Peringatan Kiamat

*DISCLAIMER/PENAFIAN*
Saya TF, semua artikel yang ada disini hanya upaya penerjemahan dari https://thetruthisfromgod.com/
Kecuali jika saya nyatakan lain.
Saya bukan pemilik situs tersebut diatas, dan pemilik situs tersebut (YS) samasekali bukanlah kenalan saya. Semua konten disana diluar tanggung jawab saya. Saya hanya orang biasa yang mengambil dari sana, menggunakan mesin penerjemah, kemudian mengoreksi hasil terjemahannya lebih lanjut. Demi Allah, Saya tidak dibayar sepeserpun atau mendapat imbalan apapun dari YS.
YS juga tidak pernah memaksa atau meminta saya untuk menerjemahkan.
Semua ini atas inisiatif saya sendiri.
Mohon maaf atas sebagian terjemahan yang masih kasar, atau keliru.
Untuk itu, Saya mohon dengan sangat kepada Anda untuk tetap meninjau sumber aslinya,
Semata-mata untuk menangkap pesan yang lebih lengkap dan lebih murni.
Jika Anda bisa mengerti apa yang tertulis disana (teks Bahasa inggris/Bahasa Prancis), tolong abaikan saja Blog saya dan baca langsung dari sana.
Pesan YS dalam bentuk video2, saya terjemahkan di channel youtube saya:
“[..] We wish not from you reward or gratitude. Indeed, We fear from our Lord a horribly distressful Day” (76:9-10)
  1. Home
  2. »
  3. lain-lain
  4. »
  5. Artikel komprehensif: Permasalahan terkait...

Artikel komprehensif: Permasalahan terkait hadits & mengapa muslim tidak mau membaca Qur’an untuk memahaminya sebagai petunjuk

29 Oct, 2020lain-lain

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. Hanya berkat Allah, saya telah menerjemahkan tulisan yang saya dapat dari:
https://www.free-minds.org/index.php/myth-hadith dan https://www.free-minds.org/does-hadith-have-solid-historical-basis
karena itu tidak mewakili pandangan YS. Namun tentu saja saya mengupayakan sebisa saya mencari tulisan yang “paling mendekati kebenaran” “se-objektif mungkin” dan sesuai Qu’ran dalam mengambil sumber/bahan tulisan ini.
Sama seperti YS, saya menulis ini tidak berniat untuk mencari pengikut ataupun meyakinkan/mencari pengakuan dari orang lain. Saya temukan bahwa tulisan-tulisan ini hanya memperkuat dan memberi konfirmasi atas Quran dan juga apa-apa yang YS sampaikan. Sayang sekali jika saya simpan untuk sendiri. Lebih baik saya share, semoga mendatangkan manfaat bagi orang lain. JANGAN ditelan mentah-mentah. Tiap orang harus selau berpegang dan mendasarkan diri HANYA kepada Kitab Allah, Use your own reason/discernment & Do Your Own Research, saya tidak bertanggungjawab atas implikasi tulisan dibawah ini bagi Anda. Ingatlah, tiap diri bertanggungjawab atas pilihan dan perbuatannya masing-masing. Kebenaran hanyalah dari Allah. Yang terpenting bagi kita adalah terus mendekatkan diri pada Tuhan, bersyukur, belajar Qur’an, dan menerapkannya di kehidupan kita. Karena, hanya itulah kunci keselamatan kita.
May God forgive us and guide us regarding any sign that would have been misinterpreted in this study and elsewhere. May He purify ourselves and increase our knowledge.
“Our Lord, indeed we have heard a caller calling to faith, [saying], ‘Believe in your Lord,’ and we have believed. Our Lord, so forgive us our sins and remove from us our misdeeds and make us die among the righteous.”[3:193]


Pengantar

(t/n: sebelum membaca artikel ini, ada baiknya Anda membaca TUNTAS (jika belum), tulisan-tulisan ini: https://sebelumterlambat.com/peringatan-untuk-muslim/, https://sebelumterlambat.com/usia-aisyah-konspirasi-hadits/ dan https://sebelumterlambat.com/riset-penerjemah-ikutilah-quran-dan-bimbingan-allah-saja/)

“Do not accept anything that you have no knowledge of. Surely the hearing, the sight and the mind you are responsible for.” (Quran, 17:36)

Ayat diatas adalah aturan terpenting bagi kita semua sebagai murid2 dari agama Tuhan, yang mengingatkan tentang apa “kriteria” untuk menerima dan mentaati atas apa-apa yang dijajakan kepada kita sebagai “aturan agama”, atau “hukum Tuhan”

Kita, sebagai manusia, telah diperintahkan oleh Tuhan kita untuk menggunakan senses (penglihatan, pendengaran, dan pikiran) sehingga kita dapat membedakan kebenaran dari kepalsuan, lalu meyakini sendiri atas kebenaran itu… Mengikuti secara buta TIDAK diperbolehkan Qur’an, dan itu adalah tanda kekafiran:

Dan perumpamaan bagi mereka yang kafir adalah seperti seseorang yang hanya mengulangi apa yang dia dengar dari panggilan dan teriakan; tuli, bisu, buta, mereka tidak mengerti (Quran 2:171)

Faktanya, Al-qur’an memerintahkan yang KEBALIKAN dari blind following/ taklid buta dan menekankan pada “menggunakan akal/pemikiran” dan “kontemplasi” karena itu adalah satu-satunya jalan menuju syukur/apresiasi sejati dari pesan yang dibawa Al-qur’an:

“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka BERPIKIR” (Quran, 59:21)

Tentang Hadits & menurut Qur’an tentang hadits

Kata “Hadits” tidak dapat dipisahkan dari Islam saat ini dan dipahami/dianggap sebagai narasi atas “Ucapan / perbuatan” Nabi atau sahabatnya.

Hadits dijadikan sebagai sumber kedua dari Islam (Al-qur’an menjadi yang pertama) dan telah dianggap menjadi sebuah “sains” di mana orang2 menghabiskan hidupnya hanya mempelajari “Hadits” dan kompilasinya.

Muslim diajari bahwa Nabi Muhammad membawa Quran bersamanya serta ucapan-ucapan Nabi “Hadits” dan tindakan-tindakan/ kebiasaan Nabi, “Sunnah”. Umat ​​Muslim percaya bahwa pilar-pilar ini tidak dapat dipisahkan dan bahwa Islam tidak dapat berdiri sama sekali jika salah satu dari pilar ini dicabut.

Qur’an telah menyatakan dirinya sendiri terperinci penuh dan mengandung detail/ penjelasan atas segala hal (pelajari 7:52, 6:114, 10:37). Jadi benarkah memang diperlukan sumber tambahan? Mari kita pertama-tama tanyakan pada apa yang benar-benar dikatakan di Qur’an tentang hadits. Mari kumpulkan setiap ayat-ayat yang berkaitan, apakah benar Qur’an mengakui adanya sumber hukum tambahan setelah Qur’an, dalam hal ini, hadits-hadits?

3 ayat yang paling eksplisit:

Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya waktu (kebinasaan) mereka? Lalu atas pesan (hadits) mana lagi setelah ini yang mereka percayai?
Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan (hadits) mana lagi mereka akan beriman setelah Allah dan ayat-ayat-Nya?
Maka kepada pesan (hadits) manakah (selain Alquran) ini mereka akan beriman?

Ya, jika kita membaca bahasa arabnya, kata yang digunakan memanglah “hadits”. diantara sekian banyak pilihan kata lainnya yang dapat merepresentasikan: pesan, perkataan, narasi, ajaran, dll, tidakkah menarik bagi kita bahwa Allah secara spesifik menggunakan kata “hadits”?

Ada juga banyak diantara peringatan-peringatan/ ayat-ayat relevan lain, sebagai contoh (t/n: berikut saya tulis summary-nya saja, agar Anda mempelajari sendiri lebih lanjut):

  • 2:79-82 Peringatan kepada mereka yang mengatribusikan kebohongan-kebohongan religius mereka kepada Allah
  • 2:165-167 Pemimpin/pemuka agama yang eksploitatif vs para pengikut buta
  • 2:170-171 Peringatan dari mengikuti nenek moyang/para pendahulu secara buta
  • 3:78-80 Mereka mengatakan sesuatu hal itu dari Allah, padahal itu bukan dari Allah
  • 4:77-4:82 rangkaian ayat yang adalah 1 narasi. orang2 munafik yang hanya “lipservice”, mengaku “taat” kepada rasul, tapi mereka menolak ikut berperang karena takut mati. Padahal, perintah2 langsung rasul itu berdasarkan wahyu Qur’an, karena itu perintah rasul = perintah Allah (4:80), itulah mengapa ditekankan untuk menghayati Qur’an di (4:82). Ada hubungan yang jelas, bahwa “ketaatan kepada rasul” dengan “ketaatan kepada Allah” itu satu disiplin yang sama, yaitu mentaati Qur’an. Orang sering mengutip 4:80 saja, padahal dengan melihat konteksnya, jelas sekali ayat ini samasekali tidak berbicara tentang mentaati pengatribusian2 pada Nabi yang sudah wafat berupa “sunnah”/tradisi Nabi maupun mentaati asumsi perkataan2/”hadits” Nabi diluar Qur’an.
  • 4:87 & 4:122 satu-satunya hadits yang benar = hadits Allah (Qur’an)
  • 5:44 memutuskan/menilai & menghukumi harus berdasarkan/ mengikuti apa yang Allah telah turunkan (Qur’an)
  • 5:98-104 Rasul tidak mengadakan ajaran tambahan diluar pesan Allah (Qur’an), kita cukup bertawakal pada Allah/ kitabNya. Mencari detail-detail aturan selain dari yang telah diturunkan Allah, bukanlah kebaikan, meskipun jumlahnya banyak dan memukau kita. Bahkan hasrat/keinginan terhadap itu bisa mengarah kepada kekafiran! Seperti misalnya mengikuti begitu saja ajaran & tradisi nenek moyang/pendahulu padahal ajaran/tradisi tersebut adalah kobohongan-kebohongan terhadap Allah.
  • 6 :19-21 kepada Nabi Muhammad hanya diwahyukan Qur’an saja untuk disampaikan kepada orang2 dan menjadi peringatan.
  • 6:112-117 perkataan-perkataan (hadits) indah yang dibuat-buat setan & diikuti kebanyakan orang yang mana hanyalah persangkaan (persangkaan yg diatribusikan kepada Nabi/sahabatnya) vs Qur’an yang adalah Kitab petunjuk sempurna dari Allah, terperinci penuh, benar, adil & tidak ada yang dapat mengubahnya.
  • 7:2-3 ikutilah Qur’an (Allah) – bukan kepada awliya/ wali2 selain Allah
  • 7:35-42 Rasul-rasul Allah menyampaikan ayat-ayat Allah. Yang beriman, bertakwa atas ayat2 itu dan mengadakan perbaikan; mereka adalah penghuni surga. Yang mendustakan ayat-ayat Allah dan sombong kepadanya, juga yang mengada-ngadakan kebohongan terhadap Allah; mereka menyesatkan dan menjerumuskan diri sendiri & orang-orang yang mengikuti kebohongan itu ke neraka!
  • 9:31-33 Pemuka-pemuka agama yang dijadikan sebagai sekutu/ Tuhan selain Allah, mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan kebohongan-kebohongan mereka.
  • 10:15 saat dibacakan ayat-ayat Allah yang jelas, Orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Allah; mereka menginginkan kitab selain Qur’an atau mengganti Qur’an. (t/n: upaya orang2 jahat usurp/merampas otoritas atas kitab suci menjadi sejarah yang berulang: atas Yahudi “berhasil” dengan talmud, atas Kristen “berhasil” dengan berbuku-buku alkitab. atas Muslim “berhasil” dengan?? )
  • 10:37 & 57-60: Qur’an “tidak mungkin dibuat-buat oleh selain Allah”, petunjuk yang “lebih baik dari APAPUN yang dikumpulkan manusia”. sedangkan orang-orang yang membuat-buat/mengadakan kebohongan terhadap Allah, mereka tidak bersyukur & mengharamkan/menghalalkan hal-hal tanpa izin dari Allah.
  • 12:111: Qur’an “bukanlah hadits* yang difabrikasi/dibuat-buat”
  • 15:90-92: Alquran memperingatkan mereka yang akan memecah pesannya menjadi beberapa bagian dan memperlakukannya sebagai pesan yang tidak lengkap.
  • 16:89: Qur’an adalah penjelas segala sesuatu
  • 16:116: JANGAN berbohong terhadap Allah dengan mengatakan “ini halal/ini haram”
  • 17:36: JANGAN ikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui! (t/n: benarkah Anda tahu dan bisa menjamin kebenaran bahwa:”rasul bersabda begini, rasul menganjurkan begitu”??)
  • 18:27: tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya
  • 31:6-9: Ada sebagian orang yang “membeli”/mengupayakan “lahwal hadits*” (t/n: perkataan tanpa dasar?) untuk menyesatkan orang dari jalan Allah
  • 39:22-23: Allah telah menurunkan hadits* terbaik = Qur’an!
  • 52:33-38: Maka buatlah hadits* seperti (Qur’an) ini, jika mereka orang yang benar!

