Peringatan Kiamat

*DISCLAIMER/PENAFIAN*
Saya TF, semua artikel yang ada disini hanya upaya penerjemahan dari https://thetruthisfromgod.com/
Kecuali jika saya nyatakan lain.
Saya bukan pemilik situs tersebut diatas, dan pemilik situs tersebut (YS) samasekali bukanlah kenalan saya. Semua konten disana diluar tanggung jawab saya. Saya hanya orang biasa yang mengambil dari sana, menggunakan mesin penerjemah, kemudian mengoreksi hasil terjemahannya lebih lanjut. Demi Allah, Saya tidak dibayar sepeserpun atau mendapat imbalan apapun dari YS.
YS juga tidak pernah memaksa atau meminta saya untuk menerjemahkan.
Semua ini atas inisiatif saya sendiri.
Mohon maaf atas sebagian terjemahan yang masih kasar, atau keliru.
Untuk itu, Saya mohon dengan sangat kepada Anda untuk tetap meninjau sumber aslinya,
Semata-mata untuk menangkap pesan yang lebih lengkap dan lebih murni.
Jika Anda bisa mengerti apa yang tertulis disana (teks Bahasa inggris/Bahasa Prancis), tolong abaikan saja Blog saya dan baca langsung dari sana.
Pesan YS dalam bentuk video2, saya terjemahkan di channel youtube saya:
“[..] We wish not from you reward or gratitude. Indeed, We fear from our Lord a horribly distressful Day” (76:9-10)
  1. Home
  2. »
  3. Agama Sejati
  4. »
  5. Hukuman yang sebenarnya untuk...

Hukuman yang sebenarnya untuk pencuri di Qur’an

1 May, 2021Agama Sejati

Diterjemahkan dari: https://thetruthisfromgod.com/2021/04/28/la-vraie-punition-du-vol-selon-le-coran/ (artikel sumber terjemahan dipublish pada 28 April 2021)


Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan hukuman ilahi yang sebenarnya tentang pencurian. Aliran-aliran reformis sangat ingin menghilangkan segala bentuk hukuman fisik agar tetap berpegang pada standar masyarakat sekuler modern, dan untuk itu tidak segan-segan memutarbalikkan ayat-ayat Tuhan. Misalnya, menurut situs reformis, Quran-islam, hukuman pencuri hanyalah menandai tangannya dengan luka kecil agar bisa mengidentifikasinya, dan untuk mengganti barang yang dicuri. Namun, hal itu tidak benar-benar sesuai dengan ayat Alquran, tidak memberikan keadilan bagi korban, juga tidak menghalangi/mencegah mereka yang tergoda untuk mencuri.

Tindakan pencurian tidak bisa dianggap enteng, tetapi merupakan kejahatan yang sangat serius dan berarti seseorang telah melangkah jauh dalam amoralitas, dan dalam pelanggaran hukum ilahi bagi orang-orang beriman, dan hukum sekuler bagi orang-orang lain. Bukan tanpa alasan bahwa selama berabad-abad, pencurian dihukum berat, dan bahkan dapat mengarah/dihukum mati dalam kasus-kasus yang paling serius. Bahkan di hari ini, dalam masyarakat2 yang didasarkan pada fungsi kesukuan, kita terus mendengar cerita tentang pencuri yang “lynched” (t/n:digantung/diamuk) oleh massa. Memang benar, mencuri sama dengan merampas properti orang lain secara tidak adil/zalim, yang merupakan tindakan menjijikkan dan tak dapat diterima bagi korban, dan bagi masyarakat pada umumnya.

unnamed
lebih baik menerapkan hukuman Tuhan yang adil, daripada membiarkan orang-orang “mengadili dengan tangan”/main hukum sendiri

Bayangkan seorang pegawai yang mencuri dari boss-nya, ketika bossnya telah memberi kepercayaan padanya, seorang maling yang membobol rumah Anda, atau seorang bajingan yang mencuri dengan zalim uang dari orang-orang melalui segala bentuk scam/penipuan, entah itu live/secara langsung, atau di internet. Ini keterlaluan/tidak dapat diterima baik bagi dia yang menjadi korban dan bagi dia yang menyaksikan itu, dan sangat penting untuk menetralisir para penjahat ini sehingga mereka tidak dapat berbuat itu lagi.

thief-four-measures-prevent-internal-data-theft-F
Pencurian di internet sama seriusnya seperti pencurian di dunia nyata, namun, hukum hari ini cenderung menyepelekannya, yang adalah mengapa mereka semakin marak

