan dengan Sejarah, dengan kebenaran, yang diceritakan oleh Alquran dan yang menelusuri berkah & nikmat2 Tuhan atas Manusia sejak penciptaannya. Merupakan rahmat Tuhan yang tak terbatas, keberadaan Rumah Suci ini dibangun untuk kita, yang selama ribuan tahun telah berfungsi sebagai tempat berkumpul ( “Allah established the Ka’aba, the sacred house, as a place of gathering for the people ”S5: V97 ) dan sanctuary/ suaka suci ( “ And remember, when we made the House a visitation place and a sanctuary for the people ”S2: V125), dan yang memungkinkan kita menerima konfirmasi/ peneguhan, kesembuhan, dan pemurnian dari Tuhan. Dalam rahmat-Nya yang Agung, Tuhan membuat mata air yang diberkahi mengalir di sana, yang sejak saat itu tidak pernah mengering atau menjadi payau, dan mengirim ke sana segala macam kebaikan, memungkinkan semua orang yang beriman, kaya maupun yang miskin, untuk meminum dahaga mereka, untuk makan kenyang, dan untuk menyimpan semua jenis produk dari seluruh dunia. Ketika awalnya, tempat ini hanyalah lembah gersang yang tidak habitable, tanpa air, tumbuhan, atau konstruksi.

O our Lord, I have established part of my offspring in a valley without agriculture, near Your sacred house [the Ka’ba] , – O our Lord – so that they may perform Salât. So cause the hearts of some of the people to lean towards them. And feed them with fruit. Maybe they will be grateful? S14: V37

a8d0ef5be4cf3931cfa015ddb11dde9d_XL
Ketika Anda mengamati alam yang mengelilingi Mekah, rasanya lebih seperti planet Mars, dengan hanya pasir, batu, dan pegunungan berbatu, namun Tuhan telah menjadikannya tempat yang penuh dengan kehidupan dan oasis yang nyata di tengah gurun, sehingga memenuhi janjiNya untuk Ibrahim.

Tuhan menjadikan kuil Ka’bah sebagai tempat yang sangat populer, tidak diragukan lagi tempat nomor satu yang paling banyak dikunjungi di dunia per meter perseginya sejak pembangunannya, sementara tidak ada pada awalnya (t/n: sebelum Nabi Ibrahim), apapun tentang lokasi ini, yang pada dasarnya adalah sepotong gurun tanpa kehidupan apapun di sepanjang cakrawalanya.

And make the people an announcement for Hajj, they will come to you, on foot, and also on any mount, coming from any far way S22: V27

Ketika kita tiba di bandara Jeddah dan mengambil jalan menuju Mekah, pemandangan yang kita lintasi hampir membuat kita percaya bahwa kita berada di planet Mars karena wilayah ini tidak hospitable dan iklimnya mencekik. Kita bertanya-tanya bagaimana sebuah kota bisa muncul dengan baik dari gurun ini, namun ketika kita tiba di sana, kita temukan tempat yang penuh dengan kehidupan, dan dengan konstruksi yang megah, sebuah oasis yang nyata di tengah gurun. Kita kemudian memiliki di depan mata kita bukti hidup bahwa Allah telah benar-benar menepati janjiNya kepada Ibrahim., Ketika Dia memerintahkannya untuk memanggil orang-orang untuk haji ke “Rumah”-Nya, dan bahwa mereka akan datang ke sana dari semua tempat, sejauh manapun mereka asalnya, dan bahwa mereka semua akan makan dan minum di sana. untuk kehausan mereka … hampir mustahil untuk percaya itu ketika Anda membayangkan seperti apa tempat ini pada awalnya, tetapi hanya Allahlah yang memberi kehidupan pada apa yang mati.

bg-meka-6

Ketika Anda tiba di Mekkah dan berbaur dengan jemaah lainnya, Anda akan langsung dikejutkan oleh banyaknya variasi orang yang Anda temui di sana. Mekah tidak diragukan lagi adalah tempat paling kosmopolitan di dunia, lebih dari gabungan semua ibu kota dunia lainnya. Bukan tanpa alasan bahwa Allah memanggilnya di dalam Alquran, “mother of cities/ummul qura”, ibukotanya dari ibukota2, tetapi itu karena Mekkah saja yang mendatangkan penduduk dari semua ibukota di dunia. bersatu kembali.

And this is how We have revealed to you an Arabic Quran, so that you warn the  mother of the cities (Mecca) and its surroundings and that you warn of the Day of Gathering, – of which there is no doubt – A group in Paradise and a group in the fiery furnace. S42: V7

Here is a blessed Book (the Quran) which We sent down, confirming what already existed before it, so that you warn the  mother of cities (Mecca) and the people all around. Those who believe in the Last Day believe in it and remain assiduous in their Salât. S6: V92

Perasaan yang kita dapatkan di Mekah adalah bahwa hanya Allahlah yang dapat mempertemukan di satu tempat begitu banyak orang dari asal yang berbeda, baik dari segi usia, asal sosial atau geografis, dan berhasil untuk menyatukan hati mereka hingga membuat mereka semua melihat satu sama lain sebagai saudara dan saudari.

He united their hearts (by faith). Would you have spent all that is on earth, you could not have united their hearts ; but it is Allah who united them, for He is Mighty and Wise. S8: V63

Meski selalu ada VIP, saat kita di sana, kita merasa satu keluarga besar, sederajat di hadapan Allah, tanpa kompetisi atau persaingan, seperti Dia menciptakan kita di hari pertama. Keagungan yang tak terlukiskan dari Ka’bah dan banyaknya jemaat yang terus-menerus berkumpul di sana adalah bukti nyata dari kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa, dan benar-benar memberi kesan berada di gerbang Surga pada hari penghakiman Terakhir. Melihat begitu banyak orang terus melakukan perjalanan, selama ribuan tahun dan dari tempat-tempat yang beraneka ragam, bukan untuk bertemu Paus atau selebriti mana pun, tetapi hanya untuk bertemu Allah, Tuhan Yang Tidak Terlihat, adalah tanda yang menyatakan bahwa Tuhan pemilik Ka’bah memang nyata dan bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang benar, karena hanya Dia yang dapat melakukan ini di bumi.

image ~ 1
Anda tidak akan melihat pemandangan ini di mana pun di dunia. Begitu banyak orang berkumpul hanya untuk bertemu Allah, dan ketika Anda melihat keindahan dan keteraturan yang ada di sana, hanya Tuhan Yang Maha Esa yang dapat mencapai ini.

Jadi, hanya fakta pergi ke Mekkah, bahkan tanpa melakukan haji di sana, sudah cukup untuk meningkatkan keimanan kita dan memberi kita bukti nyata, baik di dalam maupun di luar diri kita sendiri. , tentang keberadaan Tuhan dan Kekuatan Yang Mahakuasa. Jelas ada sesuatu yang terjadi di tempat yang diberkati Tuhan ini yang tidak dapat Anda rasakan di tempat lain di dunia ini, dan satu-satunya cara untuk diyakinkan adalah dengan pergi ke sana sendiri. Karena itu kita mengerti mengapa Allah memerintahkan semua orang beriman yang berkesempatan/bisa, untuk menunaikan ibadah haji setidaknya sekali dalam hidup mereka.

Iblis ingin seperti biasa untuk meniru Tuhan dengan menciptakan kota Las Vegas, yang bukan tanpa alasan dijuluki “Mecca of vice ” (t/n: mekkahnya keburukan/maksiat), tetapi karena itu dibangun dengan tujuan untuk menjadi “evil counterpart”nya Mekah. Memang, seperti halnya dengan Mekah, orang-orang berbondong-bondong ke sana dari seluruh dunia, tetapi kali ini bukan untuk bertemu Tuhan di sana dan mendapatkan kesembuhan dari-Nya, tetapi untuk bersembunyi dari-Nya dan meningkatkan penyakit yang ada di dalam hati mereka. Namun, Las Vegas jauh tidak sepadat Mekah, dan kota ini menghancurkan kehidupan orang-orang daripada menjaga mereka. Allah telah mengutuk kota malapetaka ini, semua laba yang dihasilkannya, peristiwa-peristiwa yang terjadi di sana, segala sesuatu yang berhubungan dengannya dikutuk dan hanya mengarah kepada kemalangan dan kehancuran.

240066005
blog-header-Las-Vegas
Kehidupan di Las Vegas adalah serba keburukan, godaan, dan kesesatan, kearah manapun Anda melirik. Inilah mengapa ada ekspresi yang mengatakan “Apapun yang di Las Vegas, tetap berada di Las Vegas” karena seseorang yang pergi ke sana adalah untuk bersembunyi dari Tuhan, untuk melakukan tindakan-tindakan paling hina dan memalukan disana.

Las Vegas tidak memiliki sumber air yang diberkati dan tidak ada habisnya seperti halnya dengan Mekah, tetapi sebaliknya, ia memonopoli dengan sendirinya semua air dari seluruh bagian benua Amerika, yang sekarang mengalami kekurangan air yang serius karena pemborosan air yang luarbiasa di Las Vegas.

Fountains-Bellagio-Las-Vegas-1-3af96de921564e0b8ea2dd1f233cdf7b
ill_1032554_lac-mead

Sensasi lain yang hanya bisa dirasakan dengan menunaikan haji di Mekah adalah kehadiran Tuhan yang terasa di sana tidak seperti tempat lain di muka bumi. Kita memiliki perasaan berada di Surga, dengan Tuhan yang sangat dekat dengan kita, yang mendengar dan menjawab doa-doa kita hampir seketika. Mereka yang menunaikan haji dengan niat yang tulus dan murni, dan bukan dengan sombong, dan yang tidak melakukan kezaliman atau kesyirikan, meninggalkan Mekah dengan perasaan telah sepenuhnya dibersihkan dari semua dosa mereka, dan melihat diri mereka dianugerahi oleh Tuhan sebuah awal yang baru dalam perjalanan mereka kembali ke kehidupan sipil, kesempatan baru untuk memulai kembali kehidupan yang lebih berkah di mata Tuhan.

Akhirnya, melakukan haji di Mekah memungkinkan untuk menyadari berkah Tuhan atas Manusia sejak penciptaannya, dan untuk menghidupkan kembali semua peristiwa penting dan mukjizat Tuhan yang diceritakan dalam Alquran untuk diri sendiri, dan untuk menapaki tanah yang diberkati ini yang para malaikat Tuhan telah menapakinya, dan itu adalah kediaman Ibrahim, Muhammad, dan banyak Nabi dan orang-orang baik lainnya.