*catatan: Penerjemah Qur’an mainstream/kebanyakan, secara sistematis menyamarkan referensi kata “hadits” di dalam Qur’an, padahal jika kita melihat teks arabnya, hitam diatas putih, memang tertulis kata “hadits”!. mereka sepertinya berpikiran bahwa Allah tidak pernah bermaksud itu!

telah jelas, bahwa berdasarkan Qur’an, kita mendapati “pola”/kecenderungan yang kuat, bahwa kita DIPERINTAHKAN stick/ berpegang teguh pada Qur’an saja & TIDAK BOLEH mengangkat sumber hukum agama extra-quranic/tambahan, apapun namanya itu, disamping Qur’an, seakan-akan Qur’an tidak mencukupi!

Alquran memiliki instruksi untuk semua hal yang diperlukan untuk mempraktikkan Dien. Ini adalah teks petunjuk dari Allah yang dinyatakan oleh Allah sebagai jelas, lengkap, rinci & mudah. (t/n: tentu lengkap dalam artian: di dalamnya SUDAH MEMUAT SEMUA perkataan2 & perbuatan2 Nabi Muhammad yang dijamin kebenarannya, sebagai uswah/contoh/pelajaran untuk kita!) Akan tetapi, instruksi sejelas apapun percuma jika tidak menjalaninya atau salah menjalaninya (t/n: ibarat kita diberi peta harta karun dengan rute yang jelas. Akan percuma jika: kita tidak berjalan menuju harta karun itu, atau misalnya kita menganggap peta itu belum lengkap dan malah mengikuti peta-peta palsu yang mengklaim menjelaskan peta asli)

Seperti itu juga, Qur’an mensyaratkan orang-orang untuk menjadi tulus/ bertawakal kepada Tuhan saja (16:98-100) menggunakan akal sehat dan penilaian mereka sendiri untuk menghayati, mencari tahu ke dalam Qur’an, dan terus menerapkannya, agar tidak tersesat.

Itu seharusnya sudah cukup sebagai alasan, tapi marilah kita membahas lebih dalam tentang permasalahan2 lain terkait hadits, dari sudut pandang sejarah, termasuk dari hadits-hadits itu sendiri, serta dari kritisisme hadits yang telah ada sedari kemunculannya. Untuk dapat memahami sepenuhnya untuk diri kita sendiri, haruskah kita mengambil hadits-hadits sebagai sumber hukum agama?

Catatan sejarah & hadits2 sendiri mengatakan bahwa Nabi melarang penulisan haditsnya & para sahabat Nabi mengikuti instruksi ini dengan menghindari & melarang pencatatan hadits

Apa yang mungkin mengejutkan kebanyakan orang, adalah bahwa “Hadits” sebenarnya tidak dikoleksi, ditinjau dan dituliskan melainkan hanya setelah lebih dari dua ratus tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad.

pertama oleh Imam Bukhari (w. 256/870), kemudian Muslim (w. 261/875) , Abu Daud (w. 275/888), Tirmidzi (w. 270/883), Ibn Maja (w. 273/886), dan al-Nasa’i (w. 303/915). Beberapa orang akan mengatakan bahwa kompilasi tertulis hadits pertama adalah kitab muwatta imam malik pada 179 H, akan tetapi, ini berdasarkan laporan-laporan saja yang menyatakan seperti itu, bukan bukti konkrit. versi fisik utuhnya yang paling awal yang diketahui ada dari muwatta, hadir pada saat yang kira-kira bersamaan dengan koleksi sahih bukhari.

Anda bahkan akan menemukan orang-orang yang mengklaim “orang-orang sudah umum menuliskan hadits di zaman Nabi” akan tetapi ini adalah klaim kosong yang mendasarkan pada hadits lain juga. Masalahnya disini terletak pada fakta bahwa semua “pembuktian” sebagian besarnya di tangan/terserah para ulama-ulama hadits, dan benar-benar mengabaikan dan diabaikan oleh historian/sejarawan sungguhan. Inilah mengapa ketika Anda riset/mencari jawaban atas pertanyaan ini, Anda tidak akan menemukan apa-apa selain daftar panjang nama-nama orang, serta, “A menarasikan dari B, yang mendengar C, C dari D, dst”

Dalam pernyataan pembukaannya, Bukhari (dianggap sebagai sumber # 1 Hadis otentik) menyatakan bahwa dari hampir 600.000 Hadis yang diketahuinya saat itu, ia hanya dapat mencatat 7.397 sebagai asli dari Nabi. Ini adalah pengakuan oleh para penegak Hadits sendiri bahwa setidaknya 98,76%, dari apa yang diyakini orang seolah wahyu kedua setelah Al-qur’an dan sumber sekunder hukum Islam itu, adalah kebohongan murni! (t/n: sekarang, siapakah sebenarnya yang layak disebut ingkar hadits? para penganut hadits sendiri! karena orang2 yang “Qur’an Only” sebenarnya “membantu” mengingkari sisanya, alias cuma 1,24%! 😀 )

Apa yang juga gagal disadari oleh orang-orang adalah bahwa sejarah Hadits itu sendiri telah diabaikan dan diperlakukan seolah-olah hadits itu wahyu yang dituliskan pada zaman Nabi untuk disimpan. Padahal, buku-buku catatan sejarah dan hadits sendiri menunjukkan bahwa ada larangan penulisan Hadits yang diperintahkan oleh Nabi sendiri dan (dari catatan2 itu) dikonfirmasi bahwa pelarangan hadits diketahui berlaku setidaknya hingga hampir 100 tahun setelah Nabi, dan hingga saat ini, tidak ada catatan/bukti tentang pencabutan larangan itu oleh Nabi maupun para sahabat!

Narrated Aisha: My father gathered the ahadith of the Messenger of Allah, and they totaled five hundred, then he spent his night sleeplessly turning on his sides. I thought that he was upset because of someone’s complaint, or because of some news which he had heard. The next morning, he said to me, `Daughter! Bring me the ahadith in your possession,’ so I brought them to him, and he set them on fire.” Then he said: “It is possible that there should be certain things in it which did not correspond textually with what the Prophet had uttered, so I was worried that I die and these ahadith remain with me.

Reference: • See p. 237, Vol. 5, of Kanz al-`Ummal • Refer also to Ibn Kathir’s book Al-Bidaya wal-Nihaya as well as p. 5, Vol. 1, of al-Dhahabi’s Tadhkirat al-Huffaz

Menurut buku sejarah Islam, larangan penulisan “Hadits” baru dicabut sekitar 85 tahun setelah Nabi wafat oleh Umar Bin Abdulaziz (cucu Umar Bin Al-Khatab). Namun sekali lagi, tidak ada sumber/bukti lain atas ini, selain laporan2 dari hadits. Katakanlah sekalipun laporan-laporan itu benar, 85 tahun sudah berlalu, artinya besar kemungkinan TIDAK ADA dari generasi Nabi & sahabat2 dekatnya yang merestui pencabutan larangan tersebut! Faktanya, ironi dari masalah ini adalah bahwa Umar Bin al-Khatab sendiri sangat menentang penulisan tulisan agama apa pun KECUALI Al-qur’an!:

Umar Bin Al-Khatab tercatat mengatakan: ‘Aku hendak menulis hadits (Sun’an), lalu aku ingat orang-orang yang sebelum kalian, mereka menulis buku lain untuk diikuti dan meninggalkan Kitab Allah. Aku bersumpah, tidak akan pernah, mengganti Kitab Allah dengan apapun ‘(HR Jami’ Al-Bayan 1/67)

Khalifah Umar RA membakar dan melarang semua hadits, dan menyerupakannya dengan talmud yahudi.

Seperti yang kami sebutkan sebelumnya, dalam kurun waktu singkat 200 tahun setelah kematian Nabi (hanya 120 tahun sejak yang dianggap “pencabutan larangan”) ada lebih dari 600.000 Hadis beredar pada zaman Bukhari yang semuanya dikaitkan dengan Nabi. Bukhari sendiri mengaku menghabiskan hampir 40 tahun mempelajari Hadits dan hanya bisa memverifikasi rantai penularan dari 1,24% dari total yang Ada! bahkan jika diteliti lebih lanjut, proses inipun murni kebohongan!

Sejarah kritisisme “sains hadits”

Ilmu Hadits katanya dimulai sekitar 100 tahun setelah kematian Nabi Muhammad SAW, meskipun faktanya para Sahabat sendiri dilaporkan melarang/ takut untuk terlibat di dalamnya.

Penerapan kritisisme hadits yang sistematis dimulai dengan Abū ḥanīfa (meninggal 767 M / 150 H). Banyaknya hadits palsu tentang Nabi Muhammad SAW menciptakan situasi di luar kendali, sehingga beberapa ulama ingin memverifikasi hadits mana yang sah dan mana yang tidak, untuk mencoba dan menghindari penyebaran informasi yang salah.

Menurut cendekiawan Daniel Brown, kritisisme terhadap ilmu hadits ini mulai marak pada abad kedua Islam ketika Al-Syafii (767–820 A.D.) menetapkan otoritas final dari posisi “hadits Nabi Muhammad” dalam hukum Islam.

Sebuah kelompok penentang yang dikenal sebagai Ahl al-Kalam mengkritik metode para tradisionalis dan hasil kerja mereka. Mereka meragukan keandalan transmisi hadits, termasuk evaluasi tradisionalis terhadap “kualitas keandalan perawi” hadits yang mereka anggap “murni sewenang-wenang”, dan menganggap kumpulan hadits dipenuhi dengan “hal2 kontradiktif, menghujat/menista, dan tradisi2 yang absurd.”

Source: Brown, Daniel W. (1996). Rethinking tradition in modern Islamic thought. Cambridge University Press. p. 10. ISBN 978-0521570770. Retrieved 10 May 2018.

Kemudian, kelompok penolak Hadits lain yang dikenal sebagai Mu’tazilah muncul (yang berkembang di Basra dan Baghdad pada abad ke-8-10 M). Mereka juga memandang transmisi “sunnah Nabi” sebagai tidak cukup dapat diandalkan. Dan itu adalah pandangan mereka bahwa Hadits hanyalah tebakan dan prasangka, sedangkan Alquran lengkap dan sempurna, dan tidak membutuhkan Hadits atau kitab lain untuk suplemen atau melengkapinya.

Menurut Racha El Omari, kaum Mutazilah awal percaya bahwa hadits rentan terhadap “penyalahgunaan sebagai alat ideologis polemik”; sehingga matan (isi) hadits – bukan hanya isnad (rantai transmisi/otoritasnya) – mesti benar-benar diteliti/disaring untuk doktrin dan kejelasan; bahwa agar hadits menjadi valid, mereka harus “didukung oleh beberapa bentuk tawātur.” Tawātur (Arab: تواتر) adalah istilah dalam ilmu hadits dan ushul al-fiqh), yang digunakan ketika sebuah narasi dilaporkan secara banyak oleh perawi yang berbeda dan melalui berbagai rantai transmisi, dengan cara yang mendukung keasliannya. Laporan seperti itu disebut mutawatir.

Salah satu Mu’tazilite yang mengungkapkan pernyataan skeptisisme terkuat atas sumber pengetahuan apapun di luar nalar/akal sehat dan Al-Qur’an adalah Ibrahim an-Nazzam (c. 775 – c. 845). Baginya, baik narasi/laporan dengan rantai transmisi tunggal maupun mutawātir tidak dapat dipercaya untuk menghasilkan ilmu.

Dia menelusuri hadits yang kontradiktif dan memeriksa isi yang berbeda (matan) untuk menunjukkan mengapa mereka harus ditolak: mereka bersandarkan hanya pada ingatan manusia dan bias2 manusia yang bisa salah, yang tidak dapat dipercaya 100% untuk menyampaikan apa yang benar.

Al-Naẓẓām mendukung sanggahan kuatnya atas keandalan hadits dalam klaim yang lebih besar bahwa hadits hanya beredar dan berkembang untuk mendukung penyebab polemik dari berbagai sekte teologis dan ahli hukum, dan bahwa tidak ada satu pun narator/penyampai yang dengan sendirinya dapat ditahan/dimintai pertanggungjawaban atas kecurigaan mengubah isi dari sebuah hadits. (t/n: katakanlah X tersangkanya, tidak ada seorangpun yang bisa menanyai yang sudah lama wafat atas kebenaran narasi dari X!)

Diantara Ulama-ulama yang memperdebatkan (t/n: otoritas/diberlakukannya ataukah harus ditinggalkannya) hadits2

Al-Nazzam (775–845 M), Ibn Sa’d (784–845 M), Al-Nawawi (1233–1277 M), Ibn Hajar (1372–1449 M), kemudian reformis Syed Ahmed Khan (1817–1898 M) ), Muhammad Iqbal (1877–1938 M); dan cendekiawan dari Barat seperti Ignác Goldziher, Joseph Schacht, dan G.H.A. Juynboll, (dan saat ini Israr Ahmed Khan).