Karena para pencuri ini, orang-orang menjadi semakin curiga satu sama lain, dan tidak pernah menyenangkan untuk dicurigai ketika Anda innocent/tidak (t/n: melakukan perbuatan yg) perlu merasa malu, atau Anda mencurigai seseorang yang tidak bersalah, padahal ternyata dia jujur. Dan, saya bahkan tidak berbicara tentang trauma yang tidak dapat diperbaiki yang dapat ditimbulkan oleh sebagian besar tindakan pencurian kepada korban, ketika melibatkan kekerasan atau ketika pencurian terjadi langsung di rumah korban. Selain kerugian materiil, sebagian besar korban mengatakan bahwa mereka merasakannya seperti mengalami pemerkosaan sungguhan, karena membobol rumah orang adalah terang-terangan melanggar privasi mereka.

thief_piedbiche-1024x682

Adapun tindakan kekerasan yang dapat menyertai pencurian tertentu, terkadang korban tidak pernah bisa “move on” dan menarik diri selama sisa hidup mereka. Mencuri bukan hanya kezaliman yang sangat besar bagi diri sendiri, tetapi juga bagi Tuhan dan masyarakat secara keseluruhan. Berkenaan dengan Tuhan, karena (t/n: dengan mencuri) itu berarti bahwa kita tidak takut padaNya dan bahwa kita secara terbuka tidak menaati perintah-Nya: “You shall not steal” (Perintah/Commandment ke-7). Berkenaan dengan orang lain, tindakan itu berarti kita tidak menghargai orang lain dan bahwa kita adalah musuh masyarakat. Jika saya sangat bersikeras, itu karena hari ini kita cenderung menyepelekan pencurian karena begitu marak dibandingkan dengan kejahatan lain yang apriori lebih serius, tetapi ini sama sekali tidak mengurangi keseriusan suatu kejahatan. Baik kejahatan yang ini dan kejahatan apapun, dan mereka yang menjadi korbannya tidak akan memberi tahu Anda sebaliknya. Selama Anda sendiri belum dicuri/dirampok, Anda tidak benar-benar menyadari kengerian tindakan seperti itu dan penderitaan yang ditimbulkannya pada orang lain. Bertentangan dengan apa yang dikatakan beberapa orang, tidak ada alasan apapun untuk menjustifikasi pencurian, termasuk mereka yang diduga melakukan pencurian karena lapar/kebutuhan.

We do not hold for innocent the thief who steals To satisfy his appetite, when he is hungry;  If he is found, he will make a sevenfold restitution, He will give all that he has in his house . Proverbs C6: C30-31

Memang, kebanyakan pengemis bukanlah pencuri dan berusaha untuk hidup secara jujur ​​dengan mengandalkan keselamatan Tuhan dan kemurahan hati orang-orang lain. Tetapi karena minoritas kecil pencuri, kebanyakan orang mencurigai mereka (pengemis) dan memandang setiap pengemis sebagai calon pencuri.

Untuk memberantas kejahatan pencurian atau setidaknya untuk memastikan agar tidak meluas di masyarakat, maka penting untuk menerapkan hukuman Tuhan yang benar dalam hal ini. Beratnya hukuman dibenarkan karena beratnya kejahatan tersebut, sehingga keadilan ditegakkan kepada para korban dan untuk mendorong dengan kuat pihak yang bersalah untuk melakukan perbaikan diri. Hanya menandai tangan pencuri atau memaksanya mengembalikan apa yang telah dicurinya tidak akan memberikan keadilan bagi para korban yang traumanya jauh lebih besar daripada harta benda yang telah dicuri dari mereka, dan sama sekali tidak mendorong pencuri untuk melakukan perubahan. Memang, dengan hukuman yang begitu ringan, pencuri tidak akan rugi dengan terus mencuri, dan paling buruk hanya mengembalikan apa yang mereka curi hanya pada saat mereka tertangkap. Kita lihat dalam ayat-ayat Taurat ini bahwa pencuri tidak hanya harus memberi kompensasi atas apa yang telah dia curi sepuluh kali lipat, tetapi untuk kasus yang paling serius, seperti pembobolan, korban berhak untuk membunuh pencuri bahkan tanpa harus dihukum/dipersalahkan karena melakukan pembunuhan.