Semua tahapan yang merupakan bagian dari rangkaian haji (Arafah, As-Safâ dan Al-Marwa, Ka’bah, Masjid Suci / Al-Masjid-al-Haram, Al-Mash’ari-al-Haram, Mina) Telah menjadi adegan adegan penting yang dikutip dalam Alquran, dan semua ritual yang ditentukan untuk haji tidak simbolik, tetapi memungkinkan untuk mendapatkan manfaat nyata dari Tuhan. Ini seperti melihat film di TV yang membuat kita bermimpi dan ingin pergi ke lokasi di mana film itu difilmkan, mencoba menghidupkannya kembali sendiri untuk lebih membenamkan diri di dalamnya, kecuali dalam kasus ini, lebih kuat lagi, karena ini bukan soal fiksi sederhana, tapi memang tentang realitas dunia ini. Dengan mengunjungi tempat-tempat berbeda yang dalam sirkuit haji, mata kita penuh dengan ketakjuban, dan kita berkata pada diri kita sendiri bahwa di negeri inilah begitu banyak hal besar telah terjadi, dan berkat semua itulah kita berada di tempat itu, yang memungkinkan kita untuk lebih menyadari berkah Tuhan bagi kita dan nenek moyang kita, dan membuat kita ingin lebih berterima kasih dan melayani Dia. Jadi inilah semangat haji menurut Alquran. Dan sekarang, setelah spirit/semangat haji, kita akan membahas semua yang perlu diketahui tentang Haji dan aturan sebenarnya menurut preskripsi Tuhan, yaitu Qur’an.

Tempat ibadah Haji

This image has an empty alt attribute; its file name is image-7.png

Aṣ-Ṣafā and Al-Marwah are truly among the sacred places of Allah. So, whoever makes the pilgrimage / Hajj from the House (the Kaaba) to or makes the Umra does not commit a sin by going back and forth between these two mountains. And whoever does a good work of his own accord, then Allah is Grateful, All-Knowing. S2: V158

Ketika Alquran berbicara tentang Haji, itu berarti Haji di “Rumah/Baitullah”, yaitu Ka’bah, dan tidak dianggap sebagai Haji dalam arti Alquran: tempat ziarah/ perjalanan ibadah lain yang dikenal, seperti Yerusalem, Roma, Saint Jacques de Compostela, Lourdes, Fátima, Guadalupe, Nadjaf, Karbala,… dll.

Makkah-Heritage

Kapanpun Alquran berbicara tentang “Rumah”, itu tentang Ka’bah, Rumah Suci Tuhan, Rumah pertama yang dibangun Tuhan untuk manusia.

Allah established the Ka’aba, the sacred house, as a gathering place for people. (He instituted) the holy month, the offering, and the sacrificial animals, so that you may know that truly Allah knows all that is in the heavens and the earth; and that truly Allah is All-Knowing. S5: V97

The first House that was built for the people, it is indeed that of  blessed Bakka and a good direction for the universe. S3: V96

Dan, Ibraham sendirilah yang membangunnya atas perintah Tuhan, dan di lokasi yang tepat yang ditunjukkan kepadanya.

And remember, when we made the House a place of visitation and a sanctuary for the people – Adopt therefore for a place of prayer, this place where Abraham stood – And We confided to Abraham and Ishmael this: “Purify My House for those who turn around, make a pious retreat, bow and prostrate there . And when Abraham begged: “O my Lord, make this city a place of safety, and allocate fruit to those among its inhabitants who believe in Allah and in the Last Day,” the Lord said: “And whoever does not will not have believed, then I will grant him a short pleasure [here below], then I will force him to the punishment of the Fire [in the hereafter]. What a bad destination!”. when Abraham and Ishmael raised the foundations of the House: “O our Lord, accept this from us! For you are the Hearing, the Omniscient.  Our Lord! Make us Your Submitters, and our descendants a community subject to You. And show us our rites and agree to repent. For you are certainly the Welcoming to repentance, the Merciful.  Our Lord! Send one of them as a messenger among them, to recite Thy verses to them, to teach them the Book and the Wisdom, and to purify them. Because you are certainly the Mighty, the Wise! S2: V125-129

And when We indicated for Abraham the place of the House (The Ka’ba) [saying to him]: “Do not associate anything with Me; and purify My House for those who turn around, for those who stand there and for those who bow down and prostrate themselves ”. S22: V26

Lokasi yang diindikasikan kepadanya oleh Tuhan adalah di lembah Mekkah. “Makka” dalam bahasa arab berarti “sempit” mengambil nama dari lembah sempit dimana ia berada, diapit di segala sisi oleh gunung-gunung.

fcabac1d7e4001456b01ba9c22d13901

Sementara kata “ Bakkah ”, kata ini berarti “ramai seperti pasar”, dan secara persis menunjuk lingkungan suaka suci yang secara langsung di sekeliling Ka’bah, daripada kota Mekkah itu sendiri.

Jika saya bersikeras pada poin-poin ini, itu karena ada yang mengatakan bahwa Ka’bah yang kita kenal saat ini bukanlah yang dibangun oleh Ibrahim, tetapi hanya sebuah monumen pagan, karena bentuknya yang kubus hitam, mirip dengan struktur dari kultus satanis pemujaan Saturnus.

EaKef1RUYAADCOX
DhkQ1D-XUAAuiye
Dyn-9zlXQAAa-cc

Pertama, tidak ada bukti bahwa Ka’bah awalnya memiliki bentuk ini, dan bahkan jika memang demikian, kemungkinan besar itu tidak terkait dengan kultus pemujaan Saturnus, mengetahui bahwa Ibrahim adalah seorang monoteis murni. yang secara eksklusif menyembah Allah. Kedua, kultus Saturnus kemungkinan baru ditemukan baru-baru ini, dengan tujuan menipu orang, khususnya dengan menghubungkannya dengan Ka’bah untuk merusak citranya. Memang, Anda akan menemukan bahwa semua kubus lain yang diilustrasikan dalam foto ini baru saja dibuat di zaman modern, dan hal yang sama berlaku untuk gambar kutub di Saturnus yang baru diambil baru-baru ini. Setan memiliki interpretasi simbol mereka sendiri, seperti kubus hitam yang mewakili ilusi total yang diciptakan Setan di sekitar mereka yang mengikuti jejaknya, tetapi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ka’bah, Rumah Tuhan. Pada kenyataannya, terlepas dari bagaimanapun kebenarannya, yang terpenting bukanlah Ka’bah itu sendiri atau wujudnya, tetapi di atas semua itu lokasinya, yang telah dipilih dan diberkati oleh Tuhan, dan berfungsi sebagai tempat perlindungan dan tempat berkumpul untuk semua orang beriman di seluruh dunia.

Beberapa orang melangkah lebih jauh, dengan mengatakan bahwa Mekkah yang dimaksud dalam Alquran, bukanlah Mekkah yang sama yang ditemukan hari ini di Arab Saudi, dan bahwa Ibrahim dan Muhammad tidak pernah tinggal di wilayah ini, tetapi lebih berada di sisi Yaman menurut untuk sebagian orang, atau Suriah atau Israel sebagian lain. Tetapi, mereka yang membenarkan hal seperti itu telah benar-benar keliru, karena ada unsur-unsur tak terbantahkan yang membuktikan sebaliknya: Pertama iklim dan geografi Mekkah, yang persis sama dengan uraian di Alquran tentangnya, dan tidak ada kaitannya dengan apa pun yang dapat ditemukan di Yaman, Suriah, atau Israel.

O our Lord, I have established part of my offspring in a valley without agriculture, near Your sacred house [the Ka’ba] , – O our Lord – so that they may perform Salât. So make the hearts of some of the people lean towards them. And feed them with fruit. Maybe they will be grateful? S14: V37

Kemudian, Allah telah berjanji kepada Ibrahim bahwa “Rumah” yang akan dia bangun ini akan dikunjungi terus menerus sampai akhir zaman, yang memang merupakan keadaan Ka’bah yang kita kenal sekarang, dan tidak ada tempat ziarah lain manapun di dunia, baik di Yaman, Suriah, atau Israel, yang memenuhi kriteria ini.

And make the people an announcement for Hajj, they will come to you, on foot, and also on any mount, coming from any far way S22: V27

Alquran juga berbicara tentang pakta yang diberlakukan oleh kaum Quraisy tentang perjalanan musim dingin dan musim panas, yang, seperti yang telah saya jelaskan di bagian pertama, menyangkut perlindungan jalan-jalan utama dan lokasi Mekah selama 2 sesi haji tahunan. Oleh karena itu, surah ini menegaskan kepada kita bahwa kaum Quraisy memang penjaga tempat suci Ka’bah. Selain itu, tidak diragukan lagi bahwa kaum Quraisy memang menetap di Mekah yang terletak di Arab Saudi, dan bukan di Yaman, Suriah, atau Israel.

Due to the pact of the Qurays, their pact concerning winter and summer travel, that they therefore worship the Lord of this House [the Ka’ba], who fed them against hunger and secured against fear. ! S106

Singkatnya, haji menurut Alquran hanya berhubungan dengan Ka’bah dan terjadi di Mekah, dan semua haji lain yang ada di dunia tidak dianggap seperti itu dalam definisi di Alquran. Karena, Tuhanlah yang membuat Ka’bah dibangun sebagai tempat berkumpul bagi semua manusia, memilih lokasinya yang tepat, memberkati tanahnya, dan menjadikannya tempat perlindungan yang nyata, yang sama sekali tidak terjadi pada semua situs ziarah lain yang ada di dunia.

Periode Haji

Islam menyatakan bahwa haji hanya berlangsung antara tanggal 8 dan 13 di bulan Dhou Al-Hijjah, yang jelas bertentangan dengan apa yang dikatakan Alquran, yang berbicara tentang “bulan-bulan yang dikenal”. Deklinasi yang digunakan disini untuk kata “bulan”, “Ash’hourin” dalam bahasa Arab, menunjukkan bahwa itu adalah 3 bulan atau lebih.

Seperti yang saya katakan di bagian pertama, untuk memahami Alquran sepenuhnya, Anda harus tahu konteks pewahyuannya. Alquran ditujukan untuk semua manusia, khususnya kepada orang-orang Arab Kuno di zaman Nabi Muhammad, dimana bulan-bulan haji diketahui oleh semua orang, oleh karena itu istilahnya digunakan dalam ayat ini: “bulan-bulan yang dikenal”. Bulan-bulan ini adalah Dhou Al Qa’ida, Dhou Al-Hijjah, Muharram, dan Rajab. Semua sejarawan saat ini mengkonfirmasi bahwa orang Arab Kuno menjalankan haji selama 4 bulan tertentu, termasuk cendekiawan Muslim. Melalui ayat ini, Alquran menegaskan bahwa “bulan-bulan yang diketahui” yang sama dari orang-orang Arab Kuno inilah yang benar-benar sesuai dengan bulan-bulan haji. Alquran mengatakan melalui ayat dibawah ini, bahwa new moon/bulan baru (t/n: yang biasa diobservasi dengan melihat hilal) berfungsi, antara lain, untuk menandai dimulainya haji. Namun, haji umat Islam bahkan tidak dimulai pada bulan baru, tetapi pada tanggal 8 bulan Dhou Al-Hijjah kalender hijriah, yang sekali lagi menunjukkan bahwa tanggalnya telah dibuat-buat.

