Peringatan Kiamat

*DISCLAIMER/PENAFIAN*
Saya TF, semua artikel yang ada disini hanya upaya penerjemahan dari https://thetruthisfromgod.com/
Kecuali jika saya nyatakan lain.
Saya bukan pemilik situs tersebut diatas, dan pemilik situs tersebut (YS) samasekali bukanlah kenalan saya. Semua konten disana diluar tanggung jawab saya. Saya hanya orang biasa yang mengambil dari sana, menggunakan mesin penerjemah, kemudian mengoreksi hasil terjemahannya lebih lanjut. Demi Allah, Saya tidak dibayar sepeserpun atau mendapat imbalan apapun dari YS.
YS juga tidak pernah memaksa atau meminta saya untuk menerjemahkan.
Semua ini atas inisiatif saya sendiri.
Mohon maaf atas sebagian terjemahan yang masih kasar, atau keliru.
Untuk itu, Saya mohon dengan sangat kepada Anda untuk tetap meninjau sumber aslinya,
Semata-mata untuk menangkap pesan yang lebih lengkap dan lebih murni.
Jika Anda bisa mengerti apa yang tertulis disana (teks Bahasa inggris/Bahasa Prancis), tolong abaikan saja Blog saya dan baca langsung dari sana.
Pesan YS dalam bentuk video2, saya terjemahkan di channel youtube saya:
“[..] We wish not from you reward or gratitude. Indeed, We fear from our Lord a horribly distressful Day” (76:9-10)
  1. Home
  2. »
  3. lain-lain
  4. »
  5. Artikel Komprehensif: Menjawab pertanyaan-pertanyaan...

Artikel Komprehensif: Menjawab pertanyaan-pertanyaan pengikut hadits

20 Nov, 2020lain-lain

Segala puji bagi Allah, Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya. Hanya berkat Allah, saya telah menerjemahkan artikel yang saya dapat dari: https://bbraf.blogspot.com/2020/06/debate-between-qur-and-hadith-follower.html , https://bbraf.blogspot.com/2020/05/are-we-allowed-to-follow-hadith.html , dan https://www.quranicpath.com/sunnishia/book_and_wisdom.html (dengan beberapa penyesuaian) karena itu tidak mewakili pandangan YS. Namun tentu saja saya mengupayakan sebisa saya mencari tulisan yang “paling mendekati kebenaran” “se-objektif mungkin” dan sesuai Qu’ran dalam mengambil sumber/bahan tulisan ini.
Sama seperti YS, saya menulis ini tidak berniat untuk mencari pengikut ataupun meyakinkan/mencari pengakuan dari orang lain. Saya temukan bahwa tulisan-tulisan ini hanya memperkuat dan memberi konfirmasi atas Quran dan juga apa-apa yang YS sampaikan. Sayang sekali jika saya simpan untuk sendiri. Lebih baik saya share, semoga mendatangkan manfaat bagi orang lain. JANGAN ditelan mentah-mentah. Tiap orang harus selau berpegang dan mendasarkan diri HANYA kepada Kitab Allah, Use your own reason/discernment & Do Your Own Research, saya tidak bertanggungjawab atas implikasi tulisan dibawah ini bagi Anda. Ingatlah, tiap diri bertanggungjawab atas pilihan dan perbuatannya masing-masing. Kebenaran hanyalah dari Allah. Yang terpenting bagi kita adalah terus mendekatkan diri pada Tuhan, bersyukur, belajar Qur’an, dan menerapkannya di kehidupan kita. Karena, hanya itulah kunci keselamatan kita.
May God forgive us and guide us regarding any sign that would have been misinterpreted in this study and elsewhere. May He purify ourselves and increase our knowledge.
“Our Lord, indeed we have heard a caller calling to faith, [saying], ‘Believe in your Lord,’ and we have believed. Our Lord, so forgive us our sins and remove from us our misdeeds and make us die among the righteous.”[3:193]


(t/n: sebelum membaca artikel ini, ada baiknya Anda membaca terjemahan saya atas artikel YS berikut: https://sebelumterlambat.com/peringatan-untuk-muslim/ dan https://sebelumterlambat.com/usia-aisyah-konspirasi-hadits/ & Berikut ada video2 menarik yang telah saya terjemahkan di channel saya yang relevan atas ini(silahkan aktifkan caption/subtitle bahasa Indonesianya). Tapi saya sarankan untuk menontonnya hanya SETELAH Anda membaca tuntas artikel ini.

)

Artikel ini ditulis dalam bentuk dialog. Diskusi ini adalah pertanyaan-pertanyaan umum yang sering diajukan pengikut hadits kepada pengikut Qur’an saja. Sulit untuk meng-cover semua pertanyaan2 dalam satu artikel, tapi disini saya telah mencoba meng-cover beberapa pertanyaan2 yang paling sering.

Apakah Anda mengikuti hadits?

Saya hanya mengikuti hadits terbaik, Qur’an.

Allah telah menurunkan “Ahsanal Hadits/Hadits terbaik” (yaitu) Kitab (Al-Qur’an) yang konsisten (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka karena (pesan) pengingat Allah. Itulah bimbingan Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa dibiarkan tersesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat membimbing/memberinya petunjuk (39:23)

Maksud saya, “perkataan2 Nabi Muhammad Saw”

Ya, saya mengikuti itu.

Tapi Anda bilang Anda hanya mengikuti Qur’an. Bukankah itu kontradiksi atas statement Anda?

Tidak, karena Qur’an sudah memuat perkataan2 Nabi yang saya ikuti. Diluar itu tidak saya ikuti, karena hanya merupakan “asumsi” atas perkataan/ perbuatan Nabi.

BANYAK ayat-ayat yang dimulai dengan frasa “katakan”, “mereka bertanya tentang… katakanlah…”

Hadits terbaik adalah Qur’an, hadits Allah yang juga kata-kata yang langsung, benar-benar, diucapkan oleh Rasul sendiri, yang otentik dan terjaga (pelajari 4:87, 7:185, 39:23, 45:6, 68:41-47 dan 77:50)

Nabi Muhammad tidak di-otorisasi untuk mengajarkan/ menyampaikan pesan/ ajaran apapun atas nama Allah, selain Qur’an (69:45-48 and 53:4). Dia hanya mengirimkan/menyampaikan pesan2 dari Qur’an (6:19, 50:45, 16:44, 16:64, 14:1, 6:155, 4:105, 18:27)

Karena itu, saya mengikuti Qur’an saja.

Hadits dan Qur’an terlindungi dengan cara yang sama. Mengapa Anda menolak yang satu dan menerima yang lainnya? Qur’an dan hadits sampai kepada kita dengan narasi Mutawattir. Narasi yang disampaikan oleh banyak orang sehingga tidak mungkin mereka semua berencana dan berbohong. Bagaimana mungkin sekian banyak hadits sampai ke zaman kita jika itu kebohongan? Bagaimana bisa Anda bisa mempercayai Qur’an yang ada pada Anda sekarang, meskipun itu ditransmisikan oleh orang-orang yang sama yang mentransmisikan literatur hadits! Ulama-ulama mempelajari hadits, mendedikasikan seluruh hidup mereka belajar hadits! Bagaimana Anda yang “anak bawang” bisa menolak tanpa bukti objektif?

Dengan kata lain, Anda mengklaim proses transmisi Qur’an dan orang-orang yang mentransmisikannya sama dengan hadits bukan? ini sangat bermasalah, karena klaim seperti ini berangkat dari dua asumsi: yang pertama bahwa Nabi Muhammad tidak bisa baca-tulis, karena itu sangat sulit agar Qur’an dikompilasi di masa hidup Nabi, dan asumsi kedua (yang diyakini mayoritas) bahwa Qur’an dikompilasi belakangan oleh para sahabat, bertahun-tahun setelah wafatnya Nabi.

Kita akan lihat bahwa kedua asumsi itu SALAH BESAR menurut Qur’an itu sendiri. dan menurut sumber-sumber hadits dan sejarah sendiri, asumsi tersebut TIDAK VALID, karena itu klaim Anda juga tertolak.

Nabi, menurut Qur’an, BISA membaca dan menulis:

Allah memberitahu Nabi untuk minta perlindungan kepada Allah ketika hendak MEMBACA Qur’an. Membaca artinya melibatkan “melihat” kepada sesuatu, untuk memahami sesuatu.

” Tuhanmu … Yang telah mengajar manusia dengan pena “

Seperti semua rasul Allah, Nabi Muhammad secara langsung diinstruksikan/dididik oleh Allah sebelum menjadi nabi-Nya, dan orang berpendidikan manapun hanya dapat diinstruksikan apabila dia mengetahui cara membaca dan menulis.

Orang-orang Muslim tradisional yang salah arah mendasarkan kepercayaan mereka tentang dugaan buta huruf Nabi Muhammad pada ayat berikut, yang di sini adalah terjemahan Islam berdasarkan kesepakatan mereka.

Mereka yang mengikuti rasul, nabi / al-oummi /buta huruf ٱلۡأُمِّىَّ . Yang mereka temukan ditulis bersama mereka dalam Taurat dan Injil. S7: V157

Kata ” al-oummi / ٱلۡأُمِّىَّ ” tentu saja dapat berarti ” buta huruf “, tetapi itu bukan satu-satunya makna kata ini. Kata ini digunakan berulang kali dalam ayat-ayat lain dari Alquran dengan makna yang berbeda, dan yang sesuai dengan arti sebenarnya dari kata ini dalam ayat di atas.

Kemudian jika mereka mendebat kamu, maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang gentiles/الْأُمِّيِّينَ/al-oumeeine: “Apakah kamu (mau) berserah diri”. Jika mereka berserah diri, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. S3: V20

Kata ” oummi / أمي ” sebenarnya berarti ” gentile ” (org kafir menurut yahudi), yaitu seseorang yang tidak mengikuti agama Kitab. Buktinya, Allah membedakan dalam ayat ini 2 kategori: orang-orang yang diberi kitab, artinya orang-orang yang mengikuti agama-agama Kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan Kristen … dan yang lain, sebagai oposisi, adalah mereka/orang-orang yang tidak mengikuti agama-agama Kitab. Nabi Muhammad, meskipun ia adalah orang yang beriman sebelum Al Qur’an diturunkan kepadanya, dan meskipun ia mempelajari Taurat dan Injil serta mengadopsi hukum-hukumnya, tidak pernah menyatakan dirinya sebagai orang Yahudi atau Kristen. Oleh karena itu, Nabi Muhammad adalah apa yang oleh orang Yahudi dan Kristen disebut ” gentile ,” karena ia bukan penganut Yahudi maupun penganut Kristen.

Ayat berikut ini menyinggung/menjawab orang-orang yang menuduh Muhammad telah menulis/mengarang sendiri Al-Qur’an, yang merupakan bukti bahwa ia dapat membaca dan menulis, jika tidak, para pencela tidak akan membawa tuduhan palsu ini kepadanya.

And thou hast not been reciting any book before it (Dan kamu tidak pernah “recite” buku apapun sebelumnya), atau menulis (buku) dengan tangan kananmu, sekiranya begitu, benar-benar ragulah orang yang mengingkari. S29: V48

” Kamu juga tidak menulisnya dengan tangan kananmu “

Di masa lalu, nabi Muhammad tidak pernah menulis buku dengan tangannya sendiri, tetapi begitu misinya dimulai, Nabi Muhammad mulai menuliskan wahyu Alquran secara bertahap, itulah sebabnya ayat ini mengatakan itu.

” And thou hast not been reciting any book before it “

Untuk “recite” (mengulangi/membacakan dari hafalan/dari teks) sebuah buku, Anda masih perlu tahu cara membaca buku, yang jelas terjadi pada Nabi Muhammad.

Dan mereka berkata: dongeng zaman dahulu yang telah ditulisnya, mereka didiktekan kepadanya, pagi dan sore . S25: V5

Jika musuh nabi mengatakan bahwa ada orang lain mendiktekan Alquran kepadanya, ini adalah bukti bahwa ia dapat membaca dan menulis.

Bahkan mereka berkata: dia telah membuat itu ? S11: V13

Jika para penentangnya menuduhnya membuat sendiri/mengarang Alquran, justru karena mereka tahu bahwa Nabi Muhammad tidak buta huruf, kalau bukan seperti itu, mereka tidak akan mengajukan tuduhan seperti itu kepadanya. Menulis buku setebal 600 halaman tidak mungkin dilakukan oleh orang yang buta huruf.

Bahkan mereka berkata: “(Al Quran itu adalah) campuran mimpi-mimpi, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu pertanda. sebagai-mana rasul-rasul yang telah lalu di-utus”.S21: V5

Jika Nabi Muhammad dituduh sebagai penyair, itu karena dia menguasai bahasa Arab dengan sempurna. Memang, puisi adalah puncak dalam seni bahasa, jadi Anda tidak bisa menjadi penyair jika anda buta huruf.

Dan seandainya Kami turunkan kepadamu sebuah kitab/buku yang tertulis di atas perkamen agar mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka, orang-orang yang kafir akan berkata: Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata. S6: V7

Jika para penentangnya mengajukan permintaan ini, itu karena Alquran ada dalam bentuk buku kertas sedari awal pewahyuan, dalam artian bahwa Nabi Muhammad menambahkannya secara bertahap di atas kertas ketika ayat-ayat baru diturunkan kepadanya. Tetapi para pencela menginginkan satu buku kertas utuh yang turun/jatuh langsung dari langit.