If a man steals an ox or a lamb, and slaughters it or sells it, he will restore five oxen for the ox and four lambs for the lamb. If the thief is caught stealing with a break-in, and he is struck and dies, no one will be guilty of murder against him; but if the sun is up, we will be guilty of murdering him. He will make restitution; if he has nothing, he will be sold for his theft; if what he has stolen, ox, donkey, or lamb, is still alive in his hands, he will make double restitution. Exodus C22: V1-4 

Sungguh, bayangkan seorang pencuri yang memasuki rumah Anda di tengah malam, kita berhak mengatakan bahwa dia dapat melakukan apa saja, dan secara sah (t/n: tuan rumah) dapat melangkah sejauh itu untuk membunuhnya jika kita merasakan bahaya sekecil apa pun dari pencuri itu. Betapa banyak fakta/kejadian nyata yang terdengar melaporkan kasus-kasus pencurian yang “gone wrong” (t/n:tidak hanya mencuri), di mana pencuri dalam kegilaan kriminalnya akhirnya membunuh korbannya entah karena tertangkap di tempat dan panik, atau untuk membungkam korban selamanya. Oleh karena itu, tidak mengherankan untuk melihat ayat-ayat dari buku/kitab exodus, yang mengizinkan membunuh seorang pencuri jika dia tertangkap di rumah pada tengah malam. Hukuman juga bisa mencapai hukuman mati bagi mereka yang terlibat dalam perdagangan manusia, yang karenanya mencuri nyawa orang. Memang, hukuman ini cukup sah mengingat mereka yang melakukan tindakan kriminal semacam ini adalah penjahat murni bagi masyarakat.

If a man is found who stole one of his brothers, one of the children of Israel, who made him his slave or who sold him, that thief will be punished with death. In this way you will remove evil from your midst. Deuteronomy 24: 7

Orang-orang zalim yang menjadikan pencurian sebagai aktivitas rutin mereka dan yang tidak peduli tentang Tuhan dan sesamanya/orang lain, takdir mereka adalah neraka, tidak peduli apa pun perbuatan2 mereka sisanya.

Do you not know that the unrighteous will not inherit the kingdom of God? Do not be deceived: neither fornicators, nor idolaters, nor adulterers, nor effeminate, nor homosexuals,  nor the  thief s , nor covetous, nor drunkards, nor revilers, nor extortioners, shall inherit the kingdom of God . 1 Corinthians 6: 9-10

Alquran, sebagai Kitab terakhir dari Tuhan, membatalkan hukum2 sebelumnya dan mengambil alih atasnya. Hukuman Tuhan untuk pencurian adalah memotong tangan si pencuri seutuhnya.

The man and woman thief, both cut off / Akta’u / فَاقْطَعُوا the hand, as punishment for what they have acquired, and as punishment from Allah. Allah is Mighty and Wise. S5: V38

Ini memang memotong tangan dan tidak hanya menandainya dengan luka saja seperti yang dikatakan para Quranists, yang memutarbalikkan hukum Tuhan menurut aspirasi mereka sendiri dan bukannya puas dengan mematuhi apa yang tertulis hitam diatas putih dalam Qur’an. Memang, kita menemukan kata yang sama “Aqta’ou / فَاقْطَعُوا” dalam beberapa ayat Alquran lainnya, dan definisi kata ini tidak menyisakan ruang untuk keraguan.

The reward of those who wage war against Allah and His Messenger, and who strive to sow corruption on the earth, is that they are killed, or crucified, or تُقَطَّعَ / toukata’ou / cut off from them. opposite hand and leg, or be expelled from the country . It will be ignominy for them here below; and in the Hereafter there will be a tremendous retribution for them, S5: V33

“Did you believe it before I let you?” said Pharaoh. It is indeed a ploy that you have devised in the city, in order to remove its inhabitants. You will soon know… I will cut you / لَأُقَطِّعَنَّ / laoukati’ouna the opposite hand and leg, and then I will crucify you all. “S7: V123-124

 So Pharaoh said, “Did you believe in him before I let you do it?” He was your leader who taught you magic. I will surely make you, cut / فَلَأُقَطِّعَنَّ / falaoukati’ouna opposite hands and legs, and have you crucified on the trunks of palm trees , and you will know, with certainty, which of us is stronger in punishment and who is more lasting ”. S20: V71

Tidak ada keraguan bahwa kata “potong” atau “qata’a” dalam ayat-ayat di atas berarti memotong tangan, bukan hanya menandainya. Kaum Qur’anists seperti situs Quran-Islam tidak jujur dalam memahami arti kata ini dalam ayat Qur’an yang sangat spesifik, dan mengambil konteks yang sama sekali berbeda dari konteks yang berlaku untuk pencuri.