They ask you about the new moons – Say, “They are used by people for counting time, and also for Ḥajj [pilgrimage]. And it is not an act of charity to come home from behind houses. But godly goodness consists in fearing Allah. So enter the houses by their doors. And fear Allah, so that you may succeed! S2: V189

Adapun tentang kalender, saya telah menjelaskan secara detail bahwa kalender yang benar menurut Alquran adalah kalender lunisolar dari Arab Kuno, dan BUKAN kalender lunar murni Hijriah yang ditemukan oleh umat Islam, lama setelah Nabi Muhammad wafat. Bulan-bulan haji yang saya sebutkan kepada Anda karenanya harus diperhitungkan menurut kalender Arab Kuno dan bukan menurut kalender Islam Hijriah.

true_calendar
Warna hijau adalah bulan Ramadhan menurut kalender lunisolar sesuai Alquran, bulan kabisat yang berwarna kuning untuk menjaga agar bulan tetap sinkron dengan musim, dan 4 bulan-bulan haji adalah bulan 7,11,12,1

Menurut Alquran, haji dibagi menjadi 2 sesi: Haji Besar yang berlangsung di musim dingin, dan Haji Kecil yang berlangsung di musim panas, dan yang dimulai 6 bulan setelah akhir Haji Besar, yang dikonfirmasikan kepada kita oleh pakta/perjanjian kaum Quraisy yang disebutkan dalam Alquran tentang perjalanan musim panas dan musim dingin pada saat Haji Besar dan Haji Kecil.

Due Quraysh pact, their pact [concerning] the trips of winter and summer. therefore worship the Lord of this House [the Ka’ba], who fed them against hunger and secured against the fear! [S106]

Pilihan Tuhan untuk membagi haji dalam 2 sesi adalah yang paling bijaksana: Haji Besar, yang berlangsung selama 3 bulan dan berlangsung di musim dingin, memungkinkan untuk menyambut maksimal/ sebanyak mungkin orang sambil menghindari kepadatan, dan menawarkan kondisi optimal untuk melakukan perjalanan ke Mekah dan tinggal di sana (t/n: selama haji) tanpa harus menderita panas. Haji Kecil, yang memungkinkan mereka yang tidak bisa pergi ke Haji Besar untuk dapat melakukannya tanpa harus menunggu haji besar berikutnya, dan yang ideal bagi mereka yang ingin bertemu dalam kelompok yang lebih kecil, mengingat itu berlangsung lebih singkat dan terjadi di tengah musim panas.

Kita menjumpai bukti dalam Quran bahwa Haji Besar memanglah dilakukan selama 3 bulan Dhou Al-Qai’da, Dhou Al-Hijjah, dan Muharram, dan Haji Kecil selama bulan Rajab, dan setiap 4 bulan Haji bertepatan dengan 4 bulan suci dimana “haram” berperang/ dilakukan gencatan senjata.

Disavowal on the part of Allah and His Messenger with regard to the associators with whom you have concluded a pact: Walk the earth for four months ; and know that you will not reduce Allah to helplessness and that Allah disgraces the disbelievers with shame. ” And proclamation to the people, from Allah and His Messenger, on the day of the greatest Pilgrimage / Hajj , that Allah and His Messenger disown the associators. If you repent, it will be better for you. But if you turn away, know that you will not reduce Allah to helplessness. And announce a painful retribution to those who disbelieve.With the exception of the associators with whom you have concluded a pact, then you have not missed anything, and have not supported anyone [to fight] against you: fully respect the pact concluded with them until the agreed term. Allah loves the pious. After the holy months expire, kill the Associators wherever you find them . Capture them, besiege them and watch for them in any ambush. If then they repent, perform Ṣalat and pay Zakat, then leave their way clear, for Allah is Forgiving and Merciful. S9: V1-5

Dinyatakan dalam ayat-ayat ini sebuah ultimatum bahwa para musyrikin memiliki untuk mereka 4 bulan jeda (“Berjalanlah di bumi selama empat bulan”), sesuai dengan gencatan senjata 4 bulan suci (“Setelah bulan-bulan suci berakhir”), dan setelah waktu ini, perintah diberikan kepada orang beriman untuk memburu mereka di manapun mereka menemukannya. Pernyataan ini dibuat pada “hari Haji terbesar”, yaitu hari pertama dari apa yang oleh orang Arab Kuno disebut sebagai “Haji Terbesar”, yang dengan jelas menunjukkan bahwa 4 bulan suci/ bulan haram bertepatan dengan 4 bulan haji.

“Haji Terbesar” adalah nama yang diberikan oleh orang-orang Arab zaman Nabi kepada Haji Besar dimana bulan kabisat Nassi jatuh tepat di dalamnya, yaitu antara Dhou Al-Qa’ida dan Dhou Al-Hijjah, atau antara Dhou Al -Hijjah dan Muharram, dalam hal ini Haji Besar dan gencatan senjata otomatis diperpanjang satu bulan, dari 3 menjadi 4 bulan. Tampak jelas bahwa ketika Nassi jatuh selama periode Haji Besar, orang-orang Arab Kuno tidak akan menutupnya hanya untuk sebulan dan menghentikan gencatan senjata yang menyertainya, untuk membukanya kembali pada bulan berikutnya, yang jelas tidak mungkin diorganisir seperti itu. Ketika ini terjadi, maka aturannya hanyalah memperpanjang haji dan gencatan senjata selama satu bulan tambahan, yang oleh orang Arab Kuno dan Alquran disebut sebagai “haji yang lebih besar”. Namun fenomena ini cukup langka, karena hanya terjadi dua kali setiap 33 tahun.

Keunikan episode proklamasi pemutusan hubungan yang terkait dalam ayat-ayat ini, adalah bahwa hal itu telah didokumentasikan oleh para sejarawan, dan oleh karena itu kita tahu apa yang ada di balik peristiwa ini dan kapan tepatnya tanggalnya, yang memungkinkan kita untuk memeriksa apa yang baru saja saya katakan pada Anda. Catatan sejarah melaporkan bahwa ketika tahun ke 9 setelah Hijrah, nabi Muhammad mengirim dari Madinah ke Mekah, Abu Bakar, ditemani oleh sekelompok orang beriman, untuk membuat pengumuman/ultimatum ini kepada semua musyrikin. Oleh karena itu rombongan melakukan perjalanan selama bulan Syawal, agar dapat hadir pada hari pertama Haji, yaitu tanggal 1 bulan Dhou Al-Qa’ida (Syawal adalah bulan sebelum Dhou Al- Qa ‘ida). Kalender orang Arab Kuno menegaskan bahwa selama tahun ke-9 setelah hijrah, bulan kabisat Nassi jatuh antara bulan Dhou Al-Hijjah dan Muharram, artinya di tengah periode Haji Besar, yang menjelaskan mengapa ini ayat-ayat berbicara tentang “Haji Terbesar”. Pengumuman ini secara logis dibuat pada hari pertama haji terbesar (“pada hari haji terbesar”) sehingga semua suku dapat terinformasi tepat pada waktunya. Memang, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, Haji Besar adalah kesempatan untuk mempertemukan semua suku, dengan memerintahkan agar pengumuman ini dilakukan pada hari pertama Haji Terbesar, Nabi dapat memastikan bahwa ultimatumnya tidak hanya akan berhasil mencapai kepada semua penduduk semenanjung arab, tetapi juga masih dalam tenggat waktu 4 bulan, mengetahui bahwa semua suku melakukan perjalanan pulang-pergi antara rumah mereka dan Mekah pada bulan-bulan gencatan senjata suci yang menyertai haji.

“ Disavowal on the part of Allah and His Messenger towards the associates with whom you have made a pact: Walk the earth for four months ;… And proclamation to the people, from Allah and His Messenger, on the day of the greatest Pilgrimage / Hajj , may Allah and His Messenger disown the associators. […]  After the holy months expire , kill the Associators wherever you find them. Capture them, besiege them and watch for them in any ambush ”. […] S9: V1-5

Beberapa penafsir berpikir bahwa bulan suci dimulai segera setelah bulan haji, bukannya bertepatan dengannya, karena 4 bulan suci gencatan senjata yang disebutkan dalam ayat-ayat di atas tentu saja berturut-turut, tetapi haji biasanya dibagi menjadi 3 bulan berturut-turut dan 1 bulan terpisah. Tapi, para penafsir ini tidak memperhitungkan apa yang oleh Alquran dan Arab Kuno disebut sebagai “Haji Terbesar”, dan tepatnya berlangsung selama 4 bulan berturut-turut. Memang, kalender Arab Kuno menunjukkan bahwa bulan Nassi memang telah jatuh dalam haji besar penuh ketika tahun ke-9 setelah hijrah, tahun di mana Nabi mengutus Abu Bakar untuk membuat deklarasi ini.

GettyImages-1035734170-5c6c75e0c9e77c0001f24eda

Kesimpulannya, Haji menurut Alquran tersedia dalam 3 versi: Haji Kecil dan Haji Besar, yang berlangsung setiap tahun pada waktu yang sama dalam satu tahun dan yang berlangsung masing-masing 1 dan 3 bulan, serta Haji Terbesar, yaitu versi dimana Haji Besar diperpanjang 1 bulan, dan yang hanya terjadi dua kali setiap 33 tahun. Menurut Alquran, 4 bulan suci dan 4 bulan haji tahunan saling tumpang tindih, yang menimbulkan gencatan senjata yang menyertai seluruh periode haji.

Durasi Haji

working-time-removal-of-derogations-from-the-weekly-working-time-of-35-hours-1280x720

Islam mengatakan bahwa haji memiliki durasi tetap selama 6 hari, yang seperti telah saya jelaskan, hanyalah kebohongan murni yang dibuat-buat setelah kematian nabi. Kita tidak perlu terkejut melihat bahwa Alquran tidak menetapkan jumlah hari tertentu untuk durasi haji, tetapi membiarkan setiap orang bebas untuk tinggal selama yang mereka mau. Namun, Alquran menetapkan durasi minimal 2 hari yang tidak dapat dimampatkan lagi, karena tidak mungkin melakukan semua ritus haji di bawah durasi ini. Fakta bahwa Alquran tidak menetapkan durasi maksimum cukup logis, mengingat setiap orang mungkin diharuskan tinggal lebih lama atau lebih pendek tergantung pada jadwal mereka sendiri, situasi pribadi mereka, dan juga anggaran mereka. Karena perlu biaya lebih untuk tinggal lebih lama. Selain itu, mengetahui bahwa seseorang harus tetap dalam keadaan sakral/suci selama haji, yang menyiratkan tidak melakukan semua dosa dan semua jenis godaan dengan pasangannya, oleh karena itu tidak ada yang terlalu tertarik untuk tetap lebih lama dari yang benar-benar diperlukan, dan Ingat bahwa kita juga harus menyisakan ruang untuk orang lain, mengingat banyaknya orang yang ingin menunaikan haji setiap tahunnya.