Kenyataannya, bukan hanya Nabi Muhammad tidak buta huruf, ia bahkan sangat bertolak belakang dengan itu, yaitu seorang terpelajar.

Dan demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang ayat-ayat Kami supaya mereka mengatakan, “Engkau telah belajar” dan agar Kami menjelaskan Alquran itu kepada orang-orang yang mengetahui.S6: V105

Jika para pencela nabi Muhammad mengajukan tuduhan semacam itu terhadapnya, itu karena sebelum dia menyatakan dirinya seorang Nabi, sudah menjadi rahasia umum bahwa Muhammad mempelajari semua jenis buku. Dengan demikian, tuduhan ini menyiratkan bahwa Nabi hanya mensintesis hasil studinya dalam Alquran, dan karena itu Alquran hanya akan menjadi produk penjiplakan dari berbagai kitab. Muslim tradisional sendiri mengakui bahwa Muhammad adalah seorang yang terpelajar jauh sebelum ia menjadi seorang Nabi, yang dikonfirmasi oleh kutipan ini dari situs tradisional Islam Sunni, berdasarkan biografi Islam dari nabi ini .

Muhammad belajar dari doktrin monoteistik dengan menanyai orang-orang Yahudi dan Kristen di Mekah. Dia mengambil kebiasaan membuat retret, seperti pertapa2 Kristen, di gua Hira di Gunung Cahaya, di sekitar Mekah. Terkadang dia tinggal di sana selama sebulan penuh.

Adalah fakta bahwa di sebagian besar hidupnya, Nabi adalah seorang caravan trader/ pedangang dengan karavan yang sukses. Sumber-sumber sejarah dari islam tradisional sendiri menyatakan bahwa ia sudah bekerja bersama pamannya berdagang ke syria, madinah, dll & negeri2 yang jauh, sedari usia remaja. dan ia berlanjut menjalankan profesinya itu hingga diangkat menjadi Nabi & menjalankan misinya. Tak terpikirkan/tak masuk diakal untuk seseorang bisa sukses sebagai caravan trader, sebuah pekerjaan yang membutuhkan berurusan dengan banyak orang-orang berbeda: tanpa kemampuan yang cukup baik dalam membaca, menulis, aritmatika, dan mungkin sedikit familiaritas/penguasaan berbagai bahasa-bahasa asing!

Allah adalah hafiz/ penjaga/ pelindung Qur’an (15:9-10, 85:21-22).

Allah telah menjamin bahwa kepalsuan tidak akan bisa mendekatinya (41:42). Kitab yang dituliskan (52:1-3).

Qur’an telah disampaikan via buku/kitab fisik, yang penned/dituliskan (t/n: author/pembuatnya tetap Allah) dan diorganisir oleh Nabi sendiri. (t/n: lebih lanjut, baca tuntas ini: https://sebelumterlambat.com/riset-penerjemah-ikutilah-quran-dan-bimbingan-allah-saja/). Karena itu, apa yang diteruskan simplenya hanya copy dari yang asli, tanpa amandemen/pengubahan apapun, penyusupan & pengurangan apapun, atau sabotase apapun. Oleh karena itu, memberi “credit” kepada orang2 lain (t/n: ditambah dengan dongeng2 “Nabi tidak bisa baca tulis”, “penulisan Qur’an tercecer di daun2 & tulang2 binatang” ,”kompilasi Qur’an hanya terjadi bertahun-tahun setelah Nabi”, dll) untuk meningkatkan level legitimasi orang2 lain adalah seperti merendahkan Tuhan dan UtusanNya. Kata hafiz/ penjaga, dalam hal ini: Yang Mahakuasa-lah sebagai “hafiz/ penjaga Qur’an”, kata hafiz ini telah diambil alih dan direduksi menjadi “upaya memorisasi” kitab saja. Seakan-akan kita/manusia2 biasa yang telah berjasa dalam menjaganya.

Sedangkan Muslim tradisional, mengatakan bahwa Quran tidak dikompilasi sampai setelah kematian Nabi Muhammad, dan mengklaim bahwa itu ditulis pada tulang belikat unta dan media yang sama-sama jelek lainnya. Sementara kita semua tahu berdasarkan fakta sejarah bahwa orang-orang Arab kebanyakan pedagang kaya, tanah mereka terletak di persimpangan jalur perdagangan antara wilayah-wilayah di Timur, dan 2 kekaisaran barat utama: Kekaisaran Persia dan Bizantium. Orang-orang Arab karena itu berpengalaman dalam penyusunan semua jenis dokumen komersial, dan bukan orang-orang buta huruf seperti yang dijelaskan oleh Islam tradisional. Al-Qur’an penuh dengan referensi tentang hal ini, yang menetapkan untuk membuat kontrak tertulis atas setiap transaksi atau tindakan sipil seperti pernikahan, yang menunjukkan bahwa orang-orang Arab sudah pada tahu cara membaca dan menulis, dan digunakan untuk menyusun kontrak dengan profesi mereka. Selain itu, orang-orang Arab dikenal sebagai penyair yang hebat karena penguasaan bahasa mereka, sehingga pasti sebagian besar dari mereka tahu cara membaca dan menulis dengan sempurna, dan penggunaan kertas lazim di kalangan mereka. Kertas sudah ada sejak jauh sebelum orang-orang Arab, jadi itu bukan komoditas langka, apalagi bagi mereka yang pedagang dan bisa mengumpulkan semua jenis produk. Karena itu kita tidak dapat membayangkan mereka berkeliling sambil menyeret setumpuk tulang bangkai hewan sebagai dasar hukum di antara mereka, apalagi lagi berfungsi sebagai media penulisan Alquran yang Mulia.

Kebenarannya, Qur’an SUDAH dikompilasi sebelum Nabi wafat. Bahwa Nabi sendiri BISA baca tulis dan adalah orang terpelajar. Qur’an dari bagian awalnya hingga ke ujung, menyatakan dirinya dengan jelas sebagai KITAB/buku. Bahkan di buku2 hadits & catatan sejarah sendiri, BANYAK narasi yang menceritakan bahwa ketika Nabi wafat, ditemukan mujallad/1 JILID UTUH QUR’AN di kamar Nabi! lebih lanjut bukti tentang kebenaran kompilasi Qur’an, silahkan baca disini: https://factszz.wordpress.com/2014/12/24/complete-quran-was-compiled-in-book-form-by-prophet-mohammad-pbuh-under-divine-guidance-and-all-other-compilation-stories-are-concocted-by-persian-pseudo-imams/ )

Kemudian berkaitan transmisi, Qur’an sudah dan terus SECARA MASSIF disebarkan dan diteruskan baik secara lisan DAN tulisan SEDARI zaman Nabi masih hidup, oleh orang-orang Arab sendiri, kemudian seluruh muslim. Sementara, hadits-hadits DILARANG atas perintah Nabi sendiri dan 4 khalifah setelahnya, dan baru gencar digali, dikoleksi, dan disebarkan HANYA 200 tahunan setelah Nabi wafat, dan bukan oleh orang-orang Arab, namun oleh imam-imam Persia! (t/n: lebih lanjut baca disini: https://factszz.wordpress.com/2014/08/06/true-history-of-hadiths-and-sunna-a-must-reading-for-all-muslims-and-non-muslims-who-are-interested-in-theology/ )

Selain itu, nosi/gagasan bahwa “tidak mungkin banyak orang berkolaborasi dalam kebohongan”, adalah suatu logical fallacy. Bahkan tidak perlu banyak orang, telah banyak terjadi: satu orang saja, yang berada di tampuk kekuasaan, bisa membuat seluruh rakyatnya percaya & mengikuti kebohongan. Kenyataanya manusia, satu orang maupun dalam kelompok-kelompok telah dan masih berkonspirasi dan berbohong atas apapun: sejarah, sains, politik, dll juga agama. Ambillah sebagai contoh tentang ajaran kristen hari ini, dengan konsep sesat trinitas dan Anak Tuhan, itu adalah bukti paling jelas bahwa memang mungkin dan bisa: banyak orang sekaligus berbohong tentang Tuhan dan UtusanNya, dan bahwa milyaran orang, sadar tidak sadar terus melanjutkan membawa dan menyebarkan kebohongan itu sambil meyakini itu adalah kebenaran.

Kesalahan logika lagi & bahkan lebih buruk, bila Anda membawa tentang “dedikasi”. Umat kristen beserta pemuka-pemuka agama kristen mereka telah “berdedikasi” lebih lama dari islam (2000 tahun). Umat Yahudi jauh lebih lama lagi, & selama itu mereka berdedikasi atas narasi “hadits” mereka sendiri (yang disebut talmud) Mengikuti logika Anda, kita seharusnya menjadi umat Yahudi dong. Dedikasi & propagasi untuk kepalsuan tidak memiliki nilai. Argumen “dedikasi” ini hanya dapat kita pertimbangkan jika pemuka2 islam sepanjang zaman berdedikasi atas Qur’an saja. But thats not the case. Mempelajari Qur’an SAJA secara langsung, telah dan masih, di sepanjang zaman, dianggap seakan sebuah hal yang tabu. Ini harusnya jadi alarm peringatan bagi kita. Siapa lagi yang ingin menjauhkan kita dari firman-firman Allah, selain setan & agen-agennya?

Tuhan telah menyatakan pada kita bahwa Qur’an itu rinci (6:114) tamat/komplit (6:115) dan klarifikasi/ penjelas segala sesuatu (16:89) namun propagator hadits berani menantang pernyataan yang dibuat oleh Yang Maha Kuasa hanya untuk melindungi kitab-kitab manmade yg kontradiktif!

Jumlah tidaklah menjamin kebenaran. Alkitab yang berbuku-buku tetap bukan kebenaran dibanding satu buku/kitab saja, Qur’an. Begitu juga perpustakaan literatur hadits, hanya karena banyak, bukan berarti itu adalah kebenaran. Sayangnya, sedikit sekali/ bahkan tidak ada yang dapat saya & kita lakukan yang akan menghentikan penyebarannya atau eksistensinya, karena adalah pernyataan Tuhan sendiri bahwa setan manusia dan setan jin telah diizinkan menyebarkan kebohongan2 dan fabrikasi2 mereka:

“And as such, We have permitted the enemies of every prophet — human and Jinn devils — to inspire each other with fancy words in order to deceive. Had your Lord willed, they would not have done it. You shall disregard them and their fabrications. That is so the hearts of those who do not believe in the Hereafter will listen to it, and they will accept it, and they will take of it what they will.” (Qur’an 6:112-113)

Karena Setan tidak dapat mengubah Qur’an, maka tidak ada pilihan lain baginya selain “bermain” di sumber2 sekunder, that is to say: yang dianggap “pintu masuk” mengakses Qur’an: literatur hadits, “sunnah” Nabi & “ulama-ulama” & tafsir mereka!

Qur’an dijamin terjaga oleh divine intervention. Namun saya tidak menemukan satu ayatpun yang mengatakan bahwa “perkataan Nabi” dalam kitab2 hadits atau “sunnahnya”, apalagi “ulama2”, beserta kependidikan 1400 tahun mereka akan terlindungi juga. Buktinya Anda akan menemukan segudang kontradiksi diantara hadits-hadits itu sendiri, (t/n: yang membuktikan bahwa hadits jelas BUKAN dari Allah. pelajari 4:82) bahkan banyak hadits-hadits yang berkontradiksi dengan Qur’an!

Mengkritik/ menolak sesuatu tidak harus menjadi ahli terlebih dahulu. Sebagai contoh, tidak masuk akal jika untuk mengkritik terhadap pemain bola mengharuskan kita menjadi pemain bola dulu. Tidak masuk akal jika untuk menolak kristen kita harus mendalami kristen dulu. Karena itu, saya tidak merasa perlu “belajar hadits”, menggali bukti-bukti sendiri, atau mendalaminya dulu hingga cukup ahli untuk menolaknya. Sudah banyak orang lain yang telah melakukannya dan mendatangkan bukti2. Kita cukup mengkonfirmasikan itu berdasarkan Qur’an untuk menolak hadits, untuk mengikuti hanya kebenaran yang sudah terjamin saja (Qur’an). Pendengaran, penglihatan, dan pikiran kita akan dimintai pertanggungjawaban. Kita diperintahkan Allah untuk REASON/ menggunakan akal (8:22) dan reflect/ merenungkan KitabNya. Kita TIDAK BOLEH mengikuti ajaran agama apapun secara membabi buta (17:36, 2:170-171, 6:116, 7:28).

Apakah maksud Anda Allah menjaga teks Qur’an saja, bukankah hadits menjaga maknanya?

Tidak, Tuhan menjaga Qur’an baik teksnya dan maknanya. Maknanya terjaga dan tersedia khusus bagi mereka yang tulus/ yang memurnikan imannya.