Kebanyakan Hadits berasal dari rantai narasi tunggal, bukan rantai narasi yang banyak

Dalam menulis tentang mutawatir (hadits yang ditransmisikan melalui banyak rantai perawi) dan ahad (hadits dengan rantai tunggal, yaitu hampir semua hadits) dan pentingnya mereka dari sudut pandang ahli teori hukum, Wael Hallaq mencatat ulama abad pertengahan Al-Nawawi (1233– 1277 M) menyatakan bahwa hadits non-mutawatir manapun hanyalah suatu kemungkinan semata dan tidak dapat mencapai tingkat kepastian seperti hadis mutawatir.

Dari Sahih Bukhari saja, kita temukan hadits dengan rantai narasi tunggal sebagai mayoritasnya. Karena hanya 153 hadits (t/n: 2,07% dari total 7370 hadits) saja yang tidak ber-rantai narasi tunggal. (t/n: dan ini termasuk yang ber-rantai narasi 2-3 saja, sehingga dari 2,07% ini tidak semuanya terkategorikan sebagai mutawatir!)

Namun ulama seperti Ibn al-Salah (w. 1245 M), al-Ansari (w. 1707 M), dan Ibn ‘Abd al-Shakur (w. 1810 M) menemukan “tidak lebih dari delapan atau sembilan” saja hadits yang termasuk dalam kategori mutawatir. (t/n: dari seluruh literatur hadits)

Masalah terkait perolehan Hadits:

Bukhari dan orang-orang yang datang setelahnya menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam “penelitian dan penyaringan” Hadits hingga menjadi ilmu tersendiri. Bukhari dengan cepat diikuti oleh Muslim (w. 261/875), Abu Daud (w. 275/888), Tirmidzi (w. 270/883), Ibn Maja (w. 273/886), dan Al-Nasa’I ( d. 303/915) sebagai pengumpul2 yang paling dikenal di bidang ini.

Meskipun mungkin akan menghibur umat Islam yang membaca ini untuk mengetahui bahwa proses perolehan hadits dilakukan oleh para sarjana yang disebutkan di atas, (seiring perintah Qur’an) kita tidak boleh menerimanya begitu saja, kita harus meneliti, untuk mengetahui seperti apa sebenarnya proses mendapatkan hadits ini:

Bukhari mengandalkan seni “Transmisi” yang ditemukan sendiri yang menyatakan bahwa “Hadits” dapat diterima sebagai asli atau ditolak berdasarkan dari SIAPA saja Hadits itu berasal.

Hadis seharusnya adalah ucapan Nabi Muhammad. Nabi Muhammad wafat pada tahun 632 M. Imam Bukhari lahir pada 810 M dan menyelesaikan penyusunan hadits sekitar 846 Masehi. Dengan kata lain, Bukhari menyusun hadits 214 tahun setelah Muhammad wafat. Itu lebih dari 2 abad atau mencakup sekitar 4 generasi (dengan asumsi umur rata-rata adalah 60 tahun seperti usia ketika Muhammad meninggal). Karena Bukhari belum ada ketika Muhammad meninggal, Bukhari mengandalkan untuk menanyakan orang-orang apakah mereka ingat mendengar sesuatu yang dikatakan Muhammad. Karena 214 tahun adalah waktu yang lama, semua hadits didasarkan pada rantai orang yang mengaku mendengar Muhammad mengatakan sesuatu. Dan karena 214 tahun lebih lama dari umur rata-rata (dari berbagai sumber, Muhammad wafat pada rentang usia 60-63 tahun), tidak ada penyampai hadits yang hidup selama masa hidup Nabi Muhammad dan Imam Bukhari sekaligus. Perlu dipertimbangkan juga bahwa 4 generasi tadi menggunakan asumsi usia maksimum (60), jelaslah tidak mungkin andal sebuah skenario penerusan informasi lisan melalui 4 orang yang perbedaan usia diantara tiap narratornya 60 tahun! (t/n: hadits bukhari, muslim, dll yang jumlah narratornya 4 atau kurang karena itu HARUS ditolak karena alasan ini.) Maka It’s safe to say: minimal ada 6-7 penutur diantara Nabi & Bukhari! yang memang demikian adanya, rentang jumlah penutur hadits (kebanyakan) adalah 6-10.

Bayangkan Anda di posisi bukhari, asumsikanlah bahwa perbedaan usia tiap narator 20 tahun. maka paling banter, narasi yang benar-benar bisa “dikonfirmasi” hanya sampai orang F (orang E 60 tahun, F 40 tahun, G 20 tahun), dengan kata lain narasi yang E dapat dari D dan seterusnya tidak dapat benar-benar dicek kevalidannya, (benarkah D meneruskan pada E demikian, benarkah C meneruskan pada D demikian) karena kemungkinan besar D, C, dst mereka sudah meninggal atau sudah terlalu tua untuk ditanyai.

Bukhari mempelajari para sahabat Nabi dan menetapkan bahwa mereka semua dapat dipercaya. Dia kemudian bertanya tentang orang-orang yang datang setelah mereka, dan jika “desas-desus” publik adalah bahwa orang ini atau orang itu punya reputasi baik, maka Bukhari tidak masalah menerima “Hadits” yang diturunkan dari sumber itu.

Untuk mengatasi hambatan “objektivitas” dan fakta bahwa Hadits didasarkan terutama pada “desas-desus”, Bukhari menemukan Hadits2 yang sangat nyaman (yang masih dikutip oleh para ulama Islam) yang memberikan kemampuan manusia super kepada para sahabat Nabi dan semua perawi Hadis, yang menisbatkan kepada mereka kemampuan menghafal secara akurat kata demi kata perkataan Nabi tanpa kehilangan atau distorsi.

Padahal, manusia sangat buruk dalam mengingat dan menyampaikan informasi secara lisan saja. Misalnya, jika seseorang memberi tahu Anda sesuatu minggu lalu, Anda kemungkinan besar tidak dapat mengulangi perkataan yang persis sama kepada saya hari ini. Itu terjadi sepanjang waktu. Dan itu hanya dalam jangka waktu satu minggu. (t/n: Ingat, Qur’an BERBEDA dengan hadits, Qur’an DIJAGA OLEH ALLAH, Qur’an SUDAH DIKOMPILASI DALAM BENTUK BUKU KERTAS SEBELUM NABI WAFAT. QUR’AN SENANTIASA DITULISKAN & DIHAFALKAN oleh banyak orang2 sedari awal https://factszz.wordpress.com/2014/12/24/complete-quran-was-compiled-in-book-form-by-prophet-mohammad-pbuh-under-divine-guidance-and-all-other-compilation-stories-are-concocted-by-persian-pseudo-imams/, sementara kita tahu bahwa setidaknya hingga 80 tahunan, hadits tidak untuk dihafalkan/dilestarikan, bahkan BERLAKU PELARANGAN TULISAN & TRANSMISI HADITS & hadits BARU GENCAR DIKUMPULKAN 200 tahun+ sejak Nabi wafat!)

inilah bagaimana Qur’an dapat terjaga. versi tulisan menjaga versi lisan, begitu juga sebaliknya. Keduanya bertambah (copy/salinan dari Qur’an & jumlah penghafal Qur’an) seiring berjalannya waktu secara eksponensial. Karena itu, upaya penyelewengan sekecil apapun di lisan maupun tulisan, dapat segera terdeteksi sehingga tidak akan berkembang. Proses pemeliharaan ini dilakukan oleh muslimin secara luas/ massal, bukan hanya oleh kalangan “alim” saja. dan tidak pernah berhenti/ berjeda sedari awalnya. Jelas, TIDAK SAMA dengan hadits2 yang selama kurun waktu 80 tahun kebanyakan adalah narasi oral saja, atau lebih tepatnya “chinese whisper”, apalagi selama itu hadits2 & penulisan hadits adalah ILLEGAL/ praktik yang dilarang/ dijauhi oleh Nabi & para sahabat. Hadits2 baru gencar digali di generasi-generasi kemudian, ketika sahabat-sahabat dekat Nabi sudah tiada, alias TIDAK ADA dari mereka yang bisa mengkonfirmasi satu haditspun! Proses “pemeliharan hadits” pun lebih terbatas, yaitu notabene dilakukan oleh kalangan “ulama-ulama hadits” dari masing2 faksi/golongan saja. Karena itulah, kita dapati “hadits-hadits sunni”, “hadits-hadits syi’ah”, dll.

Bayangkanlah Anda menceritakan sebuah cerita kepada seseorang yang meneruskan cerita itu kepada seseorang yang meneruskan cerita itu kepada seseorang yang meneruskan cerita itu dst, semua secara lisan. “Permainan telepon”/chinese whisper selama 200 tahun. Bahkan sekalipun yang terlibat adalah orang-orang yang paling jujur dan bermaksud baik 100%, seberapa jauhkah cerita itu akan menyimpang dari waktu ke waktu?

Berdasarkan logika ini, apakah masuk akal untuk menaruh banyak kepercayaan pada rantai panjang orang-orang yang mengaku mendengar Nabi Muhammad mengatakan sesuatu 214 tahun sebelumnya? Akal sehat akan mengatakan “tidak”. Tetapi, karena islam tradisional adalah tentang “keyakinan”, kebanyakan orang hanya ingin “percaya” bahwa apa yang mereka dengar adalah benar meskipun itu tidak benar, terutama jika mereka telah diajari untuk percaya pada hadits sejak mereka masih kecil.

Bisakah keandalan transmisi hadits-hadits dihitung, terutama probabilitas kebenarannya? Mari modelkan permasalahan ini menggunakan model matematis. Cabang matematika yang relevan untuk itu adalah aritmatika dan probabilitas. Berikut kutipan tulisan & hitungan yg saya dapat dari quora mas razia-sultana (t/n: quote)

https://qph.fs.quoracdn.net/main-qimg-ebf9828c212063651b343e362966d353

Mengingat peluang kebenarannya sangat menyedihkan seperti itu, saya heran kalau Anda masih berani mempertaruhkan keselamatan akhirat Anda pada fenomena chinese whispers ini.

Berikut ini adalah gambaran lain tentang bagaimana pernyataan lisan berjalan dari satu penutur kepada penutur lainnya dalam waktu penyampaian yang singkat saja (hanya satu-dua hari) di lingkungan para penutur yang berdekatan secara fisik (satu lokasi kantor), dikutip dari KapanLagi.com: Pesan Direktur.

Dari: Direktur
Kepada: General Manajer
“Besok akan ada gerhana matahari total pada jam sembilan pagi. Ini adalah kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari. Untuk menyambut dan melihat peristiwa langka ini, seluruh karyawan diminta untuk berkumpul di lapangan dengan berpakaian rapi. Saya akan menjelaskan fenomena alam ini kepada mereka. Bila hari hujan, dan kita tidak bisa melihatnya dengan jelas, kita berkumpul di kantin saja.”

Dari: General Manager
Kepada: Manager
“Sesuai dengan perintah Direktur, besok pada jam sembilan pagi akan ada gerhana matahari total. Bila hari hujan, kita tidak bisa berkumpul di lapangan untuk melihatnya dengan berpakaian rapi. Dengan demikian, peristiwa hilangnya matahari ini akan dijelaskan oleh Direktur di kantin. Ini adalah kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari.”

Dari: Manager
Kepada: Supervisor
“Sesuai dengan perintah Direktur, besok kita akan mengikuti peristiwa hilangnya matahari di kantin pada jam sembilan pagi dengan berpakaian rapi. Direktur akan menjelaskan apakah besok akan hujan atau tidak. Ini adalah kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari.”

Dari: Supervisor
Kepada: Koordinator
“Jika besok turun hujan di kantin, kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari, Direktur, dengan berpakaian rapi, akan menghilang jam sembilan pagi.”

Dari: Koordinator
Kepada: Semua Staff
“Besok pagi, pada jam sembilan, Direktur akan menghilang. Sayang sekali, kita tidak bisa melihatnya setiap hari.”

Sangat mungkin — Anda yang beriman pada kisah-kisah para Imam Persia — sebenarnya sedang tertipu oleh para “Koordinator” seperti “hadits Direktur” di atas.

Kembali ke probabilitas, mengingat ada rentang waktu sangat lama — ratusan tahun — dan rentang geografis sangat jauh — ribuan kilometer jarak Arab ke Bukhara di Persia — dari Nabi Muhammad kepada Bukhari, cukup wajar untuk mengasumsikan nilai retensi R di angka 70% saja. Kita lihat hasilnya:

https://qph.fs.quoracdn.net/main-qimg-6886c8a4e9ce5b177f2bdaaf339ea645

Praktis, hadits-hadits itu ternyata peluang kebenarannya mendekati nol, alias hanya sekumpulan omong kosong.

