Peringatan Kiamat

*DISCLAIMER/PENAFIAN*
Saya TF, semua artikel yang ada disini hanya upaya penerjemahan dari https://thetruthisfromgod.com/
Kecuali jika saya nyatakan lain.
Saya bukan pemilik situs tersebut diatas, dan pemilik situs tersebut (YS) samasekali bukanlah kenalan saya. Semua konten disana diluar tanggung jawab saya. Saya hanya orang biasa yang mengambil dari sana, menggunakan mesin penerjemah, kemudian mengoreksi hasil terjemahannya lebih lanjut. Demi Allah, Saya tidak dibayar sepeserpun atau mendapat imbalan apapun dari YS.
YS juga tidak pernah memaksa atau meminta saya untuk menerjemahkan.
Semua ini atas inisiatif saya sendiri.
Mohon maaf atas sebagian terjemahan yang masih kasar, atau keliru.
Untuk itu, Saya mohon dengan sangat kepada Anda untuk tetap meninjau sumber aslinya,
Semata-mata untuk menangkap pesan yang lebih lengkap dan lebih murni.
Jika Anda bisa mengerti apa yang tertulis disana (teks Bahasa inggris/Bahasa Prancis), tolong abaikan saja Blog saya dan baca langsung dari sana.
Pesan YS dalam bentuk video2, saya terjemahkan di channel youtube saya:
“[..] We wish not from you reward or gratitude. Indeed, We fear from our Lord a horribly distressful Day” (76:9-10)
  1. Home
  2. »
  3. lain-lain
  4. »
  5. Kualitas orang beriman menurut...

Kualitas orang beriman menurut Al-qur’an

2 Nov, 2020lain-lain

Segala puji bagi Allah, Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya. Hanya berkat Allah, saya telah menerjemahkan artikel yang saya dapat dari: http://www.quranicpath.com/quranicpath/understanding_believers.html , http://www.quranicpath.com/quranicpath/unwavering_faith.html , http://www.quranicpath.com/quranicpath/every_moment.html dan http://www.quranicpath.com/quranicpath/love_for_allah.html
karena itu tidak mewakili pandangan YS. Namun tentu saja saya mengupayakan sebisa saya mencari tulisan yang “paling mendekati kebenaran” “se-objektif mungkin” dan sesuai Qu’ran dalam mengambil sumber/bahan tulisan ini.
Sama seperti YS, saya menulis ini tidak berniat untuk mencari pengikut ataupun meyakinkan/mencari pengakuan dari orang lain. Saya temukan bahwa tulisan-tulisan ini hanya memperkuat dan memberi konfirmasi atas Quran dan juga apa-apa yang YS sampaikan. Sayang sekali jika saya simpan untuk sendiri. Lebih baik saya share, semoga mendatangkan manfaat bagi orang lain. JANGAN ditelan mentah-mentah. Tiap orang harus selau berpegang dan mendasarkan diri HANYA kepada Kitab Allah, Use your own reason/discernment & Do Your Own Research, saya tidak bertanggungjawab atas implikasi tulisan dibawah ini bagi Anda. Ingatlah, tiap diri bertanggungjawab atas pilihan dan perbuatannya masing-masing. Kebenaran hanyalah dari Allah. Yang terpenting bagi kita adalah terus mendekatkan diri pada Tuhan, bersyukur, belajar Qur’an, dan menerapkannya di kehidupan kita. Karena, hanya itulah kunci keselamatan kita.
May God forgive us and guide us regarding any sign that would have been misinterpreted in this study and elsewhere. May He purify ourselves and increase our knowledge.
“Our Lord, indeed we have heard a caller calling to faith, [saying], ‘Believe in your Lord,’ and we have believed. Our Lord, so forgive us our sins and remove from us our misdeeds and make us die among the righteous.”[3:193]


(t/n: ini saya sisipkan video dan gambar dari Youtube yg relevan atas topik ini:

karakter muslim menurut Qur’an. Jika melihat dari hp & kurang jelas, buka gambar di tab baru sehingga dapat di-zoom)

Memahami beberapa atribut penting orang beriman

Believer/ orang beriman adalah seseorang yang meyakini Allah dan akhirat tanpa keraguan, serta WahyuNya yang diturunkan untuk membimbing umat manusia. Al-Qur’anlah yang memberikan berbagai pelajaran, nasehat dan inspirasi bagi seorang beriman dan merupakan satu-satunya pedoman bagi umat manusia. Oleh karena itu,(t/n: kualifikasi) orang beriman sepenuhnya ditentukan oleh pelajaran Al-Qur’an dan oleh karena itu penting bagi kita untuk menarik semua poin kita dari Al-Qur’an.

Dan ini adalah Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan dengan penuh berkah. Ikutilah, dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat (Qur’an 6:155)

Mayoritas orang di bumi hanya menjalani hidup mereka dalam arus kejadian sehari-hari. Karena tidak memiliki kesadaran akan Allah, keputusan dan tanggapan mereka terhadap kejadian2 ini tidak selalu menyenangkan Allah. Namun, hal ini tidak mengganggu mereka. Terutama karena, mereka dimotivasi oleh kepentingan mereka sendiri. Semua manusia akan menemukan diri mereka setiap saatnya, dalam situasi di mana ada keputusan yang harus mereka buat; akan ada batas sempit antara respon terbaik yang paling berkenan bagi Allah dan respon yang lebih mudah dilakukan, tetapi bukan yang terbaik di sisi Allah. Orang beriman yang benar-benar takut kepada Allah dan berharap untuk mencapai surga akan memiliki kekuatan keinginan/willpower untuk mematuhi apa yang diperintahkan oleh hati nuraninya, dan dengan demikian mengambil respon terbaik untuk Allah. Allah senantiasa mengawasi semua orang, baik orang beriman maupun kafir dan Dia menguji mereka untuk melihat apakah mereka mengambil respon terbaik atau tidak.