Sementara bagi yang menyangkal, bagi yang berniat salah, tidak akan pernah jelas bagi mereka. Jangankan memahami maknanya, mereka bahkan akan menemukan segudang alasan untuk tidak mencoba membaca Qur’an secara langsung (t/n: MEMBACA ya, BUKAN melafalkan dalam bahasa arab tanpa berpikir/perenungan)

Hadits terlindungi oleh para ustadz/ ulama, ulama adalah pewaris Nabi!

itu kan kata hadits…. namun di Qur’an, Allah tidak pernah mengesahkan gelar2 mereka, bahkan di Qur’an, clergies/ rabbi/ pendeta/ pemuka agama DICELA oleh Allah. term/kata “ulama” dan term “ulil amri” “ahlu dzikr”, dalam Qur’an tidaklah merujuk kepada mereka, karena sebenarnya TIDAK ADA manusia sebagai “religious authorities” dalam agama Allah, itu semua hanyalah inovasi dari sekte-sekte yang menyebut diri “agama” Lebih lanjut tentang “ulama” sesungguhnya baca disini: https://factszz.wordpress.com/2015/01/01/priesthood-mullahism-theocracy-and-pseudo-scholarship-has-no-place-in-islam/ dan http://www.quranicpath.com/sunnishia/ulama.html. Untuk lebih banyaknya mengapa “imam”/”ulama”/”tabii’n” dll yang Anda pandang tinggi/agungkan itu, “tak seperti yang Anda bayangkan”, “tak se-“hype” yang diceritakan orang-orang”, “tak se”putih” yang Anda kira (bahkan musuh2 agama terburuk)” Anda dapat membaca lebih lanjut disini: https://factszz.wordpress.com/2014/08/05/all-hadith-imams-hailed-from-persia-were-zoroastrian-hypocrites-and-worst-adversaries-of-quran-messenger-allah/ ; https://factszz.wordpress.com/2020/05/29/rating-of-some-muslim-clergy-rated-by-factszz/ dan https://factszz.wordpress.com/2015/01/04/how-paul-of-islam-imam-shafii-deceived-true-followers-of-prophet-muhammad/

Anda tidak bisa mengerti Qur’an dari terjemahan saja, Anda bukan ahli bahasa Arab, karena itu Anda harus tetap merujuk pada alim ulama, jika tidak, pemahaman Anda akan keliru!

dari tulisan di: http://www.quranicpath.com/quranicpath/arabic_language.html

Mayoritas orang beranggapan bahwa jika seseorang memahami bahasa Arab, itu berarti dia mampu memahami Alquran. Mereka juga dengan cepat menolak siapa pun yang memiliki pendapat tentang ayat-ayat Alquran, jika mereka bukan orang Arab atau tidak bisa berbahasa Arab. Ciri yang konsisten dari orang-orang semacam ini adalah bahwa mereka sendiri hanya tahu sedikit tentang Alquran karena mereka tidak pernah mencoba untuk meneliti Alquran secara langsung.

Hal ini karena rasa rendah diri yang secara sengaja diinduksi karena tidak mengetahui bahasa Arab yang memberi mereka excuse/alasan yang mereka butuhkan untuk menjauh dari Al-Qur’an, serta karena beberapa alasan lain yang sia-sia. Mereka tidak pernah mencoba untuk memahami ayat-ayat Alquran itu sendiri. Semua pandangan mereka tentang Alquran dibentuk sepenuhnya dengan mengikuti orang lain dan teks yang ditulis oleh orang-orang yang mereka percayai.

Mereka hanya membaca ayat-ayat Alquran dalam buku teks dalam konteks yang dibuat oleh penulis terpercaya mereka, atau melafalkan ayat-ayat dalam fonetik Arab dalam pengajian ritual, atau dalam doa tanpa memahaminya. Kadang-kadang, dia merasa telah puas/telah melakukan cukup banyak dengan membaca terjemahan dari beberapa ayat saja yang sering dia ucapkan dalam doa.

Seperti yang dinyatakan di atas, alasan mereka adalah bahwa Al-Qur’an tidak ada dalam bahasa mereka dan hanya orang Arab atau penutur bahasa Arab yang dapat memahami ayat-ayat tersebut. Namun kebenarannya jauh dari kepercayaan mereka yang salah. Seorang beriman dapat memahami Alquran dan hidup dengan itu meskipun memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki pengetahuan bahasa Arab.

Sejarah adalah saksi bagi banyak orang yang mahir dalam bahasa Arab, namun membuat interpretasi Al-Qur’an yang sangat memutarbalikkan dan menyimpang, sambil di saat yang sama, mereka diterima dan dianggap ahli oleh mayoritas, kelompok yang telah kami identifikasi di atas. Para penafsir Alquran ini menganggap diri mereka Muslim, namun membuat tafsir yang keliru yang tak terhitung jumlahnya – bahkan ketika mereka mengetahui bahasa Arab. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah mengetahui bahasa Arab berarti seseorang dapat memahami Al-Qur’an? Orang-orang kafir Mekkah ahli dalam bahasa Alquran, tetapi mereka tidak memahami banyak konsep dan perumpamaan Alquran. Bahkan, sebagian mereka menolaknya menganggapnya sebagai kata-kata orang gila.

Yang perlu dipahami adalah bahwa memahami Alquran berarti memahami dengan benar apa yang diceritakan dalam ayat, konsep2, hikmah, perintah, anjuran, aturan2 dan batasan2, nasehat, metafora, perumpamaan, dll. Semua aspek Alquran ini berlaku/tetap sama terlepas dari bahasa yang digunakan. Ketika seseorang tidak memahami Alquran, yaitu membuat interpretasi yang salah, dia tidak mampu memahami pelajaran, nasihat dan tujuan sebenarnya dari ayat-ayat Qur’an. Seseorang bahkan mungkin memiliki keterampilan bahasa Arab yang hebat, namun tidak mampu memahami ayat-ayat tersebut karena kurangnya pemahamannya tentang apa yang diceritakan dalam ayat-ayat tersebut.

Kita dapat membandingkannya dengan skenario berikut ini. Bayangkan Anda sedang menjelaskan sebuah konsep kepada seseorang dalam bahasa Inggris yang sempurna. Orang yang Anda jelaskan juga menguasai bahasa Inggris dengan sempurna. Namun, karena kurangnya pemahaman konsep itu di pihak mereka, orang tersebut gagal memahami apa yang Anda jelaskan kepada mereka meskipun Anda telah menjelaskan dengan sempurna dalam bahasa Inggris dan kemampuan mereka untuk mendengarkan & memahami bahasa Inggris. Demikian juga halnya dengan Alquran. Bahkan seorang ahli penutur bahasa Arab belum tentu bisa memahami dan menafsirkan ayat-ayat dengan benar sebagai akibat langsung dari “pemahaman” yang hilang itu. Pemahaman ini diberikan oleh Allah kepada siapapun yang Dia kehendaki. Sebuah ayat mengidentifikasi ini:

“… Tetapi orang-orang kafir berkata, ‘apa yang Allah maksudkan dengan perumpamaan seperti itu?’ Melalui itu, banyak orang yang dibiarkanNya sesat, dan banyak (pula) orang yang dibimbing/diberiNya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik. ” (Al-Qur’an 2:26)

Pemahaman yang telah kami sebutkan sebenarnya adalah hadiah dari Allah hanya untuk orang-orang beriman yang tulus. Seorang beriman yang tidak tahu bahasa Arab dapat diberkahi Allah dengan kemampuan untuk memahami Alquran ini. Ketika ayat-ayat Alquran dijelaskan kepadanya oleh orang beriman sejati lainnya dalam bahasanya, dia memahaminya dengan benar, meskipun dia tidak mengerti bahasa Arab. Dan kemungkinan besar orang yang fasih berbahasa Arab tidak dapat memahami ayat yang sama dengan benar, bahkan dalam bahasanya sendiri. Keterampilan dalam bahasa Arab tidak memberinya interpretasi yang benar dari ayat-ayat Allah, sehingga dia tetap kehilangan tuntunan Allah. Orang lain yang beriman lebih tulus dapat memahami ayat-ayat tersebut, meskipun dia tidak berbicara dalam bahasa Alquran. Allah menjelaskan ‘tabir persepsi’ ini dalam (17: 45-46)

Memang benar bahwa seorang beriman yang tidak bisa berbahasa Arab perlu mengatasi kendala bahasa, tetapi dengan ketulusan dan motivasinya, dia mengatasinya tanpa kesulitan. Saat ini, ada banyak terjemahan Alquran yang tersedia di hampir semua bahasa. Dimungkinkan untuk menarik pemahaman yang cukup akurat tentang Alquran dengan mempelajari terjemahan2 yang berbeda.

Kesimpulannya, orang yang berbahasa Arab tidak secara otomatis memiliki pemahaman untuk memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an. Pemahaman diberikan oleh Allah kepada siapa yang Dia kehendaki terlepas dari bahasanya. Semua orang yang menganggap dirinya Muslim tidak boleh bersembunyi di balik alasan-alasan. Karena tidak ada alasan apapun yang pantas untuk menjauh dari mendapatkan pemahaman langsung tentang Kitab yang diturunkan oleh Allah, yang merupakan panduan, rahmat dan obat bagi mereka jika mereka benar-benar tulus berusaha untuk memahaminya sendiri. Allah telah meminta setiap orang bertanggung jawab untuk mengikuti Alquran, terlepas dari bahasa lisan mereka.

Bagaimana Anda menjustifikasi banyak ayat-ayat Qur’an yang mengatakan: “Taatilah Allah dan taatilah rasulNya”. Kita diperintahkan untuk mentaati Nabi Muhammad!

Orang yang menyampaikan pesan seseorang disebut Messenger/ Utusan / Rasul. Konteks dalam ayat2 Qur’anlah yang mendefiniskan peran Messenger/ rasul itu. Sebagai contoh, pelayan/ utusan raja yang diutus kepada Nabi Yusuf yang berada di penjara juga disebut rasul (12:50)

Allah paling efisien dalam mengekspresikan sesuatu. Semua kata-kata dalam Qur’an dipilih Allah untuk menunjuk kepada makna yang presisi. Kita tidak pernah menemukan dimanapun di Quran kata seperti – taatilah Allah dan taatilah Muhammad / Taatilah Allah dan taatilah Isa/Yesus / Ibrahim/ Musa, dll. SELALU pilihan katanya adalah “taatilah rasul/Messenger”… ini untuk menekankan apa yang mesti ditaati, yaitu “Message”/pesan Allah (6:155-157, 7:3, 16:64, 33:1-3,) dan bukan pandangan personal atau kata-kata pribadi rasul! Messenger/”penyampai pesan” dari kata risala/ Message/ pesan. Jika tidak ada pesan maka tidak ada messenger/rasul. Mentaati rasul karena itu berarti mentaati pesan yang dia kirimkan! (Qur’an)

Nabi Muhammad juga adalah manusia normal (5:109, 6:50, 18:110, 41:6) dia sendiri tidak bisa mendatangkan mudharat, manfaat, atau membimbing/memberi petunjuk pada seseorang (pelajari 10:49, 28:56 dan 72:21). Tugas/ kewajiban Messenger/Utusan Allah adalah untuk mengirimkan Message/pesan Allah secara jelas (5:92, 64:12, 24:54, 14:52, 5:67). (t/n: lebih lanjut mengenai ini, bacalah tulisan ini, bagian “memaknai perintah taatilah rasul”: https://sebelumterlambat.com/mengapa-quran-only-adalah-satu-satunya-jalan/ )

Semua perkataan Nabi adalah untuk diikuti karena dia tidak berbicara atas hawa nafsunya! (mengacu 53:1-4)

Terkadang ada para pendukung hadits yang menggunakan ayat ini untuk melegitimasi hadits:

53.1- 4, “By the star when it goes down. Your companion has neither gone astray nor has erred. Nor does he speak of (his own) desire. It is only an Inspiration that is inspired.”

Karena setiap perkataan Nabi mereka anggap wahyu, mereka persisten bahwa buku2 hadits berasal dari Allah, dan karena itu harus diikuti seperti Qur’an. Namun, ketika kita mempelajari Qur’an, kita temukan bahwa tindakan2 seperti ini jelas2 dicela Allah:

2:79. “Woe to those who write the Book with their own hands then Say: “This is from Allah!”, so that they can make a cheap gain! Woe to them for what their hands have written, and woe to them for what they gained.”

Justifikasi Sunnah dan Hadits sebagai sumber hukum agama kedua setelah Qur’an dengan mendasarkan pada Surah 53 1-4 tadi adalah “mengigau”. “Huwa” di 53:4 adalah kata singular/ tunggal, yang samasekali tidak merujuk kepada “Sunnah Nabi Muhammad” (dan tidak ada yang merujuk kepada sunnah Nabi Muhammad dimanapun di Qur’an). Ayat ini secara spesifik berbicara tentang wahyu kepada Nabi Muhammad (Qur’an). Bahwa ayat-ayat Qur’an bukanlah perkataan pribadi Nabi, tapi wahyu Allah.

53:4. In HUWA illa wahyun yooha

It is only an Inspiration that is inspired”

Karena itu, kata2 di ayat ini tidaklah general.