Inilah heat-map untuk peluang kebenaran P(n) dari sebuah hadits Persia berdasarkan tingkat retensi R dan jumlah penutur n dalam rantai kabar burung yang menjadi objek penyelidikan kita. Titik tengah warna kuning saya tetapkan di angka 50%. Ternyata hasilnya menunjukkan “raport yang kebakaran”

Tentang crosscheck, jika crosscheck yang dimaksud adalah kabar serupa dari berbagai sanad atau rantai kabar berbeda, dari imam2 persia penulis hadits lain seperti Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, atau Ibnu Majah, karena hukum probabilitas atas peluang dua atau lebih kejadian benar secara sekaligus, adalah hasil perkalian (bukan penjumlahan) dari probabilitas masing-masing kejadian, dan karena P(Bukhari)<100% dan P(Muslim)<100% dan P(AbuDawud)<100% dan P(Tirmidzi)<100% dan P(Nasai)<100% dan P(IbnuMajah)<100%, maka perkalian manapun dari kombinasi peluang kebenaran dari hadits 6 orang tsb. akan menghasilkan P(kombinasikolektif) lebih kecil daripada P(individu).

Kita tahu secara intuitif, sebuah kabar burung tidak mungkin memperkuat kabar burung lainnya; sebuah kabar burung hanya memperburuk kredibilitas kabar burung lainnya.

Dengan demikian, semakin banyak sanad buat sebuah kabar burung — meskipun kabar burung itu diberi judul “hadits Nabi” — akan semakin memperkecil peluang kebenaran kabar tsb., karena semakin banyak klaim yang harus dibuktikan validitasnya.

Sebuah kabar burung hanya bisa dipastikan kebenarannya ketika ada kesaksian dari penutur pertamanya, dalam hal ini, harus ada kesaksian dari Nabi sendiri untuk menyatakan sebuah hadits yang mengatasnamakan Beliau itu benar. Sayangnya, sejak awal hadits-hadits Persia itu dituliskan, Nabi sudah ratusan tahun wafat dan mustahil dimintai kesaksiannya untuk mengizinkan dan mengotorisasi penulisan kisah-kisah lisan word of mouth yang mengatasnamakan Beliau itu.

Tetapi memang banyak manusia tertipu dalam kebohongan yang diulang-ulang, yaitu ketika kebohongan semakin sering diulang, kebohongan itu semakin mudah diterima sebagai kebenaran.

“Fake it till you make it.”

Fenomena ilusif seperti itulah yang dimanfaatkan Iblis dalam proses menipu kebanyakan manusia yang hanya mengikuti perasaan dan malah mengabaikan akal kritis. (t/n: endquote dari tulisan mas razia-sultana)

Diantara cela/ kecacatan2 fatal lain “sains/ilmu hadits”

Bagi banyak kritikus, kontradiksi hadits dengan hukum2 alamiah/universal dan dengan hadits2 lainnya menunjukkan bahwa para ilmuwan hadits tradisional (muhaddithin) telah gagal menyisihkan semua hadits2 palsu dan karena itu pasti ada yang salah dengan metode mereka.

Penjelasan mengapa hal (kontradiksi2) ini terjadi, dikategorikan sebagai bentuk neglect/pengabaian isi hadits (matan) oleh muhaddithin demi memfokuskan pada evaluasi rantai / isnad hadits. Tapi ini tidak berarti para kritikus menerima evaluasi tradisionalis atas rantai transmisi hadits dengan pengetahuan yang seharusnya tentang karakter dan kapasitas perawi yang dilaporkan, yang menjadi fokus para ilmuwan. Bagaimana mungkin studi tentang karakter perawi (ʿilm al-rijāl) menjadi ilmu eksakta ketika “cukup sulit untuk menilai secara tepat karakter orang-orang yang masih hidup, apalagi yang sudah lama meninggal”?

Informasi tentang narrator/perawi sangat langka dan sering kali bertentangan. Orang munafik bisa jadi sangat pintar (t/n: membangun narasi2 palsu maupun reputasi2 palsu). Tidak ada “jaminan bahwa semua informasi yang relevan” telah dikumpulkan, dan jika hadits dapat dipalsukan, bukankah laporan sejarah tentang perawi juga dapat?

Begitu juga, jika isi (matn) sebuah hadits bisa dipalsukan, mengapa tidak bisa juga rantai perawi — isnadnya? Ini adalah masalah yang telah “diabaikan sepenuhnya” oleh para ilmuwan hadits tradisional dan “mungkin tantangan yang paling serius dari semuanya” terhadap kritik hadits klasik. Bagaimanakah sebuah hadits dapat dinilai/dijudge “reliabel/dapat diandalkan” berdasarkan rantai transmisinya, ketika kita tahu bahwa pemalsu biasanya memalsukan rantai ini “untuk menyembunyikan pemalsuan mereka?” Bagaimanapun, ada insentif kuat bagi para pemalsu “untuk mengaitkan informasi seseorang” kepada otoritas yang paling dihormati.

Menurut Bernard Lewis, “di abad-abad awal Islam, tidak ada cara yang lebih baik untuk mempromosikan suatu cause/kepentingan, pendapat, atau faksi/golongan tertentu selain mengutip/mengaitkannya dengan tindakan atau ucapan Nabi yang sesuai.” Ini memberi dorongan kuat untuk mengarang hadits.

Lewis, Bernard (2011). The End of Modern History in the Middle East. Hoover Institution Press. pp. 79–80. ISBN 9780817912963. Retrieved 28 March 2018.

Alat utama studi hadits ortodoks ʻilm al-ḥadīth untuk memverifikasi keaslian hadits adalah isnad (rantai) hadits dari perawi. Tetapi dalam kumpulan hadits2 tertua (yang memiliki lebih sedikit kesempatan/kemungkinan untuk dirusak oleh ingatan atau manipulasi yang salah) isnadnya adalah “rudimentary/belum sempurna”, sedangkan isnad yang ditemukan dalam kumpulan hadits2 “klasik”/yang muncul kemudian, biasanya “sempurna,” menunjukkan bahwa korelasi antara Isnad yang dianggap berkualitas tinggi dengan keotentikan hadits, tidak baik.

Sebagai contoh, jika hal-hal sebelumnya lebih sederhana dan lebih mendasar, dan hal-hal selanjutnya jauh lebih rumit dan tiba-tiba memiliki detail baru yang tidak ada sebelumnya, ini menunjukkan penyelewengan dan penambahan2 detail yang awalnya tidak ada di sana. Misalnya, jika saya memberi tahu putra saya sebuah cerita yang mengatakan, “Saya pergi ke toko.” Dan kemudian cucu lelaki saya bercerita tentang saya, “saya pergi ke toko, ke kebun binatang, dan kemudian potong rambut.” Ini akan menjadi penyelewengan yang jelas, menambahkan detail yang tidak ada dalam narasi aslinya.

(t/n: inilah sebagai salah satu “ilustrasi” dari kutipan artikel tersebut. ini adalah hadits yang sama tentang puasa, yang sama-sama mengakar/ diriwayatkan dari jalur abu salih yang mendengar dari abu hurairah. Yang pertama adalah hadits di musnad ibn hanbal, (yang diduga lebih awal menulis hadits), sementara setelahnya adalah hadits di sahih muslim, sehingga wajarlah bila sanadnya lebih lengkap. Sementara ini kita abaikan saja sanad keduanya dan anggaplah semua perawinya handal/terpercaya. Akan tetapi, mengapakah matan (isi) dari hadits di sahih muslim menjadi lebih banyak dan detail daripada hadits yang lebih tua? silahkan, Anda juga bisa bermain: “cari perbedaan” seperti ini di banyak hadits2 lainnya!)

Kontroversi di sekitar Abu Hurairah & Imam Bukhari

Menurut cendekiawan Muslim Islam Jonathan A.C. Brown, cendekiawan Mesir abad ke-20 Mahmoud Abu Rayya mencatat masalah transmisi hadits dari para sahabat Nabi yang diduga andal. Seorang Abu Hurairah, yang mana baru bergabung dengan komunitas Muslim hanya tiga tahun sebelum kematian Nabi (yaitu ketika komunitas itu meraih kemenangan-demi kemenangan) namun merupakan penyampai hadits “paling produktif” dari antara para sahabat, meneruskan ribuan hadits yang “diklaimnya” dia mendengar Nabi mengatakan begini-begitu — jauh lebih banyak hadits2nya daripada seluruh sahabat2 dekat yang telah bersama Muhammad sejak awal. Abu Rayya dan yang lainnya berpikir bahwa sangat tidak mungkin Abu Hurairah bisa mendengar ribuan hadits yang diklaimnya itu, atau bahwa dia mempelajari detail ritual dan hukum2 untuk menghindari makna hadits yang rusak, dari yang dia laporkan (t/n: Abu hurairah di kitab2 hadits paling populer, melaporkan 5000+ hadits, Aisyah “katanya” melaporkan 2000+ hadits, dan semua sahabat2 Nabi lainnya, masing-masing mereka “katanya” melaporkan hanya kurang dari 600 hadits!).

(t/n: Perbandingan jumlah hadits2 yang “katanya” diriwayatkan oleh 6 sahabat Nabi, vs hadits2 yang diriwayatkan Abu hurairah! )
Dalam kitab sahih muslim, 68%nya adalah hadits yang diturunkan oleh abu hurairah!

Ada juga pertanyaan tentang Abu Hurairah, sejak ia digulingkan sebagai Gubernur Bahrain karena mencuri kuda. (t/n: di bawah ini tulisan menarik tentang abu hurairah & pemalsuan-pemalsuan hadits di sepanjang sejarah islam (bhs inggris))

Abu Hurairah & pemalsuan hadits

Khalifah ʿUmar melarang transmisi hadits karena masalah pemalsuan “telah menjadi begitu serius”. Selama dinasti Umayyah, pemalsuan hadits yang menyerang musuh mereka, -Ali- dan mendukung pendiri dinasti, -Muʿāwiyah- disponsori oleh negara. Dinasti Abbāsid berikutnya mengedarkan hadits yang meramalkan “pemerintahan setiap penguasa berturut-turut”. Bahkan para alim tradisionalis yang tugasnya menyaring hadits2 palsu, mengedarkan hadits palsu untuk tujuan yang mereka anggap layak.

Identitas Abu Hurairah yang meragukan

Abu Hurairah terutama dikenal dengan julukannya (t/n: abu hurairah=bapaknya kucing) dan bukan dengan nama aslinya atau keanggotaan keluarganya seperti tradisi arab. Bahkan asal usul nama panggilannya tidak jelas karena Abu Hurairha sendiri mengusulkan 2 penjelasan berbeda untuk itu:

Dia mengatakan, di satu sisi, bahwa keluarganya dipanggil dengan julukan ini karena ketika dia masih muda dia biasa bermain dengan kucing kecil bernama Huraira , dan di sisi lain, dia mengatakan bahwa Nabi Muhammad menghubungkannya dengan julukan ini karena Nabi memiliki seekor kucing kecil dan dia (Abu Hurairah) merawatnya.

Singkatnya, Abu Huraira tidak dikenal dengan nama aslinya, baik sebelum kedatangannya ke Madinah maupun sesudahnya. Sejarawan dan penulis biografi tidak pernah sependapat pada nama aslinya dan nama ayahnya.

An-Nawawi memilih di antara 30 kemungkinan yang berbeda Abd al-Rahman bin Sakhr Ad-Dawsi sebagai nama yang masuk akal untuk Abu Huraira . Ibn Hajar Al Askalany menyebutkan dalam bukunya Al Issabah Fi Tamyize As-Sahabah, 44 nama yang berbeda untuk Abu Huraira !

Di benang yang sama, penulis biografi Ad-Dahbi tercantum dalam bukunya Siyar Aâlam An-Nubala mencantumkan puluhan nama potensial untuk Abu Huraira, seperti Ibn Ghaname atau Abd Chamse atau Sakine atau Amer atau Abu Al Assowad … dll.

Dalam bukunya ” Pria di sekitar Nabi “, penulis biografi Khalid Muhammad Khalid berasumsi bahwa Abu Huraira bernama Abdelchams yang berarti « penyembah matahari »! Satu-satunya informasi yang ditegaskan oleh para penulis biografi adalah ibunya bernama Oumaymah binti Sabih .

Bagaimana mungkin para penulis biografi mengabaikan nama ayahnya tetapi tampaknya yakin tentang nama ibunya? Bagaimana kita bisa menjelaskan keberadaan begitu banyak versi dari nama asli Abu Huraira ? Jelas, ada kebingungan nyata tentang nama aslinya bahkan selama masa hidup Nabi, yang cenderung membuktikan bahwa Abu Huraira memiliki sesuatu yang disembunyikan karena ia tidak pernah mengungkapkan nama aslinya kepada siapa pun.