And in the city, women said, “Al-‘Azize’s wife is trying to seduce her valet!” He really made her mad with love. We certainly find it in an obvious error. When she heard their deceit, she sent them [invitations,] and prepared a snack for them; and she gave each of them a knife. Then she said: “Come out before them, (Joseph!)” – When they saw him, they admired him, cut their hands / قَطَّعْنَ / kat’ana and said: “Allah forbid! He is not a human being, he is only a noble angel! ” S12: V31-32

Memang dalam ayat ini kata “qata’a” Secara sederhana berarti melukai tangan dan bukan memotong seluruh tangannya, tetapi ini bukanlah arti yang berlaku untuk hukuman pencuri. Selain itu, tidak mengherankan melihat bahwa Alquran mengatur untuk memotong tangan si pencuri ketika kita melihat bahwa sebelum turunnya Alquran, pencuri bahkan dapat dihukum mati menurut hukum Tuhan begitu juga menurut hukum pagan dan sekuler. Seperti yang saya jelaskan kepada Anda, beratnya kejahatan semacam itu membenarkan hukuman seperti itu, di satu sisi untuk memberikan keadilan kepada para korban dan untuk mencegah orang-orang main hukum sendiri jika mereka merasa bahwa hukumannya tidak sesuai, dan di sisi lain untuk sangat mendorong si pelakunya untuk melakukan perubahan. Pemotongan tangan adalah hukuman yang umum dalam masyarakat di masa lalu, dan oleh karena itu sama sekali tidak mengejutkan melihat Alquran mengatur hukuman ini untuk pencuri. Sebaliknya, hukuman seperti itu pantas dan jauh lebih beradab daripada menyerahkan pelakunya ke pembalasan publik, seperti yang sering terjadi dalam masyarakat di masa lalu, dan masih terjadi sampai hari ini di masyarakat tribal/kesukuan. (t/n: jadi teringat kasus “amplifier masjid” )

If we imagine the penal system as it existed in medieval Europe, and especially in Germany in the early Middle Ages, it appears to us to be a “theater of horror and terror” since the methods Punitive acts were characterized at that time by extreme atrocity and brutality, and reached their climax through the performance of superstitious rituals and macabre ceremonies. To the cruelty of the punitive methods was also added the odious fact according to which the sanctions, whether they were mutilatory, dishonorable sentences, death sentences such as the burial of people while they were alive, forced drowning, the gallows, the stake, the torture of the wheel etc …, gave rise to public and joyful festivities,to shows highly prized by the people and by the ruling classes of the time.

However, this perverse side of the medieval penal system, far from being arbitrary, was based on very precise foundations and was legitimized by intentions aimed at maintaining order in society at all costs.

In order to be able to understand this world so complex and so strange, as it was reflected, among other things, in criminal law, we must first of all free ourselves from the ideas about the cruelty of medieval law, as they were. inculcated in past generations since the Enlightenment. It is certain that the old penal system was inhuman and barbaric, but no other means were known than torture and the punishment of mutilation and death. Sanctions involving deprivation of liberty were not considered to be sufficiently effective and police checks proved to be impractical. In addition, the old law did not tend, as nowadays, to reintegrate the accused into society by giving him the means to improve himself, but to reestablish the law by means of corporal punishment towards the person who had violated the rules of the established order. A certain idea of ​​exchange dominated in the conception of medieval penal law: the criminal erased the gravity of his fault by paying with his person: the more important the offense, the more the accused had to endure bodily suffering. In addition, the intimidation of the population, atonement and reparation of the crime were the main objectives which determined the ferocity of the sentences. In addition, the latter were subjected to a well-defined ritual which was under the meticulous supervision of the court.Medieval criminal law still offered a very close link between the desire for revenge and religious sentiment.1; it had a sacred character because it transposed the sanction of a very personal sphere into another higher, namely at the divine level; in fact, in order to escape a misfortune himself, the human being felt obliged to perform a vengeful act in place of God and for God himself, a sanction aimed at exorcising evil by wrong. Consider in this regard the judgments of God, which arose out of a belief that God was righteous and wanted righteousness on earth. If the human mind was not able to discern right from wrong, then it was necessary to turn directly to God. There were several kinds of judgments from God:the accused had either to carry a hot iron or to plunge his arm up to the elbow in a bucket filled with boiling water or to fight a duel with another person paid for this purpose by the court.