Kata kuncinya di ayat ini adalah kata “Huwa”. Secara literal berarti ‘it’, namun kata ‘it’ dalam bahasa inggris tidaklah memiliki gender, dapat merujuk kepada subjek maskulin ataupun feminin. Namun, di bahasa arab, “Huwa” merujuk kepada subjek maskulin (berlainan dengan Hiya yang merujuk kepada feminin). Kata “Huwa” disini merujuk kepada Qur’an yang dikategorikan sebagai maskulin. Memang, seringkali kata HUWA dipergunakan di Qur’an untuk menunjuk kepada Qur’an itu sendiri. Berikut beberapa contohnya:

36:69. Wama AAallamnahu alshshiAAra wama yanbaghee lahu in HUWA illa thikrun waqur-anun mubeenun

36:69. And We have not taught him poetry, nor is it meet for him. This is only a Reminder and a plain Qur’an

17:82. Wanunazzilu minaalqur-ani ma HUWA shifaon warahmatun lilmu/mineena wala yazeedu alththalimeena illa khasaran

17:82. We send down in the Quran , in it healing and mercy for the believers. At the same time, it only increases the wickedness of the transgressors.

41:44. Walaw jaAAalnahu qur-anan aAAjamiyyan laqaloo lawla fussilat ayatuhu aaAAjamiyyun waAAarabiyyun qul  HUWA lillatheena amanoo hudan washifaon waallatheena la yu/minoona fee athanihim waqrun wahuwa AAalayhim AAaman ola-ika yunadawna min makanin baAAeedin

41:44. If we made it a non-Arabic Quran they would have said, “Why did it come down in that language?” Whether it is Arabic or non-Arabic, say, “For those who believe, it is a guide and healing. As for those who disbelieve, they will be deaf and blind to it, as if they are being addressed from faraway.”

85:21. Bal HUWA qur-anun majeedun

85:21. Indeed, it is a glorious Quran.

Karena itu, adalah ketidakjujuran intelektual untuk menganggap kata tunggal “Huwa” di ayat 53:4 untuk mengcover Qur’an sekaligus dengan apa yang disebut “Sunnah Nabi”. Apalagi hanya untuk “Sunnah Nabi”.

33:50. “Say: If I go astray, I shall stray only to my own loss. But if I remain guided, it is because of the Inspiration of my Lord to me. Truly, He is All-Hearer, Ever Near.”

Ayat diatas membuktikan dengan jelas bahwa tidak setiap kata yang diucapkan Nabi Muhammad adalah wahyu.

66:1. “O Prophet! Why do you ban that which Allah has made lawful to you, seeking to please your wives? And Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful.”

Ayat diatas menyiratkan bahwa Nabi Muhammad pernah membuat keputusan sendiri yang tidak mengikuti wahyu Allah. Ini mengkonfirmasi lebih lanjut falabilitas Nabi dan bahwa tidak semua yang Nabi katakan adalah wahyu.

(t/n: lebih lanjut tentang argumen “apakah semua perkataan Nabi wahyu” ini, silahkan baca disini: https://quranonly.wordpress.com/2012/06/01/the-only-divine-message-bestowed-upon-prophet-muhammad-was-quran/ )

Allah mengatakan kita tidak dapat memiliki iman hingga menjadikan Nabi Muhammad sebagai hakim atas semua perkara (mengacu 4:65)

  1. Nabi Muhammad sudah tidak ada lagi bersama kita. Saya sarankan baca konteks penuh menuju ayat ini dari ayat 58. rangkaian ayat ini terutama menargetkan mereka orang-orang yang mengaku beriman di masa Nabi, tapi tidak mau ikut apa yang diturunkan kepada Nabi (Qur’an), mereka keukeuh mengikuti hukum taghut, hukum2 palsu yang diwariskan dari para pendahulu mereka. Sounds familiar? Ingat juga bahwa, pada saat rangkaian ayat ini turun, kemungkinan besar pewahyuan Qur’an belum selesai, sehingga logisnya belum semua urusan “tercover” dengan merujuk pada Qur’an saja, maka orang2 pada saat itu tentu diharuskan merujuk kepada Nabi yang masih hidup, yang masih menerima wahyu & menyampaikan wahyu2 Allah!
  2. Menjadikan catatan2 manmade kontradiktif (yang mencatut nama Nabi tanpa hak) sebagai dasar, TIDAK SAMA dengan menjadikan dia “hakim” atas urusan2 kita. Seakan kita hanya mengambil kumpulan gosip tentang perkataan dan perbuatan sang hakim sebagai dasar. TIDAK ADA SATUPUN dari hadits2 itu yang di-approve oleh Nabi sendiri, maupun oleh generasi sahabat-sahabat dekatnya bahwa itu memang benar dari Nabi.
  3. Nabi Muhammad menjadi “hakim”, tentu dengan mendasarkan diri pada Qur’an. Kitab Allah yang dijamin terjaga hingga akhir waktu. itulah “KUHP”-nya. “KUHP” tersebut bahkan sudah dinyatakan LENGKAP & SEMPURNA oleh Tuhan, artinya, SUDAH MEMUAT detail perkataan-perkataan & perbuatan2 Nabi yang harus kita ikuti!
  4. Hakikatnya, Allah-lah dengan kitabNya, Qur’an, sebagai “hakim” sesungguhnya yang dimaksud ayat ini. BUKAN diri Nabi apalagi “sunnah Nabi”. Fakta ini selaras juga dengan ayat Qur’an yang tentu saja DIUCAPKAN JUGA OLEH NABI SENDIRI di 6:114 :Shall I seek other than GOD as a judge, when He has revealed to you THIS BOOK FULLY DETAILED? [..]”. Mengatakan sebaliknya dari ini, (dalam artian mengatakan bahwa kita harus tetap mengambil dari sumber2 lain yang mengatribusikan kepada Nabi yang telah wafat, padahal sudah ada Qur’an, kitab yang lengkap & rinci.) berarti kita berkontradiksi/menyangkal Qur’an!

Karena itu, ayat (4:65) mengatakan bahwa Anda tidak dapat menjadi orang beriman, hingga Anda memutuskan perkara2 as per/ berdasarkan Messages/ pesan2 dan aturan2 dari Allah, yaitu Qur’an! Tolong perhatikan juga bahwa tidak ada kata Muhammad digunakan di rangkaian ayat2 ini, kata yang digunakan adalah Messenger/ rasul.

Jika Anda menganggap frasa “taatilah Allah dan taatilah rasul” sebagai dua sumber legislasi berbeda, maka itu artinya kita punya dua sumber perintah, DUA TUAN. Namun Qur’an jelas & keras dalam menolak konsep seperti itu:

“Surely the HUKM (Commandments) is for none, but Allah.” (12:40)

“He does not make anyone His associate in His HUKM (Commandments)” (18:26)

Sementara jika Anda “nekat” menganggap Qur’an bersama “hadits & sunnah Nabi” sebagai satu kesatuan wahyu Allah yang harus ditaati, maka Anda sama saja menolak statement bahwa Qur’an itu lengkap, sempurna dan tidak memiliki kontradiksi! Karena itu berarti Anda menganggap Qur’an saja tidak cukup, sementara hadits yang dianggap “pelengkap Qur’an” itu, pada kenyataannya penuh dengan kontradiksi dan baru dijadikan sumber agama berabad-abad setelah pewahyuan Qur’an!

Quran, sebagai firman2 Allah & sebagai kitab yang dinyatakan LENGKAP, SEMPURNA, adalah SATU-SATUNYA “judge” (5:44-50,6:114-116,68:36-38).

sementara mereka yang berkutat mempelajari buku/kitab lain, (hadits, tafsir, dll) dengan anggapan bahwa pesan Allah/ Qur’an saja tidak cukup, dan menghakimi/ menentukan urusan2 mereka, mengambil petunjuk2 agama dari buku2 itu, disinggung Allah sebagai CRIMINALS/mujrimin (68:35-38)

Tapi bukankah Nabi itu mengajarkan Kitab dan Hikmah?

kata “Hikmah” yang sering muncul di Qur’an BUKAN merujuk kepada “Sunnah Nabi”. Itu terjemahan yang dibelokkan.

” حكمة (Hikma)” adalah Wisdom/ kebijaksanaan

“For this We sent a Messenger to you from among you to recite our verses to you and purify you and teach you the Book and Wisdom حكمة (Hikma) and teach you things you did not know before.” (Qur’an 2:151)

Apakah “Kitab & Hikmah” seperti di ayat ini mengacu kepada dua hal yang berbeda? Ingatlah bahwa penggunaan “and” dalam bahasa arab, yaitu konjungsi و (wa) bersifat lebih kasual dalam bahasa arab, sementara dalam translasi lain seperti inggris, “and” itu lebih berat dan menyiratkan separasi/ dua subjek berbeda.

Melihat ayat-ayat lain, kita temukan bahwa حكمة (Hikma) sering digunakan untuk menunjuk kepada Qur’an itu sendiri:

“This is part of the wisdom (Hikma / حكمة) Allah has revealed to you. Do not set up other god together with Allah and so be thrown into Hell, blamed and driven out.” (Qur’an 17:39)

“These are the verses of a Wise Book”(Qur’an 31:2)

“[Wives of the Prophet], Remember what is recited (yuthla / يطلى) in your houses of Allah’s Verses (ايات الله / ayaat Allah) and Wisdom (Hikma / حكمة), for Allah is All-Sublte, All-Aware.” (Qur’an 33:34)

Dalam ayat di atas, bagaimana bisa “Kebijaksanaan (Hikma / حكمة)” dibacakan di rumah mereka jika itu bukan ayat Alquran itu sendiri? Ini jelas mengacu hanya pada pembacaan ayat-ayat Alquran ketika Ayat dan Kebijaksanaan Allah (Hikma / حكمة) sedang dibacakan, ‘Kitab wal Hikmah’ ini mengacu pada Alquran saja. Jadi, dalam 2: 151, juga tidak berarti dua hal yang berbeda – melainkan satu, Alquran. Sekali lagi perhatikan penggunaan kata ‘dan’ dalam ayat di atas tidak memisahkan dua hal yaitu (ايات الله / ayaat Allah) dan Hikmah (Hikma / حكمة). Fakta ini juga dapat diamati dalam ayat berikut:

“We sent our messengers with clear Revelations, and we sent down the Book and Balance so that people could uphold justice.” (Qur’an 57:25)

“The Balance/ Neraca / الميزان” dan “Kitab” keduanya merujuk kepada Qur’an, meski diekspresikan sebagai “Book and Balance“, sama seperti “Book and Wisdom“.

“Remember, Allah’s blessing on you and the Book and Wisdom He has sent down to you to admonish you. Have fear of Allah and know that Allah has knowledge of all things.” (Qur’an 2:231)

Ini konfirmasi yang lebih jelas lagi, kata “He sent down (Anzala / انزل)”  seperti yang digunakan ayat di atas digunakan untuk merujuk kepada ayat-ayat Allah yang diturunkan, dalam hal ini Qur’an. Tidak mungkin kata “sent down” merujuk kepada perkataan/ perbuatan Nabi. Karena itu “Kitab & Hikmah” yang diturunkan, merujuk kepada Qur’an itu sendiri. Qur’an adalah Kitab dan juga Wisdom/ Hikmah.

contoh-contoh lain “Kitab & Hikmah” di Qur’an adalah sebagai berikut:

“Remember when Allah made a covenant with the prophets ‘Now that We have given you a share of the Book and Wisdom, and then a messenger comes to you confirming what is with you, you must believe in him and help him.’ (Qur’an 3:81)

“(Ibrahim said), ‘Our Lord, raise up among them a Messenger from them to recite Your verses to them and teach them the Book and Wisdom and purify them. You are the almighty, the All-Wise.’ ” (Qur’an 2:129)

“Or do they in fact envy other people for the bounty Allah has granted them? We gave the family of Ibrahim the Book and Wisdom, and We gave them an immense kingdom.” (Qur’an 4:54)

Satu lagi mengapa “Hikmah / حكمة” tidak mungkin merujuk kepada “Sunnah Nabi” terjelaskan melalui ayat di bawah ini: karena hikmah diberikan kepada SIAPA SAJA orang beriman yang Allah kehendaki. Dalam hal ini hikmah bisa merujuk kepada hal-hal seperti kepercayaan/ keimanan kepada Allah & hari akhir, kecenderungan untuk berbuat baik, pemahaman atas ayat-ayat Allah, kemampuan mengenali tanda-tanda dari Allah, dll

“He gives wisdom to whoever He wills and whoever has been given wisdom has been given great good. But no one pays heed except the people of intelligence.” (Qur’an 2:269)

Kitab-kitab Allah memang mengajari manusia kualitas2 itu, kualitas orang bijak. Itulah mengapa Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya telah dirujuk dengan kata ‘Wisdom – Hikma / حكمة’

Tapi Hadits & Sunnah Nabi menjelaskan Qur’an? Tidakkah Anda baca 16:44? Nabi Muhammad-lah yang menerima wahyu Qur’an. Karena itu, dia dapat mengerti itu lebih baik daripada orang-orang setelahnya.

Maaf jika saya akan menjawab panjang lebar atas ini. Ini adalah satu hal yang paling saya tidak dapat terima, apakah posisi hadits lebih tinggi, lebih suci hingga dapat “menjelaskan firman2 Tuhan”? Anda mengikuti “pemelintiran” yang menyimpulkan sendiri bahwa penjelasan/klarifikasi di 16:44 = Hadits & Sumber2 eksternal lain, mengabaikan BANYAK ayat-ayat Qur’an lainnya yang menyatakan bahwa Qur’an itu sudah lengkap, ayat-ayatnya sudah jelas sebagai petunjuk.