Para penulis biografi juga mengabaikan tanggal kelahiran dan aktivitasnya sebelum kedatangannya ke Madinah, ketika dia masih di Yaman, negara asalnya! Satu-satunya informasi yang kita miliki tentang dia adalah apa yang dia katakan pada dirinya sendiri tentang kehidupan sebelumnya: Semua kesengsaraan yang dia alami, hidupnya sebagai anak yatim. Tidak ada orang lain yang mengenalnya mampu memberikan informasi lebih lanjut tentang dia, atau untuk menguatkan apa yang dia ungkapkan tentang riwayat hidupnya. Singkatnya tidak ada informasi yang dapat dipercaya tentang identitas Abu Huraira , sepanjang hidupnya ia menjaga kerahasiaan tentang asal-usulnya.

“Il était une fois un inféodé sur le chemin de Damas, Histoire de Abou Hourayra”, Mohamed Louizi

namanya diperdebatkan di kalangan ulama-ulama muslim.
masih belum jelas nama aslinya. Abu Hurairah menghabiskan kira-kira (hanya) 2 tahun 3 bulan bersama Nabi Muhammad. dia menarasikan setidaknya 5374 hadits.

(t/n: Lebih banyak lagi tentang abu hurairah (bahasa inggris: https://factszz.wordpress.com/2014/07/31/biograpgy-of-abu-hurairah-ra-the-biggest-contributer-of-hadith-books/ berikut sedikit tentang abu hurairah (bahasanya memang agak kasar. memang dari sananya. saya hanya menerjemahkan) (quote):

Tolong catat: Author dari web kami (t/n: tim factszz) hanya muslim sesuai QS 22:78 dan tidak mengikuti sekte jahat apapun. Kami bukanlah Syiah maupun Sunni. Qur’an melarang golongan-golongan/sekte di banyak ayatnya.
Tertulis di Tabaqat Ibn S’ad dan juga oleh Ibn Hajar Asqalani di Asaba bahwa Khalifah Umar mengatakan kepada Abu Hurairah bahwa: “Ketika aku akan menjadikanmu gubernur Bahrain, kamu bahkan tidak punya sepatu di kakimu, tapi sekarang kamu membeli kuda seharga 1600 dinar. Bagaimana kamu mengumpulkan kekayaan sebanyak ini?” dia menjawab “ini adalah pemberian orang-orang yang kemudian (kuda ini) menghasilkan untung berlipat-lipat” Wajah khalifah menjadi merah, murka, dan dia mencambuknya (Abu Hurairah) sangat keras sehingga punggungnya berdarah. Dia kemudian memerintahkan supaya 10.000 dinar yang telah Abu Hurairah kumpulkan di Bahrain diambil darinya, dan ditempatkan ke akun Baitul-Mal”

Apa yang khalifah Umar RA katakan tentang Abu Hurairah?
Laporan2 yang diberikan dibawah memberitahu kita: Khalifah Umar RA menyatakan Abu Hurairah sebagai musuh Allah, musuh Islam, dan musuh Qur’an. Dia juga menyatakannya sebagai pencuri besar dan Kha’in ? yang mencuri ribuan dinar dari treasury/kekayaan negara Islam. Khalifah Umar juga memukulnya.
Abu Hurairah adalah narrator hadits terbesar. Haruskah kita menaruh kepercayaan kita pada hadits2 yang dinarasikannya! Anda yang menentukan.
Laporan berikut dari salah satu buku-buku yang paling tua dan paling reliabel “Tabaqat Ibn Sa’ad”, yang juga dipercayai oleh semua sekte-sekte pengikut hadits, Mullah2, Imam2, dan ulama2 palsu.
Ibn Sa’ad (810-870M) salah satu taghut terbesar oleh sekte Sunni. Lahir sebelum Bukhari.
catatan atas perkataan Abu hurairah sendiri: “aku tidak bisa menarasikan hadits Nabi, hingga hari wafatnya khalifah Umar RA.”
Abu Hurairah mengatakan: Jika aku menarasikan hadits di zaman khalifah Umar RA; dia mungkin akan mematahkan kepala/leherku” (poinnya: Hadits itu ILLEGAL)
Ibn Katsir – bidayah wal nihayah
“Abu Hurairah mencampurkan perkataan rabbi Yahudi Ka’ab al-Ahbar dengan perkataan Nabi Muhammad”: kata Imam Muslim, author dari kitab sahih muslim, di salah satu bukunya (kitab tamayeez)
“Bakeer bin Ash’aj menarasikan dari Busar bin Sa’id: “Takutlah pada Allah dan hati-hatilah terhadap hadits. Saya bersumpah atas nama Allah bahwa kami melihat Abu Hurairah duduk diantara orang-orang, dan memberitahu mereka hadits dari rasulullah, dan haditsnya Ka’ab. Setelah mereka pergi, saya temukan bahwa sebagian mereka yang duduk disana menjadikan apa-apa yang Ka’aab katakan sebagai hadits rasulullah dan apa yang rasululullah katakan sebagai haditsnya Ka’ab.” (Catatan: Ka’ab al-Ahbar adalah Rabbi Yahudi yang “katanya” masuk Islam di zaman khalifah Umar RA, tapi faktanya dia adalah raja pemalsu hadits, seorang munafik)
laporan yang sama di Tarikh Damsyiq-nya Ibn Asakir.
Catatan kami: hati nurani haditser telah mati. Mereka adalah makhluk yang paling tidak tahu malu dan tak punya hati nurani dibawah langit ini. Mereka tidak akan percaya bahkan pada 1+1=2. Di banyak kitab-kitab yang diikuti para ahli hadits: kami menemukan laporan-laporan: bahwa didepan orang-orang Abu Hurairah mencampurkan perkataan Nabi dengan perkataan rabbi yahudi Ka’ab al-Ahbar. Dan di halaman ini kami juga telah memposting laporan dari Kitab-kitab TOP mereka seperti Dzahabi, Ibn Katsir, Ibn Asakir dan dari Tamayeez-nya Muslim, tapi para ahli hadits tidak siap menerima laporan-laporan ini di buku-buku mereka sendiri, karena laporan ini membakar dogma palsu hadits-isme mereka. Salah seorang ulama besar mereka dalam bukunya, lari dari laporan ini dengan menulis “di semua laporan2 itu, nama Abu Hurairah muncul tetapi itu harusnya Abu Hurra”. Jadi Dzahabi, Ibn Katsir, Imam Muslim dan Ibn Asakir, semua yang menulis “itu Abu Hurairah” itu bodoh, sementara ulama ini hari ini yang menulis Abu Hurairah sebagai Abu Hurra adalah bijak! Anda lihat haditser ini adalah pembohong ulung terbesar dibawah langit. Ketidaktahumaluan dari haditser jahil dan keraskepala ini diluar segala batas.
laporan yang sama di Fathul bari – kitab syarah sahih bukhari.
Catatan kami: perhatikan, Ibn Hajar adalah orang (ulama mesir) yang pertama kali menyatukan gosip2/kabar angin kompilasi Bukhari dalam buku utuh, -800 tahun setelah wafatnya Nabi. Ibn Hajar, yang adalah salah satu taghut terbesar sekte sunni. Karya terkenalnya disebut “Fathul Bari Syarah Sahih Bukhari” Hadits dari kitabnya Ibn Hajar yang kami post diatas tidak muncul di semua volume2 buku yang sama yang dipublish Saudi Arabia dalam brand edisi salafi. Karena, hadits yang dipost diatas membakar dogma palsu haditsisme, karena itu; Kepala ulama2 Saudi Ibn Baz, mengeluarkan hadits ini dari buku asli Ibn Hajar. Ini adalah 100% tampering/tahreef (t/n: penggelapan) atas bukunya Ibn Hajar. Tetapi kami mengambil hadits yang dipost diatas dari kitab originalnya Ibn Hajar, yang tidak dipublish dibawah percetakannya Ibn Baz. dia ini Ibn Baz yang sama, yang pada 1970, memberi fatwa bahwa “siapapun yang percaya bahwa bumi bergerak mengelilingi matahari, atau bahwa manusiaa telah mendarat di bulan adalah kafir, dan istrinya secara otomatis telah bercerai dengannya. Adalah haram menikah/menikahkan pada keluarganya, minum air dari rumahnya, shalat di belakangnya, atau menghadiri shalat jenazah atasnya” (Ref. “Criminals of Islam” oleh Dr. Shabbir Ahmed M.D.)
Kita temukan laporan ini di Mustadrak (di kitab-kitab lain juga) yang juga dikonfirmasi oleh Dzahabi sebagai Sahih:
“Aisyah RA bertanya pada Abu Hurairah:
“Apa ini semua hadits2 yang mencapai kami yang mana kamu memberitahu orang-orang bahwa Nabi berkata seperti itu? Apakah kamu mendengarkan hal-hal apapun yang kami tidak pernah mendengarnya, atau melihat apapun (perbuatan Nabi) yang kami tidak melihatnya?”
(dalam nada yang kasar dan tidak sopan) Abu Hurairah menjawab Aisyah RA dengan kata2 ini: “Bu, cermin dan berhias telah mengalihkanmu dari hadits rasulullah, akan tetapi aku tidak tersibukkan dengan apapun””

Orang-orang Yahudi, ratusan tahun setelah wafatnya Musa menciptakan Mishnah (hadits, ucapan) dan Gemarrah (sunnah, Tindakan) dan menjunjung tinggi mereka dan hukum yang ditemukan di dalamnya daripada TORAH (firman Tuhan yang diturunkan). Di kota Nicene 300 tahun setelah kematian Yesus/Isa, konsep Trinitas DIBUAT, dan sekarang menjadi sumber utama kepercayaan Kristen yang menyimpang dari Injil yang memerintahkan penyembahan mutlak kepada Tuhan saja. Kaum Muslimin 150-200 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad MENCIPTAKAN sumber lain dari agama mereka disamping Alquran: “Hadits dan Sunnah”, yang secara salah diatribusikan pada Nabi Muhammad, dan bertentangan dengan Alquran. Saat ini kebanyakan Muslim telah membuang Quran demi Hadits dan Sunnah.

Sebagian orang menyanggah bahwa semua argumen kami tidak valid, bahwa kami tidak bisa mengutip hadits jika kami menolak hadits. Itu sanggahan yang kekanak-kanakan, bodoh & tidak berbobot sedikitpun. Hanya Alquran Suci yang dilindungi oleh Tuhan 15:9, 17:88, 41:42 . dan sebenarnya Qur’an lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa “Hadits dan Sunnah” ekstra-Qurani adalah illegal dalam Islam. Hanya tujuh ayat Alquran ini 5:44, 6:114, 10:15, 16:116, 6:19, 29:51, 25:30 membakar seluruh bangunan Sekte Haditsisme palsu islam tradisional. Tetapi karena Sektarian Jaahil tidak ingin percaya pada Qur’an saja & memilih menggunakan sumber2 manmade untuk memahami Qur’an, mereka tidak akan memahami Alquran secara keseluruhan sepanjang hidupnya atau bahkan tidak punya keinginan untuk memahami Alquran dengan pikiran yang jujur ​​yang tidak bias; karena itu; kami menyajikan referensi2 dari buku-buku ekstra-Qurani mereka sendiri, untuk menunjukkan bahwa: bahkan buku ekstra-Quran mereka sendiri mengatakan bahwa Hadits2 mereka itu penyimpangan & illegal dalam Islam. Ini seperti memukul kepala kosong mereka dengan sepatu mereka sendiri. (endquote dari tulisan di factszz.wordpress.com))

Klaim yang luarbiasa juga ditemukan di Bukhari

tidak hanya Abu Hurairah yang klaim-klaim pencapaiannya “mencolok”, seakan dia adalah seorang manusia super. Jika kita tidak begitu saja menelan klaim2 dari Bukhari, tetapi memperhitungkannya dengan seksama, terlihat jelas bahwa yang dia klaim: telah menghafalkan 600.000 lebih hadits dari lebih dari 1000 orang, (t/n: dia menemukan 1000+ orang yang masing2 tahu 500-600 hadits ??) dalam waktu 16 tahun saja, dapat dikatakan suatu kemustahilan! (t/n: katakanlah dibutuhkan 1 tahun untuk A, seorang penghafal Qur’an terbaik menghafalkan Qur’an yang 6000+ ayat, akan diperlukan 96 tahun bagi A untuk menghafalkan 600.000 hadits!)

Bukhari pernah dipenjara oleh ulama-ulama pada masanya

Muḥammad ibn Ismā’īl al-Bukhārī (Persia: بخاری,) (21 Juli 810 – 1 September 870)

sangat dihormati oleh Muslim Sunni karena mengumpulkan koleksi hadits yang dianggap paling otentik. Ia menyelesaikan koleksinya sekitar 846 M, lebih dari 200 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Kebanyakan Sunni mengatakan kepada kita bahwa Bukhari adalah orang yang sangat dipuji dan dihormati pada masanya.

Namun, tidak banyak yang tahu bahwa dia pernah dipenjara dan kemudian diusir keluar kota oleh ulama2 Hadits pada masanya. Ini karena dia mendakwahkan bahwa recitation/qiraat Al-Qur’an itu dibuat seseorang, sedangkan Al-Qur’an itu sendiri tidak diciptakan.