(Dialah) Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun (Qur’an 67:2)

Ayat di atas mengungkapkan tujuan penting dalam penciptaan manusia. Orang beriman adalah mereka yang selalu berusaha untuk melakukan perbuatan terbaik terutama karena cinta dan takut kepada Allah. Dalam banyak ayat, Allah memerintahkan orang beriman untuk melakukan perbuatan baik

“Believers, bow down, prostrate yourselves, worship your Lord and do good deeds so that you may succeed.” (Qur’an 22:77)

Orang-orang di sekitar seorang beriman mungkin merasa aneh melihat tindakan benarnya yang konsisten. Ini karena hanya ketika seseorang memahami keberadaan Allah dan tujuan hidupnya dan juga menjadi seorang beriman yang taat, barulah kebenaran sejati dalam sikap dan perilakunya menjadi masuk akal. Seseorang yang memiliki sedikit atau tidak ada keyakinan pada akhirat tidak bisa dikatakan memiliki willpower untuk mengejar sikap, perilaku dan perbuatan2 terbaik.

pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan (kejahatannya) itu. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya (Qur’an 3:30)

Karena Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa akhirat adalah rumah permanen kita, segala sesuatu dalam hidup menjadi nomor dua setelah ‘approval’ Allah, bagi orang beriman. Misalnya, di tempat kerja, uang yang diperoleh bukanlah tujuan utama. Atau misalnya, pekerjaan di akhir program studi bukanlah tujuan utama. Cara orang beriman memandang kehidupan adalah bahwa setiap momen kehidupan adalah ‘sarana’ untuk mendapatkan keridhaan Allah dan karenanya surga di akhirat. Imbalan duniawi apa pun pada akhirnya hanyalah imbalan duniawi dan sekunder dari tujuan utama akhirat. Faktanya, orang beriman melihat dirinya sebagai hamba Allah dan dalam misi untuk memenuhi tujuannya yang dinyatakan dalam Al-qur’an. Dia melihat itu sebagai tujuan hidupnya, dan bukan pencapaian duniawi.

“What is with you runs out but what is with Allah goes on forever. Those who were steadfast will be recompensed according to the best of what they did. Anyone who acts rightly, male or female, being a believer, We will give them a good life and We will recompense them according to the best of what they did.” (Qur’an 16:96-97)

Itulah sebabnya mengapa pada setiap peristiwa, orang beriman tidak pernah mengkompromikan perilaku yang terbaik, bahkan jika itu tidak menguntungkan tujuan duniawinya. Misalnya, dia akan menemukan waktu untuk membantu orang yang membutuhkan meskipun dia menjadi terlambat bekerja dan tidak akan pernah berpura-pura mengabaikan orang yang membutuhkan. Selain kebenarannya dalam peristiwa sehari-hari yang sederhana, orang beriman sejati berada di ‘jalan yang curam’, yang didefinisikan dalam Alquran sebagai jalan mereka (golongan kanan) yang mencapai surga.

“Yet, he has not embarked upon the steep path. What will explain to you what the steep path is? It is to free a slave. To feed people in days of shortage. To bring the orphans near as well as the very poor. Only then he would become one of the believers, who exhorts people to the truth and to kindness. These are the companions of the right”. (Qur’an 90:11-18)

Jangankan melakukan amal kebaikan tambahan demi Allah, orang-orang kafir selalu terbuka terhadap bisikan setan dan keinginan jiwa mereka sendiri. Tanpa perlindungan Allah dan kearifan Al-Qur’an, mereka merasa bebas untuk berbuat tanpa batas dan terbuka untuk semua dorongan kejahatan. Semua tindakan kejahatan kecil seperti kurangnya kesopanan dan bahasa yang buruk, hingga kejahatan besar seperti pencurian dan pembunuhan, semuanya berasal dari kurangnya iman kepada Allah dan hari penghakiman. Memang, bahwa orang kafir pun bisa menjadi baik di dunia. Namun jika seorang kafir menjauhkan diri dari beberapa perbuatan jahat, atau melakukan kebaikan2, dia melakukannya karena alasan berikut:

1) Itu membuatnya merasa nyaman dalam melakukan hal yang benar.
2) Itu adalah norma masyarakat; orang akan menolaknya jika dia melakukan ini dan itu. Berbuat baik akan membuatnya terlihat baik juga di depan orang.
3) Ini akan merugikan kepentingan duniawi jangka panjangnya jika dia melakukan tindakan buruk, misalnya (karena akan lebih sulit) mendapatkan promosi, atau membahayakan hubungan dengan pasangannya jika dia selingkuh.

Orang yang motifnya hanya seputar dunia ini dapat (dengan mudah) melakukan dosa ketika motif duniawi ini tidak lagi sesuai dengan kepentingannya. Misalnya, seseorang mengendur dalam pekerjaannya saat ini, jika dia tahu akan segera meninggalkan posisinya. Ini karena dia tidak lagi memiliki tujuan duniawi untuk mendapatkan persetujuan rekan kerja atau mendapatkan promosi. Atau seorang suami selingkuh dari istrinya karena dia tidak menarik lagi dan dia tidak lagi merasa ada ruginya jika dia meninggalkannya, bahkan jika dia adalah pasangan yang paling setia dan penuh perhatian.

Karena motif duniawi bukanlah dorongan orang beriman, melainkan untuk mendapatkan Taman Surga yang kekal dan menghindari Api Neraka, tidak ada kerugian atau keuntungan di dunia ini yang dapat menjadi pembenaran untuk perilaku salah yang paling ringan sekalipun. Orang beriman sangat menyadari bahwa Allah akan memperhitungkan, bahkan perbuatan terkecilnya:

“On that Day, people will come forward in separate groups to be shown their deeds: whoever has done an atom’s weight of good will see it, but whoever has done an atom’s weight of evil will see that.” (Qur’an 99:6-8)

Dengan demikian, seseorang yang mengundurkan diri dari suatu pekerjaan tidak akan malas sedikit pun, karena dia harus tetap setia kepada Allah dengan tidak mengambil gaji untuk pekerjaan yang tidak dia lakukan. Sang suami tidak memperlakukan istrinya dengan sedikit pun kekerasan, bahkan ketika segala sesuatunya tidak berjalan dengan baik karena Allah akan memperhitungkan semua perbuatannya.