Mari kita analisa lebih lanjut ayat yang Anda maksud itu:

“Litubayyina” di ayat tersebut, memang dapat berarti menjelaskan/mengklarifikasi, dapat pula berarti sekedar membacakan. Kedua penggunaan kata itu memang sah, benar diketemukan di ayat-ayat lain di Qur’an. Dalam hal seperti ini, kita tidak boleh begitu saja memilih makna sesuai kepentingan kita. Faktanya kedua arti tersebut dapat diaplikasikan di sini. Tapi untuk kedua kasus tersebut, saya akan menunjukkan dengan cukup jelas dan konklusif, bahwa ayat ini TIDAK berarti bahwa Nabi mengadakan penjelasan tambahan diluar Qur’an tentang makna/ isi Qur’an kepada kita (t/n: yang terpaut jarak 1400 tahun) dalam bentuk hadits2/ sunnah yang harus kita ikuti!

With clear arguments and scriptures; and We have revealed to you the Reminder <az-dhikr> that you may make clear <litubayyina> to people what has been revealed to them, and that haply they may reflect.” [16:44]

Kata bayyina berarti proclaim/ membuktikan/ mengklarifikasi. Kata dzikr/pengingat yang mana Nabi pergunakan sebagai klarifikasi/penjelas untuk manusia itu adalah Qur’an itu sendiri. Dzikr adalah atribut dari Qur’an.

“Full Moon of Ramadhan in which was sent down the Qur’an, as a Guide <huda> to humankind and as a Clarity <bayyinatin> for The Guidance <al-huda> and The Criterion *<al-furqaan>*….” [2:185]

Jika Qur’an adalah sebuah klarifikasi, “penjelas segala sesuatu”, maka apakah logis jika Kitab itu sendiri butuh “dijelaskan” dengan perpustakaan simpang siur & kontradiktif yaitu hadits yang ditulis sekitar 200 tahun setelah Nabi? Ada banyak ayat di Qur’an dimana Allah telah secara eksplisit menunjukkan bahwa “penjelasan” <Bayyina> ini adalah dari ayat-ayat Qur’an yang Dia wahyukan pada UtusanNya. inilah beberapa contohnya:

“Do they not earnestly seek to understand the Qur’an, or are their hearts locked up by them? Those who turn back as apostates after The Guidance <Al-Huda> is made Clear <tabayyina> – the shaitaan has instigated them and busied them up with false hopes” (47: 24-25)

“And We have sent down <anzalna> to you the Clarifying Verses *<ayaatim bayyinatin>*; and none rejects them but those who are perverse” (2:99)

“Or lest you should say: If the Book had only been sent down to us, we should have followed its Guidance better than they. Now has come to you Clarity <bayyinatun> from your Lord – and a Guide and a mercy….” (6:157)

Ayat-ayat ini menetapkan bahwa “penjelasan”/bayyinat itu datang dari Allah dan KitabNya. Itulah yang dipergunakan Nabi untuk “menjelaskan” apa yang sedang diturunkan untuk mereka.

Kita melihat bentuk kata yang PERSIS SAMA dari “Bayyina” ini di ayat lain:

“And remember Allah took a Covenant from the People of the Book to make it clear <litubayyinunahu> to humans, and not to hide it *<la tuktumunahu>*; but they threw it away behind their backs, and purchased with it some miserable gain! And vile was the bargain they made” (3:187)

Disini jelas ditunjukkan bahwa arti kata Bayyina adalah to “proclaim or clarify”/ membuat jelas atau mengklarifikasi, karena “litubayyinunahu” digunakan sebagai kebalikan dari “tuktumunahu”, yang berarti menyembunyikan. jika makna di 16:44 adalah memberi penjelasan2 tambahan, maka di 3:187 orang2 ahlul kitab (dan bukan Nabi-Nabi) telah diperintahkan Allah memberi “penjelasan2 tambahan” kepada manusia lain! itu nonsense karena artinya ada “literatur tambahan” dari ahlul kitab yang diakui Allah, yang bisa diambil sebagai penjelasan! (t/n: akankah Allah menyuruh kita mengambil talmud, aka “hadits”nya yahudi?)

Ayat-ayat Qur’an memang terhubung & menjelaskan satu sama lain. Qur’an adalah “tafsir terbaik” atas Qur’an itu sendiri, jadi jikapun ada penjelasan Nabi atas suatu ayat, kita telah mengetahui bahwa dia akan mengklarifikasi/ membuktikan dengan mendasarkan pada ayat lain, BUKAN mengadakan perkataan2 & sunahnya sendiri apalagi kemudian menjadi hukum2 paralel diluar Qur’an seperti yang telah terjadi pada kitab2 hadits!

(t/n: “dugaan” atas instruksi2, perkataan2, saran Nabi, keputusan atau perintah Nabi kepada orang2 tertentu, (yg “katanya” terekam di hadits & mencapai kita) katakanlah (misalnya) itu benar dikatakan Nabi: itu BUKAN penjelasan dari Qur’an. Itu hanya “judgement” Nabi berdasarkan Qur’an itu sendiri. “Judgement” yang terikat dengan konteks & permasalahan saat itu, dengan orang2 di masa itu, dengan lokalitas & sosio-kultural saat itu. Oleh karena itu, judgement, instruksi, rekomendasi, keputusan otoritatif Nabi ini bersifat statis & bukanlah penjelasan/ makna absolut dari suatu ayat, itulah mengapa ayat ini (16:44) diakhiri dengan “and that they may give thought”: supaya mereka (manusia) berpikir/bertafakur terhadap dzikr/ reminder/ pengingat itu (Qur’an). Kita yang tidak bisa mendapat instruksi “real-time” dari Nabi karena itu diperintahkan BERPIKIR, mendalami Qur’an, membuat & mengambil “judgement”/keputusan2 kita SENDIRI/ MASING-MASING berdasarkan perintah, larangan & hikmah dari Qur’an, sesuai situasi dan konteks kita saat ini. BUKAN mengambil begitu saja literatur2 kontradiktif manmade (hanya karena mereka mengatasnamakan Nabi) sambil mengesampingkan Kitab Tuhan! Ini melangkahi, bahkan mengeliminasi proses BERPIKIR atas Qur’an yang diperintahkan pada kita!)

Jika ayat tadi (16:44) menurut Anda bahwa Nabi dibebani kewajiban oleh Allah untuk memberi penjelasan tambahan, penjelasan makna-makna ayat Qur’an, (yang Allah telah nyatakan bahwa ayat-ayatNya CLEAR/JELAS) lalu penjelasan itu adalah untuk kita pegang & Anda ekspektasikan ada dalam literatur hadits & sumber2 manmade lainnya, maka apa yang dapat kita ekspektasi dari literatur hadits? kita seharusnya menemukan banyak hadits shahih yang bersumber dari perkataan Nabi dan diteruskan melalui banyak sahabat, yang isinya benar-benar penjelasan/ makna ayat-ayat Qur’an! Tapi itu bukanlah yang kita jumpai di dunia nyata: hadits dimana Nabi sendiri memberi penjelasan atas suatu ayat Qur’an, pada kenyataannya sangat-sangat sedikit, bahkan terlalu sedikit jika kita mengingat bahwa Qur’an terdiri dari 6000+ ayat.

Terlebih jauh, dari sedikit hadits2 itu, lebih sedikit lagi yang dapat benar-benar disebut sebagai penjelasan, dan biasanya membahas ayat-ayat yang tidak memerlukan penjelasan tambahan samasekali. Klaim bold/berani dari Anda dan mereka penganut hadits (bahwa hadits menjelaskan Qur’an) faktanya tidak disupport oleh literatur hadits itu sendiri! Maka kemungkinannya entah antara Nabi gagal dari “tugas”nya (tidak mungkin). Atau ahli hadits telah gagal mentransmisikan 6000-an lebih hadits “penjelasan ayat Qur’an” (more reason to leave hadith), Atau sedari awal memang Nabi TIDAK PERNAH mengadakan penjelasan tambahan diluar Qur’an atas makna ayat-ayat Qur’an dalam bentuk hadits2 atau sunnahnya sebagai pegangan/ sumber hukum kita diluar Qur’an!

Sementara atas ayat-ayat dominan lain, dimana mayoritas muslim saat ini mengambil pandangan dari “hadits” & “sunnah”/ tradisi, kita tidak punya “penjelasan” apa-apa dari Nabi tentang ayat-ayat Qur’an itu. Ini khususnya sangat benar atas ayat-ayat yang menjadi konflik/ sumber perpecahan diantara muslim, kita tidak punya hadits yang “menyelesaikan” permasalahan itu. Justru hadits malah memperburuk permasalahan2 itu, karena tiap sekte punya “literatur hadits” mereka masing-masing. Mana yang mereka gunakan, mana yang dikategorikan sebagai sahih atau sebagai dhaif. Dan diatas itu semua, hadits2 yang “dianggap” sebagai “penjelasan Qur’an” itu, mereka sendiri membutuhkan klarifikasi dan penjelasan, karena itulah diadakan lagi perpustakaan buku-buku “penjelasan hadits”, seperti fathul bari yg menjelaskan shahih bukhari! Sudah lihatkah, seberapa “kokoh” dan “jelas”nya sandaran Anda! (sarkas).

Sebenarnya bahkan hadits hanyalah “mengeruhkan” ayat-ayat Qur’an yang sedari awal sudah sangat-sangat jelas. Saat kita melibatkan hadits/ sumber-sumber lain, seketika itu pula ayat-ayat Qur’an kehilangan clarity/ kejernihannya.

Ini sedikit summary saja dari pemilik channel Quranic Islam: bahwa di Sahih muslim saja, dari 7385 hadits, 3033 hadits hanyalah pengulangan saja. Hadits yang ada di bab “Tafsir” ada 42 (1,4%). Hadits yang tampak menjelaskan suatu ayat ada 24, 12 yang tidak berulang, dan hadits yang “katanya” berasal dari perkataan Nabi sendiri hanya 1! Katakan pada saya: bagaimana ini dapat diambil untuk penjelasan Qur’an? (t/n: ataukah menurut Anda hadits2 konyol seperti: bunuhlah anjing hitam karena itu setan, minumlah urin unta, setan berlari terkentut-kentut mendengar adzan, dll adalah “penjelasan Qur’an” bagi Anda?)
97%-99% dari narasi yang ditemukan adalah PALSU/ FABRIKASI. sangat sedikit sisanya yang akhirnya dituliskan dalam “6 kitab sahih” Bagaimana kemudian kita dapat memegang dan menjadikan petunjuk: 1-2% saja yang adalah pilihan personal oleh “imam-imam persia” diatas sebagai reliabel, apalagi “menjelaskan Qur’an?”

Sementara Qur’an mengatakan: bagi Allah-lah penjelasan Qur’an (6:46, 6:65, 6:105, 7:58, 17:41, 89,18:54, 20:113, 25:50 and 46:27)

Pencipta Kita telah berfirman Dia telah MENYEMPURNAKAN Islam (5:3), HANYA jalan islam (berserah diri) yang akan diterima (3:85), mengikuti APAPUN dalam agama, yang Allah tidak pernah otorisasi, bisa jatuh kepada SYIRIK (42:21) SIAPAKAH yang menyempurnakan Islam? Allah dengan Qur’an, ataukah buku2 hearsay/gosip hadits yang dikoleksi dan ditulis imam-imam persia 200+ tahun setelah Nabi wafat?? ALLAH berfirman QURAN itu: PERFECTED (11:1), KOMPLIT/ LENGKAP (6:115), klarifikasi/ PENJELAS SEGALA SESUATU (16:89), terperinci/FULLY-DETAILED (6:114), DIVERSIFIED/PENJELASAN YANG BERAGAM ( 17:41 & 20:113 ) CLEAR/JELAS (12:1, 3:138, 6:105 ) peringatan/ pengingat yang MUDAH (54:17,22,32,40), TIDAK ADA KERAGUAN (2:2), TIDAK MENGANDUNG KEBENGKOKAN (18:1, 39:28), TIDAK MENGANDUNG KONTRADIKSI (4:82) dalam BAHASA ARAB YANG JELAS (16:103), memuat SETIAP contoh (18:54, 30:58) penjelasan detail SEGALA HAL (12:111) adalah TAFSIR TERBAIK (25:33), NARASI/ KISAH TERBAIK (12:1-2) HADITS TERBAIK (39:23) SATU yang membimbing kepada YANG TERBAIK (17:9), sebagai IMAM (46:12), tidak dapat ditandingi bahkan jika semua manusia & jin saling bekerjasama (17:88), dan MENCUKUPI (29:51) … namun apakah semua ini masih belum cukup bagi Anda??

Tidak ada dimanapun di Qur’an pernah disebutkan tentang Sunnah Muhammad.

You will find that there is no substitute for the Sunna of God. 33:62 (also 35:43, 48:23)

Satu-satunya sunnah yang sah menurut Qur’an, yang juga diikuti oleh semua Nabi, adalah ‘sunnah Allah’, (8:38, 15:13, 17:77, 18:55, 33:38, 40:85)

Say (O Muhammad), “I am not a novelty among other messengers, nor do I know what will happen to me or to you. I follow nothing other than what is revealed to me (Quran). I am no more than a clear warner.” 46:9 (also in 10:15).