And call on Allah for a number of days. Then, there is no sin, for who behaves in piety, to leave after two days, to linger either. And fear Allah. And know that it is to Him that you will be gathered. S2: V203

Hanya melalui ayat ini, kita memiliki bukti bahwa cara haji yang dipraktikkan oleh umat Islam bukanlah dari aturan Tuhan seperti yang mereka klaim. Memang Alquran mengijinkan untuk menunaikan ibadah haji hanya dalam 2 hari saja, namun kita tidak boleh untuk mempersingkat haji menurut kaidah Islam tradisional. Ini menunjukkan bahwa tidak hanya periode 6 hari ini tidak wajib seperti itu, tetapi juga aturan yang menyertainya. Haji menurut Islam dimaksudkan sebagai salinan copy-paste dari Haji perpisahan Nabi Muhammad, tetapi seperti yang telah saya tunjukkan, ini jauh dari hal itu, belum lagi bahwa Alquran membiarkan setiap orang bebas menjalankan haji dengan caranya sendiri. Lebih bodoh lagi, ini bukan karena nabi melakukan haji terakhirnya dari tanggal 8 sampai 13 Dhou Al-Hijjah sehingga mulai saat itu haji harus dibatasi hanya pada tanggal-tanggal ini untuk semua orang beriman, dan ini sampai akhir zaman. Kita semua tahu hari ini konsekuensi bencana dari penemuan-penemuan ini, tapi ini tidak mendorong umat Islam untuk merenung/ memikirkan.

Orang Arab Kuno biasa melakukan haji dalam 10 hari: 7 hari di mana mereka hanya tinggal di sekitar suaka suci, dan 3 hari untuk tahap lain dari rangkaian haji. Saya tidak menghitung dalam 10 hari ini 3 hari Tashrik, karena mereka bukan bagian dari haji secara tegas, tetapi hanya campur tangan setelah itu untuk merayakannya di tempat dan bersama-sama. Kita lihat di Alquran bahwa durasi 10 hari inilah yang secara implisit dianjurkan, karena tebusan/kompensasi bagi yang tidak bisa berkurban selama haji tepatnya puasa 10 hari, setiap hari puasa digunakan sebagai kompensasi hari berhaji, durasi rata-rata/standarnya.

And perform for Allah the pilgrimage and the Umra. If you are prevented from doing so, then make a sacrifice that is easy for you. And do not shave your heads until the offering [the animal to be sacrificed] has reached its place of sacrifice. If any of you are sick or have a headache (and need to shave) then redeem yourself with a fast or with alms or with a sacrifice. When you then find peace again, anyone who has enjoyed a normal life after doing Omra while waiting for Hajj, must make an offering that is accessible to him. If he does not have the means to fast three days during the pilgrimage and seven days after returning home, that is to say ten days in all . S2: V196

Singkatnya, Alquran tidak mengatur durasi tetap untuk menunaikan haji, tetapi membiarkan setiap orang bebas untuk melakukannya dengan kecepatan mereka sendiri dan sesuai dengan situasi mereka sendiri. Namun, tidak mungkin untuk menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 2 hari, karena tidak mungkin untuk melakukan semua ritus haji dalam waktu tersebut. Namun, Alquran merekomendasikan jangka waktu 10 hari bagi mereka yang mampu. Periode ini sepertinya sangat cocok karena tidak terlalu pendek, yang akan menghalangi kita untuk menikmati haji sepenuhnya dan memiliki waktu untuk melepaskan diri dari urusan kehidupan duniawi; tidak juga terlalu lama, yang pada akhirnya bisa menjatuhkan kita, dalam hal tingkat iman kita dan dalam hal kemungkinan melakukan dosa di keadaan sakralisasi, yang akan merusak upaya kita dan melayani tujuan yang berlawanan dari yang telah kita tetapkan sejak awal.

Five-not-so-stupid-questions-around-the-pilgrimage-to-Mecca

Ritus Haji

Untuk mengetahui praktik sejati dari Haji, cukup bagi kita untuk menyandingkan antara Haji yang dipraktikkan oleh orang2 Arab Kuno dengan apa yang ayat-ayat Qur’an katakan tentang itu, maka Haji sejati akan muncul dari itu dengan jelas mengingat bahwa Qur’an terutama meng-adress kepada orang-orang Arab Kuno di masa pewahyuannya

Rute haji

Seperti yang telah kita lihat, rute haji tidak pernah benar-benar berubah antara orang Arab Kuno dan Muslim, yang berubah adalah aturan yang dipatuhi di sana. Semua tahapan rangkaian haji, baik itu Ka’bah, As-Safa dan Al-Marwah, Mina, Arafat, dan Al-Muzdalifa, disebutkan dalam Alquran, baik dengan nama persisnya atau implikasinya, yang menunjukkan bahwa kita dapat mempertahankan sirkuit yang sama ini tanpa memodifikasi apa pun.

“bertolaklah dari tempat orang banyak bertolak” artinya lanjutkan mengikuti sirkuit Haji yang telah ditetapkan.

600px-La_Mecque_pelerinage

Sirkuit ini terdiri dari loop yang dimulai dari Ka’bah, As-Safâ dan Al-Marwa, kemudian dilanjutkan dengan ke Mina, Arafat, Al-Muzadalifa (Al-Mash’ar-al-Haram dalam Alquran), kemudian lagi Mina dan kembali ke suaka suci Ka’bah. Bagian untuk pergi ke Mina tidak secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an, tetapi tidak ada yang mencegah kita dari melakukan itu karena itu adalah pertengahan antara Ka’bah dan Arafat.

Tawaf (memutari Ka’bah)

tawaf

And when We indicated for Abraham the place of the House (The Ka’ba) [saying to him]: “Do not associate anything with Me; and purify My House for those who turn around, for those who stand there and for those who bow down and prostrate themselves ”. S22: V26

Ini adalah bagian dari ritual Haji untuk berputar di sekitar Ka’bah, tetapi juga memungkinkan untuk hanya berdoa di dekatnya, sambil berdiri, ruku, atau bersujud. Perhatikan bahwa tidak ada kewajiban untuk menyelesaikan 7 putaran seperti yang ditentukan oleh Islam.

Bolak-balik antara As-Safâ dan Al-Marwa

slide-57-1024

Aṣ-Ṣafā and Al-Marwa are truly among the sacred places of Allah. So, whoever makes the pilgrimage / Hajj to the House (the Kaaba) to or makes the Umra does not commit a sin by going back and forth between these two mountains . And whoever does a good work of his own accord, then Allah is Grateful, All-Knowing. S2: V158

Bolak-balik antara As-Safa dan Al-Marwa juga merupakan bagian dari ritus suci Haji, dan bukanlah ritus pagan yang ditemukan oleh orang Quraisy seperti yang dipikirkan oleh orang-orang beriman pertama. Ritual ini digunakan untuk memperingati mukjizat yang dilakukan Tuhan ketika Ibrahim baru saja menetap di lembah Mekah. Cerita berlanjut bahwa ketika Ibrahim tiba di tempat yang Tuhan telah tunjukkan kepadanya (“Dan ketika Kami menunjukkan kepada Abraham tempat Rumah (Ka’bah)” S22: V26), tempat ini yang saat itu hanya gurun, tanpa tumbuh-tumbuhan , tidak ada air, atau bangunan, atau jiwa yang hidup di cakrawala. Ibu Ismail kemudian melakukan sejumlah perjalanan bolak-balik antara pegunungan As-Safa dan Al-Marwa untuk mencari air untuk putranya. Sejarawan Islam mengklaim bahwa dia melakukannya 7 kali, tetapi tidak ada yang dapat membuktikannya. Jika Alquran tidak mau repot-repot mengutip angkanya, itu bukan hal yang penting. Tuhan kemudian melakukan mukjizat dengan menyebabkan mata air Zamzam muncul, keajaiban yang masih bisa disaksikan hingga hari ini, mengingat bahwa air dari sumber yang diberkati oleh Tuhan ini tidak pernah mengering, juga tidak pernah menjadi payau, dan terlebih lagi, mengandung penyembuhan yang nyata bagi yang meminumnya.

hagar-women-bible

Oleh karena itu adalah bagian dari ritus haji untuk bolak-balik antara As-Safa dan Al-Marwa, sambil menyeru/mendzikirkan Tuhan baik dengan suara keras maupun diam-diam, untuk berterima kasih kepadaNya karena telah melakukan mukjizat ini, serta untuk semua berkat-Nya pada kita, dan untuk meminta kesembuhan dan pemurnian dari-Nya. Dan, sama seperti tawaf di Ka’bah, tidak ada jumlah pasti perjalanan pulang pergi Safa-Marwa ini yang ditetapkan oleh Alquran.

Minum air dari mata air Zamzam

zamzam water

Bertentangan dengan apa yang dikatakan umat Islam, minum air dari mata air Zamzam sama sekali bukan bagian dari ritus wajib haji, bahkan jika semua jamaah secara alami akan diarahkan untuk meminumnya, karena air ini dibagikan secara gratis untuk segala hal. Meminumnya saat perjalanan haji tentu sangat baik. Meskipun sumber ini benar-benar mukjizat yang nyata dari Tuhan, Alquran tidak memaksakan kewajiban apa pun untuk meminumnya di antara ritus suci Haji, jika tidak begitu, akan disebutkan dengan jelas dalam Alquran.

Berdo’a di Arafat dan Al-Mash’ar-al-Haram

2031373_pic_970x641.jpg

It is not a sin to seek some grace from your Lord. Then, when you surge from ‘Arafāt, call upon Allah, in Al-Maš’ar-al-Ḥaram (Al-Muzdalifa). And call on Him as He showed you the right way, though before you were among the lost.  S2: V198

Alquran menegaskan bahwa Arafah dan Al-Mash’ar-al-Haram (masjid yang terletak di Al-Muzdalifa) memang bagian dari sirkuit haji. Namun, tidak ada kewajiban untuk tinggal di sana untuk jangka waktu tertentu atau melakukan shalat tertentu di sana. Alquran hanya memerintahkan kita untuk berdoa kepada Tuhan di sana tanpa menyebutkan caranya, jadi tidak harus dalam bentuk shalat, untuk berterima kasih kepada-Nya karena telah membimbing kita ketika kita sebelumnya berada di antara yang tersesat.

Then surge through where the people surged , and ask Allah’s forgiveness. For Allah is Forgiving and Merciful. S2: V199

Ayat di atas kemudian mempreskripsikan untuk bertolak dari Al-Mash’ar-al-Haram melalui tempat orang-orang biasanya bertolak, yaitu untuk melanjutkan langkah berikutnya dalam rangkaian haji, yaitu pergi ke Mina untuk melakukan persembahan.

Minarets_in_Makkah_ (Mecca)
Mash’ar-al-Haram Mosque located in Muzdalifa

Jika persembahannya dalam bentuk lain selain kurban hewan ternak, maka tidak ada kewajiban melalui Mina, karena tempat ini hanya digunakan untuk pengurbanan.