Pemahaman dan implementasi agama yang benar dalam Al-qur’an membuat seseorang hidup dengan akhlak yang paling unggul di dunia. Moralitas superior dari orang beriman sejati, di atas dan di luar semua orang kafir dan munafik diidentifikasi dalam ayat ini:

“You are the best nation ever to be produced before mankind. You enjoin the right, forbid the wrong, and believe in Allah.” (Qur’an, 3:110)

Kita telah melihat bahwa orang beriman adalah orang dengan moralitas tertinggi di dunia dan memiliki kriteria yang tidak tergoyahkan tentang benar dan salah dan yang tidak pernah goyah dalam melakukan tindakan yang benar. Kita juga telah melihat alasan yang salah di balik tindakan baik orang-orang kafir. Namun, alasan terpenting mengapa bahkan orang kafir yang beramal baik pun bersalah/ dianggap penjahat di sisi Allah adalah karena dia dengan sombong menolak untuk menerima Penciptanya, Pemeliharanya dan Yang memberinya segalanya. Seorang kafir, tidak peduli seberapa baik dia dari luar, melakukan kesalahan besar di hadapan Allah di setiap saat dalam hidupnya. Dia bersalah karena menyangkal Tuhannya, yang memberinya pendengaran, penglihatan, pemahaman, tentang semua makanan lezat dan sehat yang tumbuh dari bumi, pasangan dan anak-anak, rumah, kekayaan dan karier. Satu tarikan nafas yang diambil manusia adalah mukjizat dan berkah dari Allah. Di sisi Allah, menjadi sombong atas fakta bahwa Allah adalah Yang Esa yang memberi seseorang segalanya, adalah kejahatan yang tak termaafkan, tidak peduli seberapa besar keinginan orang kafir untuk meremehkannya.

That is because you wrongfully enjoyed and rejoiced on earth. Enter the gates of Hell, there to remain – an evil home for the arrogant.” (Qur’an 40:75-76)

Orang beriman sangat menyadari fakta bahwa ini semua adalah pemberian Allah supaya orang2 memuliakan dan memuji Dia. Orang itu dengan demikian memuliakan Allah tanpa henti dan mematuhi perintah-Nya di dalam Al-qur’an; setiap saat dalam hidupnya menjadi sarana untuk mendapatkan pahala Allah di surga, dan sesuai dengan tujuanNya mengapa Dia menciptakan mereka.

“Say, ‘My prayers, sacrifice, my life and death are all for Allah, Lord of all the Worlds.” (Qur’an 6:162)

Ketika menghabiskan waktu di antara pria dan wanita yang beriman, orang yang tidak beriman akan menyaksikan beberapa atribut unik yang mungkin tidak biasa dia temukan dalam lingkaran teman-teman yang tidak beriman. Dia akan melihat bahwa mereka bukanlah teman biasa, melainkan dipersatukan oleh sesuatu yang sangat kuat – cinta dan rasa takut kepada Allah. Orang-orang beriman berperilaku dengan cara yang paling penuh kasih dan perhatian karena mereka saling mencintai karena cinta kepada Allah, yang sangat kuat di hati mereka. Mereka rela berkorban dan mempertimbangkan rekan seiman sebelum diri mereka sendiri. Arti persahabatan berada pada tingkat yang sama sekali baru, meskipun orang kafir tidak dapat memahami mengapa, karena dia tidak dapat memahami iman.

Orang yang tidak beriman juga akan memperhatikan bagaimana pria dan wanita yang beriman berperilaku paling sopan satu sama lain. Mereka tidak melakukan ucapan atau perilaku apa pun yang tidak pantas terhadap lawan jenis, maupun terhadap sesama jenis, mereka juga tidak akan melakukan itu dibelakang seseorang. Ini karena mereka mengambil Al-quran sebagai pedoman. Pria menghormati wanita sebagai sesama orang beriman yang bermartabat dan memandang mereka hanya dalam kaitannya dengan rasa takut mereka kepada Allah, perilaku yang baik, ketulusan dan ketaatan pada Al-quran karena hanya ini yang dihitung di sisi Allah. Wanita beriman juga memandang pria beriman dengan cara yang sama. Memiliki tujuan untuk mendapatkan Surga Allah, semua orang beriman sangat berbelas kasih dan perhatian satu sama lain, saling mencintai karena cinta satu sama lain kepada Allah dan keinginan yang kuat untuk berbuat baik. Allah menjelaskan kesatuan ini dalam ayat berikut:

“The believing men and the believing women, they are the friends of one another. They command what is right and forbid what is wrong.” (Qur’an 9:71)

“Persahabatan orang beriman mengalahkan semua alasan duniawi untuk persahabatan, dan lebih kuat daripada dasar2 lain yang diandalkan kebanyakan orang seperti bahasa, budaya, kekayaan, karir, jenis kelamin atau kecerdasan. Bagian dari ayat tentang penghuni Surga, “Dan Kami akan menghapus semua kebencian dari hati mereka..”(7:43), menunjukkan bahwa Allah akan menghapus semua kecenderungan & prasangka seperti itu dari hati orang-orang yang beriman di surga. Namun, seperti yang kita pelajari dari ayat lain, orang-orang beriman mencoba untuk mencapai keadaan yang sama seperti itu di kehidupan dunia ini, seperti yang ditunjukkan oleh doa mereka di dunia ini: “Ya Tuhan kami, …janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman..” (59:10)

Banyak orang bertanya-tanya mengapa orang kafir dihargai di dunia ini atas usahanya oleh Allah. Mengapa mereka mendapatkan hal-hal yang baik sementara sebagian orang beriman tetap miskin? Orang-orang ini tidak menyadari bahwa orang-orang kafir diberi harta dan anak-anak sehingga Allah dapat menguji mereka untuk melihat apakah mereka bersyukur kepada-Nya atau akan menjadi tidak tahu terima kasih. Karena mereka selalu menolak Allah sebagai pemberi segala berkah, orang-orang kafir selalu meningkatkan perbuatan jahat mereka dalam menjumpai setiap berkah yang diberikan kepada mereka.

Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya maksud Allah dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan kafir (Qur’an 9:55)

Inilah mengapa mereka merugi di akhirat. Tapi semua orang beriman sejati menang di akhirat, terlepas dari apakah mereka miskin atau kaya di dunia ini. Seorang beriman yang miskin sedang diuji untuk melihat apakah dia tetap setia kepada Allah dalam menghadapi kemiskinannya dan kesetiaannya dihargai. Seorang beriman yang kaya diharapkan bersyukur kepada Allah dan membelanjakan hartanya di jalan Allah tanpa pamrih, dan akan mendapat imbalan yang baik. Semua orang beriman sejati mendapatkan balasan terbaik dari Allah – Surga Allah, tetapi mereka mungkin mendapatkannya dengan cara yang sedikit berbeda karena mereka diuji dengan cara yang berbeda. Allah mengidentifikasikan ini kepada mereka yang beriman sebagai berikut:

“If anyone desires the fleeting life, we readily grant him in it such things as We will it, but in the end, We have prepared Hell for him to burn in. But if any one desires the life to come and strives for it with due striving, being a believer, his striving will be thanked. To both the latter and the former, We give some of your Lord’s bounty – your Lord’s bounty is not restricted. See how we have given some more than others – the Hereafter holds greater ranks and greater favours!” (Qur’an 17:18-21)

Atribut penting lainnya yang harus dimiliki orang-orang beriman adalah bahwa mereka tidak pernah terganggu oleh ketidaksengajaan, penundaan dan kesalahan2 orang lain padanya, karena kesabaran dan sifat pemaaf mereka secara umum. Allah berfirman: “..dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (Qur’an 24:22) Dalam masyarakat yang tidak beriman, sangatlah umum untuk melihat orang kehilangan kesabaran dan mudah marah. Misalnya, seorang ibu dengan anaknya, atau seorang pengemudi di jalan dengan pengemudi lain. Sabar dan memaafkan adalah beberapa atribut kunci dari seorang beriman seperti yang dinyatakan di seluruh Al-Qur’an. Orang beriman selalu tetap tenang dan berkepala dingin melalui semua kejadian kehidupan karena pemahaman mereka yang diturunkan kepada mereka dalam Al-Qur’an:

“No misfortune can happen, neither in the earth nor in your selves that was not set down in writing before We brought it into being – that is easy for Allah. So you need not grieve over what you miss or be overjoyed by what you gain.” (Qur’an 57: 22-23)

Iman yang Tak tergoyahkan kepada Allah

Lebih dari 100 nelayan di Bangladesh hilang setelah sedikitnya 15 perahu tenggelam dalam badai di Teluk Benggala.

Otoritas pelabuhan di Chittagong, Bangladesh, mengeluarkan peringatan maritim internasional pada hari Minggu, menyarankan kapal dan kapal nelayan untuk tetap berada di tempat penampungan sampai pemberitahuan lebih lanjut. Lautan deras mencegah operasi penyelamatan, tetapi pihak berwenang mengatakan bahwa mereka akan memulai pencarian segera setelah cuaca membaik.

Sementara itu, nelayan yang selamat mengaku melihat beberapa perahu yang tenggelam. Di pelabuhan Chittagong lain, yang disebut Cox’s Bazar, sebanyak 10 kapal penangkap ikan dengan hampir 100 nelayan di dalamnya terbalik. Diperkirakan 80 nelayan berhasil kembali ke pantai.

Al-Jazeera English – News – Bangladesh Fishermen Missing At Sea

Ada pelajaran penting yang bisa dipetik dari hal di atas. Orang-orang yang melewati ambang kematian dan mati di laut itu semua mengalami fase. Fase ini adalah momen paling tidak berdaya dalam hidup seseorang. Ketika mereka menyadari bahwa mereka tidak memiliki cara lain selain meminta pertolongan hanya kepada Allah, mereka kemungkinan besar dengan tulus mencari pertolongan Allah dengan cara yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.

Pada saat itu, mereka menyerahkan diri mereka sepenuhnya kepada kehendak Allah. Mereka tahu bahwa mereka tidak memiliki pelindung, kecuali Allah. Satu-satunya penyelamat adalah Allah. Satu-satunya yang bisa mendengar tangisan mereka adalah Allah. Satu-satunya yang bisa membawa mereka keluar dari situasi yang mengancam nyawa ini adalah Allah. Meskipun mereka mungkin belum pernah melakukannya sebelumnya, mereka dipaksa untuk tunduk pada fakta bahwa satu-satunya yang memiliki kendali atas hidup mereka adalah Allah Yang Mahakuasa. Perasaan berserah penuh kepada Allah ini mungkin tidak pernah dialami oleh mereka sebelumnya.