And We brought down to you the Book, truthfully, confirming what is present of the Scripture, and superseding it. So rule among them in accordance with what God has brought down (Quran), and do not follow their desires in place of what has come to you of the truth. 5:48

Perintah Allah kepada Nabi adalah untuk mengikuti hanya apa yang diwahyukan padanya (Quran). Hal ini jelas dan terang di dua ayat Qur’an diatas.

Qur’an itu mudah dipahami untuk orang2 yang beriman dan berpikir/ menggunakan akalnya (24:58, 39:28, 41:1-3, 54:17, 54:22, 54:32 and 54:40) dan sebenarnya tidak memerlukan pesan lain atau bahkan orang lain untuk menjelaskan kepada mereka. Karena Qur’an diajarkan oleh Allah (44:2 and 55:1-3).

Sementara Alquran meminta untuk “Say: Indeed my contact prayer, my sacrifice, my living and my dying, are all for God alone 6:162″, dan NABI SENDIRI mengajarkan seperti itu: (“Say, ˹O Prophet,˺ “I am only a man like you, ˹but˺ it has been revealed to me that your God is only One God. So whoever hopes for the meeting with their Lord, let them do good deeds and never associate anyone/anything in the worship of their Lord.”18:110 “The places of worship (Masajids) are ˹only˺ for Allah, so do not invoke anyone besides Him.” 72:18) , ajaran2 hadits & sunnah terus menerus memuja-muji Muhammad & keluarga Muhammad, bahkan mewajibkan itu dalam setiap shalat mereka! Hadits & Sunnah BUKAN PENJELAS, melainkan kontradiksi serius!

Tidak heran kata ‘hadits’ dalam Al-Qur’an – di mana pun ketika itu merujuk kepada apa pun selain kepada Al-Qur’an itu sendiri (dalam semua 20 dari 28 contoh: 4:42, 4:78, 4:87, 4:140, 6:68, 7:185, 12:111, 18:6, 23:44, 31:6, 33:53, 34:19, 39:23, 45:6, 52:34, 53:59, 56:81, 66:3, 68:44 , 77:50) – hampir selalu muncul dalam konteks yang mengutuk ‘syirik’ atau selalu digunakan dalam nada ketidaksetujuan yang kuat!

Allah tidak memerlukan suatu apapun, bahkan tidak para Nabi dan rasul2Nya. Jika Dia menghendakinya, dengan sekejap semua manusia dapat Dia jadikan beriman. Kita-lah yang memerlukan Allah dan Qur’an. Sedangkan Nabi Muhammad sendiri adalah manusia yang fallible (punya dosa/ bisa salah) juga. (t/n: pelajari 66:1, 80:1-12 dll) dan tidak punya kuasa untuk membimbing/memberi petunjuk pada siapapun, apalagi menyelamatkan mereka dari api neraka (28:56, 9:113, “Then, is one who has deserved the decree of punishment [to be guided]? Then, can you (Muhammad) save one who is in the fire?[39:19])

Qur’an tidak memerlukan sumber eksternal manmade apapun untuk penjelasan, karena sudah LENGKAP & SEMPURNA. Mengatakan kita perlu hadits, sunnah Nabi, petunjuk imam/ ulama, karya tafsir, atau buku2 lain untuk detail2 agama diluar Qur’an, artinya kita telah berkontradiksi dengan statement tersebut dan menyiratkan bahwa Allah dan Qur’anNya telah gagal! TENTU TIDAK! Orang2 yang mengatakan Qur’an memerlukan penjelasan tambahan diluar wahyu Allah-lah yang telah “gagal” ! Orang itu entah antara malas menggunakan akalnya untuk mempelajari Qur’an, atau terlalu tercuci otaknya hingga belum percaya bahwa Allah bisa membimbing & memberi pemahaman Qur’an secara langsung, atau (amit-amit) Allah telah membutakan orang itu!

Tapi hadits & sunnah adalah implementasi Qur’an!

Pencipta kita bertanya, “atas HADITS MANA, setelah Allah dan ayat-ayatNya mereka akan percaya?” bayangkan ALLAH bertanya ini kepada Anda dan Anda menjawab “Sahih Bukhari”, maka bacalah (45:6-11) dan tunggulah SIKSAAN YANG AMAT PEDIH kepada Anda! Beberapa orang masih akan menyanggah bahwa mereka mengikuti Qur’an, dan mereka menerima hanya hadits2 yang sesuai dengan Qur’an. Jika itu jawaban Anda, artinya Anda hanya menipu diri sendiri! satu ayat saja akan membuktikan hal ini: cara berwudhu menurut qur’an (5:6) jika wudhu Anda masih belum sama seperti itu, (Anda menambah-nambahi bagian yang dibasuh atau mengulang-ngulangi gerakan 3 kali, yang TIDAK PERNAH diperintahkan Qur’an) maka setidaknya 5x SETIAP HARINYA, Anda telah memilih mengikuti HADITS dan MENOLAK petunjuk Qur’an!

Jika masih belum sadar juga, Allah telah menyinggung muslim sektarian dan panutan mereka yang sebenarnya dalam Qur’an itu sendiri. Allah bahkan “langsung menyebut merknya (hadits)”. baca [45:6] “Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan kebenaran; maka atas HADITS mana jika bukan kepada Allah dan ayat-ayat-Nya, mereka akan beriman?”
Silahkan pahami juga ayat-ayat ini: 7:185, 77:50, 6:68, 5:44, 6:114, 10:15, 6:19, 3:20, 5:99, 3:80, 28:56, 50:45, 12:111, 16:89, 17:12

Hadits itu misguidance/ penyesatan, BUKAN IMPLEMENTASI. Sebuah implementasi, misalnya: untuk shalat, pertama kita ikuti ayat ini, lalu ayat ini, dll. Tapi seperti yang ditunjukkan diatas, Allah SUDAH menjabarkan implementasi bersuci/wudhu secara jelas, namun hadits “membelokkan” dengan mengubah, menambah-nambahi, dsb. Ini sama seperti mengatakan “jangan pedulikan apa yang Quran katakan, cukup ikuti hadits!” ini JELAS-JELAS MISGUIDANCE DAN BUKAN IMPLEMENTASI! – dan misguidance ini diikuti secara ketat oleh MAYORITAS MUSLIM! Allah berfirman yang menyiratkan bahwa sejarah terus berulang: bacalah surah Al-Bayyinah. Dan Anda akan temukan bahwa manusia SELALU menyimpang SETELAH KITAB datang kepada mereka (tidak secara khusus menyebut hadits disini, tetapi jelas bahwa yang misguide/menyimpangkan manusia itu adalah SETIAP APAPUN yang dianggap guidance/petunjuk yang menyimpangkan dari wahyu Allah!)

di (95:4), Allah menciptakan manusia “in the best of stature”, & di (4:119) Setan mendorong kebanyakan manusia untuk “mengubah ciptaan Allah”. Tidak heran mengapa Muslim mewajibkan sunatan (anak laki-laki & beberapa anak perempuan)! Ayat yang sama memperingatkan kita, jangan menjadikan setan sebagai wali/ teman/sekutu daripada Allah!

di (53:39) & (6:164) TIDAK ADA seorangpun yang akan credited/ dihargai atas perbuatan/ amal orang lain, tapi setan & hadits mengatakan: lakukan zakat/ haji/ umrah/ puasa untuk orang2 yang sudah mati!! di (46:9), “Nabi Muhammad bukanlah hal baru diantara para Utusan”, tapi ummat muslim percaya Nabi adalah makhluk terbaik, pemimpin para Utusan, namanya selalu disandingkan dengan Allah & dia (konon) BERNEGOSIASI jumlah shalat dengan Allah untuk menguranginya! Hadits menyiratkan rasul lebih penyayang daripada Yang Maha Penyayang!

Setan & hadits menjadikan muslim SELALU menyebut nama Nabi di shalat & ritual2 lain, sedangkan Nabi MEMBERI PERINGATAN SYIRIK ketika orang2 datang mengerumuninya (72:18-21)! Muslim berdoa supaya Nabi Muhammad akan mensyafaati & mengeluarkan mereka dari neraka, sedangkan Allah MENGOLOK gagasan bahwa Nabi (atau siapapun) mengeluarkan orang dari api neraka (39:19) & Allah memastikan bahwa TIDAK AKAN ADA perantaraan/ syafaat makhluk di hari penghakiman (2:254, 2:48, 2:123, 6:51, 6:70, 7:53, 26:100, 32:4, 36:23, 39:44, 40:18, dll). (t/n: silahkan baca ini: https://sebelumterlambat.com/riset-penerjemah-syafaat-nabi-di-hari-penghakiman-neraka-abadi/ ) Kepercayaan intercession/ syafaat adalah SYIRIK. Tolong lakukan riset Anda sendiri & fokus hanya pada firman2 Allah.

SATU-SATUNYA persaksian/syahadat yang diperintahkan Allah adalah syahadat untukNya, (3:18, 21:25, 39:45) dan saat/ayat ketika Qur’an, Kitab yang detail & lengkap, mention/ menyebut syahadat untuk selain Allah (persisnya untuk Nabi Muhammad, seperti muslim kebanyakan) adalah ketika Allah mendeskripsikan perkataan orang-orang munafik! (63:1). Allah menyatakan bahwa haji dilaksanakan di BULAN-BULAN yang dikenal (2:197) tapi setan menjadikannya hanya dalam jendela waktu beberapa hari saja! (t/n: https://sebelumterlambat.com/haji-sejati-menurut-quran-setelah-1400-tahun-kebohongan/) Setelah ini semua, tanyakan lagi pada diri Anda sendiri, apakah hadits itu implementasi atau misguidance, apakah hadits mengikuti ataukah membelokkan kita dari Qur’an?? Jika masih kurang, silahkan Anda riset sendiri, contoh-contoh lainnya, yang memang tak terhitung!! (t/n: ini sebagai permulaan, ada artikel bagus tentang penyimpangan2 karena hadits bagi muslim tradisional dari apa2 yang dikatakan Qur’an: https://misconceptions-about-islam.com/ dan https://factszz.wordpress.com/2015/01/03/hadiths-conspiracy-page-02-from-factszz/)

Agama di sisi Allah hanyalah islam! Dan muslim harus mengikuti ajaran Nabi Muhammad! dan kita hanya bisa benar mengikuti ajaran Nabi dengan mengikuti jalan para salaf !

Islam bukanlah sebuah nama suatu sekte, bukan nama “agama” teokrasi tertentu, bukan pula nama khusus untuk kelompok pengikut Muhammad. Muslim bukanlah istilah untuk “member/anggota” sekte/kelompok tersebut. Muslim adalah suatu “qualifier”, siapapun yang mengambil jalan seperti Nabi Ibrahim, yaitu berserah diri kepada Allah saja, dan beriman lalu menjalani hidup dengan senantiasa berusaha mengabdikan diri padaNya, mengikuti/ mentaati firman-firmanNya saja, dia telah “berislam”, dia adalah seorang muslim di sisi Allah.

22:78 . Strive for ˹the cause of˺ Allah in the way He deserves, for ˹it is˺ He ˹Who˺ has chosen you, and laid upon you no hardship in the religion—the way of your forefather Abraham. ˹It is Allah˺ Who named you ‘the ones who submit’1 ˹in the˺ earlier ˹Scriptures˺ and in this ˹Quran˺

They said, ” Be Jews or Christians [or Muslims], then you will be on the right track .” – Say: ” No, but we follow the doctrine of Abraham the very model of righteousness and which was not among the Associates “. S2: V135

Allah telah memberi pesan yang sama untuk semua nabiNya (17:77). Tidak ada agama Musa, tidak ada agama Isa/ Yesus. Karena itu, Nabi Muhammadpun tidak membawakan agama/ ajaran baru, ajarannya sendiri, tidak, dia menegakkan SATU & SATU-SATUNYA AJARAN AGAMA TUHAN, agama yang menjadi hak eksklusif & otoritas Allah SAJA. Sesuai perintah Qur’an, orang beriman tidak boleh membeda-bedakan Nabi & Utusan-utusan Allah (3:84-85, 2:136). Tapi sayangnya orang2 jahat menggunakan ayat2 seperti 33:21 untuk menyusupkan “Sunnah Nabi”/hukum syariah dari luar Qur’an, mengubah islam menjadi “agama ummat Muhammad”. Intrusi hadits2 juga membuka jalan bagi otoritas2 manusia dalam agama: “clergies/ ulama/ pemuka2 agama”, yang mengubahnya menjadi seperti agama-agama teokrasi lainnya dan memecahnya menjadi sekte-sekte “Muhammadan”/ pemuja Muhammad.

Islam bukanlah kumpulan ritual-ritual, list/ daftar2 amalan tertentu, pakaian untuk dikenakan, atau komunitas-komunitas dengan visi religius yang sama. Islam terdiri dari pemahaman yang benar tentang keberadaan Allah dan pengabdian yang benar hanya kepada Allah, berdasarkan ayat-ayat Allah. Namun, selama berabad-abad, mayoritas yang disebut Muslim telah mengikuti agama palsu yang tidak didasarkan pada pemahaman yang benar tentang Allah dan pengabdian kepada-Nya.