Persembahan

636101434862612033

O you who believe! Do not desecrate the rites of the pilgrimage (in the holy places) of Allah, nor the holy month, nor the offerings (had’i), nor the animals intended for the sacrifice (quala’id) , nor those which go towards the A sacred house seeking from their Lord grace and pleasure. S5: V2

Dalam terjemahan konsensual mereka, Muslim menerjemahkan kata “had’i” sebagai “hewan kurban” dan kata “quala’id” sebagai “garlands??”, yang tidak sesuai dengan arti sebenarnya dari kata-kata ini, atau penggunaan kata tersebut oleh orang Arab Kuno.

“Had’i” secara etimologis berarti “persembahan”, lebih tepatnya persembahan yang khusus saat haji. Persembahan ini bisa dalam segala bentuk, seperti hewan kurban, makanan, pakaian, atau bahkan uang. “Had’i” atau “persembahan” adalah bagian dari kewajiban haji, tetapi juga dapat diberikan secara sukarela bagi orang yang dibebaskan darinya (kita akan lihat dalam kasus apa di bawah), atau untuk menebus pelanggaran atas aturan Allah yang dilakukan ketika haji, seperti berburu buruan dalam keadaan suci.

“Quala’id” mengacu pada hewan yang dimaksudkan untuk dikurbankan selama haji. Disebut demikian karena orang Arab Kuno meletakkan kalung (“quilada” dalam bahasa Arab) atau sepasang sepatu di leher mereka, sehingga mereka dapat dengan mudah diidentifikasi sebagai hewan yang dimaksudkan untuk pengorbanan haji, dan tidak ada yang menyakiti mereka. atau menahan mereka. Bangsa Arab Kuno juga biasa memotong hewan yang akan dikorbankan di tingkat panggul sampai keluar darah, tetapi praktik barbar ini dilarang oleh Nabi. Memang, Alquran pada umumnya melarang menyakiti tanpa alasan, dan membuat hewan menderita secara tidak perlu berada dalam skenario ini.

Kita sekarang akan untuk mengetahui dalam kasus apa persembahan harus dilakukan.

And perform for Allah the pilgrimage and the Umrah. If you are prevented from doing so, then make an offering that is within your means.  […] S2: V196

Persembahan adalah wajib bagi mereka yang tidak melakukan haji atau umrah, mereka kemudian harus memberikan persembahan yang sesuai dengan kemampuan mereka, dan ini, langsung di tempat tinggal mereka. Umat ​​Muslim menjalankan praktik ini dengan pengurbanan hewan dalam apa yang mereka sebut Idul Adha atau Idul Al-Kebir, yang terjadi pada hari yang sama dengan pengurbanan haji, pada tanggal 10 Dhou Al-Hijjah. Penyimpangan hukum Tuhan yang diciptakan oleh umat Islam ini memiliki konsekuensi yang serius, karena tidak hanya mengorbankan begitu banyak domba/sapi dalam satu hari adalah pemborosan yang monumental, tetapi di samping itu, jumlah domba yang begitu banyak tentu membutuhkan pembiakan skala besar, yang mau tidak mau berimplikasi pada peningkatan kasus penganiayaan terhadap mereka. Faktanya, di banyak negara, terutama di negara-negara Muslim, terjadi kekurangan domba setiap tahun pada saat perayaan Id. Oleh karena itu, negara-negara ini terpaksa mengimpor domba dari luar negeri, seringkali dimana harga mereka paling rendah, dan oleh karena itu dari negara-negara yang kurang memperhatikan kesejahteraan hewan. Dengan demikian, banyak Muslim tidak hanya mendapati diri mereka makan daging berkualitas buruk, karena kondisi yang tidak layak di mana hewan-hewan ini dipelihara, tetapi harus membayar lebih mahal, mengingat harga yang melonjak menjelang Id. Jika umat Islam telah menjalankan resep Tuhan yang benar, yang berbicara tentang “persembahan” secara umum, dan tidak harus tentang pengurbanan hewan, itu akan menghindari genosida yang dilakukan setiap tahun terhadap domba, dan akan membantu lebih baik bagi yang paling miskin, yang sebagian besar lebih suka menerima bantuan dalam bentuk lain selain daging.

[…] And do not shave your heads before the offering has reached its destination . If any of you are sick or have a headache, then redeem yourself with fasting or charity or an act of devotion. When you then find peace again, anyone who has enjoyed a normal life after doing Omra while awaiting the pilgrimage must make an offering that is within their means . If he cannot afford to fast for three days during Hajj and seven days after returning home, that is, ten days in all. This is prescribed for one whose family is not present at the Sacred Mosque . And fear Allah. And know that Allah is harsh in punishment. S2: V196

Persembahan juga wajib bagi siapa saja yang memutuskan untuk menunaikan haji. Di sisi lain, mereka yang melakukan umrah sederhana atau pergi haji dengan ditemani keluarga dapat dikecualikan, mengingat adanya biaya tambahan yang ditimbulkan, baik dalam hal transportasi, akomodasi, maupun biaya sehari-hari.

Dalam semua kasus, baik kita menunaikan haji atau tidak, jika persembahan berupa kurban hewan ternak, maka berhak untuk menyimpan sebagian dan membagikan sisanya kepada yang membutuhkan, dalam artian kita tidak harus menyumbangkan seluruhnya. Tapi, jika kita mau, kita bisa melakukannya dengan sangat baik.

And make people an announcement for Hajj. They will come to you, on foot, and also on any mount, coming from any far off road, to share in the benefits that have been granted to them and to call on the name of Allah on the appointed days, on the cattle which He has for them attributed, ” Eat it yourselves and feed the miserable needy .” S22: V27-28

Bagi mereka yang menunaikan ibadah haji, persembahan harus dilakukan sebagai bagian dari ibadah hajinya, yaitu sebelum tahapan terakhir haji yaitu memotong rambut. Sedangkan mereka yang tidak melakukan haji maupun umrah, dapat melaksanakan persembahan ini kapanpun mereka mau dalam jendela waktu 4 bulan sesuai dengan periode haji, yang memungkinkan pemberian tersebut untuk disebarkan seiring berjalannya waktu/ bertahap.

Tawaf pulang haji

190-1905255_muslims-pilgrims-from-all-around-the-world-circumabulate

Setelah semua ritus haji yang saya ceritakan kepada Anda telah dilakukan dan persembahan telah mencapai penerimanya, kita menyelesaikan rangkaian haji dengan kembali ke titik awal sirkuit haji, dan kita melakukan tawaf terakhir di sekitar Ka’bah dan kembali bolak-balik antara As-Safa dan Al-Marwa, sebelum menutup haji dengan memotong rambut.

600px-La_Mecque_pelerinage

Memotong rambut

Shaving-or-Clipping-of-Hair

Ritual terakhir haji adalah memotong atau memendekkan rambut Anda, untuk mengakhiri haji Anda dan keluar dari keadaan sakralisasi.

[…] And do not shave your heads before the offering has reached its destination. If any of you are sick or have a headache, then redeem yourself with fasting or charity or an act of devotion. […] S2: V196

Ritual ini penting karena memungkinkan lengkapnya pemurnian dari Tuhan atas diri kita. Jika Tuhan dengan jelas meminta kita untuk memotong rambut kita, itu tentu bukan karena fantasi atau simbolisme, tetapi karena itu memenuhi fungsi yang sangat spesifik. Bukti bahwa ritus ini penting adalah siapa pun yang tidak dapat melakukannya karena alasan kesehatan, harus menebusnya dengan berpuasa, atau dengan bersedekah, atau dengan melakukan tindakan pengabdian (shalat, doa, amal baik…). Haji adalah pemurnian jiwa, ruh, dan tubuh, dan memotong rambut kita menjalankan pemurnian ini pada tingkat tubuh fisik kita. Memang, tidak ada gunanya memurnikan pikiran dan jiwa, tanpa memurnikan tubuhnya, ketiganya secara intrinsik terhubung. Seperti yang saya katakan sebelumnya, banyak yang berpikir bahwa apa yang tumbuh di tubuh kita: rambut, rambut, dan kuku, berfungsi sebagai penyimpanan dosa-dosa kita di bidang fisik, yang akan menjelaskan mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk memotong rambut kita di akhir haji. Terlepas kebenarannya, yang sudah jelas bahwa dalam nada yang sama, Tuhan sangat menuntut wudhu, memerintahkan kita, jika kita tidak menemukan air di dekatnya, untuk menggosok tangan kita dengan tanah yang tidak ternoda dan kemudian menyebarkannya di wajah, karena ritus ini benar-benar memungkinkan untuk menjalankan pemurnian fisik, penting agar dapat mendapat manfaat penuh shalat. Wudhu seperti mencuci piring sebelum meletakkan makanan sehat di atasnya, Anda harus menyucikan tubuh Anda sebelum menerima pemurnian spiritual yang berasal dari kontak dengan Allah melalui shalat. Demikian juga halnya dengan memotong rambut di akhir haji, seperti menanggalkan pakaian kotor dan mencuci sebelum memakai baju yang baru dan bersih, jiwa dan ruh kita telah disucikan oleh Tuhan selama haji, maka tubuh kita harus sehat. juga dimurnikan. Ritus2 dari Allah tidak boleh dianggap enteng, karena semua yang Allah tentukan bagi kita di dalam Alquran sarat dengan makna dan kebenaran, tetapi hanya mukmin sejati yang menyadari hal ini dan memberi mereka arti penting yang pantas mereka dapatkan.

This is because whoever gives the highest importance to the rites of Allah… it is indicative of the piety of hearts . S22: V32

“Talbiyah” (invokasi saat haji)

maxresdefault

Saat Anda pergi haji, Anda temukan hampir semua Muslim mengulangi daftar do’a-do’a yang sama yang dibaca dari buklet kecil, baik dalam bahasa mereka atau dalam fonetik bahasa Arab. Tidak ada di Qur’an preskripsi untuk mengucapkan invokasi/ do’a-do’a tertentu dalam kerangka Haji, apalagi untuk mengulanginya terus sepanjang hari, yang hanya berdampak samasekali tidak memperhatikan apa yang diucapkannya. Alquran hanya memerintahkan kita untuk mengucapkannya secara diam-diam dan keras, tidak peduli caranya, karena tidak ditentukan, menurut inspirasi kita sendiri, dan dalam bahasa kita sendiri untuk memahami apa yang kita katakan. Sebelum memulai haji, Allah meminta kita untuk menyempurnakan sumpah/nazar kita (“bahwa mereka memenuhi sumpah mereka” S22: V29), oleh karena itu kita harus merealisasikannya untuk kita, dan berterima kasih padaNya karena telah membimbing kita sementara sebelumnya kita ada di antara orang-orang yang tersesat ( And invoke him as he showed you the right way, though before you were among the lost. ” S2: V98 ), dan karena telah mendirikan tempat suci ini untuk kita, dan telah mengutus untuk kita utusan-utusanNya dan menurunkan kitab-kitabNya untuk membawa kita keluar dari kegelapan menuju cahaya.