Apart from the fact that the basic motivation of the medieval penal system was the maintenance of peace within city and country communities, much of the rigidity and inhumanity of medieval criminal law can only be understood in the religious context. The life of the human community was considered only within the framework of the divine order. The Christian view of the world stabilized man, assured him of the vicissitudes, disappointments and threats that might arise. It was believed at that time that divine laws could only be revealed by using a direct method . Moreover, the “Mirror of the Saxons”, the first legal book to appear in northern Germany in 1225 2, emphasized that God himself represented law and that for this reason he attached great importance to it. Taken in this context, the significance and repercussions of a crime had, in the Middle Ages, a far greater significance than nowadays, for it was not only a question of prosecuting the offender and making him atone for his faults; moreover, the whole life of the human being and, therefore, of the community of men, was at stake. The accused was then considered as an execrable fisherman who had destroyed the divine order and, finding himself in struggle between God and the diabolical forces of hell, the theater of which was human society, had sided with evil. Therefore, the evildoer had to be eliminated in order for Good to win the victory over Evil, a task to which Christians had to devote themselves.The pursuit of Evil thus revealed itself as a ceremony, as a visible triumph of Good.3 . Such a circumstance explains the fact that the death sentences and torture were public and gave rise to joyous festivities. Thus, the spectators of such scenes, if I may put it that way, were not just passive objects to be intimidated by the presentation of cruel sanctions; in the eyes of the ruling class and the members of the tribunal, they were much more a means of legitimization, which, by their presence during executions, confirmed the legal validity of such practices.

Let us also note an important point: the victory of Good over Evil was to prove all the more sublime as we had succeeded in freeing the criminal from the clutches of Satan. And how to free him other than by torture! He had to pass at all costs to admit! It was only in this way that a wrongdoer could turn away from the devil and be admitted back into the Christian church. We only understand this relationship if we consider that medieval penal law was always also interested in the salvation of the soul of the condemned. The infernal martyrs suffered by the accused put to torture were, in a way, to serve to save the souls of the latter from the torments of hell.In fact, what did the minutes or even the hours spent under the “Question” represent in relation to the eternal torments after death? According to the conception of the time, torture symbolized the criminal’s stay in hell. And once washed of his sins by the sufferings of the body and confessed, the condemned could then receive the absolution which was given to him by a priest on the course which led him to the place of his execution. It was in fact a macabre scene: the repentant criminal, dressed in a white coat, was accompanied by two members of the clergy while liturgical songs and prayers resounded. He often stopped on the way to drink, to go to confession for the last time or to say goodbye to those close to him. Sometimes classes of teenagers mingled with the procession, whispering funeral songs,because the educators of yesteryear considered it salutary that young people were confronted from an early age with the harmful consequences which resulted from criminal behavior4 .

It is certain that the religious background of cruel sanctions took on its full meaning in crimes against God; let us quote, for example, the cases of witchcraft, heresy, incest etc… It was not without reason that the “Hammer of the Witches”, book published in 1487 and written by two monks, Jakob Sprenger and Heinrich Institoris, and dealing among other things with inquisition methods during witchcraft trials, was very successful at the time. The worst atrocities were allowed in the name of God! The situation has changed little today! 5 .

Thus, the Church and Christianity represented in the Middle Ages the foundations of judicial and penal practice. However, it was not once a question of a good and merciful God, as we know him today, but of a relentless and severe God. This image that people of the Middle Ages had of Christendom was in part due to superstitious beliefs whose roots go back to pagan times.

Let us now look at the various procedures offered by medieval criminal law to cruelly chastise those who are resistant to divine order on earth.

[…]

The amputation of the hand was a very frequent mutilatory sanction in the Middle Ages  ; Saxon and Frisian law cited it to punish almost all violations of the law. Thus, it was used in cases of forgery, perjury, non-compliance with the laws concerning the maintenance of peace in houses, castles, in markets, bodily injury by means of a knife and even the simple carrying prohibited weapons. In this regard, legal sources advised amputating the right hand and not the left hand. A mitigation of the penalty was to cut only a few fingers of the hand 8 .

[…]

The amputation of an ear or nose was considered, in northern Germany, to be punitive methods, especially for domestic workers, because such mutilations did not in any way affect their working capacity. Most of the time, thieves and women accused of perjury had their ears amputated. The sanction of a nose was amputated applied to thieves guilty of recidivism and, in Augsburg, prostitutes who had lingered in the city during the period of Lent 13 .