Tingkat distorsi ini begitu parah sehingga diskusi2 tentang Islam yang dapat diterapkan dalam kehidupan seseorang kebanyakan berkutat tentang mengenakan kain kerudung untuk wanita, atau menumbuhkan janggut untuk pria, atau aspek fisik/cara ritual shalat, dll. Tingkat pemahaman mereka tentang iman yang benar, yaitu pengabdian yang benar kepada Allah sebanding dengan kurangnya antusiasme, pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap ayat-ayat Alquran, karena Alquran terutama berkisar pada pengembangan pemahaman tentang Allah dan pemurnian hati nurani seseorang. Dengan demikian definisi Islam bagi mereka hanyalah menyesuaikan diri dengan cara kebanyakan orang melakukan sesuatu, ritual2, jargon2 bahasa Arab, tokoh2 agama yang mereka ikuti, nama-nama orang masa lalu, dll.

Ide tentang agama semacam ini tidak lebih dari menyesuaikan diri dengan seperangkat tradisi. Tradisi ini mencakup hal-hal seperti berdandan dan mengambil penampilan tertentu, duduk dengan cara tertentu, atau mengucapkan kata-kata jargon Arab tertentu kepada rekan mereka. Biasanya mencakup upaya khusus untuk menjauhkan diri dari lawan jenis sebanyak mungkin. Secara umum tujuannya adalah untuk menciptakan suasana yang terasa religius dan memenuhi gagasan nostalgia agama mereka, dan bukan tujuan mutlak untuk mendapatkan ridha Allah. Karena alasan ini, mereka juga tidak mampu berpikiran maju dan mengikuti perubahan modern yang positif.

Orang yang termasuk dalam agama semacam ini kehilangan kemampuan untuk melihat semua peristiwa dengan pikiran terbuka dan kemampuan untuk memutuskan tindakan, tingkah laku, dan cara berperilaku yang paling sesuai dengan lingkungan tempat mereka berada. Orang-orang tersebut, atas pengakuan mereka sendiri, hanya dapat berfungsi dengan baik dalam lingkungan yang sesuai/ yang mereka ciptakan. Waktu mereka hampir selalu dihabiskan untuk membaca atau bertukar cerita tentang kejadian dan perbuatan tertentu dari sosok ini dan itu di masa lalu, (t/n: diluar dari yang dikisahkan di Qur’an) dan merasakan kegembiraan emosional yang luar biasa dari membaca dan mendengarnya. Mereka pikir mereka menemukan ketulusan religius.

Diskusi tentang berkah, rahmat, ayat-ayat dan tanda-tanda dari Allah hampir tidak terjadi karena mereka tidak merasakan hal yang sama tentang Allah. Pengabdian religius mereka hanyalah pengabdian emosional dan kegembiraan dari karakter manusia ini dan peristiwa masa lalu dan keinginan untuk meniru perilaku mereka – untuk menjaga nostalgia saat itu. Mereka tidak dapat memahami pentingnya memiliki keyakinan batin kepada Allah seperti yang ditekankan dalam Alquran, dan karenanya tidak pernah terlibat dalam diskusi yang benar-benar bermanfaat bagi jiwa manusia. Misalnya, memikirkan ayat-ayat Alquran untuk diri sendiri dan membicarakannya tidak disukai dan diskusi dengan cepat ditutup dengan alasan yang sia-sia seperti “Kita tidak cukup ahli, kita bukan ulama” “kita tidak paham bahasa arab”, dll

Kondisinya mirip dengan pemeluk agama lain misalnya, banyak umat Kristiani menghadiri kebaktian gereja secara religius tetapi tidak memiliki pemahaman tentang Allah juga tidak berbakti kepada-Nya, padahal mereka mengira demikian. Sayangnya, mayoritas ini tertipu dengan berpikir bahwa mereka “menjalankan” Islam padahal mereka benar-benar belum memahami keimanan kepada Allah. Pada kenyataannya, hanya “mempraktikkan” dogma yang diturunkan dari generasi ke generasi setelah Nabi. Meskipun orang-orang ini terkadang berbicara tentang rasa takut kepada Allah atau membaca Alquran secara teratur, mereka melakukannya hanya sebagai bagian dari ‘dogma’ ini.

Pembacaan Alquran mereka adalah murni kata-kata asing yang mereka ucapkan tanpa pemahaman dalam tipu daya mereka. Tidak ada jalan keluar bagi orang-orang ini, selama Allah menjaga mereka dalam siklus ini.

Quran mengatakan “[..]Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah[..] (59:7) Bukankah ini mendukung hadits dan sunnah?

Penting untuk selalu mempertimbangkan konteksnya. Sebagai contoh Qur’an mengatakan “O believers don’t go near Salaat” (4:43). Jika kita meninggalkan konteks, kita akan terjebak pada pemahaman yang salah. Mengambil potongan ayat, atau satu-dua ayat saja secara sembarangan, tanpa mempertimbangkan rangkaian ayat sebelumnya dan sesudahnya, tanpa mempertimbangkan ayat2 lain yang membahas isu yang sama di Qur’an, dapat mengarahkan kepada kebingungan dan kontradiksi. Namun hanya dengan sedikit lebih jauh membaca ayat ini, semua menjadi jelas, “O believers don’t go near Salaat, while you are under SUKARAA (drunk), until you become able to apprehend what you are saying [..]”

Begitu juga ayat 59:7, banyak orang merujuk pada ayat ini (t/n: lebih tepatnya sengaja memotong sebagian ayat!) untuk justifikasi hadits dan sunnah, tapi mereka mengabaikan konteksnya.

59:7. And what Allah restored to His Messenger from the people of the towns – it is for Allah and for the Messenger and for [his] near relatives and orphans and the [stranded] traveler – so that it will not be a perpetual distribution among the rich from among you. And whatever the Messenger has given you – take; and what he has forbidden you – refrain from. And fear Allah ; indeed, Allah is severe in penalty.

Jadi, ayat diatas SAMASEKALI TIDAK mengimplikasikan kita untuk mengikuti hadits atau sunnah Nabi dalam agama. Ayat ini membahas pendistribusian harta diantara berbagai kategori orang melalui rasul. Silahkan baca juga 8:41.

Dan lagi, hadits & sunnah jelas BUKAN yang diberikan oleh rasul kepada kita, dia tidak meninggalkan sunnah/ ajaran sendiri, catatan2 perkataanya, maupun ahlul bait untuk kita ikuti, dia hanya meninggalkan QURAN SAJA untuk kita pegang teguh. Bahkan dia dan 4 khalifah setelahnya MELARANG catatan/ narasi lain apapun atas perkataan/perbuatan Nabi!

Lalu mengapa Allah menjadikan hidupnya sebagai contoh yang baik? (mengacu 33:21).

Tolong perhatikan bahwa tidak pernah digunakan kata Muhammad di ayat ini. Menariknya, statement yang sama juga digunakan untuk Nabi Ibrahim dan orang2 yang bersamanya (60:4 dan 60:6), saat Qur’an menggunakan kata Ibrahim. Namun, kita tidak memiliki hadits apapun atau transmisi apapun dari zaman Nabi Ibrahim.

Qur’an adalah sumber paling otentik dan terjaga atas contoh-contoh Nabi. Qur’an dijamin Allah tidak mengandung kontradiksi. Kepalsuan tidak akan pernah menyentuhnya hingga akhir waktu. Qur’an adalah satu-satunya sumber yang absolut/dijamin valid untuk menemukan contoh kehidupan Nabi Ibrahim, dan begitu juga mesti dijadikan sebagai satu-satunya sumber absolut untuk menemukan contoh kehidupan Nabi Muhammad.

Anda ini kenapa, kok sepertinya membenci Nabi?

Tentu saja tidak. Muhammad adalah Utusan Allah dan Nabi terakhir … Hidupnya, perbuatannya, perjuangannya, teladannya, semuanya telah terekam sempurna dan diceritakan kembali di sepanjang Al-qur’an sampai akhir zaman.

Sebaliknya, orang yang benar2 “pembenci Nabi” akan percaya saja pada rumor2 kotor yang diatribusikan kepada Nabi, hanya karena rumor itu dicap “sahih” oleh pemuka-pemuka agama mereka, sekalipun menurut bukti-bukti Qur’an, akal sehat, dan sejarah, sangat jelas bahwa rumor itu TIDAK BENAR (t/n: seperti rumor2 Nabi tidak bisa baca tulis, menikahi anak perempuan yang masih kecil, mengancam “bakar rumah” orang yang tidak shalat, dll)

Tapi cobalah Anda mengulang-ulangi hal yang sama yang Tuhan katakan tentang Muhammad dalam Quran, (t/n: bahwa dia manusia yang bisa salah, bahwa dia tidak punya ajarannya sendiri, bahwa dia tidak bisa mensyafaati di hari penghakiman dll), massa akan menuduh Anda membenci Muhammad! (t/n: untuk lebih lanjut tentang Muhammad menurut Qur’an, ada artikel bagus tentang ini: https://lampofislam.wordpress.com/2014/10/11/true-muhammad-versus-false-muhammad-part-1/ )

Sama seperti ketika Anda memberi tahu orang-orang Kristen bahwa Yesus hanyalah manusia dan Utusan Tuhan, mereka menuduh Anda membenci Yesus.

(t/n: Kami juga mencintai Muhammad, tapi kami TIDAK mendewakan atau menguduskannya; pengudusan dan pendewaan terbatas pada Tuhan, Pencipta kita. Kami mencintai Muhammad yang menderita dalam usahanya untuk berjuang demi Kebenaran Al-qur’an. Inilah mengapa kami menyangkal dan menolak citra terdistorsi Nabi dalam apa yang disebut biografi dan hadits2 / narasi yang sebagian besar menodai reputasinya dan bertentangan dengan kisah nyata dan satu-satunya yang ditemukan secara eksklusif dalam Al-qur’an. Kami menyadari bahwa orang2 beriman sejati harus percaya kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad:

“Those who disbelieve and repel from the path of God – He nullifies their works. While those who believe, and work good deeds, and believe in what was sent down to Muhammad – and it is the Truth from their Lord – He remits their sins, and relieves their concerns. That is because those who disbelieve follow falsehoods, while those who believe follow the truth from their Lord. God thus cites for the people their examples. (47:1-3)

Perbedaan antara orang beriman dan yang tersesat ini dibeberkan di awal surah 47, surah Muhammad. Karena itu, kami lebih percaya kepada kebenaran absolut dari Tuhan – Qur’an, dan BUKAN kepada catatan sejarah/ sumber2 buatan manusia yang kontradiktif & menyesatkan yang mengatasnamakan Nabi. Sementara orang2 yang tersesat, mereka mengikuti kepalsuan2, sehingga mengarahkan mereka kepada deifikasi dan menguduskan makhluk atau benda2 fana!)

Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk (28:56)

Cinta sejati kepada Isa/Yesus adalah mengenalinya sebagai manusia dan utusan Tuhan. Orang Kristen mengaku sangat mencintai Yesus, namun Yesus sendiri akan menyangkal mereka pada hari kiamat (Quran 5: 116).

Cinta sejati kepada Muhammad adalah untuk mengenalinya sebagai manusia dan Utusan Tuhan, dan mengikuti ajarannya, yaitu, UPHOLD QURAN & NOTHING BUT QURAN (Taati Qur’an, dan tidak ada yang lain selain Qur’an!)

Mereka yang mengikuti ajaran lain selain Qur’an, Kitab yang dinyatakan sempurna: disebut sebagai musuh Muhammad, dan Muhammad akan menyangkal mereka pada hari penghakiman! seperti yang kita lihat di bawah ini:

Dan Rasul (Muhammad) akan berkata: ” Ya Tuhanku! Sesungguhnya, ummatku meninggalkan Al-Quran ini “ Demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi musuh di antara para pendosa/penjahat : tetapi cukuplah Tuhanmu yang memberi petunjuk dan menolong (25:30-31)

Nabi Muhammad sekalipun HANYA MENGIKUTI apa yang diwahyukan kepadanya (t/n: tidak diberi otorisasi oleh Tuhan menciptakan ajaran sendiri/ detail tambahan untuk kita ikuti!):

I merely follow (ATTABI’U) what is inspired to me. [6:50]

I ONLY follow (ATTABI’U) what is inspired to me from my Lord. [7:203]

I ONLY follow (ATTABI’U) what is inspired to me. [46:9]

Thus, when We read it, you shall follow (ITTABI) the Quran. [75:18]

Sekarang, apakah yang diinspirasikan/diwahyukan kepadanya lalu dia sampaikan kepada orang-orang? Apakah detail2 pengetahuan hal2 ghaib (t/n: nama-nama orang yang sudah terjamin masuk surga, detail2 dialog2 yang “questionable” di hari penghakiman kelak, & tak terhitung cerita2 konyol lainnya YANG TIDAK ADA DI QUR’AN) ataukah detail2 hukum2 agama sekunder? (t/n: ritual2 sunnah, aturan tentang janggut, khasiat dzikir tertentu 1000x sehari, bershalawat sebanyak mungkin untuknya, pengharaman atas musik, atas patung & tak terhitung aturan2 absurd lainnya YANG TIDAK ADA DI QUR’AN)
Mari lihat apa yang Allah firmankan tentang ini:

He has inspired to me this Qur’an [6:19]

We have inspired to you in this Qur’an [12:3]

And when Our clear revelations are recited to them, those who do not wish to meet Us said: “Bring a Quran other than this, or change it!” Say: “It is not for me to change it from my own accord, I merely follow what is inspired to me. I fear if I disobey my Lord the retribution of a great day!” [10:15] (MUHAMMAD “ONLY FOLLOW” “WHAT IS INSPIRED TO HIM” = GOD’S CLEAR REVELATIONS = QUR’AN)

So judge between them according to what God has sent down (Qur’an), and do not follow their inclinations to forsake the truth that has come to thee”. [5:48]

Lalu bagaimana Anda mendirikan Salat tanpa Sunnah Nabi? bagaimana berzakat tanpa aturan hadits?