Allah meminta kita untuk menarik pelajaran dari ini:

Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (dan berlayar) di lautan. Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, dan meluncurlah (kapal) itu membawa mereka (orang-orang yang ada di dalamnya) dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya; tiba-tiba datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru, dan mereka mengira telah terkepung (bahaya), maka mereka memanggil kepada Allah, mukhlisina lahuddin/ (making their religion sincerely His/menjadikan Agama mereka tulus untukNya). (Seraya berkata), “Sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, pasti kami termasuk orang-orang yang bersyukur. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka, malah mereka berbuat kezaliman di bumi tanpa hak. Wahai manusia! Sesungguhnya kezalimanmu adalah terhadap dirimu sendiri; itu hanya kenikmatan hidup duniawi, selanjutnya kepada Kamilah kembalimu, kelak akan Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Qur’an 10:22-23)

Kecenderungan manusia diidentifikasi ayat di atas. Itu adalah ketika Allah menyelamatkannya, dia kembali ke jalannya yang dulu. Dia lupa bahwa dialah yang memohon kepada Allah tanpa daya dan berjanji untuk lebih berbakti kepada Allah ketika dia berada dalam situasi yang mengancam nyawa.

Al-Qur’an mengatakan “they make their religion sincerely His” ketika mereka menghadapi ancaman ini di laut. Artinya ini adalah tingkat keimanan, kedekatan dengan Allah, dan penyerahan total yang harus kita miliki kepada Allah setiap saat, sepanjang waktu, karena agama harus selalu ikhlas hanya untuk Allah saja. Oleh karena itu, kita harus selalu mengandalkan Allah dan mengetahui bahwa Dialah yang berhak menguji dengan menenmpatkan masalah2 dihadapan kita, dan Dialah yang dapat membawa kita keluar dari masalah itu. Kita harus tetap berserah pada kehendak-Nya sepanjang hidup kita. Kita harus tetap berserah diri kepada Allah ketika kita berbicara kepada orang lain, ketika kita berdoa/ shalat, ketika kita melakukan apapun dalam hidup, seperti yang dinyatakan dalam Surah Al-An’am:

Katakanlah, “Sesungguhnya salatku, pengorbananku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam (Qur’an 6:162)

Ketika dihadapkan pada situasi yang mengancam jiwa, semua hal dalam hidup, seperti kekayaan, anak-anak, pendidikan, pasangan yang dianggap kebanyakan orang sebagai alasan hidup menjadi tidak berarti. Manusia menyadari bahwa satu-satunya tujuan yang pantas untuk dikhususkan/dibaktikan adalah Allah, dan dia tidak memiliki pemberi selain Allah. Ini diidentifikasi dalam Ayat berikut:

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). Dan manusia memang selalu ingkar. Maka apakah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan membenamkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? Dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindung pun (Qur’an 17:67-68)

Seharusnya sudah jelas bahwa tingkat pengabdian dan ketaatan penuh yang dimintakan kepada kita oleh Allah itu setiap saat. Kita tidak boleh menyerukan, memuliakan, mencari approval atau pujian apapun dari makhluk, tetapi hanya dari Allah. Begitu Allah menghilangkan ancaman, kita harus tetap dalam keadaan tunduk kepada Allah, bahkan lebih. Kita harus bersyukur karena Dia telah menghilangkan bahaya / masalah itu. Ambil kesempatan baru untuk memperbaiki diri dan melakukan apa yang lebih menyenangkan Allah. Jangan pernah lupa bahwa Allah-lah yang melepaskan beban dari Anda, dan Dia dapat menempatkan Anda dalam beban yang serupa atau lebih lagi, jika Dia menghendaki.

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan (Qur’an 10:12)

Di sisi lain, Alquran mengidentifikasi tipe orang kedua yang hanya mengabdi kepada Allah selama Dia memberi mereka berkah dan hal-hal baik di dunia ini. Tetapi mereka berpaling dari Allah segera setelah mereka diuji dengan kesulitan atau kesusahan, mengungkapkan iman mereka yang lemah dan kurangnya pengabdian yang benar kepada Allah:

Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi; maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata (Qur’an 22:11)

Oleh karena itu, Allah akan menguji Anda dengan kebaikan dan keburukan di dunia ini, untuk melihat apakah Anda hamba sejatiNya, ataukah termasuk salah satu dari jenis orang2 di atas:

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta (Qur’an 29:2-3)

Karena itu, orang beriman sejati adalah mereka yang tetap setia kepada Allah dalam segala keadaan dalam kehidupan. Allah ada tidak peduli apa yang menimpa mereka dan pantas disembah setiap saat. Dan mereka tahu bahwa mereka tidak bisa melarikan diri dari Allah. Semua yang mereka alami adalah ujian iman mereka. Dengan demikian, mereka mengabdi kepada Allah dengan iman yang benar setiap saat dan melewati setiap ujian yang Allah berikan kepada mereka – pada saat2 yang baik, mereka bersyukur kepada Allah dan tidak menjadi manja, di saat-saat buruk/kesusahan, mereka terus mengabdi kepada Allah dan melihat ke akhirat untuk kesabaran dan ketekunan mereka.

Seseorang dapat memperoleh arti sebenarnya dari menjadi orang beriman sejati dengan secara rutin & berkelanjutan menganalisis secara cermat Al-qur’an dan menarik pelajaran darinya, dan kemudian dapat menjalani hidup sesuai definisi “menjadi Muslim sejati” menurut kriteria dari Allah alih-alih definisi yang diberikan oleh masyarakat.

Indeed, We have made clear for you a Book (the Quran) in which is a Message for you (mankind): Will you not then understand? (Qur’an 21:10)

Setiap Momen Tunggal

Ketika kita melihat kembali masa lalu kita, semuanya tampak seperti momen tunggal. Bertahun-tahun yang dihabiskan untuk melakukan sesuatu tampaknya muncul sebagai momen dalam waktu. Misalnya, banyak hari Anda pergi ke sekolah, pikiran-pikiran yang melintas di kepala Anda saat Anda menunggu bus. Atau banyak hal yang Anda pikirkan dan rasakan saat Anda mencuci piring selama bertahun-tahun.