The corporal punishments concerning the skin and the hair – Strafe an Haut und Haar – can be regarded in part as mutilatory sanctions because they went as far as tearing the scalp and stigmatization. Defendants likely to have committed crimes such as bigamy or benign thefts were pilloried, beaten up, stigmatized and then expelled from the city . These punitive methods were also used as “pardoning sanctions” for pregnant women who, under other circumstances, would have been subjected to the death penalty or to a mutilatory sanction; the latter were not to suffer any serious injury because of the child they carried within them. We then confined ourselves to cutting their hair.

So now let’s take a look at death sentences. These were also introduced in Germany in the 13 th  century through the laws on maintaining peace in the countryside and cities – and Landfriedensgesetze Stadtfriedensgesetze -. They were mainly applied for crimes such as murder, rape, kidnapping, adultery, bigamy, pimping and theft . Over the centuries, these sentences were often commuted to heavy fines or sanctions which consisted of expelling the culprits from the city for a long term or for life .This was especially the case for those accused of kidnapping, adultery or bigamy, while the offenses of theft, rape and murder were still punishable by death . But such commutations could, in the early Middle Ages, be decided only by judges and representatives of the public force, whereas in the Frankish period, the guilty had the right to be pardoned: he could “save his neck”. – den Hais lösen – by paying a heavy fine. The scruples on the part of the tribunal which arose at the end of the Middle Ages when it came to pardoning a condemned man were above all due to the fact that crime had greatly increased since the early Middle Ages, due circumstance, between others, the weakening of public power and the upsurge in robbery 16 .

source: https://books.openedition.org/pup/3156?lang=en

Oleh karena itu, hukum Alquran tentang pencurian adalah adil dan seimbang, dan benar-benar mencerminkan beratnya kejahatan ini. Tuhan-lah yang paling mengetahui beratnya setiap kejahatan dan pembalasannya yang adil. Bagaimanapun, kita tentu menyadari bahwa pemotongan tangan tidak akan diberlakukan secara sistematis untuk setiap pencurian sekecil apapun dan bahwa ada hukuman menengah untuk kasus yang tidak begitu serius atau jika bagi pelakunya adalah tindakan pertamanya/ bukan residivis. Seperti dalam hukum sekuler, ada hukuman maksimum yang diterapkan hanya untuk kasus-kasus yang serius dan untuk kasus residivis, dan serangkaian hukuman menengah untuk kasus-kasus selain itu, seperti mengkompensasi barang yang dicuri berkali-kali lipat. Oleh karena itu, adalah bagi hakim untuk menentukan hukuman yang adil berdasarkan kasus per kasus, memastikan untuk memuaskan korban dan memberinya perasaan bahwa keadilan telah ditegakkan, dan pada saat yang sama untuk menjatuhkan hukuman yang cukup melemahkan pihak yang bersalah agar secara definitif menyesali kejahatannya. Dalam hal pelanggaran berulang, hukuman yang lebih kuat harus diterapkan, dan jika ini tidak berpengaruh, maka hukuman maksimum harus diterapkan dan tangan pencuri harus dipotong. Namun demikian, di kebanyakan negara saat ini, tidak mungkin lagi menerapkan hukuman seperti itu, dan ini dikehendaki oleh Tuhan, karena Tuhanlah yang berada di balik semua hukum di masing-masing negara sesuai dengan keadilan orang-orang yang tinggal di sana. Oleh karena itu, Anda tidak boleh mencoba mengambil keadilan dengan tangan Anda sendiri atau menerapkan sendiri hukuman yang ditentukan oleh Alquran, tetapi lebih mengandalkan keadilan negara, dan sisanya (t/n: bila itu belum adil) Tuhan akan menangani setiap kasus secara terpisah. Tuhan akan membawa keadilan kepada orang yang pantas mendapatkannya dan yang telah belajar tentang mengapa dia menjadi korban kejahatan seperti itu, sementara untuk yang lain, apa yang terjadi pada mereka hanyalah kembalinya kesalahan/kezaliman mereka sendiri, dan jika mereka (t/n: merasa) tidak mendapatkan keadilan, itu karena Tuhan menghendakinya dan itu sebenarnya melayani sebagai hukuman Tuhan untuk mereka.




P.S.: Translator note (t/n:) adalah merupakan tambahan/penjelas dari saya pribadi (penerjemah) dan bukan bagian dari pesan asli. boleh diabaikan saja. Kritik/saran mengenai hasil penerjemahan, silahkan ajukan email ke: firefantasyhaiku@gmail.com atau redemptionman@tutanota.com

Share the Truth:

Post Navigation ;