Doa yang diucapkan dalam kerangka talbiya itu sendiri tidak buruk, namun itu bukan satu-satunya doa yang mungkin, dan tidak memiliki karakter wajib, jika tidak begitu maka akan dengan jelas ditentukan kepada kita dalam Alquran. Yang pasti adalah bahwa mengulang-ulangi doa yang sama sepanjang hari adalah kontraproduktif dan pasti menyebabkan: tidak lagi memikirkan apa yang Anda katakan, dan ini bahkan lebih buruk lagi ketika Anda mengucapkannya dalam bahasa yang bukan bahasa kita. Anda memiliki ilustrasi tentang hal ini dengan invokasi yang diulangi oleh umat Islam, terkadang selama berjam-jam, sebelum shalat Id

Merajam/ lempar jumrah

A Muslim pilgrim casts seven pebbles at a pillar that symbolizes Satan during the annual haj pilgrimage, on the first day of Eid al-Adha in Mina
101513pilgrimage_960x540

Menurut aturan Islam palsu, sebagai bagian dari ritus wajib haji, umat Islam harus merajam 3 pilar yang terletak di Mina, melambangkan menurut kisah mereka 3 tempat di mana Ibrahim akan tergoda oleh Iblis untuk meninggalkan pengorbanan putranya, seperti yang diperintahkan Tuhan dalam bentuk mimpi. Ritus stoning/rajam ini adalah tradisi pagan murni dan pada kenyataannya tidak pernah ditentukan oleh Tuhan, karena Tuhan hanya mengatur kepada kita apa yang masuk akal dan yang memiliki efek nyata pada kita. Jika benar, praktik ini diwajibkan seperti yang diklaim umat Islam, maka akan dengan jelas disebutkan dalam Alquran di antara ritus wajib. Kita mengenali sebatang pohon dari buahnya, dan kita dapat dengan jelas melihat sifat sebenarnya dari ritual rajam melalui buahnya, yaitu melalui hasil yang dihasilkannya. Setiap tahun, ratusan jamaah terluka karena terkena batu dari jamaah lain, inilah satu-satunya hasil konkret yang dihasilkan ritus ini. Untuk menolak Iblis/setan, seseorang melakukannya dari spirit, dan dengan menolak kemajuannya kapanpun seseorang menjumpai godaan, dan bukan dengan melemparkan kerikil pada sebuah pilar yang melambangkan dia. Umat Muslim menyukai jenis ritual spektakuler ini, tetapi dalam hal mengusir Iblis untuk selamanya, yaitu dengan mengakhiri kezaliman diri sendiri, mengakhiri kesyirikan, penyembahan berhala, sifat-sifat buruk dan bigotry/kefanatikan mereka sendiri, hanya sedikit yang melakukannya.

Batu hitam

Kultus Batu hitam/Hajar Aswad adalah contoh terbaik dari kesyirikan dan kebutaan nyata umat Islam. Sangat tidak dapat dibayangkan bahwa di jantung tempat suci, yang tergantung tepat di dinding Rumah Tuhan, seseorang dapat menemukan residu murni yang diwarisi dari zaman para penyembah berhala. Seolah-olah umat Islam telah menghancurkan semua patung dewa2 pagan palsu untuk hanya menyisakan satu, yang paling penting dari semuanya, Al-Lat, salah satu yang disebut putri Allah dan dewi kesuburan, dengan representasi dalam bentuk vulva.

hajre-aswad-1024x1024

Untuk terus melakukan pemujaan Batu Hitam, umat Islam puas dengan mengubah sejarah yang terkait dengannya, mengklaim bahwa Nabi sendirilah yang akan menempelkannya di dinding Ka’bah. 5 tahun sebelum menerima nubuatan, dan bahwa batu ini jatuh dari surga untuk menunjukkan kepada Adam dan Hawa di mana harus membangun mezbah mereka. Betapa pun bagian dari cerita ini yang benar, dan kemungkinan tidak benar, tidak ada alasan apapun yang bisa menjustifikasi/membenarkan worship/pemujaan pada batu sederhana, apalagi dalam kerangka haji, yang seharusnya hanya untuk mengagungkan Allah, tanpa mengasosiasikan/mempersekutukan apa pun dengannya. Mengklaim bahwa Nabi Muhammad sendirilah yang menegakkan praktik pagan ini, mendirikan kultus nyata pada batu hitam, adalah kebohongan murni. Bukankah itu kesyirikan murni, keharusan mencium atau melambai pada batu hitam di setiap putaran mengelilingi Ka’bah oleh para Muslim? Itu hanya menunjukkan satu hal, dan itu adalah bahwa umat Islam siap untuk mempercayai apa pun dari tradisi nenek moyang mereka, sunnah palsu Nabi mereka yang tersayang, tanpa mencoba untuk berpikir atau mempertanyakan apa pun, dan terlepas dari bukti (t/n: bukti dari kesalahan/ kebohongan/ aturan2 palsu). yang menampilkan diri kepada mereka.

Allah telah memerintahkan Ibrahim untuk menyucikan RumahNya dan tidak mengaitkan apapun denganNya, dan instruksi yang sama diberikan kepada Nabi Muhammad, yang membersihkan haji dari semua ritus pagan dan bentuk kesyirikan. Tapi, segera setelah kematiannya, umat Islam tidak bisa menahan (t/n: hasrat) untuk mengembalikan kultus batu hitam, di antara banyak penemuan-penemuan mereka yang lain.

And when We indicated for Abraham the place of the House (The Ka’ba) [saying to him]: “ Do not associate anything with Me; and purify My House for those who turn around, for those who stand there and for those who bow down and prostrate themselves »S22: V26

Allah dengan sengaja membiarkan orang2 jahat menempatkan Batu Hitam di dinding Ka’bah, untuk membedakan orang2 beriman sejati dengan orang2 musyrik. Orang beriman sejati mana yang akan memberi/mengatribusikan kekuatan apapun kepada sebuah batu? Betapapun bahkan batu itu datang dari surga, sebagaimana muslim senang mengulang-ngulangnya, yang adalah legenda palsu lain mereka, batu itu tentu saja tidak memiliki kekuatan apapun, dan memujanya seperti yang mereka lakukan adalah persisnya sama saja berdo’a kepada batu2 berhala sebagaimana yang dilakukan orang2 Arab Kuno di zaman paganisme. Fakta bahwa banyak muslim sangat mementingkan batu itu, dan berebut maju kedepan untuk menyentuh/menciumnya, bahkan ketika pertikaian seperti apapun dilarang dalam keadaan sakral (t/n: dilarang berbuat zalim/dosa saat melangsungkan haji), adalah bukti tersendiri bahwa kebanyakan dari mereka bukanlah orang beriman sejati! Namun kesyirikan umat Islam tidak hanya terbatas pada Hajar Aswad saja, tetapi juga kepada dinding Ka’bah dan kain yang menutupinya, yang mereka raih, peluk, dan cium seolah-olah mendatangkan manfaat sekecil apapun.

7e63bd5b09152753237e621d69c39d35
13403a7d65106d53e70bb9e95666f807
525be092bc9ef
EROm8XOXYAIMnqJ
unnamed (1)

Dan di sini, saya bahkan tidak berbicara tentang makam nabi, yang telah diubah oleh umat Islam menjadi “mausoleum” (t/n: bangunan besar/megah tempat kuburan2) yang nyata, sedangkan nabi telah melarang kita mendedikasikan diri/ mengkultuskan pada kuburan apa pun, agar tidak menjadikannya berhala, terlebih lagi itu dilakukan terhadap kuburannya. Tapi, Muslim sekali lagi melakukan apa yang mereka inginkan, menjadikan Muhammad sebagai berhala, seperti berhala kuno di era pra-Islam. Umat ​​Muslim telah melakukan kunjungan ke Makam Nabi sebagai langkah wajib haji, yang bagi kebanyakan dari mereka tidak terbatas hanya di Mekah, tetapi harus dilengkapi dengan kunjungan ke Masjid Nabawi di Madinah. Anda akan mendengar banyak dari mereka dengan bangga memberitahu Anda bahwa mereka bahkan lebih memilih Madinah daripada Mekah, Ummul qura menurut Alquran, sebuah lembah yang diberkati oleh Tuhan dan di mana Dia mendirikan Rumah Suci-Nya. Mereka yang mengatakan hal-hal seperti itu bukanlah orang-orang yang benar-benar beriman tak peduli bagaimanapun penampilan mereka, tetapi pada kenyataannya hanya musyrik dan penyembah berhala. Ketika Anda mencoba untuk mendapatkan perhatian mereka untuk membuat mereka mempertanyakan diri mereka sendiri, alih-alih takut akan Tuhan dan menghentikan kesyirikan dan penyembahan berhala mereka, mereka persisten dan menandatangani keyakinan salah mereka dan mengklaim dengan bangga, berpaling dari Anda dengan menghina seolah-olah Anda adalah yang paling menyimpang dari yang tersesat.

tomb-of-the-prophet-muhammad
Apakah ini tampak seperti kuburan sederhana, ataukah mausoleum?
s_Last_Messenger_Muhammad
Nabi melarang meninggikan kuburan, tetapi muslim melakukan itu untuk kuburnya, secara langsung menentang arahannya. Hasil logisnya: mereka berakhir menjadikan NabiMuhammad sebagai berhala, dan diri mereka sendiri menjadi penyembah berhala.

Pelarangan dalam Haji

kitasampai pada apa yang Qur’an sebut sebagai “Ihram” atau “keadaan sakralisasi” dari sejak kita memutuskan bahwa haji kita atau umrah kita dimulai. Tidak ada perimeter tertentu, yang mana muslim sebut “Miqat” dimana seseorang harus memasuki keadaan sakralisasi. Demarkasi ini tidak pernah dipreskripsikan oleh Qur’an, dan satu-satunya limit untuk kita wajib memasuki keadaan sakralisasi adalah ketika memasuki lingkungan suaka suci Masjidil Haram, karena itulah tahap pertama dari sirkuit/rangkaian Haji.

miqaat
Demarkasi ini, yang disebut Miqat, dimana orang yang ingin melakukan haji atau umrah harus memasuki keadaan sakralisasi, bukanlah kewajiban.

Ketika di keadaan sakralisasi, seseorang harus tetap seperti itu hingga selesainya semua ritus Haji, yang ditandai dengan memotong/memendekkan rambut. Selama Anda dalam keadaan ini, segala jenis godaan bahkan dengan pasangan Anda dilarang, apakah itu hubungan seksual, belaian-belaian sederhana, peluk-pelukan, atau rayuan. Apapun tindakan perversion/ketidaksenonohan baik nyata maupun dalam pikiran juga dilarang, begitu juga pertikaian apapun.