Semua hal yang Anda lakukan dalam hidup Anda dari saat ini hingga awal hidup Anda, tampaknya tidak mewakili upaya yang diperlukan untuk menjalani setiap momennya. Ketika Anda mengalami saat-saat itu, Anda merasakan tekanan, ketegangan, dan kecemasan dari tuntutan mental dan fisik yang ditimbulkan oleh setiap situasi pada Anda. Namun, sepertinya itu semua tidak pernah terjadi sekarang karena itu masa lalu dan menjadi satu titik dalam ingatan, seolah-olah semuanya tidak pernah terjadi.

Hal yang paling menarik adalah bahwa meskipun semua sejarah Anda hanyalah satu titik dalam imajinasi, setiap momen kehidupan yang Anda jalani akan dinilai dengan cermat oleh Allah. Intinya, apakah Anda melakukan apa yang Anda lakukan pada saat-saat itu mencoba mencari keridhaan Allah?

Ayat Al-qur’an berikut ini menarik perhatian kita pada hal-hal di atas:

“By (the passing of) time! The human being is indeed in loss. Except those who believe, do good works, support one another with the truth, and support one another with perseverance.” [Qur’an, Surah 103]

Hal yang perlu diperhatikan adalah, Allah memulai dengan mengatakan ‘Demi Masa!’, Menarik perhatian kita pada bagaimana waktu berlalu seperti yang kita catat di atas. Semua yang dilakukan seseorang dalam waktu yang dialokasikan untuk dirinya dalam hidup ini adalah ‘benar-benar dalam kerugian/sia-sia’. Namun, satu-satunya pengecualian adalah jika orang tersebut adalah seorang beriman yang dengan tulus berusaha untuk mendapatkan ridha Allah di dunia ini di setiap saat dalam hidupnya. Orang2 beriman sejati harus selalu ingat bahwa momen-momen ini akan terjadi dengan sangat cepat, dan hanya niat tulus dan perbuatan baik untukNya yang dilakukan pada saat-saat itu yang akan dihargai oleh Allah.

Oleh karena itu, yang harus dilakukan orang adalah (mengusahakan) menghabiskan setiap saat di hidup mereka dengan kesadaran akan Allah. Mengorientasikan segala amalan seperti, kebaikan, keadilan, sedekah, kerendahan hati, cinta, ibadah, dll murni untuk mencari ridha Allah saja. Jika tidak, individu tersebut bisa-bisa tidak menemukan apa pun di akhir hidupnya untuk ditunjukkan kepada Allah, dan akan menjadi seperti yang dinyatakan Ayat tersebut, salah satu dari mereka yang merugi seiring berjalannya waktu.

Cinta kepada Allah

Definisi iman dalam Al-qur’an adalah pengabdian penuh kepada Allah dan Allah saja. Akhirat benar-benar tak terhindarkan. Orang beriman berbakti kepada Allah karena dia tahu pasti, dia akan mempertanggungjawabkan atas semua yang dia lakukan di dunia. Segala sesuatu yang dimiliki seseorang di dunia seperti kesehatan, kecerdasan, kecantikan, kekayaan, karier, standar hidup yang baik, pasangan, anak-anak, dan berkah lainnya seperti makanan dan pakaian semuanya berasal dari Allah dan ditetapkan oleh Allah hingga ke detail yang paling halus. Tidak ada penyedia selain Allah. Orang beriman sejati paham fakta yang tidak dapat disangkal ini dan karenanya mencintai dan memuliakan Allah tanpa henti. Tentunya Dia yang telah memberikan segalanya layak mendapatkan cinta dan rasa hormat yang terbesar. Orang beriman sejati tidak pernah berani mengaitkan sumber berkah ini kepada makhluk mana pun, kepada dirinya sendiri, atau siapa pun, dia juga tidak mencintai makhluk apapun sebesar cintanya kepada Allah.

“Allah is most compassionate and most merciful to mankind” (Qur’an 22:65)

Ketika orang-orang melupakan Allah dan tidak mengindahkan agama yang sejati, mereka mulai mencintai dan mengejar benda-benda dalam hidupnya sambil berpikir bahwa benda-benda itu ada independen/tanpa bergantung pada Allah. Allah Maha Pencipta segala sesuatu, yang sebenarnya semua benda-benda itu berasal. Dalam istilah Alquran, mengabdikan diri pada benda-benda berarti menyekutukan Allah.

“…Then, when We grant him a blessing from Us he says, ‘I have only been given this because of my knowledge.’ In fact it is a trial but most of them do not know it.” (Qur’an 39:49)

Love for Allah

Bagi seorang beriman, hal-hal baik dalam hidup yang diberikan kepadanya oleh Allah, hanyalah cara untuk lebih dekat dengan Allah. Dia melakukan ini dengan memuji Allah untuk setiap berkah tidak peduli seberapa tersamar itu. Misalnya, orang beriman bersyukur kepada Allah atas kesehatan jantung dan matanya, ini menuntunnya untuk berbuat lebih righteous/lurus dalam hidupnya sebagaimana Allah meminta dia untuk melakukannya. Jika dia ‘mencintai’ apa pun atau makhluk apa pun dalam hidupnya, dia melakukannya hanya agar dia dapat meningkatkan cintanya kepada Allah dan berterima kasih kepada-Nya. Sungguh, itulah tujuan dari semua nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Misalnya, orang beriman mungkin mencintai pasangannya, ini membuatnya semakin bersyukur dan mencintai Allah dan dia sama sekali tidak menganggap cinta ini berasal dari selain Allah. Itu semua dari Allah. Dengan cara ini, segala sesuatu di bumi diberikan kepada kita sehingga kita bisa lebih bertaqwa kepada Allah, dan mengikuti perintah-Nya seperti yang dijelaskan dalam Alqur’an.

Love for Allah

“He said, Mary, who gave you all this? She said, ‘they are all from Allah’…” (Qur’an 3:37)

Jika orang beriman kehilangan seseorang atau sesuatu apapun yang menyangkut dunia ini, dia benar-benar tidak kehilangan apapun selama dia memiliki cinta kepada Allah dan terus berbakti kepada-Nya.