Bukhari juga mengkhotbahkan doktrin predestinasi/ menolak konsep Qadar (mirip dengan Calvinisme). Ini adalah doktrin bahwa semua tindakan seseorang dikendalikan oleh Tuhan dan hanya Tuhan. Menurut Ibn Hajar, Bukhari mengartikan bahwa jika seseorang menerima otonomi dalam menciptakan tindakannya, dia akan dianggap memainkan peran Tuhan dan kemudian akan dinyatakan sebagai politeis.

Jadi Bukhari berkhotbah menentang “freewill”/ kehendak bebas dan tanggung jawab individu, sebuah konsep yang sangat dipromosikan Alquran. (3:182), (18:29).

Wahab, Muhammad Rashidi, and Syed Hadzrullathfi Syed Omar. “Peringkat Pemikiran Imam al-Ash’ari Dalam Akidah.” International Journal of Islamic Thought 3 (2013): 58-70. “Disebabkan itu, al- Bukhari dalam kebanyakan perkara berkaitan dengan persoalan akidah dikatakan akan mengambil pendapat Ibn Kullab dan al-Karabisi(al-‘Asqalani 2001: 1/293)”

Azmi, Ahmad Sanusi. “Ahl al-Hadith Methodologies on Qur’anic Discourses in the Ninth Century: A Comparative Analysis of Ibn Hanbal and al-Bukhari.” Online Journal of Research in Islamic Studies 4.1 (2017): 17-26.

Diantara hadits2 Sahih yang berkontradiksi serius dengan Qur’an

50 Horrific Hadiths 

Paling sering ketika ex-muslim mengutip alasan mereka meninggalkan Islam, mereka mengutip beberapa hadits otentik/sahih yang mengerikan yang mereka baca, seperti hadits di mana Muhammad SAW menyuruh orang untuk minum air kencing unta (impor dari Zoroastrianisme) atau ketika Muhammad SAW merajam/melempari batu seekor monyet hingga mati

Sahih hadith menyatakan bahwa perzinahan harus dihukum dengan hukuman rajam.

Reference: Sahih al-Bukhari 7543
In-book reference: Book 97, Hadith 168
USC-MSA web (English) reference: Vol. 9, Book 93, Hadith 633

Qur’an menentukan satu hukuman yang jelas atas perzinahan, yaitu hukuman cambuk. 24:2

Hadits “Sahih” memerintahkan hukuman mati bagi orang yang murtad

Some Zanadiqa (atheists) were brought to `Ali and he burnt them. The news of this event, reached Ibn `Abbas who said, “If I had been in his place, I would not have burnt them, as Allah’s Messenger forbade it, saying, ‘Do not punish anybody with Allah’s punishment (fire).’ I would have killed them according to the statement of Allah’s Messenger, ‘Whoever changed his Islamic religion, then kill him.’”

Reference: Sahih al-Bukhari 6922
In-book reference: Book 88, Hadith 5
USC-MSA web (English) reference: Vol. 9, Book 84, Hadith 57

Sementara Qur’an berulangkali dalam pernyataan berbeda menekankan bahwa tidak ada paksaan dalam agama (2:256)

Doktrin palsu abbrogation/nasakh-mansukh

Salah satu cara yang digunakan para ulama hadits untuk membuat beberapa hadits mereka yang kontradiktif lebih “legitimate/sah” daripada Alquran adalah melalui prinsip abrogasi. Mereka mengatakan bahwa ayat-ayat yang diwahyukan belakangan membatalkan ayat-ayat yang diwahyukan sebelumnya. Ayat berikut digunakan untuk mempromosikan prinsip abrogasi ini.

“We do not abrogate a verse or cause it to be forgotten except that We bring forth [one] better than it or similar to it. Do you not know that Allah is over all things competent (2:106)?” 

Quran-Islam.org memiliki respon yang bagus untuk ini. Kata yang diterjemahkan menjadi “verse/ayat” di sini dapat juga berarti “signs/tanda.” Jadi ayat terkait itu sebenarnya bisa mengatakan:

Whichever ‘ayat’ (tanda-tanda/mukjizat) We instate or cause to be forgotten, We replace it with that which is better than it or similar to it. Did you not know that God is Capable of all things? (2:106)

Gagasan/pandangan bahwa ayat-ayat Alquran dapat membatalkan dirinya sendiri juga berkontradiksi dengan ayat-ayat lain berikut ini:

A.L.R. A Book whose verses have been perfected. 11:1 (word by word grammar and Arabic of verse)
There is no changing the Words of God. 10:64  (word by word grammar and Arabic of verse)

Bagaimana mungkin Alquran bisa menjadi Kitab yang sempurna dan firman Tuhan yang tidak berubah, jika ayatnya berubah-ubah/saling membatalkan hanya dalam periode singkat kenabian Muhammad SAW (sekitar 22 tahun)?

Hadits, perkataan Nabi atau kalimat/firman Tuhan?

Setelah kita teliti panjang lebar, meskipun metode transmisi hadits itu jelas2 tidak ilmiah & tidak objektif samasekali bagi kebanyakan orang, faktanya memang itulah metode yang digunakan bukhari&co untuk mendapatkan “sumber kedua” dari hukum Islam itu!

Beberapa hadits isinya perkataan/firman Tuhan sendiri! (t/n: sebagian orang akan menyangkal ini, tapi realitanya benar-benar ada sebagian hadits yang berisikan atribusi kepada Allah, benar-benar ada kata “Allah berfirman: .. (insert bukan ayat Qur’an here/ bahkan seringkali bertentangan dengan ayat Qur’an!)..” di dalamnya. (contoh) ) dengan kata lain, alih-alih Nabi mengkomunikasikan “sunnahnya” kepada orang A, sanad/ rantai transmisi hadits tersebut dianggap berawal dari kalimat2 Tuhan sendiri diluar Kitab Allah!? (kontradiksi dengan 6:115?)

God ⟶ Prophet ⟶ Person A⟶ B ⟶ C ⟶ D ⟶ E ⟶ F ⟶ X ⟶ Hadith compiler

Dengan cara ini, hadits2 ini diposisikan oleh Muslim sebagai “firman” diluar Qur’an! Apa yang tidak disadari oleh kebanyakan muslim adalah bahwa hadits2 qudsi ini memiliki masalah yang sama atas keotentikannya dengan hadits2 yang lain. Tidak ada hadits apapun yang dicatat di masa Nabi. Tidak ada yang dapat membuktikan bahwa Hadits Qudsi benar-benar datang dari Tuhan. (t/n: bahkan hadits2 Qudsi saling berkontradiksi, sehingga telah gagal “test” di QS 4:82, karena itu, PASTI BUKAN dari Allah!) Sama seperti hadits2 lain, orang2 yang percaya hadits Qudsi datang dari Tuhan hanya mempercayai karena insistensi bodoh saja daripada berdasarkan bukti. Sementara Qur’an adalah “Hadits” Tuhan yang sebenarnya. Karena itu, hanya Qur’an dan kitab-kitab Tuhan-lah yang harusnya disebut sebagai hadits Qudsi.

Sementara sangat sedikit orang luar yang dapat mempertanyakan keaslian Al-qur’an, (t/n: karena sifatnya yang tidak memiliki kontradiksi), Hadis tidak seberuntung itu !

Banyak kelompok penentang dan para penganut agama lain telah memanfaatkan untuk mempermalukan umat Islam dengan mengutip Hadits2 yang “meragukan” yang membandingkan Wanita dengan Keledai (Hadis tentang pembatal shalat) atau bahwa Mayoritas Wanita akan masuk Neraka! (Hadits tentang Isra & Mi’raj) dll.

Umat ​​Muslim biasanya bereaksi terhadap tuduhan seperti itu dengan menjadi marah dan mengelak, mengatakan bahwa orang-orang ini hanya ingin “memfitnah” Nabi, padahal orang2 ini hanya mengambil dari hadits2 itu sendiri. Apa yang gagal disadari oleh para Muslim yang sama ini adalah bahwa yang namanya “KEBENARAN” itu (t/n: seperti kitab kebenaran absolut: Qur’an) HARUSNYA terbuka untuk di-“challenge”/ diuji, dan BISA BERTAHAN dari segala “questioning” dan pengujian-silang. Namun mayoritas muslim memang MEMBABI BUTA membela hadits, betapapun kontradiktif, konyol, menghina Nabi & tidak logisnya hadits2 tersebut! (t/n: berikut saya sisipkan sedikit saja dari contoh2 hadits paling absurd. lebih banyak silahkan cek sumber: https://factszz.wordpress.com/2015/01/03/hadiths-conspiracy-page-02-from-factszz/ dan https://factszz.wordpress.com/2014/08/05/all-hadith-imams-hailed-from-persia-were-zoroastrian-hypocrites-and-worst-adversaries-of-quran-messenger-allah/)

MosesAndStoneF
CatAndWomanHadithF
WomanVScat
FemalePigeonsAreDevilF
BukahriAndSuicideLieF
BukhariAndSuicide2

Lebih Banyak Masalah terkait Hadits:

Jika Hadits hanya membuat malu, kita tidak akan mendapat masalah. Akan tetapi, efek dari “desas-desus” subjektif ini jauh lebih besar.

Manusia dilahirkan dengan kecenderungan alami untuk selalu ingin tahu. Siapa pun yang memiliki anak akan tahu bahwa tidak peduli berapa kali Anda mengatakan “tidak”, mereka akan tetap mencoba menyentuh wajan panas atau bermain-main dengan tanah untuk memahami MENGAPA mereka tidak boleh melakukannya. Ini adalah mekanisme alamiah pemberian Tuhan yang Tuhan berikan kepada semua manusia untuk memungkinkan kita memperluas pengetahuan kita dan hanya menerima apa yang kita pahami dan ketahui.

Ketika umat Islam menjalani hidup dengan mengikuti Al-qur’an saja, tidak ada masalah dengan kecenderungan alami manusia untuk keingintahuan karena Al-qur’an memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan … (t/n: semakin ingin tahu semakin mempelajari/mendalami Qur’an, semakin mendalami Qur’an, semakin Qur’an menjiwai kehidupan mereka!) Muslim pada saat itu menyaksikan pertumbuhan intelektual yang tak tertandingi sepanjang sejarah Arab atau bahkan sejarah dunia di waktu itu…

Kecenderungan untuk bertanya dan bertanya dalam suasana di mana TIDAK ADA yang terlarang dan tidak ada yang tabu, membuat anak-anak Muslim tumbuh secara luar biasa (t/n: kecerdasan & akal mereka) Pertanyaan2 mereka hanya mengembangkan selera pengetahuan yang tidak terbatas, yang hanya diberi makan oleh penemuan2 dan kemajuan di hampir setiap bidang.

Kemudian, beberapa ratus tahun setelah Qur’an memicu revolusi “intelektual” dalam pikiran Muslim… Sesuatu mulai berubah…

Pengenalan “Hadits” yang meluas dan digencarkan di kalangan massa mulai perlahan menimbulkan masalah dengan pendidikan umat Islam. Hadits bahkan tidak bisa dibandingkan pada dataran yang sama seperti Al-Qur’an karena bahasanya yang jauh lebih rendah, (t/n: bersifat statis, tidak “universal”) dan didasarkan pada “desas-desus” dan “dugaan”.

Para penyebar Hadits hampir selalu terpojok oleh pelajar2 Muslim yang tulus yang menginginkan penjelasan untuk kontradiksi2 nyata hadits dan isi-isinya yang tidak logis.

Penetapan Hadits sebagai sumber hukum Islam hanya dicapai berabad-abad setelah pengumpulan awal oleh Bukhari dan lainnya dan diduga HANYA setelah memaksakannya pada massa/mayoritas Muslim dibarengi penolakan untuk diperiksa atau ditanyai.

Anak-anak sekolah Muslim saat ini diajari sejak usia dini untuk tidak mempertanyakan atau menganalisis sumber-sumber agama mereka karena mereka ditakut-takuti menimbulkan murka TUHAN dan berjalan menuju Neraka.

Pertanyaan siswa (t/n: yang men-challenge hadits) biasanya (t/n: bahkan hingga sekarang) dijawab dengan pernyataan2 seperti: ‘Apakah Anda LEBIH BAIK dari generasi sebelumnya yang berperang disisi Nabi?’, Atau ‘Apakah Anda membenci Nabi sehingga Anda MENANYAKAN Sunnahnya?’

Dengan rentetan tuduhan seperti itu, para pelajar muda Muslim sejak dini ditekan untuk menerima saja apa yang diberikan kepada mereka tanpa berpikir atau bertanya-tanya… Dan ketika mereka sudah dewasa, mereka hanya mengulangi kepada generasi muda selanjutnya, apa yang diberitahu kepada mereka tentang yang mempertanyakan hadits: ancaman Neraka dan tuduhan tidak menghormati Nabi… Siklus (t/n: kemunduran) ini terus berlanjut!

Kisah SESUNGGUHNYA (menurut Qur’an):

Meskipun rekonstruksi dari data2 historis itu sendiri tampaknya buruk … Kisah sebenarnya jauh lebih buruk dan berbahaya daripada yang diperkirakan.