Sesuai petunjuk Qur’an.

Beritahu saya waktu2 shalat, urutan gerakan, detail2 bacaannya dll di Qur’an!

Anda benar-benar ingin tahu cara shalat sesuai Qur’an, atau hanya ingin menjustifikasi “shalat” Anda? Sudahkah Anda benar-benar mencari tentang shalat kedalam Qur’an saja?

Setelah memaparkan semua bukti, sebagian besar umat Islam masih keberatan: ‘di mana kita menemukan tentang cara shalat’ ?. Seolah-olah pernyataan Tuhan bahwa Qur’an sudah lengkap, sangat rinci, dan sempurna hanya dinyatakan untuk menghibur mereka!

Masalah yang mereka hadapi dalam pencarian detail Shalat bukanlah karena defisiensi/kekurangan dalam Kitab Allah yang sangat rinci, tetapi terletak pada upaya mereka untuk memasukkan ‘persegi’ ke dalam ‘lingkaran’!

Massa Muslim berusaha untuk mencari-cari detail shalat sesuai gambaran yang tertanam dalam diri mereka sendiri, yang telah ‘dibaku-kan’ oleh para Imam & Syekh mereka dan menjadi kesal ketika inovasi seperti itu tidak ditemukan dalam Kitab Allah yang sempurna.

Mereka menginginkan informasi tentang ‘bagaimana posisi berdiri, apa yang harus dilakukan dengan tangan, bagaimana posisi ruku dan sujud yang benar, bacaan apa yang harus dikatakan di setiap posisi, makhraj & tajwid saat membaca ayat-ayat, urutan gerakan, berapa rakaat yang harus dilakukan, gerakan apa yang membatalkan shalat, dll ..’.

Apa yang hilang dengan terlalu memberikan perhatian pada ‘mekanisme’ sektarian itu, adalah seluruh tujuan Shalat itu sendiri yaitu ‘Mengingat’ Sang Pencipta; dan (latihan spiritual) yang memberi kita perlindungan dari perbuatan keji dan mungkar!

Shalat tidak didasarkan pada kinerja fisik atau ‘daftar checklist’ dan detail2, tetapi itu adalah KONEKSI dengan Yang Maha Kuasa dan oleh karena itu fokus utama seseorang harus selalu ‘Pikiran’, ‘berdoa’ dan pada ‘Pesan Tuhan yang dibaca’ … bukan ‘Tubuh ‘atau’ Gerakan!.

Sesungguhnya Kami telah mengutip untuk manusia, dalam Al-Quran ini, setiap jenis contoh, agar mereka memperhatikan . S39: V27

Salat Qur’ani tidak terkodifikasi secara mekanis seperti itu. Allah akan menerima salat kita selama kita mengingat-Nya & melakukan salat terbaik kita sesuai waktu, instruksi-intruksi dan batasan yang dijelaskan Qur’an. Namun salat mekanis yang dilakukan tanpa benar-benar mengingat Allah & tidak mengerti apa yang kita ucapkan saat salat, (t/n: yang pada dasarnya sama saja dengan salat dalam keadaan mabuk), tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah Allah akan menerima itu? (t/n: lebih lanjut tentang praktik2 agama sesuai Qur’an baca ini (jika belum): https://sebelumterlambat.com/shalat-sesungguhnya-versi-panjang/ https://sebelumterlambat.com/zakat-menurut-quran/, https://sebelumterlambat.com/ramadhan-sejati-menurut-quran-setelah-1400-tahun-kebohongan/)

Maksud Anda kami harus meninggalkan apa yang telah kami praktikkan di masa lalu selama ber-abad-abad?

YA. Yang paling penting: shalat ditujukan untuk ALLAH SAJA. Yang disebut-sebut, dipuja-puji dan dimuliakan dalam shalat, adalah ALLAH SAJA:

Say: “My contact prayer, and my rites, and my life, and my death, are all to God, Lord of the worlds.” [6:162]

Namun jika Anda masih menolak, jika Anda masih kukuh tidak mau berhenti memuliakan selain Allah dalam shalat (Muhammad, Ibrahim, keluarga mereka, bahkan “salam kepada malaikat”), ketahuilah bahwa jawaban yang serupa telah dilontarkan ummatnya Syuaib, ketika mereka dijelaskan shalat yang sesungguhnya.

11:87 They said, “O Shoaib! Does your Salaat (“اَصَلٰوتُكَ”) command that we should forsake the worship that our fathers practised? Or, that we leave off doing what we like to do with our economy? Behold, you want us to think that you are the only clement, and the rightly guided man among us?”

Anda pikir Muslim selama ber-abad-abad mempraktikkan cara salat yang salah? Memangnya cuma Anda yang benar, semua orang salah?

Ya. Jika cara mereka tidak mengikuti/ tidak berdasarkan Qur’an. Dan bagi saya cara islam tradisional memang tidak mengikuti/ tidak berdasarkan Qur’an. Namun saya tidak bisa mengatakan bahwa mereka semua, atau menunjuk kepada individu sebagai salah, saya tidak tahu kehidupan mereka apalagi isi hati mereka. Simple saja, yang saya tahu Qur’an meminta saya, Anda, dan semua manusia untuk menggunakan akal & reasoning masing-masing untuk memahami dan menerapkan Qur’an untuk sendiri (6:116, 25:44 and 36:62) dan BUKAN “ngikut” saja pada ajaran orangtua/ nenek moyang atau mayoritas.

8:22. “Indeed, the vilest of living animals, in God’s sight, are the deaf, the dumb and those that do not use their intellect (yAQLun)”

5:104. “And when it is said to them, Come to what Allah has revealed and to the Messenger, they say: That on which we found our fathers is sufficient for us. What! even though their fathers knew nothing and did not follow the right way”.

Apa Anda lebih memilih mengikuti kecerdasan Anda sendiri daripada mayoritas Muslim hari ini?

Iman saya tidak akan saya gantungkan kepada pemikiran mayoritas. Allah akan meminta pertanggungjawaban saya atas pilihan2 dan perbuatan saya sendiri. Karena itu, ya, saya lebih memilih menyandarkan kepada Allah, sambil berupaya menggunakan akal yang terah dianugrahkanNya pada saya untuk mencari kebenaran, meyakininya sendiri, dan menerapkannya untuk sendiri.

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa Allah berkali-kali memerintahkan dan menyinggung kita untuk menggunakan reason/ akal kita? Simply, karena Allah tahu kebanyakan manusia hanya ikut-ikutan dan tidak benar-benar menggunakan akalnya.

By the way, jika seseorang lebih memilih mengikuti mayoritas orang dan kurang menggunakan akalnya sendiri, dia akan condong untuk tersesat.

6:116. “And if you obey most of those in the earth, they will mislead you from the way of God. They follow but assumption / conjecture (Zana) and they only guess / lie (Yakhrasun)

Setan/Iblis tidak dapat menipu hamba sejati dari Allah (Quran 38:82-83) tapi “domba-domba ignorant yang “blindly followers”/pengikut buta” adalah target empuknya. Jika Iblis/setan dapat mengirimkan 2 milyar Kristen pengikut paulus menjadi tersesat sedari 2000 tahun lalu melalui konsep trinitas dan “putera Tuhan”; maka mengapa Iblis yang sama tidak bisa meyesatkan mayoritas muslim ignorant pengikut buta sedari 1200 tahun lalu? Dengan mayoritas, seseorang dapat memenangkan pemilu presiden, namun belum tentu mencapai kepada kebenaran. Kriteria/tolak ukur kebenaran, tidak pernahlah mayoritas 6:116 sepanjang sejarah manusia, dan tidak akan pernah hingga hari penghakiman
Mayoritas besar muslim, belum pernah samasekali membaca tuntas 6 kitab fabrikasi hadits “Kutubus sittah”, Al-Kafi, dan kitab lainnya, di sepanjang hidup mereka. Jadi mereka tidak menyadari kebusukan-kebusukan paling kotor yang dikandung kitab2 fabrikasi ini; Namun mayoritas yang ignorant mendukung buku2 satanis itu. Ini adalah contoh paling memalukan dari pengikut buta [blind-followers]. Qur’an suci menyatakan orang2 pengikut buta seperti itu sebagai MAKHLUK TERBURUK di planet ini

Allah sendiri yang berfirman bahwa jika kita mengikuti agama berdasarkan warisan saja daripada benar-benar mengikuti apa yang diturunkan Allah, itu mengarahkan kita kepada NERAKA (31:21)

Salah satu kutukan/laknat terbesar pada kecerdasan manusia adalah dengan mengikuti begitu saja (blindly following) orang2 tua, nenek moyang, dan cendekiawan/ pemuka agama. Ini telah mengarahkan mayoritas manusia menjadi tersesat (38:82-83). Kitab “Perjanjian Terakhir” Tuhan, Qur’an suci, MELARANG taklid buta/blind following dengan mengulangi ayat-ayat seperti berikut: [2:170], [31:21], [33:67], [9:31], [3:80], [8:22]

Nnn… (berpikir/ kehabisan pertanyaan)

Anda masih ada pertanyaan, carilah jawabannya di Qur’an! Karena sebenarnya Qur’an telah menjawab semua pertanyaan-pertanyaan Anda. TENTU SAJA Qur’an telah menjelaskan SEMUANYA tentang shalat, zakat, haji, puasa, dll. Bacalah (t/n: BACA ya, BUKAN melafalkan dalam bahasa Arab!) sambil berserah kepadaNya, dan bacalah dengan sudut pandang netral/ tanpa pengaruh orang lain, gagasan2, pandangan & prejudice agama Anda selama ini, maka Anda akan menemukan jawabannya atas seizin Allah.

Tolong belajarlah sendiri & IKUTILAH QUR’AN SAJA UNTUK MENGHINDARI SYIRIK!

Manusia telah berjanji untuk ibadah/mengabdi kepada satu Tuhan, Allah saja. (7:172-174) & TIDAK menyembah/ mengikuti setan (36:60-64) kita diberi peringatan bahwa siapapun pengikut setan akan berada di neraka (15:42-43). Berdasarkan (36:62, 6:128, 7:18 dan 11:119), Setan AKAN menyesatkan BANYAK diantara manusia, menjerumuskan mereka ke neraka. Berdasarkan (6:66 dan 25:30) ummat Nabi Muhammad telah MENOLAK Qur’an, meskipun mereka tahu Qur’an adalah kebenaran. Qur’an memperingatkan kita (14:21-22, 33:67, 6:123, 2:79, 3:78, 9:34, 5:63, 57:27, 7:175-176, 2:174-175, 62:5, & 26:88-101 dll), bahwa kebanyakan pemimpin2/ pemuka agama adalah orang2 KORUP, mereka menikmati ketenaran dan kekayaan dari bisnis agama. Itu saja seharusnya sudah cukup sebagai alasan Anda untuk menolak mereka. JANGAN IKUT-IKUTAN MAYORITAS. Banyaknya jumlah pengikut, fasihnya mereka melafalkan ayat, dll JANGAN membutakan Anda. SETIAP NABI memiliki musuh-musuh, setan2 dari golongan manusia dan golongan jin, yang berkolaborasi dalam rencana masif untuk MENYESATKAN MANUSIA DARI APA YANG DIKATAKAN DI KITAB (pelajari 6:112-116)! (t/n: baca https://sebelumterlambat.com/setan-manusia-menyusup-diantara-kita/ )

Jalan Islam yang Allah wahyukan adalah SANGAT BERBEDA dengan apa yang kita lihat hari ini, karena hadits2, tulisan2 manusia, & doktor2 agama telah, dari generasi ke generasi: menempatkan ummat dalam berlapis-lapis SYIRIK, dan tidak ada kemungkinan bangun dari ilusi ini kecuali DIRI KITA SENDIRI yang berserah kepada ALLAH SAJA, lalu belajar & memegang teguh QURAN SAJA.

Saudara/saudariku, tolong renungkan dan pelajari secara mendalam, karena kehidupan akhirat Anda dalam risiko – SELAMANYA!

SELALU kembalikan kepada QURAN SAJA dan do your own research. Mintalah bimbingan Allah, karena walau bagaimanapun cerdasnya Anda, walau bagaimanapun seseorang menunjukkan kepada Anda, bahkan sekalipun misalnya Nabi sendiri dihidupkan kembali dan mengajari Anda – TIDAK ADA yang dapat membimbing Anda (agar mencapai & meyakini kebenaran lalu membuat Anda “terbimbing”), KECUALI ALLAH SAJA.



P.S: Translator note (t/n:) adalah merupakan tambahan/penjelas dari saya pribadi (penerjemah) dan bukan bagian dari pesan asli. boleh diabaikan saja. Kritik/saran mengenai hasil penerjemahan, silahkan ajukan email ke: firefantasyhaiku@gmail.com atau redemptionman@tutanota.com


Share the Truth:

Post Navigation ;