Ketika kecintaan seseorang pada benda atau sosok manusia, hidup maupun sudah wafat, berdiri sendiri di luar kecintaan pada Allah, tujuan hidup orang itu salah karena dia hanya mengikuti “vain desires”/hawa nafsu dan bukan Allah. Misalnya, seseorang memperoleh kekayaan materi tanpa bersyukur kepada Allah atau orang yang ‘mengidolakan’ seseorang karena cinta kepada orang itu di luar dan tanpa kecintaan pada Allah, sebagai contoh kepada selebriti, pemain sepak bola, keluarga, ilmuwan, dan tokoh agama.

“Have you considered the one who has taken his own desire as his god? Allah has, knowing him as such, allowed to be strayed? Sealing his ears and heart and covering his eyes – who can guide such a person after Allah has done this? Will you not take heed?” (Qur’an 45:23)

Motif satu-satunya orang beriman di bumi adalah untuk mendapatkan “approval”/keridhaan Allah dan hanya ridha Allah, tidak ada orang lain.

Setelah mengetahui pemahaman tinggi tentang iman dan cara hidup seorang beriman sejati, menjadi lebih mudah untuk melihat bahwa disbelievers/orang2 kafir selalu melakukan kesalahan besar ketika mereka mengkonsumsi berkah Allah tanpa menjadikannya cara untuk meningkatkan cinta kepada Allah dan mendekatkan diri kepada Allah. Sungguh, mereka sombong tentang menerima Allah sebagai pencetus berkah dan sama sekali mengingkari-Nya. Mereka mulai menghormati manusia lain dan diri mereka sendiri untuk setiap berkah yang mereka terima dan mengejar benda-benda yang mereka kira berada di luar kekuatan/kekuasaan Allah. Allah menjelaskan ini di dalam Alqur’an:

“Yet, there are those who chose to worship others beside Allah as rivals to Him, loving them as they should love Allah, but the believers have greater love for Allah” (Qur’an 2:165)

Bird in Quran

Mengetahui bahwa Allah adalah sumber dari setiap berkah di bumi, orang beriman sejati memperoleh kesenangan terbesar dari nikmat duniawi yang telah Allah sediakan untuknya, sambil juga mendapatkan surga Allah di akhirat.

Penyembahan berhala terselubung yang dilakukan oleh kebanyakan orang adalah karena hati mereka jarang/ tidak merenungkan Alqur’an yang memanggil mereka kepada iman yang benar , Qur’an yang memberikan pelajaran dan nasihat yang diperlukan. Oleh karena itu, mereka tidak memberi diri mereka sendiri kesempatan untuk membawa diri mereka kepada iman yang benar. Karena hanya Alqur’an yang menjelaskan kepada manusia, “iman” yang sebenarnya.

Sayangnya, bentuk penyembahan berhala tersembunyi yang sedang kita bahas ini tidak hanya terbatas pada orang-orang kafir. Bahkan banyak yang menyebut diri Muslim, yang mengira mereka menjalankan agama, juga jatuh ke dalam penyembahan berhala yang tersembunyi ini. Misalnya, sebagian Muslim mengaku cinta penuh kepada Nabi Muhammad dengan memuji-muji dan memuliakan Nabi. Hebatnya, hal yang sama tidak mereka lakukan untuk Allah. Setelah analisis lebih dekat, kami menemukan bahwa kasus mereka tidaklah berbeda dengan semua orang ignorant lainnya yang gagal memahami keimanan sejati kepada Allah dan gagal untuk mencintai dan memuliakan Allah terlepas dari apa pun/ tanpa mempersekutukan.

“When you mention your Lord in the Qur’an alone, they turn their backs and run away.” (Qur’an 17:46)

Menjadi orang beriman TIDAK BISA terlepas dari pemahaman Al-qur’an

Apa yang telah kami jelaskan sejauh ini hanyalah gambaran singkat tentang definisi orang beriman sejati yang diambil dari Al-qur’an. Kami hanya menyebutkan beberapa ayat. Pembaca dihimbau untuk menggali lebih banyak & tidak terjebak dalam kepercayaan bahwa menjadi orang beriman yang ideal adalah utopia atau mimpi yang mustahil.

Atau apakah kamu mempunyai buku lain yang kamu pelajari? yang di dalamnya kamu dapat menemukan apapun yang kamu inginkan? (Qur’an 68: 37-38)

Banyak orang bodoh yang mengaku Muslim hidup dalam agama di mana mereka secara sadar atau tidak sadar percaya bahwa hanya orang-orang tertentu di masa lalu yang benar-benar beriman dan tidak ada orang saat ini yang benar-benar dapat menjadi seperti mereka dalam kesadaran, prilaku, & perbuatan. Jadi, alih-alih mencoba memahami Al-qur’an, menerapkan ajarannya dan menjadi orang yang beriman yang tulus, mereka hanya meniru secara dangkal aspek lahiriah dari karakter2 yang dihormati di masa lalu ini dengan keinginan untuk hidup pada masa mereka hidup tanpa mengembangkan keimanan sejati berdasarkan Qur’an. Cara hidup “agama nostalgia” yang tragis ini bermula dari pemahaman agama yang sangat cacat dan tidak berdasarkan Al-qur’an. Meskipun orang-orang ini akan dengan tegas menyatakan bahwa Al-qur’an adalah Kitab yang paling penting dalam hidup mereka, pemahaman mereka tentang agama seringkali tidak sesuai dengan Al-Qur’an itu sendiri karena pada kenyataannya mereka berada jauh dari ayat-ayat Alquran terlepas dari klaim mereka. Hal ini mencegah mereka menjadi orang beriman sejati seperti yang dijelaskan dalam Al-qur’an.