The pilgrimage takes place in known months. If one decides to accomplish it, then no sexual relationship, no perversity, no quarrel during the pilgrimage . And what good you do, Allah knows. And take your provisions; but truly the best provision is piety. And fear Me, you gifted with intelligence! S2: V197

Berburu juga dilarang selama masih dalam status sakralisasi, tetapi fishing/memancing di sisi lain diizinkan.

O you who believe! Faithfully fulfill your commitments. You are allowed the beast of the flock, except what will be stated [as being forbidden]. Do not allow yourself to hunt while you are in a state of iḥrām / sacralization. Allah truly decides what He wants. O you who believe! Do not desecrate the rites of the pilgrimage (in holy places) of Allah, nor the holy month, nor the offerings, nor the sacrificial animals, nor those who come to the holy House seeking from their Lord grace and pleasure. Once desecrated you are free to hunt. And don’t let hatred for a people who blocked your way to the Holy Mosque make you transgress. Help each other in doing good works and godliness and do not help each other in sin and transgression. And fear Allah, for Allah is certainly severe in punishment! S5: V1-2

Hunting at sea is permitted to you, and also to eat, for your enjoyment and that of travelers. And hunting on land is illegal for you while you are in the state of Iḥram . And fear Allah to whom you will be gathered. S5: V96

Animals-In-Arabic-Language-1200x799

Siapapun yang membunuh hewan buruan ketika dalam keadaan ihram mesti menebus dosanya dalam bentuk hewan ternaknya yang diambil dari kawanannya untuk dijadikan persembahan di Ka’bah, atau dengan memberi makan orang miskin, atau dengan berpuasa. Jika terjadi pelanggaran berulang, tidak ada sanksi yang diberikan, tetapi Allah sendirilah yang akan bertanggung jawab langsung untuk menghukum pelakunya.

O you who believe! Allah will certainly test you with some game within reach of your hands and spears. It is so that Allah may know whoever fears Him in secret. Anyone who transgresses after this will have a painful retribution.O you who believe! Do not kill game while you are in a state of Iḥram Whoever among you kills it deliberately, let him then compensate, either by some beast of the herd, like that which he killed, according to the judgment of two upright people among you, and this as an offering which he will send to (destination of the poor of) the Ka’aba, or else by an atonement, by feeding the poor, or by the equivalent in fasting. This so that he tastes the bad consequence of his act. Allah has forgiven what has happened; but whoever repeats it, Allah will punish him . Allah is Mighty and Possessor of the power to punish. Hunting at sea is permitted to you, and also to eat, for your enjoyment and that of travelers. And hunting on land is unlawful as long as you are in I étatram state.. And fear Allah to whom you will be gathered.  S5: V94-96

Setiap penistaan atau penghinaan terhadap tempat suci Ka’bah, atau ritus suci Haji secara keseluruhan, dihukum dengan pembalasan yang menyakitkan secara langsung oleh Allah.

But those who disbelieve and obstruct the path of Allah and that of the Holy Mosque, which We have established for the people: both residents and those passing through … Whoever seeks to commit an unjust sacrilege, We will make him taste a painful punishment . S22: V25

Perang apa pun dilarang selama 4 bulan suci haji, kecuali secara defensif/untuk mempertahankan diri. Hukum pembalasan berlaku untuk bulan-bulan suci, yaitu, Tuhan mengizinkan orang beriman untuk menyerang saat bulan-bulan suci: mereka yang pertama kali menyerang pada bulan-bulan yang sama. Dilarang juga bertempur di dalam suaka suci, dan ini sepanjang tahun, kecuali untuk bertahan

Fight those who fight against you in the path of Allah, and do not transgress. Surely Allah does not like transgressors!And kill them, wherever you meet them; and drive them out from where they chased you: association is more serious than murder. But don’t fight them near the Holy Mosque until they fight you there. If they fight you there, kill them . Such is the recompense of the disbelievers. If they cease, Allah is, of course, Forgiving and Merciful. And fight them until there is no more association and the religion is entirely for Allah alone. If they cease, let there be no hostility except against the oppressors. The holy month for the holy month! – The retaliation applies to all sacred things -. So whoever transgresses against you, transgress against him, with equal transgression. And fear Allah. And know that Allah is with the pious. S2: V190-194

Seperti yang telah saya jelaskan, umat Islam yang mengikuti setelah Nabi wafat, dengan sangat cepat mengubah periode haji, membatasinya hanya pada tanggal haji terakhir Nabi, pada saat yang sama meninggalkan gencatan senjata yang terkait dengan 4 bulan haji. Padahal gencatan senjata inilah yang memberikan haji karakter sakralnya dan yang menjadikan Ka’bah sebagai tempat perlindungan, mengabaikannya sama saja dengan menghalangi haji itu sendiri, yang telah dilakukan umat Islam dengan mengabaikan bulan-bulan suci sepenuhnya.

They ask you about waging war in the holy months. – Say: “To fight therein is a serious sin, but even more serious with Allah is to obstruct Allah’s path, to be ungodly towards Him and the Holy Mosque, and to expel its inhabitants from there. . The association is more serious than the murder. ” However, they will not stop fighting you until, if they can, turn you away from your religion. And those among you who will abjure their religion and die unfaithful, their actions in the immediate life and in the future will be vain for them. These are the people of the Fire: they will abide there eternally. S2: V217

Awalnya, Allah memerintahkan Ibrahim untuk memanggil semua orang, apa pun agamanya, untuk mengunjungi Rumah Tuhan. Tetapi aturan ini berubah dengan Nabi Muhammad, untuk selanjutnya tidak ada kesyirikan yang diotorisasi untuk mendekati Masjid Suci. Jika Tuhan tidak mengubah aturan ini, hari ini kita akan menemukan diri kita melakukan pilgrimage/perjalanan ibadah di tengah-tengah turis, seperti yang terjadi misalnya di Roma di mana kita menyaksikan pemandangan yang sangat mengganggu dari para peziarah dan orang-orang gereja yang sedang berdoa, dengan di sekitar mereka: datang-perginya banyak turis berlalu yang merekam dan memotret mereka seolah-olah itu hanya tontonan sederhana. Fakta bahwa Haji di Ka’bah saat ini adalah satu-satunya ziarah di dunia yang dilindungi dari semua orang kafir, adalah tanda bahwa Tuhan Rumah ini adalah satu-satunya Tuhan yang benar. Sungguh, semua situs ziarah lain di seluruh dunia telah menjadi tempat pariwisata sejati, di mana wisatawan berbaur dengan peziarah dan melakukan segala macam penistaan, menjadikan tempat-tempat tersebut najis dan tidak layak untuk berdoa kepada Tuhan.

O you who believe! The associators are nothing but impurity: that they do not approach the Sacred Mosque any more, after this year . And if you fear a shortage, Allah will enrich you, if He wills, by His grace. For Allah is All-Knowing and Wise S9: V28

Jenis-jenis haji yang berbeda

d0c0fa669c05b9eae78e604fd5c0e5885

Ada beberapa jenis haji yang sudah ada pada zaman Arab Kuno, dan yang tetap dimiliki Muslim, dan telah dikonfirmasi oleh Alquran.

Umrah

“Umrah” secara etimologis berarti “mengunjungi” Jadi ini adalah kunjungan sederhana ke Rumah Tuhan, Ka’bah. Karena itu, ritusnya terbatas pada tempat suci Masjidil Haram, yaitu mengelilingi Ka’bah dan bolak-balik antara As-Safâ dan Al-Marwa. Umrah bisa dilakukan sepanjang tahun, baik selama 4 bulan haji maupun di luar bulan-bulan tersebut. Umrah tidak memiliki batasan durasi yang lebih rendah seperti haji, dimana batasan ini ditetapkan pada 2 hari. Berbeda dengan Haji, tidak ada kewajiban untuk melakukan persembahan selama Umrah, atau memotong rambut Anda untuk mengakhirinya. Di sisi lain, siapa pun yang memilih umrah harus tetap dalam keadaan sakralisasi, dengan semua larangan yang tersirat: tidak ada berburu, tidak ada godaan, tidak ada tindakan seksual, tidak ada tindakan tidak senonoh, tidak ada pertikaian, hentikan berbuat dosa sekuat mungkin.

Al-Tamattu

Jenis haji ini menggabungkan umrah diikuti dengan haji, dengan periode diantara ke2nya, di mana seseorang menikmati kehidupan “normal”, maka namanya “Al-Tamattu”, yang berarti “kenikmatan.” akhir Umrah, seseorang keluar dari keadaan sakralisasi, untuk kembali ke kehidupan normal sepenuhnya selama durasi pilihannya, dan kemudian seseorang masuk lagi ke dalam keadaan sakralisasi begitu memutuskan untuk menunaikan haji, semua dalam satu stay/perjalanan yang sama. Hajinya kemudian menjadi haji yang sepenuhnya standar, seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Haji jenis ini sangat ideal bagi mereka yang memilih tinggal di Mekah untuk waktu yang lama, dan pada saat yang sama ingin jalan-jalan atau bisnis. dengan demikian melakukan umrah pada saat kedatangan mereka, dan kemudian keluar dari keadaan sakralisasi mereka untuk menikmati masa tinggal mereka dengan cara yang sepenuhnya normal, kemudian melakukan haji sebelum akhirnya pergi.

[…] Anyone who has enjoyed a normal life (Al-Tamattu) after having done Omra while awaiting the pilgrimage, must make an offering that is within his means. […] S2: V196

Al-Quiran

Jenis haji ini menggabungkan umrah diikuti langsung dengan haji, tanpa jeda di antaranya. Karena itu kita harus tetap dalam keadaan sakralisasi selama Umrah dan Haji. Jenis ibadah haji ini cocok untuk mereka yang ingin menikmati terlebih dahulu tanpa kendala waktu suaka suci yaitu Ka’bah, As-Safa dan Al-Marwah, dan Masjid Suci, kemudian ketika mereka memutuskan untuk melakukan haji, Ikuti langsung haji dengan menyelesaikan sisa sirkuit, yang terdiri dari tahapan Arafah, Al-Muzdalifa, dan Mina. Karena langkah-langkah ini berada di luar suaka suci, maka langkah-langkah tersebut harus dilakukan sekaligus, karena tidak ada tempat untuk makan atau tinggal di dekatnya.

souq-al-hijaz
Di lokasi sekitar Masjid suci, banyak hotel, tempat makan dan pusat perbelanjaan. Kita karena itu dapat menetap disana sekehendak kita. Sementara di sekitar Arafat, Mina, atau Al-Muzdalifa, tidak seperti itu, jadi kita hanya dapat menetap disana dalam waktu yang sangat terbatas.

Al-Ifrâd / Haji Sederhana

Jenis haji ini adalah haji sederhana tanpa umrah yang terkait dengannya. Ini sangat ideal bagi mereka yang hanya bisa tinggal di Mekah untuk waktu yang terbatas. Dengan demikian, mereka melakukan haji secara langsung dan segera pergi setelah selesai.