Dalam Alquran, ada banyak ayat yang menggambarkan bagaimana orang Yahudi dan Kristen berselisih satu sama lain, dan bagaimana orang Yahudi dan Kristen berselisih dengan Muslim yang mengikuti Alquran. Seperti yang bisa kita lihat dalam masyarakat saat ini, bahkan Yahudi berselisih di antara mereka sendiri, Kristen berselisih di antara mereka sendiri dan Muslim berselisih di antara mereka sendiri. Rupanya, Tuhan telah memberi tahu kita tentang hal ini dalam ayat 18:54 yang menyatakan bahwa, meskipun banyak contoh yang diberikan dalam Alquran, orang masih akan memperdebatkan Alquran.

Sayangnya, seharusnya tidak mengherankan, bahwa meskipun banyak contoh yang diberikan dalam Al-Qur’an, banyak Muslim yang masih bersikeras bahwa hadits diperlukan untuk melengkapi dan menjelaskan Al-Qur’an dan akan terus memperdebatkan kelengkapan dan kecukupan Al-Qur’an.

Bahkan orang-orang tertentu & orang2 munafik, membujuk/ mempengaruhi Nabi untuk mengubah Qur’an!

“When our verses are recited for them, those who do not expect to meet us would say, ‘Bring a Quran other than this, or change it.‘ Say (O Muhammad), ‘I cannot change it on my own initiative. I simply follow what is revealed to me. I fear, if I disobey my Lord, the retribution of a terrible day.’ …Who is more wicked than one who invents lies about God, or rejects His revelations? The guilty never succeed. Yet, they idolize beside God those who possess no power to harm them or benefit them, and say, ‘These are our intercessors with God.’ …such is idol-worship.” (Quran, 10:15-18)

Ayat2 diatas dengan jelas mengisahkan tentang orang2 yang dalam hatinya tidak percaya pesan Tuhan (Qur’an) meminta kepada Nabi untuk mendatangkan Qur’an yang “berbeda”, atau bahkan “ubah” Qur’an itu.

Dan tanggapan Nabi Muhammad adalah: ‘AKU TIDAK DAPAT mengubahnya, Aku hanya MENGIKUTI apa yang diwahyukan kepadaku!

Nabi tidak bisa “mengarang” agamanya sendiri agar sesuai dengan keinginan semua orang di sekitarnya (t/n: dia bisa kena azab jika sedikit saja mengatribusikan ajaran darinya sendiri kepada Allah)…. Dia DIPERINTAHKAN untuk mematuhi Al-Qur’an dan tidak kepada apapun selain Al-Qur’an.

Dan menurut 9:101, banyak munafik di sekitar Nabi yang mana Nabi sendiri tidak tahu mereka orang munafik.

Namun, tampaknya setelah wafatnya Muhammad, orang-orang yang hatinya tidak benar-benar menerima pesan yang dia bawa mulai pelan-pelan “mengubah” Qur’an dengan menambah-nambahkannya. (t/n: dengan ajaran “hadits & sunnah” Nabi yang berada DILUAR Qur’an namun diposisikan seolah wahyu Tuhan yang harus ditaati!) Mengingat ayat2 Qur’an sendiri menceritakan orang2 kafir berupaya agar Muhammad mengubah Qur’an dan menceritakan tentang keberadaan orang2 munafik di sekitarnya, maka adalah reasonable bahwa setelah wafatnya Nabi, orang2 ini semakin leluasa berbohong, menyebarkan kebohongan, dan memberi testimoni palsu tentang apa yang mereka dengar tentang perkataan/ perbuatan2 Nabi.

Tampaknya orang-orang yang menyebarkan ajaran2 palsu dan menghubungkannya dengan Tuhan tidak mengindahkan peringatan Nabi:

Shall I seek OTHER THAN GOD as a source of law, when He has revealed THIS BOOK FULLY DETAILED? ….The word of your Lord is COMPLETE, in truth and justice. Nothing shall abrogate His words; He is the hearer, the omniscient. Yet, if you obey the majority of people, they will take you away from the path of The God. That is because they follow CONJECTURE, and they fail to think.” (Quran, 6:114-116)

Nabi mengajari orang-orang untuk TIDAK mencari selain TUHAN sebagai sumber hukum mereka karena Dia telah menurunkan Kitab yang SEPENUHNYA TERPERINCI !.

Nabi juga memperingatkan orang untuk TIDAK MENGIKUTI apa-apa yang dikatakan MAYORITAS, karena dia tahu bahwa mereka hanya mengikuti PERSANGKAAN!

Namun, terlepas dari semua peringatan yang jelas ini, orang-orang setelah Muhammad tidak dapat menahan diri untuk membuat klaim palsu bahwa Qur’an TIDAK rinci, dan bahwa Qur’an membutuhkan campuran desas-desus (hadits dll) untuk menafsirkannya!

Mereka beralasan untuk hadits bahwa meskipun Qur’an sudah lengkap (sesuai pernyataan ALLAH), masih belum mencakup semua bidang yurisprudensi yang perlu diatur.

Mungkin mereka tidak merenungkan ayat berikut:

“…Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu sebagai PENJELAS SEGALA SESUATU, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri” (Quran 16:89)

Dihadapkan bukti seperti itu, sangat sulit bagi orang beriman sejati, pengikut Tuhan yang tulus, untuk berpaling dari apa yang dikatakan Al-qur’an dan menyerahkan nasib mereka kepada orang-orang yang berpandangan dan berperilaku seakan Tuhan saja tidak cukup.

‘Hadits’ TERBAIK:

Bagi mereka yang masih memiliki keinginan untuk berpegang pada ‘Hadits’ setelah semua bukti yang disajikan … hanya ada SATU Hadits yang kami anggap otentik dan juga kami mendorong semua orang kepada hadits itu:

Allah telah menurunkan “Ahsanal Hadits/Hadits terbaik” (yaitu) Kitab (Al-Qur’an) yang konsisten (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka karena (pesan) pengingat Allah. Itulah bimbingan Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa dibiarkan tersesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat membimbing/memberinya petunjuk (39:23)

Berdasarkan Qur’an itu sendiri, HANYA dengan mentaati dengan benar “ahsanal hadits” (Qur’an) SAJALAH (t/n: tanpa tambahan sumber lain apapun) yang akan menjamin bimbingan dari Tuhan. Bimbingan yang mengarahkan pada kedamaian, keadilan, kemajuan, kesejahteraan hidup, keberkahan dari Tuhan, dan kesuksesan di dunia ini dan akhirat nanti.

Sementara hadits2 lain/ sumber lain buatan manusia: cenderung mengacaukan daripada membimbing. Hanya dari sumber diluar “ahsanal hadits”lah, asal muasal ide2 yang mendorong fatalisme dan menghalangi inisiatif individu, mendorong praktik2 & aturan2 agama yang korup, mencegah progress dan modernisasi, mendorong intoleransi, kekerasan dan terror, mendorong komunitarianisme, permusuhan dan agresi terhadap komunitas lain, melemahkan dan mengecilkan posisi wanita di masyarakat dll. Sayangnya, semua itulah yang terjadi saat ini, karena interpretasi konvensional dari agama Islam sekarang memang sangat bergantung pada hadits, dan sedikit atau samasekali tidak bergantung pada “ahsanal hadits”

http://uncorruptedislam.com/analysis-validity-prophet-muhammad-hadith.html#toc0

Apakah Muslims memperumit Islam dengan mengikuti Hadits?

Jika Anda membandingkan hukum Islam yang hanya diambil dari Alquran dengan hukum Islam populer yang diambil dari berbagai sumber, Anda akan dengan mudah melihat bahwa hukum Alquran jauh lebih sederhana dan lebih mudah diikuti. Ini seharusnya tidak mengejutkan mengingat ayat-ayat berikut.

2: 185 Berkaitan dengan puasa, Tuhan menginginkan kemudahan; Dia tidak menginginkan kesulitan atau membebani apa pun untuk Anda.

5:6 Berkaitan dengan penyucian/wudhu, Tuhan menginstruksikan langkah2 yang mudah, jelas & sederhana (t/n: hadits menambah-nambahi gerakan & menganjurkan pengulangan hingga 3x! )

73:2-3 Tuhan membolehkan Nabi untuk mengurangi ibadah “bangun malam”nya, Tuhan tidak ingin membebankan kesulitan untuknya maupun untuk orang2 beriman.

Pertanyaan-pertanyaan yang perlu Anda renungkan

  • Allah-lah yang menurunkan Qur’an. Satu kitab petunjuk untuk seluruh manusia hingga akhir zaman. Akankah Dia mengekspektasi orang-orang untuk mengikuti juga ratusan ribu perkataan2 (hadits) yang dikompilasi imam2 berbeda yang dianggap sebagai perkataan akurat dari Nabi Muhammad?
  • Ada ratusan ribu hadits2 itu. Akankah Allah benar-benar mengekspektasi semua orang untuk membacanya semua setelah Qur’an?
  • Sebagai Muslim, sudahkah Anda membaca semua hadits2 ataukah Anda hanya mengikuti yang populer2 saja yang Anda dengar?
  • Sebagai Muslim, tidakkah tanggungjawab Anda sendiri untuk memverifikasi dan mengerti praktik2 & ajaran yang Anda ikuti? Atau apakah Anda pikir cukup untuk mengikuti buta apa yang diikuti mayoritas/ apapun yang ditentukan oleh ulama2/pemuka Islam?
  • Sebagai Muslim, apakah Anda mengerti ayat-ayat Qur’an apalagi ratusan2 ribu hadits? ataukah Anda hanya membaca Qur’an dengan melafalkan bahasa arabnya tanpa pemahaman akan arti dari apa yang Anda baca?
  • Imam Bukhari mengkompilasi hadits Nabi Muhammad hanya pada 200 tahun setelah Nabi wafat. Bukhari melakukan ini dengan menanyai orang apakah mereka ingat apa perkataan Nabi dan mengkompilasi buku berdasarkan apa yang orang katakan padanya. Jika ada orang yang mengkompilasi buku catatan perkataan atas orang lain yang meninggal 200 tahun lalu dengan cara menanyai orang-orang, akankah Anda percaya bahwa buku itu akan akurat?
  • Tidak ada satu pengadilanpun di dunia yang akan give credit/ mempertimbangkan testimoni yang “diteruskan secara oral saja sepanjang 200 tahun sebelum dituliskan”.
  • Jika Nabi Muhammad tahu bahwa perkataan sehari-harinya (hadits) memang sangat penting dan harus dijadikan hukum islam, tidakkah Anda pikir beliau akan menuliskannya sendiri, atau menyuruh orang untuk benar-benar menuliskannya? Sulit untuk percaya bahwa beliau tidak pernah terpikir seperti itu jika memang perkataan/haditsnya memang bagian penting dari agama.

10 Alasan mengapa muslim harus mempertanyakan/ meninggalkan hadits

Berikut alasan2 kuat mengapa muslim harus mempertanyakan lalu meninggalkan hadits. Disarikan dari video berikut:

1. Quran itu sendiri menolak hadits2. ini tentu saja alasan terpenting, Qur’an dalam berbagai ayat mengecam baik dari konten/isi dari hadits2 yang ditulis manusia, dan orang2 yang menelan kesalahan/kepalsuan2 mereka

Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya waktu (kebinasaan) mereka? Lalu atas pesan (hadits) mana lagi setelah ini yang mereka percayai?
Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan (hadits) mana lagi mereka akan beriman setelah Allah dan ayat-ayat-Nya?
Maka kepada pesan (hadits) manakah (selain Alquran) ini mereka akan beriman?