“When they are told: ‘Follow what Allah has sent down to you,’ they say: ‘We are following what we found our fathers doing.’ ” (Qur’an: 2:170)

Alqur’an adalah Wahyu Allah dan merupakan satu-satunya Kitab yang menjelaskan kepada orang-orang beriman: arti sebenarnya dari iman. Ini adalah satu-satunya Kitab yang menjelaskan kepada orang-orang tentang sifat-sifat Allah, nikmat Allah dan cara dalam berurusan dengan orang-orang kafir, yang merupakan jenis orang yang orang beriman “tidak boleh menjadi seperti itu”. Hanya melalui studi Al-Qur’an secara langsung, seseorang bisa tahu bagaimana menjadi hamba Allah yang sejati – karena definisi orang beriman selain dari Qur’an, pasti tidak sempurna atau terdistorsi.

Alqur’an menjelaskan kehidupan setelah dunia saat ini, hakikat kematian, dan Hari Penghakiman. Segala urusan tuntunan telah dijelaskan secara detail sehingga masing-masing orang beriman dapat mengambil hikmah dari itu dan bertingkah laku/ berbuat sesuai dengan itu. Dengan cara merefleksikan ayat-ayat Alqur’an, orang beriman sejati meningkat keimanannya kepada Allah dan realitas akhirat, sebuah atribut dari orang beriman sejati yang dinyatakan dalam ayat berikut:

“Believers are they whose hearts tremble with awe whenever Allah is mentioned, and when His Verses are recited to them they increase them in faith and on their Sustainer they depend.” (Qur’an 8:2)

Tanpa menjelajahi Al-Qur’an secara teratur, jiwa manusia mulai kehilangan kedekatannya dengan Allah. Ini adalah keadaan yang sangat disayangkan dari siapapun yang tidak mendalami Al-Qur’an tetapi memilih untuk tetap jauh darinya, termasuk semua orang kafir. Ketika orang beriman mendengarkan atau membaca Alqur’an dan memahami pesannya, dia merasa lebih dekat dengan rahmat dan perlindungan Allah yang selalu ada atas dirinya dan hatinya berserah kepada Allah. “Penglihatan”nya dipertajam karena dia diingatkan tentang detail akhirat dan kebesaran Allah, serta cara seharusnya dalam memandang dan merespon urusan duniawi yang diciptakan oleh Allah di sekitarnya. Dia menjadi yakin akan tujuan hidupnya dan diyakinkan bahwa dunia ini sementara dan tidak dapat memberikan kepuasan sejati.

Semakin dekat dia kepada Allah, semakin besar keinginannya untuk mempelajari apa yang Allah katakan dalam Alqur’an, dan semakin dia mempelajari Alqur’an, semakin dekat dia dengan Allah. Ini adalah lingkaran positif dari “interdependent improvement”, peningkatan pemahaman Alqur’an dan keimanan kepada Allah. Dengan itu, orang-orang beriman sejati mencapai tingkat “uprightness”/kelurusan tertinggi di dunia ini, dan Surga Allah di akhirat.

Keimanan kepada Allah dan memiliki pengetahuan Alqur’an adalah konsep yang terkait. Seseorang tidak dapat mencapai iman yang benar kepada Allah jika dia tidak memahaminya dari Al-Qur’an, dan tanpa keimanan yang benar seseorang tidak dapat memahami Al-Qur’an dengan benar. Ini berarti Allah-lah yang memulai jalan bimbingan bagi siapa pun yang Dia kehendaki:

“This (Qur’an) is a reminder. Let whoever wishes, take the way to his Lord. But you will only wish to do so if Allah wills. Allah is All-Knowing, All-Wise.” (Qur’an 76:30)

Orang-orang beriman memiliki hubungan yang dalam dengan Alquran. Ini karena mereka mencintai dan takut kepada Allah dan Alqur’an adalah satu-satunya Kitab di mana Allah “berkomunikasi langsung” kepada mereka. Apa yang paling penting saat ini, adalah bahwa semua pembaca tidak membuang waktu untuk melakukan upaya yang tulus untuk mulai membuat langkah-langkah dalam siklus pencerahan spiritual yang berkelanjutan ini, yang dipandu oleh Kitab Allah. Ini dapat dilakukan hanya dengan ikhlas dan dengan mencari pertolongan Allah sambil mempelajari semua ayat Alqur’an dari sudut pandang satu sama lain.

“Indeed, this Qur’an guides to that which is most right.” (Qur’an 17:9)

Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak mempelajari langsung setiap ayat yang diturunkan Allah. Al-quran dapat dipahami oleh orang beriman yang tulus. Memahami Al-quran bukanlah tugas yang diperuntukkan bagi para ulama dan orang-orang elit dan tidak ada prasyarat ilmiah untuk mempelajari Alquran. Mempelajari Al-quran adalah kewajiban bagi setiap orang. Allah telah mengungkapkan bahwa Dia akan meminta pertanggungjawaban setiap orang sehubungan dengan kepatuhan mereka pada ayat-ayat Alquran:

“Surely, the One who made the Qur’an compulsory for you will summon you to a predetermined appointment. Say: ‘My Lord is fully aware of who it is that brings the guidance, and who has gone astray.’ ” (Qur’an 28:85)

Oleh karena itu, tanpa membuang waktu di jalan tanpa petunjuk Allah, kita harus mulai meneliti, mempelajari dan (t/n: yang terpenting) menerapkan Al-quran untuk sendiri dan menjadi jenis orang beriman yang tulus yang telah kita bahas di sini, sebelum datangnya hari ketika semuanya sudah terlambat.

Begitu Allah mulai mencerahkan jiwa, teruslah merefleksikan Alquran ini dan meningkatkan keimanan, dan jangan goyah darinya. Jika seseorang mengambil jalan seperti itu, maka dengan izin Allah dia akan segera menemukan jalan yang paling luhur dan mulia, dan akan berada di jalan untuk menjadi seorang beriman sejati, dan layak mendapatkan surga Allah.



Share the Truth:

Post Navigation ;