Konklusi

Picture-of-the-Sanctuary - 003

Haji dalam pengertian Alquran hanya menyangkut haji di Ka’bah di Mekah, dan ziarah/perjalanan ibadah lainnya tidak dianggap seperti itu. Haji dibagi menjadi 2 sesi tahunan: Haji Besar berlangsung di musim dingin di jendela waktu 3 bulan Dhou Al-Qa’ida, Dhou Al-Hijjah, dan Muharram dari kalender lunisolar Arab Kuno, yang kira-kira sesuai dengan bulan November, Desember, Januari, dan itu dapat diperpanjang hingga 4 bulan ketika bulan kabisat jatuh di tengah-tengah 3 bulan tersebut. Haji Kecil dimulai pada musim panas, 6 bulan setelah akhir Haji Besar, dan hanya berlangsung selama 1 bulan, yaitu bulan Rajab. Haji menurut Alquran berlangsung dalam jendela waktu 4 bulan, dan ditumpangkan/bertepatan pada 4 bulan suci di mana semua perang dilarang, kecuali untuk bertahan.

The number of months with Allah is twelve in Allah’s prescription on the day that He created the heavens and the earth. Four of them are sacred: such is the right religion . [During these months], do not harm yourselves. Fight the associators without exception, as they fight you without exception. And know that Allah is with the pious. S9: V36

Alquran membedakan antara haji dan umrah. Umrah terbatas di tempat suci Ka’bah dan dapat dilakukan kapan saja sepanjang tahun, baik selama 4 bulan haji maupun di luar bulan-bulan tersebut. Sedangkan ibadah haji hanya bisa dilakukan selama 4 bulan yang didedikasikan untuk itu dan hadir dalam 3 varian:

  1. Al-tamattu ” or “ enjoyment ”, yang menggabungkan umrah diikuti dengan haji, tetapi dengan jeda yang memisahkan keduanya saat seseorang meninggalkan keadaan sakralisasi untuk menikmati kehidupan normal di sana.
  2. Al-quiran ” or “ the conjunction ”, yang menggabungkan umrah diikuti dengan haji tanpa jeda antara keduanya, dan oleh karena itu tanpa kemungkinan meninggalkan keadaan sakralisasi di antara keduanya.
  3. Al-fard ” or “ the simple Hajj ”, yang merupakan haji saja tanpa umrah terkait.

Sirkuit haji selalu sama sejak jaman Arab Kuno, hanya aturan haji yang berubah. Alquran hanya memurnikan haji dari semua bentuk kesyirikan dan membatalkan semua aturan berlebihan yang berada di bawah tradisi sederhana atau takhayul.

600px-La_Mecque_pelerinage
  1. Berada di sekitar Ka’bah, tawaf, berdiri, ruku, atau bersujud, sambil berdoa kepada Tuhan dengan lantang dan dalam diam untuk berterima kasih kepada-Nya karena telah membimbing kita ketika kita sebelumnya berada di antara yang tersesat. , karena telah membangun suaka suci ini yang berfungsi sebagai titik pertemuan dan yang merupakan sumber penyembuhan dan pemurnian bagi kita, dan karena telah mengirimkan Utusan-UtusanNya dan Kitab-KitabNya kepada kita untuk membawa kita keluar dari kegelapan , membawa kita kembali ke dalam terang.
  2. Bolak-balik antara As-Safâ dan Al-Marwa sambil berdoa kepada Tuhan dengan lantang dan tanpa suara. Anda dapat bergantian antara Ka’bah dan As-Safâ dan Al-Marwa sebanyak yang Anda inginkan, tidak ada ketetapan jumlah dan batasan waktu yang diberlakukan untuk menyelesaikan 2 ritus ini.
  3. Pergi ke Gunung Arafah kemudian ke Al-Mash’ar-al-Haram yang terletak di Al-Muzdalifa, dan berhenti di sana tanpa batasan waktu tertentu untuk berdo’a kepada Tuhan.
  4. Kirimkan persembahan ke lokasi yang disediakan untuk tujuan ini, di Mina jika itu adalah pengurbanan hewan atau di tempat lain jika itu adalah hal lain.
  5. Kembali ke suaka suci dan mengelilingi Ka’bah dan bolak-balik di As-Safâ dan Al-Marwa sebelum menutup haji. Begitu seseorang merasa bahwa dia telah menyelesaikan semua ritusnya, memotong atau memendekkan rambutnya, yang menandai berakhirnya haji, keluar dari kondisi ihram, dan kembali ke kehidupan normal.

Seseorang harus tetap dalam keadaan sakralisasi selama haji. Kita memasuki keadaan ini sejak kita memutuskan bahwa haji telah dimulai untuk kita dan sebelum memulai tahap pertama rangkaian haji, dan kita keluar dari keadaan ini setelah semua ritus selesai dan kita memotong atau memperpendek rambut. Selama keadaan ini, seseorang harus menahan diri dari dosa, godaan atau hubungan seksual dengan pasangannya, dan tidak diizinkan tindakan penyimpangan atau rayuan, atau pertengkaran.

Adapun ritus umrah terbatas pada tempat suci, yaitu mengelilingi Ka’bah dan bolak-balik antara As-Safâ dan Al-Marwa. Berbeda dengan ibadah haji, durasi umroh adalah bebas, sedangkan haji harus berlangsung minimal 2 hari dan dapat diperpanjang sesuka hati, durasi yang secara tersirat dianjurkan oleh Alquran adalah 10 hari.

Haji menurut Alquran tentu memiliki banyak kesamaan dengan haji orang Arab Kuno dan Muslim, kecuali telah dibersihkan dari semua aturan2 yang berlebihan, takhayul, tradisi, tindakan penyembahan berhala atau kesyirikan. Ini terutama merupakan pengalaman spiritual batin yang mendalam, yang memberi kepada masing-masing orang kebebasan mengenai detil cara melaksanakannya atau durasi yang dicurahkan untuk itu, tidak seperti Haji Muslim yang dikodifikasi secara rinci. (t/n: ruang kebebasan ini) agar haji tidak menjadi kosong dari semua kedalaman spiritual.

Dengan durasi 4 bulan yang dibagi menjadi 2 sesi tahunan: satu di musim dingin dan yang lainnya di musim panas, haji menurut Alquran memungkinkan orang-orang beriman dari seluruh dunia untuk dapat pergi ke sana kapan pun mereka mau dan dalam kondisi pilihan mereka. . , tanpa takut tidak mendapat tempat atau membahayakan kesehatan mereka, semuanya dengan harga yang jauh lebih terjangkau.

Bahkan jika hari ini adalah aturan Islam tradisional yang diberlakukan untuk haji, tidak ada yang menghalangi setiap orang beriman untuk dapat menjalankannya sesuai dengan aturan Tuhan yang sebenarnya yang baru saja saya jelaskan untuk Anda di artikel ini. Orang beriman bahkan menjadi pemenang walau bagaimanapun, karena dia bisa pergi haji pada periode yang sebenarnya, ketika cuaca di Mekah paling lembut dan jumlah orang minimum, semua ini sambil membayar lebih sedikit karena ini bukan periode haji untuk Muslim. Di sana, Anda dapat menunaikan semua ritus haji sesuai dengan aturan Tuhan yang benar tanpa rasa khawatir. Untuk ritus di sekitar tempat suci, tidak ada masalah untuk melakukannya, dan untuk sisa sirkuit haji, bahkan jika tempat-tempat itu ditutup di luar periode haji Islam, tidak dilarang pergi ke sana dengan cara menyewa taksi untuk hari itu, dan untuk memohon/berdoa kepada Tuhan di sana seperti yang telah ditentukan untuk kita, dan Anda bahkan akan memiliki kemewahan memiliki seluruh lokasi untuk diri Anda sendiri.

Seperti yang saya tunjukkan sebelumnya dengan Ramadhan dan sekarang dengan Haji, dengan mengikuti resep yang benar dari Tuhan yaitu Alquran, daripada tradisi nenek moyang, hanya ada keuntungan/manfaat tanpa ada ketidaknyamanan bagi mereka yang Tuhan ingin tuntun mengikuti kebenaran dan jalan yang lurus, sedangkan mereka yang Tuhan biarkan tersesat, mengikuti kebohongan2 dan jalan yang bengkok. Tetapi, meminta seorang Muslim untuk mempertanyakan keyakinan salah nenek moyangnya, yaitu sunnah palsu yang dibuat-buat di punggung Nabi Muhammad setelah kematiannya, adalah sesuatu yang hampir tidak dapat dibayangkan bagi mereka. Karena, banyak dari mereka pada kenyataannya bukanlah orang yang benar-benar beriman, tetapi hanya sektarian, penyembah berhala, dan musyrik. Jika mereka dilahirkan sebagai agama lain, mereka akan tetap di sana sepanjang hidup mereka tanpa pernah mempertanyakannya.

He has legislated for you in matters of religion, what He commanded Noah, what We revealed to you, as well as what We commanded Abraham, Moses and Jesus: “Establish religion; and do not make it a subject of divisions ”. What you call the associators seems enormous to them Allah elects and brings closer to Him who He wills and guides those who repent to Him. S42: V13

Tuhan tidak membimbing orang yang zalim, jadi mulailah dengan menjadi orang benar, menolak semua bentuk penyembahan berhala dan kesyirikan (t/n: kezaliman-kezaliman terbesar), mendedikasikan keseluruhan agama hanya kepada Tuhan seperti yang dilakukan Ibrahim, dan mengikuti kebenaran ketika itu memanifestasikan dirinya kepada Anda daripada langsung mengabaikan apa pun yang bertentangan dengan keyakinan awal Anda, dan kemudian Tuhan akan membawa Anda keluar dari kegelapan untuk membawa Anda ke dalam terang, dari kegagalan untuk membawa Anda menuju kesuksesan, dari penderitaan untuk membawa Anda ke kepuasan. Dengan demikian, Anda akan menjadi pemenang, baik dalam kehidupan di dunia bawah ini seperti juga kelak di akhirat. Jika tidak, Anda pasti akan menjadi pecundang di keduanya. Siapa pun yang memilih untuk percaya dan mengikuti petunjuk Tuhan, melakukannya untuk keuntungan mereka sendiri, sementara siapa pun yang menolak untuk melakukannya, melakukannya untuk merugikan diri mereka sendiri.




P.S.: Mengenai isi pesan, silahkan tanya langsung secara baik-baik ke thetruthisfromgod.com, karena saya hanya menerjemahkan, dan tidak ambil bagian sedikitpun atas isi pesan. Translator note (t/n:) adalah merupakan tambahan/penjelas dari saya pribadi (penerjemah) dan bukan bagian dari pesan asli. boleh diabaikan saja. Kritik/saran mengenai hasil penerjemahan, silahkan ajukan email ke: firefantasyhaiku@gmail.com atau redemptionman@tutanota.com

Share the Truth:

Post Navigation ;