2. Hadits itu sendiri melarang hadits. Kebanyakan dari buku koleksi hadits mengikutsertakan pernyataan yang mengimplikasikan pelarangan dari penulisan hadits itu sendiri!

saya benci fakta bahwa saya mengutip hadits itu sendiri. Namun ini hanyalah bukti atas poin saya, agar para pendukung hadits tidak bisa mengelak. Namun Qur’an seharusnya sudah cukup untuk meyakinkan Anda tentang bahaya mengatribusikan kepalsuan/kebohongan kepada messenger/rasul dan message/pesannya. Qur’an sangat jelas tentang hal ini:

3. Hadits mengandung terlalu banyak kontradiksi. Qur’an itu dari Allah karena kita tahu Qur’an tidak memiliki kontradiksi apapun. sementara kontradiksi itulah yang sering saya temukan di hadits. Ada 3 hal secara khusus yang mana hadits berkontradiksi: hadits2 sendiri, Qur’an, logika & akal sehat

4. Hadits telah mengkorup/merusak arti dari kata “kebenaran”. Orang telah leluasa menyebut beberapa koleksi hadits sebagai “sahih” (otentik). Ke-otentikan dari asumsi perkataan Nabi ini didasarkan “kredibilitas” dari rantai transmisi dan naratornya daripada konten/ isi dari hadits tersebut. Rantai narasinya diduga mencapai hingga “para sahabat”. Ini merupakan kata yang dikorupsi/dirusak lagi. Ketika muslim mengatakan kata “sahabat” mereka merujuk pada sahabat Nabi. Kebanyakan mereka menolak untuk percaya bahwa “sahabat” ini bisa berarti apa saja, tidak selalu teman yang setia dan dipercaya oleh Nabi. Menurut definisi kata itu dari Bukhari sendiri, kita belajar bahwa “melihat” Nabi sudah cukup untuk dipertimbangkan dan digolongkan sebagai seorang “sahabi”. Fakta ini seharusnya membangkitkan skeptisisme Anda! Qur’an memberitahu kita bahwa rasul2 dikhianati oleh orang2 disekitarnya, tidak semua yang disekitarnya setia. Haruskah kita mengasumsikan bahwa orang2 di sekitar Muhammad lebih baik daripada orang2 di sekitar Isa? Kebenarannya, kita mestinya tidak. Faktanya, Qur’an memang menunjuk kepada arah yang berbeda…

This image has an empty alt attribute; its file name is image-47.png

5. Hadits bukanlah dokumen yang valid. Qur’an sendiri menyatakan bahwa sebuah dokumen harus memiliki minimal 2 saksi untuk diperhitungkan sebagai legal. Kebanyakan hadits menyandarkan pada testimoni saksi yang dibuat/diturunkan oleh hanya satu orang.. dan bahkan untuk event sepenting seperti khutbah terakhir Nabi Muhammad (disaksikan ribuan orang), hadits menyediakan kepada kita minimal 3 versi berbeda kontras atas apa yang dikatakan Nabi: 1. Aku tinggalkan untuk kalian ikuti Qur’an dan sunnahku 2. Aku tinggalkan untuk kalian ikuti Qur’an dan ahlul baitku 3. Aku tinggalkan untuk kalian ikuti Qur’an saja. Jadi versi manakah yang benar? tanyakan pertanyaan ini dibawah cahaya Qur’an maka jawabannya akan menjadi jelas untuk Anda, Insya Allah. Sejak Nabi Muhammad wafat, orang2 berseteru untuk kekuasaan dan kejayaan. Seperti itulah ketetapan Allah atas semua utusanNya

Kembalilah padaNya dalam pertaubatan; takutlah padaNya, dirikanlah Shalat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. (Mereka) orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi sekte-sekte. Setiap/masing-masing merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka S30: V31-32

6. Islam telah disempurnakan dengan Qur’an, jauh sebelum hadits2 menjadi ilmu untuk orang2. Orang gagal menyadari bahwa misi Nabi Muhammad satu-satunya adalah menyampaikan Qur’an. beliau tidak diperintahkan untuk mengajari kita bagaimana caranya makan, tidur, buang air, dan sebagainya. Kita diperintahkan Allah untuk mengikuti/ mentaati messenger/rasul karena apa yang ada padanya, the message = Qur’an, bukan karena siapa dirinya = Muhammad, seorang manusia. Mentaati rasul adalah perintah dari Allah kepada orang beriman untuk mengikuti cahaya (Qur’an) yang Dia turunkan melalui NabiNya. BUKAN perintah untuk mengikuti apa2 yang secara salah diatribusikan pada nama Nabi, dan menyebut itu “sunnah”nya, yang mana tidak pernah disebutkan (t/n: “sunnah Nabi/ sunnah rasul / sunnah muhammad” ) di Qur’an, satu kalipun! Satu-satunya sunnah yang mana kita diperintahkan Allah untuk ikuti adalah Sunnatullah. Bagaimana bisa detail privat tentang kehidupan personal Nabi Muhammad (bohong ataupun tidak) diketahui dan diperbincangkan oleh kita jika bukan karena orang2 mengabaikan perintah Allah di surah 33:53?

7. Segala puji hanyalah untuk Allah SAJA. Hanya Allah saja yang infallible/ sempurna, tidak bersalah. Kebanyakan muslim sayangnya mengatakan bahwa Muhammad juga seperti itu. Dalam hal menyampaikan Kitab Allah terakhir: Qur’an, mereka 100% benar. Nabi melakukan tugasnya dan mengirimkan Qur’an, seluruh Qur’an, dan tidak ada yang lain selain Qur’an. Namun, Muhammad, sama seperti Nabi2 lainnya, hanyalah manusia biasa. Ketika itu tentang kata2 mereka dan tindakan/perbuatan mereka, mereka tidaklah tanpa cacat. Allah tidak selalu ridha dengan semua perbuatan Nabi-nabiNya, tapi karena Dia Maha Penyayang dan Maha Pengampun, dia mengampuni kesalahan2 mereka. Beberapa dari itu bahkan diceritakan/ dikisahkan di Qur’an, supaya kita mengambil pelajaran dan petunjuk. Sebagai contoh:

Hadits2 telah mengkorupsi/merusak arti dari ayat2 seperti ini, untuk menjadikan Muhammad tampak infallible/ maksum dan pantas dipuja-puji sebagaimana kepada Allah. Tapi ingatlah bahwa hanya karena Anda tidak menyimpan gambar/ patung Nabi, Anda tidak terbebas dari perbuatan idolatry/ penyembahan berhala/ musyrik.. (t/n: saya sisipkan salah satu video terjemahan di channel saya tentang ini. silahkan aktifkan caption/subtitle bahasa indonesianya:

)

8. Qur’an berbicara untuk dirinya sendiri. Qur’an tidak bergantung pada penjelasan siapapun, apalagi dari hadits2. Allah sendiri dapat memproduksi kitab yang ditulis dengan tinta yang sebanyak lautan, jika Dia menghendakinya. Pastinya bukan karena lupa, namun adalah rahmatNya bahwa beberapa hal tampaknya tidak tertulis di kitab. Ada ruang ijtihad dan interpretasi dan perkembangan dalam “keheningan” sebagai berkah Allah untuk kita. Qur’an adalah pesan universal yang melintasi waktu. (t/n: berdasarkan nilai2 & pesan universal itu) Kita harus menemukan cara2 baru untuk mengatasi permasalahan 2 baru yang kita temukan di masyarakat hari ini, dan jawabannya tidak selalu harus dicari dari aturan2 “islami” yang diwariskan dari leluhur arab. (t/n: tapi harus mendasarkan pada aturan-aturan eksplisit di Qur’an, dan kebijaksanaan/hikmah darinya) Cendekiawan/ulama2 hari ini mestinya mengevaluasi aturan2/ hukum2 kuno mereka dan menggantinya dengan pendekatan2 yang relevan untuk dilema2 yang kita hadapi sekarang2 ini. Qur’an tidak hanya berbicara kepada orang2 timur tengah di masa lalu. Tapi berbicara juga kepada manusia2 hari ini. Qur’an itu sendiri menyatakan bahwa dirinya mudah dimengerti bagi orang beriman sejati, namun mustahil bagi orang2 munafik dan musyrik. Mereka takut akan ayat yang mengekspos diri mereka. Lihatkah Anda, betapa praktisnya bagi mereka membawa hadits2 untuk twist/ membelokkan makna dari ayat2 ini? perhatikan ayat berikut:

daripada membiarkan ayat ini mengungkap perilaku mereka, mereka mengambil kata “lahwal hadits” di ayat ini dan mengklaim bahwa itu merujuk pada musik dan menyanyi! (t/n: ada artikel bagus tentang ini: Lahwal Hadith ). Selalu lebih mudah bagi orang2 “selfrighteous” ini untuk menunjuk kepada orang lain daripada mengkoreksi dan memperbaiki diri mereka sendiri.

Demikian juga Kami menjadikan bagi setiap Rasul, musuh: – setan di antara manusia dan Jin, saling menginspirasi satu sama lain dengan “flowery discourses” (t/n:kata-kata indah) sebagai jalan penipuan. Jika Tuhanmu menghendaki, mereka tidak akan melakukannya: maka tinggalkan mereka dan penemuan mereka sendiri. Yang demikian (tipu daya) membiarkan hati mereka yang condong, yang tidak memiliki iman kepada akhirat: biarkan mereka senang dengan itu dan biarkan mereka dapatkan dari itu apa yang mereka dapat. S6: V112-113

9. Mempertanyakan/ menolak hadits TIDAK menjadikan kita kafir. Itu justru menunjukkan bahwa Anda melakukan persis seperti yang Allah perintahkan kepada kita di Qur’an, bahwa kita bertanggungjawab atas penggunaan mata, telinga dan akal pikiran/ reasoning yang dianugrahkan kepada kita, dan untuk memverifikasi kebenaran oleh diri kita sendiri.

Qur’an mengatakan bahwa kelak Nabi Muhammad akan komplain kepada Allah di hari penghakiman bahwa “kaumku telah meninggalkan Qur’an ini” (25:30). Apakah Anda pernah bertanya pada diri sendiri siapa “kaumku” yang dimaksud disini? ataukah lebih mudah untuk seperti biasa, menunjuk jari pada kristen dan yahudi?

Dan perumpamaan bagi mereka yang kafir adalah seperti seseorang yang hanya mengulangi apa yang dia dengar dari panggilan dan teriakan; tuli, bisu, buta, mereka tidak mengerti (Quran 2:171)

Mayoritas hukum Syariah dalam “islam” bersumber diluar Qur’an, dari buku2 hadits dan fiqih. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, Islam (penyerahan diri) macam apa ini, jika kita sebenarnya mengabaikan/ menolak firman2 Tuhan untuk mengikuti hadits2 & tradisi2 kita? Siapakah kuffar/pengingkar sesungguhnya? Lihatlah apa yang Qur’an katakan:

(t/n: koreksi, ayat 5:44. Pembuat video nampaknya keliru)

Kediktatoran, kejahatan2 terhadap kemanusiaan, misogini, korupsi, kurangnya kebebasan berbicara/ kebebasan menganut kepercayaan/ pandangan politik dapat dilihat ada di seluruh dunia, namun mengapa nampaknya masalah2 ini lebih terwakili/ hadir di apa yang disebut “negara2 muslim”?

10. Qur’an adalah kriteria kita untuk menilai mana kebenaran mana kepalsuan

(t/n: di akhirat nanti, Anda tidak akan ditanyai tentang perpustakaan buku2 hadits, pelajarilah firman Tuhan (seperti di 23:105) : “Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu?” BUKAN buku-buku tentang aqidah, dibacakan kepadamu; BUKAN buku-buku Ibnu Taimiyah, dibacakan kepadamu; BUKAN buku-buku hadits dibacakan kepadamu; TIDAK! pertanyaannya adalah: “Bukankah tanda-tanda/ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu?”)

Pastikan untuk mendasarkan iman dan klaim Anda dengan ayat2 dari Qur’an, karena Anda tidak akan bisa menyalahkan orang lain, orang2 yang dianggap punya ilmu/ otoritas atas kesalahan2/ kesesatan2 Anda saat hari penghakiman kelak. Keselamatan abadi Anda bergantung pada ANDA sendiri (t/n: iman & perbuatan2 Anda) dan rahmat Tuhan.

Allah telah menjadikan din ini mudah untuk kita. Jika Anda merasa Anda melakukan “hal2 berat” dengan berserah diri, Anda perlu bertanya pada diri sendiri, pada siapa persisnya Anda berserah diri. Berserah diri pada sunnah Allah adalah sesuatu yang akan dilakukan oleh orang2 lurus manapun dengan senang hati. Sistem/ din Allah sangat luarbiasa, hebat, manusiawi, dan menyehatkan. Sayang sekali, sistem2 dari manusia tidak seperti itu. Sangat krusial untuk semuanya, muslim dan non-muslim untuk menyadari perbedaan dari kedua sistem itu. Ignorance/ pengabaian dari 2 pihak tersebut menghasilkan fakta ini:

Mengapa Muslim tidak mengambil Qur’an untuk memahaminya & mengikutinya langsung

Berikut dibawah ini video yang mementahkan SEMUA jenis excuse/alasan2 kita dari mempelajari Qur’an secara langsung (memahami artinya) lalu mengikutinya. Video berikut telah saya tambahkan subtitle bahasa Indonesianya. Silahkan aktifkan caption/cc-nya:

Konklusi

Selama ada ‘Hadits TERBAIK’, yang LENGKAP, RINCI, & KEBENARAN ABSOLUT dari TUHAN, dan TUHAN SENDIRI menyatakan dengan itulah Dia membimbing/ memberi petunjuk, apakah alasan Anda jika Anda masih mengakui dan mengikuti hadits-hadits lain dan sumber/ buku-buku manmade lain sebagai petunjuk agama?

And certainly We have brought them a Book which We have made clear with knowledge, a guidance and a mercy for a people who believe. (7:52)



P.S.: Translator note (t/n:) adalah merupakan tambahan/penjelas dari saya pribadi (penerjemah) dan bukan bagian dari pesan asli. boleh diabaikan saja. Kritik/saran mengenai hasil penerjemahan, silahkan ajukan email ke: firefantasyhaiku@gmail.com atau redemptionman@tutanota.com

Share the Truth:

Post Navigation ;